Catatan Kecil, My Word

Kuliah Apa Kerja

Sekarang lagi musimnya para anak bangsa galau, dalam arti mereka bingung mau kuliah dulu apa kerja dulu. Bagi orang tua nya yang mampu mungkin sudah terrencanain bakal lanjut kuliah sesuai dengan bidangnya dan bagi yang berada di lingkungan pas-pasan akan bingung mau kuliah dulu apa kerja? Tapi ada juga lho yang orang tuanya mampu tapi anaknya gak mau kuliah dengan alasan pengen cari duit sendiri. Itu sih pilihan masing-masing tapi kita juga harus melihat kondisi perusahaan saat ini, setiap 5 tahun sekali perusahaan akan menaikan minimal pendidikan untuk sebuah lowongan pekerjaan, misalnya dulu lowongan admin saja bisa buat anak lulusan SMA tapi sekarang minimal D3, belum lama ini gw melihat sebuah info lowongan pekerjaan di perusahaan terkenal, untuk seorang admin saja harus minimal S1, weeeww….

Sebenarnya ini masalah keinginan, kalau memang berharap karir yang baik, kita harus kuliah tapi kalau Cuma sekedar kerja dapet duit, tidak perlu kuliah dan syukur-syukur dengan ijazah SMA atau SMK bisa mudah mencari kerja tapi tetep perusahaan mementingkan para sarjana buat mengelola karier karyawan, berbeda dengan tahun 80 hingga 90an yang hanya lulusan SMA atau STM bisa menjadi manager. Era sekarang akan dinilai dari kinerja dan pendidikan untuk mencapai karir terbaik, biasanya perusahaan akan menilai kinerja seorang karyawan terlebih dahulu, lalu ada penawaran naik jabatan tapi kalau ternyata pendidikannya tidak sesuai standar maka pihak perusahaan membuat pilihan yaitu menaikan jabatan si karyawan dengan syarat si karyawan harus kuliah lagi atau membiarkan karyawan tersebut berada diposisi saat itu walaupun kinerjanya terbaik.

Bagi kamu yang orang tuanya mampu dalam segi ekonomi, lebih baik kuliah dan perkuliahan itu bukan hanya memberikan sebuah ijazah D3 atau S1 melainkan membentuk karakter, ada perbedaan mendasar dari pembentukan karakter antara orang yang kuliah sama yang tidak, sepemandangan atau sepengamatan gw sangat mencolok perbedaannya, contohnya aja (sori banget bukan mau menjelekan) orang yang Cuma lulusan SMA saat bekerja hanya mementingkan gaji, ketika gaji yang diterima kurang maka akan berontak yangberujung demo atau merusak kantor. Berbeda dengan lulusan kuliah, ketika gaji yang dirasa kurang atau ada kesenjangan karyawan yang tidak sepadan, dia akan bertanya kenapa kepada atasannya, lalu menganalogikan kinerja dengan hasil yang dicapai, kalaupun masih belum bisa mendapatkan hasil terbaik, dia akan pindah ke perusahaan lain atau mengandalkan bisnis sampingan. Ada sebuah pelajaran yang Cuma ada dibangku kuliah yaitu logika, di bangku SMA gak akan diajarin pelajaran logika karena ini merupakan sebuah ilmu yang cukup mahal buat mempelajarinya tapi menurut gw pelajaran ini simple, dimana otak kita harus berpikir secara mendetail ketika menghadapi masalah, misalnya bagaimana cara menuang air ke gelas dari teko, kalau orang yang gak pake logika, cukup jawab “ya tuang aja ke gelas air yang ada diteko” tapi kalau dipelajaran logika tidak seperti itu, jawabannya yaitu “ambil dahulu tekonya lalu persiapkan gelasnya, tuang air secara perlahan ke gelas secukupnya sesuai kebutuhan” nah disini memang keliatan sama kalimat jawabannya namun perbedaannya adalah ada detail tata cara yang disebutkan tadi.

Continue reading “Kuliah Apa Kerja”

Catatan Kecil, My Word

Mengapa Lulusan S1 Susah Dapat Pekerjaan?

Ini polemik banget gan, banyak teman-teman gw yang sudah bergelar S1 di tempat kuliah ternama harus kebingungan sampai saat ini tidak mendapatkan pekerjaan, sedangkan bagi teman-teman yang hanya bergelar Diploma 3 sudah banyak yang bekerja dan gak susah-susah amat. Nyari kerja pada kenyataannya emang susah, gak semudah naro cv ke perusahaan besok dipanggil kerja, fyuuuh… dipanggil interview aja gak jaminan cepet. Gw sendiri lulusan D3 bekasan alumni kampus ruko alias bukan kampus keren bergedung, namun Alhamdulillah sudah 3 kali pindah perusahaan demi mencari karier.

