Cerita Singkat, Mistis

10 Tahun Bersama (bukan) Kakakku part 2

Lanjutan dari https://tawvic.wordpress.com/2017/06/13/10-tahun-bersama-bukan-kakakku-part-1/

Berobat Kesana Kemari

Ayah tidak tinggal diam mengalami kejadian seperti ini, kita sudah pernah mengobati mas Agung ke Dokter karena kita masih berfikir positif ini memang penyakit saraf sehingga mas Agung bisa berubah seperti itu, namun semua dokter yang kami kunjungi memiliki jawaban sama, mas Agung sehat-sehat saja bahkan gizinya bagus hingga akhirnya kami bertemu dokter terakhir yang memberikan saran untuk berobat dipengobatan alternative alias paranormal. Kami menerima tawaran paranormal kenalan sang dokter, pertama kali mendengar kata paranormal gw langsung membayangkan seorang dukun berbaju hitam celana hitam dan kepalanya dihiasi blankon asli khas jawa seperti yang ada di film-film horror. Kami sekeluarga mengunjungi paranormal pertama didaerah taman mini Jakarta (dulunya TMII masih wilayah Bekasi), ternyata fisik dan rupa paranormal yang ini lebih mirip orang yang suka nawarin MLM, rapih berkemeja dan tidak ada ornament-ornamen seram diruangan rumahnya.

Tapi memang dia seorang paranormal, buktinya dia langsung tahu kalau mas Agung sedang dalam masalah padahal saat sampai dilokasi, Mas Agung tidak menunjukan gejala-gejala yang aneh sama sekali. Ayah menjelaskan sebab musabab awal kejadian bermula dan si paranormal mengambil kesimpulan jika kakek buyut gw ketika meninggal dunia melepaskan pegangannya yang sosoknya masih misterius karena paranormal yang bernama Bp. Soni tersebut tidak bisa menggambarkan secara persis akibat kekuatan gaibnya yang dahsyat. Pak Soni hanya memberikan sebuah air yang telah ia doa-doakan (entah doanya apa), air tersebut harus diminum saat mas Agung mau tidur dan jangan sampai tidak habis. Tentu semua syarat yang telah diberikan oleh pak Soni dijalankan oleh orang tua gw, setiap malam mas Agung dipaksa meminum air tersebut, tidaklah sulit untuk menyuruhnya minum karena memang dia sangat menyukai minum dibandingkan makan.

Selama satu minggu memang sudah agak berkurang dirinya ngedok atau kesurupan, yang biasanya setiap hari kini Cuma 2 hari atau 3 hari sekali namun hal tersebut tidak membuat orang tua gw puas karena masih ingin anaknya sembuh 100% dan mengembalikan kehidupan anaknya seperti yang dulu. Kami sekeluarga balik lagi ke pak Soni namun sayangnya pak Soni sepertinya sudah tidak mau membantu lebih jauh. Dia tidak menjelaskan secara jelas kenapa tapi dia mengaku bahwa keselamatan dirinya lebih penting, dia hanya bisa memberikan refrensi paranormal-paranormal lainnya yang bisa membantu untuk menyembuhkan akan tetapi jarak mereka jauh dan tidak berada di area jabodetabek melainkan berada di jawa tengah. Gw kira ayah akan mengurungkan niat tapi ternyata tidak, dia tetap bersikeras untuk mengobati kakak gw walaupun harus keluar negeri. Budgetnya gak sedikit memang apalagi membawa Mas Agung sudah pasti harus membawa kami sekeluarga karena bisa membantu ayah atau ibu jika terjadi sesuatu.

Sebelum kami berangkat menuju Jogjakarta, ayah mendapatkan refrensi dari temannya yang memiliki langganan paranormal sakti didaerah depok. Ayahpun menerima tawaran tersebut untuk mengunjungi paranormal tersebut, gw sendiri gak tahu siapa nama paranormal tersebut karena ayah hanya mengajak ibu bersama mas Agung untuk ke Depok, mungkin karena posisi Depok tidak jauh dengan Bekasi sehingga bisa meninggalkan gw dan mas Teguh dirumah. Mereka berangkat dari rumah pagi-pagi setelah sholat subuh dan kembali kerumah pada pukul 8 malam, ayah terlihat membawa bungkusan hitam berisi tanaman-tanaman obat dan juga beberapa benda yang bentuknya aneh-aneh. Gw melihat pada malam itu juga ayah meracik tanaman tersebut dan menggunakan benda-benda aneh itu untuk ditaruh dibawah tempat tidur mas Agung. Tanaman yang telah direbus diminumkan oleh mas Agung, anehnya mas Agung seakan-akan menolak untuk meminumnya, beberapa kali dia berusaha untuk menepis gelas yang berisi minuman tersebut dan akhirnya bisa terminum walaupun sedikit karena banyak yang sudah terbuang akibat guncangan.

Keesokan harinya kami sekeluarga dapat kabar jika paranormal yang di depok meninggal dunia dengan sebab yang tidak diketahui, kabar tersebut kami dapat saat ayah menghubungi rumah beliau dan mendapatkan berita dari pihak keluarganya. Ayah ingin sekali kesana namun ibu melarangnya karena ibu mendapatkan mimpi buruk semalam, si paranormal depok itu terbunuh oleh sesosok makhluk yang bentuknya aneh sehingga ibu takut akan terjadi hal yang lebih buruk jika ayah kesana. Sebenarnya bukan hanya satu paranormal yang akhirnya meninggal, bahkan setiap paranormal yang kami temui akhir nasibnya sama, meninggal tidak jelas.

Ketika kami harus menuju Jogjakarta untuk menemui salah satu parnormal ternama pun bukanlah hal yang dimudahkan, saat itu kami sudah menyewa mobil charteran untuk mengantar kami bolak balik selama kami melakukan pengobatan. Sesampainya di Stasiun Tugu pada pagi harinya, kami sudah dijemput oleh seorang charteran mobil yang gw lupa namanya siapa, lalu kami diantarkan olehnya menuju hotel yang berada didaerah Prambanan. Kami akan melakukan perjalanan kembali dari Hotel ke tempat paranormal pada siang hari sehingga supir mobil charteran ijin pulang dahulu dan akan kembali jemput tepat siang hari sekitar pukul 1 siang. Namun sayangnya sudah pukul 3 sore pun kami tidak juga dijemput olehnya, ayah penasaran sehingga meminjam telepon hotel untuk menghubungi rumah si supir tetapi ketika ayah hendak menghubungi si supir, ayah dihampiri salah seorang yang tidak dikenal di lobi hotel dan mengaku sebagai adik dari si supir tersebut. Dia mengabarkan jika kakaknya meninggal dunia saat perjalanan pulang setelah meninggalkan hotel yang kami inap, mobilnya tertabrak truk dan sang supir kritis saat dibawa kerumah sakit. Ketika berada dirumah sakit, sang supir masih bisa berbicara dan memberikan pesan kepada adiknya yang kebetulan bekerja dirumah sakit tersebut untuk menghubungi keluarga kami di hotel. Kami yang mendengar kabar tersebut hanya bisa merinding, bingung dan merasa bersalah.

Continue reading “10 Tahun Bersama (bukan) Kakakku part 2”

Iklan