Cerita Singkat

Balada Sepeda Roda Empat

Gw termasuk orang yang telat bisa naik sepeda, gw baru belajar naik sepeda saat kelas 6 SD padahal temen-temen gw sudah bisa naik sepeda saat kelas 2 SD. Buat gw saat itu, sepeda adalah sebuah beda yang ajaib,dimana seorang manusia bisa seimbang naik sepeda padahal di kanan kirinya tidak ada penompang agar sepeda itu tidak jatuh, lebih takjub lagi saat melihat orang naik motor, kereeen… seakan gw melihat sosok ksatria berkuda. Ya namanya juga masih kecil, ngeliat yang aneh-aneh berasa takjub, waktu ngeliat kucing berakpun gw merasa takjub karena heran melihat kucing bisa berak tenang walaupun gw ada didepan dia.

Saat gw kelas 4 SD, setiap sore harinya anak-anak komplek berkumpul di perempatan gang, cukup luas buat kami bermain-main disana. Biasanya terdapat 8 hingga 12 anak bermain, mulai main galaksin, tang umpet, tang jongkok atau main mata, beda sama anak jaman sekarang, ngumpul-ngumpul tapi otaknya di gadget giliran udah pada dirumah masing-masing barulah mereka ngobrol di wassapp. Kembali ke masa gw SD kelas 4, saat itu sedang hits iklan sepeda wimcycle, yang dengan tagline tak terlupakan “wimcylce… heeeeboooooh” gara-gara iklan ini banyak anak komplek pada beli sepeda . ada 4 anak yang tidak mengikuti trend yang sedang in termasuk gw, karena bokap gw gak punya duit buat beli sepeda, maklum ekonomi keluarga lagi carut marut dan sepeda saat itu termasuk barang mevvah apalagi merknya wimcycle. Beberapa anak yang sudah memiliki sepeda biasanya berkumpul, mereka membuat geng sepeda, sedangkan yang gak punya sepeda Cuma jadi penonton dengan wajah mupeng. Walaupun mupeng tapi dengan bodohnya kita sering ngikutin geng sepeda seperti cheerleaders yang selalu berisik sorak sorai bergembira menyemangati atlet idolanya.

Biasalah anak komplek, kalau mau dibilang keren harus punya barang yang keren pula, ada salah satu anak komplek bernama Andro yang memang orang tuanya kaya raya. Awalnya anak ini dilihat biasa-biasa saja sama teman-teman lainnya tapi sosoknya terlihat berbeda setelah ayahnya memberikan sebuah sepeda merk Federal, jaman dulu merk ini yangpaling mahal, mungkin jika dibandingkan era sekarang sekelas dengan sepeda merk Polygon. Sepeda merah merona dengan jok yang masih diplastikin, menandakan sepeda tersebut dibeli secara baru hahahha kalau second gak mungkin joknya diplastikin dan bannya masih berambut. Semua teman sepermainannya melihat dirinya bagai sosok idola, takjub dan mata mereka tak henti-hentinya memandang sepedanya Andro. Bahkan saat andro memamerkan skill nya bermain sepeda, ibarat anak-anak putri melihat zayn malik bertelanjang dada, histeris… sedangkan Gw? Ya biasa aja, gw tipe anak cowok yang biasa-biasa aja melihat ke-wah-an anak komplek, gw lebih takjud melihat topeng monyet naik sepeda-sepedahan dibandingkan melihat manusia berlemak menggenjot sepeda mahal.

img_0191

Anak kecil tetaplah anak kecil, gw yang masih berstatus anak-anak pasti menyimpan rasa keinginan buat memiliki sesuatu. Gw cerita sama nyokap tentang keinginan gw memiliki sepeda dan sempat ditentang keras, permintaan gw udah kaya anak gadis minta kawin sama pemuda paruh baya. Nyokap gw beralasan jika gw bakal terluka naik sepeda, maklum gw punya kecacatan ditubuh yang bikin keseimbangan gw agak kacau, next time nanti gw certain deh. Beruntung bokap memang pengertian, dia menjelaskan jika sudah saatnya gw memiliki sepedah. “sudah saatnya opik menikmati apa yang dinamakan sepeda bu, sudahlah, jangan khawatir kebiasan dia yang suka jatoh ke got” ah bokap memang paling handal. Alhamdulillah gw dapat kesepakatan untuk dibelikan sepeda namun dengan satu syarat ringan yaitu harus ranking 3 besar, hehehe itu sih gampang karena gw langganan ranking 2 setiap pembagian raport dan akhirnya pun gw mendapatkan ranking 3, fyuuh… untung aja bukan ranking 4, mungkin karena akhir-akhir ini gw kebanyakan main SEGA sehingga daya minat belajar gw menurun apalagi gw sempat kena campak dan harus ijin sakit selama 3 hari.

