Cerita Singkat, Mistis

10 Tahun Bersama (Bukan) Kakakku Part 1

Keluarga kami sebenarnya hanya keluarga biasa-biasa saja, terdiri dari 2 orang tua dan 3 orang anak, sebuah keluarga yang biasa saja tanpa pernah ada konflik yang membuat kami merasa tidak betah dirumah, namun hal tersebut menjadi berubah karena sebuah kejadian, sebuah kejadian yang tidak pernah bisa diterima oleh pola pikir manusia biasa dan gw adalah salah satu saksi selain orang tua dan serta kakak gw yang mengalami kejadian tersebut. Ini gw tulis berdasarkan kisah nyata, pengalaman hidup gw selama 10 tahun lamanya hidup bersama hal yang tak bisa dikatakan logis dan itu memang nyata. Kisah ini yang mengawali sebuah alasan kenapa gw tidak takut terhadap mereka yang tidak tampak dan alasan kenapa gw memiliki sikap yang tak dimiliki kebanyakan orang lain.

Diawali pada sebuah kota di Jawa Barat bernama Bekasi, sebuah kota yang menjadi akses penunjang kota lain seperti Bogor dan Jakarta. Disanalah kami tinggal, tepatnya di daerah Pekayon Jaya Bekasi Selatan, sebuah rumah yang kami huni, rumah yang cukup besar untuk kami berlima hidup dan menikmati rasa syukur kepada Tuhan. Memang saat itu bukan menjadi rumah yang istimewa, maklum Ayah gw Cuma bekerja sebagai pekerja swasta di perusahaan otomotif roda dua didaerah cikarang. Gw merupakan anak ke tiga dari 3 bersaudara alias anak bontot, abang pertama gw bernama Teguh dan abang kedua gw bernama Agung, semua anak berjenis kelamin pria yang selalu menjaga ibu walaupun ibu gw selalu marah-marah melihat tingkah kami yang suka bertengkar. Kami bertiga tidak ada perbedaan dengan anak-anak lainnya, suka bermain, memanjat pohon jambu diteras rumah dan berkeliling sepeda bersama-sama. Suatu waktu kita berada disebuah masa dimana semua itu berubah…

Saat awal kejadian itu gw baru berusia 7 tahun namun ibu gw bercerita tentang awal kejadian hingga gw melihatnya sendiri karena usia terus beranjak dan membuat gw sadar atas apa yang gw lihat sendiri. Hari kamis ditahun 1996, Ayah gw mendapatkan kabar via surat jika eyang buyut meninggal dunia dan dihari itu juga ayah berangkat ke kampong halamannya walaupun sebenarnya sudah telat untuk melihat terakhir kalinya wajah eyang buyut. Ayah gw berangkat menuju Purworejo tanpa ditemani istri ataupun anaknya dan memang tidak terlalu lama meninggalkan keluarga, kurang lebih 3 hari saja. Setelah pulang dari kampong halaman, ayah berdiskusi serius dengan ibu dikamarnya dan gw tidak tahu apa yang mereka bahas. Setelah terjadi pembicaraan serius tersebut, ibu gw sepertinya tergesa-gesah memaksa gw untuk ikut pengajian untuk belajar membaca Al-Quran dan gw masih ingat pernah ada kejadian dimana semua anak dikumpulkan dalam satu ruangan lalu ayah menyuruh kami membuka semua baju dan mengusapkan pusar kami dengan air yang telah didoakan. Gw bertanya mengenai air tersebut dan ibu berkata bahwa air tersebut adalah air zam-zam agar gw dan kakak-kakak gw tidak mudah terkena penyakit. Maklum, anak kecil hanya bisa manut saja, tidak ada rasa penasaran apapun mengenai hal ini.