Masalah pengangguran sangat mengkhawatirkan, apalagi penganggurannya bersarjana karena para lulusan sarjana sudah mengeluarkan duit puluhan juta demi gelar S1 akan tetapi belum juga menghasilkan pendapatan sebagai timbal balik apa yang pernah mereka keluarkan. Menurut mata belo gw sih ada yang salah dengan era sekarang, jaman 90an hingga 2000an awal, lulusan sarjana banyak yang dicari dan cepat dapat kerja, tidak separah saat sekarang yang menurut gw lebih banyak S1 yang nganggur daripada lulusan SMA, dalam arti pedagang asongan yang lulusan SMA bisa disebut pekerja dan bukan pengangguran. Pengangguran disini dalam arti yang realita, gak punya penghasilan sama sekali dan lebih miris lagi kalau tiap hari kegiatannya Cuma tidur sama main gitar jrang jreng jrang jreng, weeeh mirip banget anak-anak karang taruna dikomplek gw dulu, umur 24 tahun belum pada kerja malah asik ngegitaran di pos ronda, sedangkan rata-rata bapaknya masih kerja diperusahaan otomotif jepun, nah kalau ini siapa yang salah?

Gw sendiri pernah juga gawe di bidang HRD, padahal gw ga punya skill apalagi pengalaman buat jadi seorang HRD ya entahlah, dipercaya gitu aja karena di cv gw tertulis pernah menjadi ketua klub otomotif, mungkin itu faktor yang menjadi pertimbangkan gw menjabat sebagai seorang HRD. Walau Cuma bertahan 8 bulan saja karena gak sanggup mengelola karyawan yang lebih susah daripada mengelola member-member klub yang datang karena loyalitas dan pergi akibat kredibilitas. Balik lagi ke bahasan yang hangat hangat kuku ini, faktor utama kenapa banyak lulusan S1 menganggur adalah gengsi, yes… sok gengsi. Rata-rata orang yang lulus S1 dari universitas ternama memiliki keluarga dengan tingkat ekonomi yang baik bahkan sangat baik (kaya raya). Pola pikir mereka sudah diasupi oleh money oriented, maunya diperusahaan besar dan digaji besar pula walau tidak memahami situasi pekerjaannya seperti apa. Ini sebenarnya kesalahan besar banget lho, padahal banyak judul info lowongan pekerjaan memiliki syarat rincian yang salah satunya adalah minimal pengalaman kerja, kenapa pengalaman kerja itu berharga? Itu semua sebagai tolak ukur para pencari kerja apakah dirinya bisa kerja atau tidak.

Pengalaman kerja harus dimiliki minimal 1 tahun karena berhasil atau tidaknya seseorang diruang lingkup kerja bisa dinilai setelah 1 tahun, jika para pekerja baru 3 atau 5 bulan sudah resign dari perusahaan ada kemungkinan dia gak betahan (efek malesnya masih ada), gak suka challenge (padahal pekerjaan adalah tantangan) dan biasanya tidak bisa mengendalikan keadaan (ruang lingkup kerja harus kita yang atur). HRD akan menilai para pelamar sebagai pencari kerja yang buruk jika pengalaman kerjanya tidak ada yang lebih dari setahun, apalagi banyak kerja dibeberapa perusahaan tapi Cuma seumur jagung (hhhmm… gw lupa jagung umurnya sampai berapa). Balik lagi ke kasus gengsi, biasanya yang gengsian ini males banget kerja di pabrik baru yang belum ternama apalagi gajinya UMR, pasti didalam otaknya langsung “yaelah ngapain gw ambil, toh gw ga gawe bokap juga masih ngasih duit, malah lebih gede dari ini” trust me, inilah yang terjadi pada anak jaman sekarang. Beda banget sama lulusan SMA atau D3 yang notabene nya mau cepat-cepat dapat kerja berapapun gajinya ya minimal UMR dan perusahaan lebih menyukai tipe pencari pekerja yang kaya gini guys, bisa dibayar seusai umr dan hasil kerjanya bagus. Kalau pencari kerja sudah memikirkan uang, perusahaan akan balik bertanya balik “apakah kamu pantas dibayar 5 juta dengan kehidupan yang belum memiliki pengalaman kerja?” atau coba berpikir balik andaikan kamu para S1 menjadi perusahaan, apakah mau ngegaji orang 5 juta tanpa punya pengalaman? Hei pasti bakal berpikir ulang karena perusahaan gak boleh hambur-hamburin uang buat orang yang belum pasti bisa membawa perusahaannya maju.

Continue reading “Mengapa Lulusan S1 Susah Dapat Pekerjaan?”