Catatan Kecil

Gordyn Warteg Yang Tertutup

Bulan puasa identik dengan kurma, pedagang-pedagang dadakan akan bermunculan disore hari menjelang magrib menjajakan panganan ringan maupun berat seperti es buah, kolak, nasi bakar, kue kue basah atau yang biasa kita sebut dengan takjil. Ada satu fenomena khas dibulan Ramadhan yang sering banget gw jumpai, yaitu gordyn atau kain penutup jendela yang tertutup rapat menghiasi setiap rumah makan atau restoran yang buka pada siang hari, dimana umat muslim sedang asik-asiknya menjalankan ibadah puasa. Mereka tetap buka karena mayoritas masyarakat memang muslim namun beberapa persennya non muslim atau wanita muslim yang sedang haid/menyusui.

Didalam pikiran gw selalu bertanya-tanya, kenapa mereka (pemilik tempat makan) harus menutup gordyn rapat-rapat atau menutup jendela dengan triplek agar sajian mereka tidak terlihat dari luar? Pasti rata-rata menjawab, untuk menghormati yang sedang berpuasa. Beberapa tahun lalu pernah ada kasus penutupan paksa pedagang makanan pinggir jalan hingga menjadi viral karena pembubarannya tak berbeda dengan kompeni mengusir pribumi, kasar dan gak beretika. Gw bukan yang memiliki jaminan manusia masuk sorga tapi gw punya pikiran, kenapa mereka selalu beralasan “pedagang tidak menghormati orang yang berpuasa” apakah makanan yang terlihat dan tersaji di warung makan itu manggil-manggilin orang yang sedang berpuasa? Atau ketika gw melihat ayam goreng dietalase warteg sambil menelan ludah tahu-tahu yang gw telen adalah ayam goreng? Ah… selemah itukah iman gw?

Gw masa bodo dengan warteg atau restoran yang berjualan di siang hari, prinsip gw adalah kalau iman lu kuat, lu gak kegoda, sekalipun itu gratisan, pastinya lu bakal tetap datengin itu warteg tapi dibungkus buat berbuka puasa. Padahal kita di Indonesia bukan Negara Islam yang dari sabang sampai merauke isinya orang islam, di bumi pertiwi ini ada berbagai macam agama dan mereka butuh makan di siang hari saat bulan ramadhan. Kalau umat islam sedang berpuasa menyuruh setiap tempat makan tutup atau minimal tidak menampakan makanan, bagaimana dengan umat lain yang saat menjelang hari rayanya mereka berpuasa juga, tidak ada tempat makan yang tutup, tetap buka dan mereka dengan keimanannya masing-masing menjalankan ibadah puasa tanpa perlu resah dengan warteg yang gordynnya terbuka.

Continue reading “Gordyn Warteg Yang Tertutup”

Iklan