Tahun 1997, gw merasakan ada hal yang aneh dengan kakak gw bernama Agung. Diwaktu-waktu tertentu, dia sering terlihat berbicara sendiri layaknya orang berbincang-bincang dan sering ia lakukan dipojokan ruang rumah. Wajahnya selalu menatap ujung tembok ruangan, seperti kita berbicara pada cermin. Obrolannya tidak jelas sama sekali namun sepertinya ada logat-logat bahasa jawa padahal yang gw tahu, Mas Agung tidak terlalu bisa menggunakan bahasa jawa atau mungkin dia sedang berlatih drama atau tugas kesenian di Sekolah Dasarnya,. Orang tua gw juga sadar atas perilaku dia yang berubah seperti itu, biasanya ibu langsung berteriak “kamu ngobrol sama siapa gung?” dan dia langsung mengalihkan pembicaraan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Mas Agung jadi sering bengong sendirian, bahkan dikelas pun gw dan ibu melihat dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sudah menjadi kebiasaan gw dan ibu mengantar jemput dia ke sekolah, apalagi semenjak dia sering berbicara sendiri, ibu semakin was-was hingga rela separuh waktunya menunggu mas Agung di sekolah. Jika ada mas Teguh biasanya gw gak ikut tapi ketika mas Teguh sedang keluar biasanya gw ikut ibu menemani di sekolah mas Agung.

 

Makan Mie Ayam 5 mangkok

Mie ayam memang menjadi kuliner kesukaan mas Agung, langganan dia adalah mie ayam yang terletak di pojok sekolah dan dibawah pohon jengkol, setiap hari Rabu kami selalu jajan mie ayam setelah mas Agung selesai sekolah. Rabu itu tidak seperti biasanya, entah kenapa hari itu mas Agung sudah menghabiskan 5 mangkok mie ayam, padahal ibu sudah menanyakan apakah mas Agung sudah kenyang atau belum dan mas Agung selalu menjawab belum, wajahnya masih seperti wajah orang yang kelaparan, sedangkan wajah dari abang mie ayam berubah menjadi wajah ketakutan sehingga dia tidak lagi mau melayani “Bu.. maaf bukan saya tidak mau membuatkannya lagi tapi ini sudah habis 5 mangkok dan anak ibu masih belum merasa kenyang, saya takut bu, mohon maaf, saya mau pulang bu” , lalu ibu gw memohon untuk dibuatkan satu mangkok lagi “iya bang tapi saya kan bayar dan saya lihat masih banyak mie nya, saya lebihin bang harganya, tapi saya minta dibuatkan satu mangkok lagi buat anak saya”, seakan-akan percuma, si abang mie ayam tidak mendengar apa perkataan ibu gw, dia telah mematikan kompor dan membereskan mangkok. Dengan wajah kecewa, ibu mengajak kami pulang meninggalkan abang mie ayam yang sudah siap pergi dari lokasi dia berdagang. Sedangkan mas Agung terus rewel minta makan sepanjang perjalanan pulang, sayangnya dia tetap hanya ingin makan mie ayam walaupun ibu sudah menyajikan masakan dirumah. Akhirnya ibu menyuruh mas Teguh untuk membeli mie ayam 3 porsi untuk mas Agung sendiri hingga akhirnya dia puas.

Mas Agung sering melakukan hal-hal aneh dikelas, yang paling menjadi kenangan pada teman-teman sekelasnya mungkin saat dia menyanyikan lagu apuse kokondao, saat itu pelajaran kesenian dan mas Agung disuruh bernyanyi didepan teman-temannya. Menurut guru yang mengajar kesenian, Mas Agung dari awal memang seperti kebingungan namun guru tersebut tidak memperdulikannya karena mas Agung menyatakan siap bernyanyi lagu yang di minta dan lirik yang ia nyanyikan berubah menjadi “Apuse kolor babe, baunye kemane-mane….” Sontak seluruh penghuni kelas tertawa terbahak-bahak dan atas kejadian tersebut ibu dipanggil oleh pihak sekolah. Dari situlah ibu mengetahui beberapa hal aneh yang disampaikan pihak guru yang mengajarinya, seperti seringnya dia berbicara sendiri, termenung, hingga tiba-tiba bentak ke temannya. Suara bentakannya melebihi orang dewasa marah sehingga tak jarang membuat temannya menangis mendengar dia membentak dan akhirnya tidak ada yang berani duduk disebelah.

