Cerita Singkat, Mistis

10 Tahun Bersama (bukan) Kakakku

Kisah Lanjutan dari https://tawvic.wordpress.com/2017/06/13/10-tahun-bersama-bukan-kakakku-part-2/

Mas Agung Sakit Lama

Sakit ini bukan sakit yang ia derita pada sebelumnya namun sakit demam dengan wajah pucat dan susah makan. Biasanya mas Agung sangat gampang makan dan seperti orang yang tidak pernah punya rasa kenyang. Tubuhnya sudah mulai agak berkurang berat badannya mungkin sudah berkurang 2-5kg dan dia sudah sakit selama 2 minggu lebih. Dokter sudah tidak bisa memberikan jawaban lain “gejala tipes”, segala obat juga sudah diberikan namun hasilnya nihil tidak bisa menurunkan penyakitnya, mungkin hanya nafsu makannya yang agak lebih banyak dari sebelumnya yang susah makan. Kami selalu memenuhi setiap keinginannya, seperti saat gw akan beranjak berenang sama temen-temen, dia tiba-tiba berkata “mau pizza…” dan matanya menuju kearah gw yang saat itu sudah berada di pintu rumah. Selama sakit, mas Agung memang berada di ruang tengah yang dekat dengan ruang tamu sehingga mas Agung bisa sambil menonton televisi walaupun gw yakin dia hanya menyukai keadaan tv menyala dengan sinar-sinar warna warni dan tidak peduli dengan acara yang sedang tayang. Sepulang berenang gw membawakannya sepotong Pizza, maklum gw saat itu Cuma anak SMP kelas satu dan belum punya banyak uang untuk membeli seloyang pizza, itu pun bukan pizza hut yang terkenal melainkan stand pizza merk gak jelas tapi memang sering gw beli karena rasanya enak. Sepotong Pizza yang gw belikan langsung dilahap habis olehnya hanya tersisa dus dan remah-remahnya.

Selain pizza dia juga meminta buah pala, manisan buah pala kesukaannya karena Cuma buah pala aja yang menjadi buah favoritnya, tentunya dalam bentuk manisan atau yang dikeringkan dan dibalur gula pasir. Gw sendiri gak suka saat dia minta buah itu, aromanya bikin gw pusing gak karuan. Dia selalu meminta ke Mas Teguh, saat mas teguh berada didekat dia, selalu berkata minta buah pala, “mau buah pala”. Mencari buah pala di bekasi bukanlah hal yang mudah, susah banget, mau mencarinya di pasar tradisional hingga mall besarpun tidak satupun bisa ditemukan. Satu-satunya tempat yang sudah pasti ada hanya di daerah Bogor namun mas teguh belum bisa menuju bogor dalam waktu dekat, kurang lebih 3 hari baru bisa berangkat ke bogor dan itupun saat hari senin karena dihari itu mas Teguh libur kuliah.

Tepat setelah 3 minggu mas Agung menderita sakit panas akhirnya bisa sembuh, panasnya sudah tidak terasa dan nafsu makannya sudah mulai normal. Ia kembali menjadi mas Agung yang dulu tapi bukan mas Agung yang normal sebelum ia mengalami gangguan, mas Agung kembali suka menceracau tidak jelas, suka melakukan hal-hal tidak jelas tetapi yang kami perhatikan dia sudah tidak lagi kejang-kejang atau kesurupan. Kami sudah diringankan dengan keadaan mas Agung yang cukup lebih baik dari sebelumnya.

Mas Agung pamit

Setelah 3 minggu mas Agung sakit, akhirnya dia sembuh juga walaupun masih lebih suka tidur-tiduran di kasur dan jarang ada interaksi seperti dulu. Hari itu, Selasa 8 Oktober 2002 menjadi sebuah hari yang tidak akan terlupakan oleh kami sampai kapanpun, hari dimana kami merasakan sesuatu yangbelum pernah dirasakan dan dimana hari itu sebagai petanda bahwa setiap kehidupan ada batasnya. Iya…., mas Agung pamit untuk selama-lamanya, kami pun tidak tahu kalau hari itu adalah hari terakhir mas Agung bersama keluarga ini dan hari terakhir menjadi sosok kakak serta adik dengan gaya unik penuh cerita yang jarang ada didalam kemasan setiap keluarga.