Setelah pemanggilan pihak sekolah, mas Agung diperbolehkan sekolah namun dengan satu syarat, ibu gw harus menemaninya disebelah untuk merasakan langsung kebiasaan dia saat disekolah. Benar saja, ibu gw kaget bukan kepalang ketika dia hanya bengong, tidak mendengar apapun, hanya meratap ke depan bahkan semakin lama tingkahnya seperti orang autis, tidak memahami dan tidak melihat keadaan dan dengan berat hati pihak sekolah tidak bisa mengijinkan mas Agung sekolah, bahkan pihak sekolah menyuruhnya untuk belajar di sekolah kebutuhan khusus.

Ibu gw merasa yakin anaknya normal, dari lahir normal tidak pernah ada ketidaknormalan didalam kandungan dan selama ia main bersama teman-temannya tidak pernah kecelakaan tapi gw yakin ibu sebenarnya tahu atas kejadian ini karena raut wajahnya terlihat seperti ada rahasia yang ia sembunyikan.

 

Terjatuh dan tak sadarkan diri

Mas Agung akhirnya tidak lagi bersekolah, dia harus merelakan diri untuk berdiam diri dirumah dan meninggalkan kelas 4 SD nya namun tidak sedikit teman-temannya yang masih menjenguknya. Teman-temannya selalu bertanya kepada ibu kenapa Mas Agung tidak sekolah dan ibu selalu menjawab mas Agung sedang tidak sehat. Teman-temannya seperti Mas Hendra juga bingung terhadap perubahan sikap mas Agung, setiap dia kerumah dan mencoba berbicara ke mas Agung selalu dibalas dengan pembicaraan yang tidak jelas. Apa yang mas Hendra katakana tidak ada hubungannya, bahkan sepertinya mas Agung memiliki dunia lain dan dihadapan dia bukan mas Hendra yang mengajak bicara melainkan orang lain. Mas Agung hanya bisa duduk-duduk saja, terkadang pindah lokasi duduk ke kamarnya atau ke ruang tamu. Ibu selalu menyuruhku untuk mengawasinya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, gw perhatikan semua yang ada di dirinya seperti orang lain, perlahan-lahan berubah seperti bukan mas Agung.

Tepat di malam jumat namun gw lupa tanggal berapa, Mas Agung beranjak dari tempat tidurnya setelah mendengar adzan magrib menuju pintu depan rumah, langkahnya cukup berat dan tatapannya kosong seakan-akan ada yang memanggilnya dari arah balik pintu rumah yang tertutup rapat. Ibu yang sudah menggunakan mukena untuk sholat merasa kaget melihat dia berjalan seperti itu langsung membatalkan sholatnya dan berusaha menariknya namun ketika tangan ibu memegang erat lengan kanannya tiba-tiba mas Agung terjatuh seperti pingsan, lalu kejang-kejang. Kami sekeluarga yang kebetulan hanya ada gw, mas Teguh dan Ibu meraskan panic luar biasa, sedangkan Ayah masih dalam perjalanan pulang dari kantor dan biasanya baru sampai rumah pukul 19:30. Mas Teguh berusaha memegangi tubuh mas Agung agar tidak terluka karena organ geraknya selalu berontak kesana kemari, sedangkan gw berusaha untuk menyadarkan dia dengan cara menampar-nampar wajahnya dan ibu tidak henti-hentinya membaca al fatihah. 10 menit kemudian dia sudah mulai tenang, tertidur pulas seperti anak-anak yang kelelahan bermain, beruntunglah tidak ada bagian tubuhnya yang mengalami luka.

Ketika ayah gw datang, wajah ayah berubah menjadi pucat dan setelah kejadian tersebut gw tahu dengan hal yang sedang kami alami, sebuah hal diluar batas nalar manusia bahkan hokum matematika pun tidak bisa memecahkan persoalan ini. Secara perlahan ibu memberitahukan kami namun mungkin saat itu gw belum terlalu paham tentang apa yang sedang terjadi saat itu namun seiring perjalanan waktu gw jadi paham dengan hal yang sedang terjadi.

 

Tradisi Kepercayaan

Keluarga gw memang masih menganut tradisi kepercayaan jawa, hal-hal mistis masih diberikan tempat paling atas untuk dipercaya sehingga tidak jarang gw selalu menemukan sesajenan di kamar orang tua atau disebuah ruangan lainnya, apalagi semenjak kejadian tersebut, sesajen menjadi lebih sering terlihat, mungkin memberikan makan untuk si penunggu rumah. Ya awalnya gw berfikir jika apa yang dirasakan abang gw karena ulah penunggu rumah tetapi semua itu terbantahkan oleh cerita ibu yang menceritakan kejadian sebenarnya. Ketika buyut meninggal sebenarnya sudah menjadi sebuah tanda Tanya, tanda Tanya yang sangat memerlukan jawaban siapakah yang akan kena. ya kena, terkena warisan dari buyut karena orang jaman dahulu kala masih mengenal ilmu-ilmu kanuragan atau apalah yang tidak gw pelajarin dan buyut memiliki ilmu yang ketika dia meninggal terlepas dan harus memiliki penerusnya secara acak. Entah pegangannya itu berbentuk apa tapi disinyalir merupakan perwujudan dari siluman macan putih yang harus orang kuat dan benar-benar mampu bisa menyerap ilmunya.

Fakta mengejutkannya adalah jika sebenarnya yang terkena pegangan adalah gw tapi entah kenapa mental ke abang gw dan gw sama sekali tidak kena sedikitpun. Antara bersyukur dan merasa bersalah jika melihat wajah mas Agung yang selalu terlihat lelah menahan sesuatu. Ini semua terjadi akibat keluarga kami memiliki kepercayaan turun temurun yang harus dijaga jangan sampai punah. Padahal gw sama sekali tidak menyukai hal-hal yang berbau dengan mistis, bukan merasa takut tapi ada rasa jijik saat mengetahui sesajen merupakan makan dari Jin atau setan sedangkan keluarga kami cukup susah payah buat makan, eh ini malah member makan makhluk halus.

Mas Agung hampir setiap hari mengalami kesurupan tapi kami menyebutnya ngedok, istilah ini kami dapatkan karena mas Teguh suka memelihara ikan cupang dan ikan cupang memiliki keahlian marah hingga merubah fisiknya menjadi lebih besar serta garang. Begitu juga dengan mas Agung, ketika kesurupan, dia akan merubah fisiknya menjadi lebih keras, seram, bola mata putih dan memukul sembarangan. Gw selalu menjauh ketika mas Agung kumat karena takut terkena pukulan, meja tebal dari kayu jati pun bisa retak bahkan pecah terkena pukulan dia, sedangkan gw masih menjadi manusia dengan organ-organ vital yang rentan rusak.

 

Setiap Hari Kesurupan
Lama kelamaan melihat mas Agung kesurupan menjadi hal biasa, apalagi kalau tiba-tiba terdengar suara kedebug dan seiring terdengar suara seperti orang tercekik, kita semua yang mendengarnya akan langsung menuju lokasi kejadian, disana mas Agung sudah dalam posisi ngedok (kesurupan) biasanya mirip dengan orang ayan namun tidak mengeluarkan busa atau apapun dari dalam mulutnya, hanya air liur dan tatapan mata yang kosong cenderung putih. Melihatnya saja menjadi tidak tega, gw tahu itu sangat tidak nyaman buat dia apalagi disaat tahu keadaan tubuhnya terluka, tidak jarang kepalanya bocor akibat terbentur pinggiran dinding atau lantai akibat dirinya terjatuh tiba-tiba. Tangannya terbeset sesuatu hingga kebaret luka bahkan kami harus biasa melihat badannya banyak luka lebam seperti terkena benda tumpul. Semua luka yang ia punya adalah hasil dari dirinya kesurupan, bukan kami yang melukainya atau dengan sengaja menahan dirinya hingga terluka tapi memang luka tersebut bisa terjadi akibat kami lalai mengawasinya.