Sebelum pamit, mas Agung sarapan seperti biasa dan meminum susu kesukaannya yaitu Sustagen cokelat. Setelah sarapan dan minum susu, mas Agung berdiri diruang tamu melihat ke arah gw yang sedang asik menggambar pekerjaan sekolah. Gw sesekali melihat mas Agung yang satu menit berdiri menatap gw dan hal itu memang biasa ia lakukan jika melihat anggota keluarga namun ada satu hal yang tak biasa ia lakukan dan gw gak sadar itu adalah kalimat terakhirnya, “aku mau tidur” lalu dia beranjak menuju kamar dan merebahkan badannya diatas tempat tidur. Gw melanjutkan kembali pekerjaan sekolah yang belum selesai, menggambar sebuah pemandangan yang gak gw suka karena gw lebih suka menulis daripada menggambar. Ibu gw lagi asik didepan teras membersihkan dedaunan yang berjatuhan sembari berbincang-bincang bersama tetangga. Perbincangan yang sepertinya seru karena beberapa kali terlihat mereka tertawa lepas.

15 menit setelah mas Agung terlelap, gw mendengar suara orang ngorok yang lumayan kencang, lebih kencang dari ayah yang setiap malam ngorok. Suara tersebut berasal dari tempat dimana mas Agung tertidur. Gw langsung menuju kamar nya dan melihat mas Agung menatap langit-langit kamar dengan tubuh agak bergetar. Gw panic karena belum pernah melihat mas Agung seperti itu, gw langsung berlari ke teras memanggil ibu dan langsung menariknya kekamar untuk melihat langsung kondisi mas Agung. Sapu lidi serta pengki yang tadi digenggam ibu dibuang begitu saja oleh ibu dan bersama gw berlari menuju kamar. Ibu mencoba menyadarkan mas Agung tapi sepertinya sudah telat karena saat ibu tiba dikamar, tubuh mas Agung sudah mulai tenang namun jemarinya sudah dingin.

Ibu menyuruh gw untuk menelpon Ayah untuk lekas pulang dan memberitahukan kepada tetangga-tetangga sebelah jika mas Agung sudah tiada. Saat itu perasaan gw langsung kosong, hanya mengikuti perintah ibu, ketika jalan menuju ke para tetangga, langkah gw seperti melayang, pandangan sedikit kabur karena air mata mulai bercucuran. Tetangga pertama yang gw kabarkan adalah Emak, salah satu tetangga yang gw anggap seperti saudara sendiri, gw mengetuk-ngetuk pagar rumahnya dengan keras berkali-kali berharap emak bisa keluar dari rumahnya dengan cepat. Ketika emak keluar gw langsung berteriak “emak, mas Agung meninggal….” Lalu emak kaget dan langsung membukakan pagar rumahnya “Astagfirullah aladzim, yang bener fik? Ya Allaah….” Emak langsung memeluk gw sambil menangis, “ya udah opik pulang biar emak yang keliling dan ke masjid” dan gw kembali kerumah dengan air mata masih mengalir.

Dalam waktu setengah jam, ibu-ibu perumahan sudah banyak yang berdatangan dan adapula yang membawa seorang dokter yang kebetulan sedang jaga dipuskesmas perumahan. Dokter wanita itu memeriksa dengan detil tubuh mas Agung dan dokter menyatakan bahwa mas Agung memang sudah tiada. Rumah kami sudah banyak didatangi orang, mereka membantu ibu menyiapkan segala keperluan dan para bapak-bapak mengangkat mas Agung untuk dipindahkan keruang tengah. Lalu Ayah datang kerumah, langsung dipeluk oleh bapak-bapak yang hadir sambil berucap kalimat-kalimat sabar. Teman-teman gw yang kebetulan masuk sekolah siang dan tinggal disekitaran rumah juga hadir memberikan support sambil membantu gw membuat bendera kuning yang ditempelkan dengan nasi agar bisa melekat di gagang kayu sebagai bendera kuning.