Sebenarnya kami bisa mencegah agar dia tidak terluka saat ngedok karena ada ciri-ciri khusus jika dirinya mau ngedok adalah dengan berjalan oleng seakan-akan mau pingsan dan biasanya di iringi dengan tatapan tajam terhadap sekeliling lingkungannya. Untuk mencegah hal yang tidak di inginkan, biasanya ibu mengikatnya disebuah tiang didalam rumah agar dia tidak terjatuh, itupun jika dirumah hanya ada ibu saja sedangkan anak-anak lainnya sedang sekolah. Jika ada gw atau mas Teguh biasanya kami yang menjaganya, Alhamdulillah gw belum pernah sampai terkena pukulan ataupun cidera akibat dirinya kesurupan, hanya saja ada rasa ngeri jika dia tiba-tiba mengamuk.

 

Keanehan Tiada Henti

Keanehan bukan hanya terjadi pada diri mas Agung, tapi juga terjadi dirumah ini, segala hal yang tidak masuk akan sering terjadi disini, mulai dari hilangnya barang-barang yang sering kami gunakan dan ditemukan kembali ditempat atau lokasi yang tidak masuk akal, seperti salah satu kejadian kami kehilangan kunci pintu belakang rumah, padahal setiap hari kunci tersebut tidak pernah kita lepas dari pintu, selalu tercantel pada daun pintu selain itu memang sudah berkarat sehingga susah dilepas namun pada hari itu kunci tersebut lenyap entah kemana. Ayah kami sudah mengintrogasi semua anggota keluarga kecuali sudah pasti mas Agung karena dia sudah tidak bisa diajak bicara sama sekali. Kami mencoba mengingat terakhir kali menyentuh kunci itu kapan dan mungkin juga gw pernah tidak sengaja menyenggolnya sehingga lepas. Setelah 2 hari mencari, ternyata kunci tersebut terncantel di luar pintu padahal kita tidak pernah lagi mengunci rumah dari luar dengan kunci tersebut, kunci tersebut selalu berada didalam rumah bukan diluar rumah. Gw sendiri sering kehilangan mainan, yang akhirnya ditemukan dibeberapa lokasi yang belum pernah dijadikan tempat persembunyian barang seperti diatas loteng atau dilemari buku bahkan didalam ember yang berisi beras.

Setiap keluarga kami merayakan hari keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha ataupun Maulid Nabi selalu terjadi keanehan yang sama yaitu adanya makanan yang lenyap tanpa jejak. Ibu selalu masak opor ayam yang menjadi kesukaan ayah dan setiap masak opor ayam pasti ada salah satu potong ayam yang tinggal tulang, bersih tanpa ada daging sama sekali. Gw kira ada kucing yang makan tapi gak mungkin juga kucing bisa makan bersih seperti itu dan tidak ada jejak kaki makhluk apapun dimeja makan. Biasanya jika ada makanan yang seperti itu, ibu tidak akan menyajikan makanan tersebut dimeja makan karena takut perut kami bermasalah. Setan apa yang senang makan seperti ini dan siapa mereka?

 

Tidur Namun Kaki Kotor

Hal yang paling membuat merasa kita tenang adalah disaat mas Agung tertidur, melihatnya tertidur pulas membuat kami merasa tugas kami sudah diringankan. Gw sendiri merasa sangat teramat kasian melihat wajah Mas Agung saat tertidur pulas, terlihat lelah tapi kelelahan itu mungkin tidak ia rasakan sama sekali. Mas Agung selalu tidur bersama ibu, sedangkan ayah biasanya tidur bersama Mas Teguh atau gw, tergantung dia lagi mood tidur sama siapa tapi tak jarang juga ayah tertidur pulas di sofa reyot.

Ketika mas Agung tertidur, sebenarnya menyimpan keanehan yang sama sekali tidak masuk akal. Telapak kakinya lama kelamaan terlihat kotor dan ketika gw korek-korek dengan kuku, terkumpullah tanah-tanah merah yang entah darimana bisa nempel di telapak kaki mas Agung. Padahal sebelum dia tertidur, ibu selalu membersihkan dirinya terlebih dahulu termasuk telapak kaki namun beberapa jam dia tertidur, kakinya akan terlihat kotor seperti telapak kaki yang telah berjalan-jalan diluar rumah dan menginjak tanah lapangan. Walaupun sudah kami bersihkan tetap saja telapak kaki tersebut lama kelamaan kotor kembali dan berasa sekali serbuk tanahnya. Jika ada yang pernah menonton film insidious, kurang lebih kejadiannya sama seperti itu, orangnya tidur tapi mungkin jiwanya sedang jalan-jalan.

 

Malam Khusus Untuk Berlindung

Ini yang membuat gw merasa takut, dimalam-malam tertentu kami sekeluarga harus berada disatu kamar dan biasanya berada di kamar depan yang dekat pintu rumah. Semuanya masuk kedalam kamar tanpa ada yang boleh keluar sama sekali. Ketika kami harus berada didalam satu kamar biasanya ibu yang memberitahukan ke masing-masing anak termasuk mas Agung. Kalaupun gw nya sudah tertidur, biasanya gw digendong untuk masuk ke kamar. Gw masih ingat saat kita semua berada didalam kamar, ibu dan ayah berada didepan pintu kamar, biasanya mereka sholat terlebih dahulu dan ibu mengaji. Setiap kejadian tersebut entah kenapa mata gw terasa berat, ngantuk dan lama kelamaan terlelap tidur tapi pernah sesekali gw mencoba untuk membuka mata walaupun agak sedikit kriyep-kriyep ingin tertidur.

Suasana menjadi hening hanya suara ibu mengaji dan ayah berkomat-kamit membacakan doa, beberapa menit kemudian gw mendengar suara langkah kaki diluar kamar tepatnya diruang tengah, seperti langkah kaki yang berjalan melewati kamar kami. Awalnya gw berfikir ada maling dirumah ini dan simaling sedang beraksi melangkahkan kakinya mencari harta keluarga kami tapi rasa-rasanya kalau emang maling kenapa ayah dan ibu seperti diam tidak ada gertakan untuk melawannya?. Dugaan gw langsung berubah, sepertinya bukan maling karena selain ada suara langkah kaki, terdengar juga suara orang ngorok, orang ngorok yang teramat berat mungkin kalau ada yang pernah mendengar suara kambing di gorok, nah suaranya seperti itu. Suara tersebut membuat bulu-bulu ditubuh gw berdiri, merinding mendengarnya bahkan membayangkan sosok dibalik suara itu saja gw gak berani.

Setelah mendengar suara-suara ngorok gak jelas tersebut, suasana kembali hening,tenang dan hanya suara ibu ngaji saja sedangkan Ayah terlihat diam sambil kepalanya merunduk. Gw sedikit merasa lega karena suara-suara itu sudah tidak terdengar lagi, namun ternyata masih ada suara aneh-aneh lainnya yang masih tersisa yaitu suara gaduh seperti ada keributan diluar kamar. Entah apa yang terjadi diluar kamar sehingga terdengar suara gaduh dan sedikit ada suara barang-barang yang dibanting. Waduuuh… apa lagi ini gusti, gw langsung ngebayangin banyak setan disana yang lagi berantem ala smackdown, memikirkan hal itu hanya membuat gw jadi terlelap dan memang gw gak pernah bisa bertahan melek hingga malam tersebut berakhir.

Pada pagi harinya dan pada awalnya kejadian ini pastinya gw bakal merasa terkejut karena ruang tengah yang digabung dengan ruang makan menjadi berantakan. Sisa-sisa makanan semalam bisa berantakan kemana-mana hingga mengotori lantai tetapi yang anehnya adalah tidak adanya benda yang pecah, padahal gw yakin banget telinga gw gak budek dan mendengar ada suara piring atau benda apapun yang dibanting sehingga timbul suara perpecahan (pecah teramat tiba-tiba). Semakin sering kami mengalami hal tersebut, kami menjadi terbiasa dengan kejadian tersebut, memang ada hal yang diluar ekspektasi kami atau tidak akan bisa dipikir dengan logika apapun.

Bersambung……

Iklan

1 thought on “10 Tahun Bersama (Bukan) Kakakku Part 1”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s