Setelah itu gw hanya bisa duduk didepan rumah, gw gak tahu haru s apalagi, air mata sudah tidak menetes, perasaan menjadi bingung harus apa. Beberapa orang perumahan mencoba menghibur gw tapi gw hanya bisa tersenyum simpul sebentar. Dari ujung gang masuk rumah, terlihat Mas Teguh dan pacarnya tiba, mereka berdua sejak pagi subuh sudah pamit menuju stasiun bekasi untuk menuju ke bogor. Mas Teguh pulang dari Bandung untuk libur kuliah pada hari sabtu kemarin dan berniat akan ke bogor untuk membelikan buah pala buat mas Agung, dia punya janji seperti itu dan janji itu ia realisasikan setelah mas Agung sembuh namun terlambat. Langkah mas teguh langsung cepat masuk kedalam rumah setelah melihat kondisi rumah ramai dengan khalayak tetangga serta bendera kuning berkibar didepan rumah, ia meninggalkan pacarnya yang bernama Fellix. Mas Teguh berlari kedalam rumah melewati gw begitu saja dan langsung melihat Jenazah mas Agung diruang tengah sambil menangis kencang. Mbak Fellix menghampiri gw menanyakan kronologisnya seperti apa dan gw bercerita secara detil, hingga mbak felix pun turut merasakan penyesalannya karena telat memberikan permintaan terakhir mas Agung yaitu manisan buah pala. Mas Teguh meluapkan emosinya dengan menjedut-jedutkan kepalanya dengan tembok kamar mandi, suaranya jedukannya terdengar hingga ruang tengah dan beberapa ibu-ibu termasuk ibu gw berusaha menenangkan mas Teguh hingga akhirnya kondisi emosinya bisa berkurang saat gw menenangkannya “mas… percuma nyakitin diri, mas Agung lebih tenang disana dan jangan buat mas Agung sedih, yang sabar, bukan kemauan siapa-siapa mas agung pergi, tapi sudah kehendak Allah”

Mas Agung dibawa menggunakan ambulan menuju kampung halaman Ayah yaitu di purworejo, karena disana memang terdapat makam keluarga besar mbah Sugiran dan ayah ingin mas Agung dimakamkan disana. Ada 3 mobil yang berangkat kesana, Ayah di ambulan, sedangkan gw, mas teguh, mbak felix dan ibu berada di mobil om. Selama perjalanan menuju purworejo, ibu terlihat menatapi kosong, tidak mau makan dan hanya mau minum saja. Mas teguh sudah lebih baik keadaannya, sudah mau mengajak becanda ibu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ibu sesekali bercerita, tadi ayah dari kantor sampai rumah saat mendengar kabar kakak meninggal, menggunakan taksi yang tiba-tiba saja sudah ada didepan kantornya dan saat sampai dirumah, taksi tersebut tidak mau dibayar, kondisi jalan juga menjadi lenggang tidak seperti biasa. Sedangkan mas Teguh juga bercerita jika sudah 2 jam lebih dia menunggu kereta bogor tapi tak kunjung datang hingga akhirnya didalam hatinya terbisik untuk pulang kerumah.

Ya apapun cerita mereka saat terpanggil, mas Agung menjadi sosok yang bersih saat dimandikan, bekas luka-lukanya pun hilang, wajahnya seperti bersinar cerah dan bibirnya seperti tersenyum. Semua berjalan lancar, bahkan perjalan kami tergolong sangat lancar tanpa hambatan apapun. Dari Bekasi jam 4 sore dan sampai di purworejo jam 12 malam, hal yang ajaib menurut gw bisa secepat itu sampai karena biasanya memakan waktu 9 hingga 10 jam perjalanan, apalagi saat itu belum ada tol seperti saat sekarang. Mas Agung sudah tenang, deritanya yang selama 10 tahun ia rasakan kini sudah tidak ada. Gw berkeyakinan dia tidak melakukan dosa apapun karena dia terjebak dalam alam lain selama 10 tahun lebih.

Mas Agung menjadi bagian cerita keluarga kami dan tidak akan pernah terlupakan…..

 

Tamat, walaupun masih ada kisah lain setelah mas Agung sudah tidak ada….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s