Nyokap langsung ke toko sepeda tapi tanpa mau gw dampingi, gw sih paham kenapa nyokap ga mau gw temenin karena takut gw milih sepeda yang mahal dan mengira gw akan guling-gulingan dijalan jika kepengenan gw gak dipenuhin padahal sih ya iya. Gw menunggu di teras rumah menanti kehadiran nyokap tercinta sambil menenteng sepeda, aaah… rasanya seperti nungguin tukang susu murni nasional kesukaan gw. Selama satu jam gw duduk diteras tapi nyokap belum menampakan diri, gw sempat berpikir nyokap dirampok karena membawa sepeda mahal, ya Allah lindungilah nyokap gw, biarpun galak tapi kalau mukul suka bohongan kok. Tepat pukul 12 siang, nyokap gw membuka pagar rumah dan dia membawa sepeda…. Roda… empatt…. Gw melihat sepeda itu memiliki roda besar depan belakang dan sepasang roda kecil dibelakang. Tiiiidaaaaaaaaaaaaak…… apa yang dipikirkan nyokap gw???

Sepeda roda empat men… sepeda buat anak-anak yang newbie banget sedangkan gw walaupun gak punya sepeda tapi bisa (sedikit) naik sepeda. Agak kecewa sih tapi ya mau gimana lagi, duit nyokap udah jadi sepeda dan itu adalah benda yang menjadi hak gw untuk diterima dan kewajiban gw merawatnya. Gw menerima hadiah tersebut dengan lapang dada, nyokap terlihat bahagia melihat gw menggowes sepeda itu disekitaran rumah. Gw gak berani berjalan dengan sepeda ini dengan radius lebih dari 10 meter dari rumah, malu…. Walaupun akhirnya ketahuan juga gw punya sepeda roda empat sama teman-teman gw. Gw punya teman bertetangga yang nerima keadaan kita masing-masing, ada Maul, Cahyadi dan Deni. Mereka sih nerima gw apa adanya, apalagi pas gw dipaksa memiliki sepeda roda empat, mereka tidak serta merta mengejek gw karena mereka juga paham gw baru kali ini punya sepeda, beruntung gw gak dibeliin sepeda roda 3 buat anak-anak balita.

Kelegowoan ketiga sohib gw gak sejalan dengan anak-anak komplek lainnya, mereka sontak ngecengin gw, menghina dinakan gw seperti anak-anak balita yang baru belajar naik sepeda padahal mereka gak tahu kalau kelebihan naik sepeda roda empat adalah kita gak perlu turunin kaki saat berhenti dan gak perlu standar samping karena gw gak akan jatoh ketanah berkat ditopang oleh kegagahan sepasang roda kecil tambahan di ban belakang dan memang ini memalukan. Gw tetap gigih berlatih menjalankan sepeda, roda kecil sepeda gw coba diputar keatas sehingga sepasang roda kecil tersebut tidak menyentuh aspal tapi tetap terlihat sepeda roda empat. Alhamdulillah dalam seminggu gw sudah bisa naik sepeda roda dua tanpa bantuan roda kecil mengenaskan, sudah cukup 1 bulan ini gw jadi bahan olok-olokan mereka.

Gw minta sama bokap untuk melepas roda kecil tersebut karena anak-anak komplek tetap memandang gw sebagai anak-anak kecil baru brojol akibat melihat roda kecil sepeda gw masih menempel. Resiko yang gw emban adalah tidak lagi memiliki standar dua karena sepeda roda empat memang tidak memiliki standar apapun. Tidak masalah, gw bisa parkir dipepetan tembok atau rubuhin sepeda dipagar tanaman tetangga. Pas kelas 6 SD dan gw mendapatkan ranking 2, gw dibelikan sepeda wim cycle yang sempat hits, sepeda yang memiliki jalu sebesar kue putu ini menjadikan gw terlihat keren, namun saying saat gw sering bawa ke sekolah, sepeda gw sering dibanting-banting sama orang yang bertanggung jawab, beberapa teman SD gw memang ada yang gak suka sama gw, apa yang gw beli membuat mereka gak suka.

 

Kisah ini gak ada sari ceritanya dan gak ada hal yang bisa pembaca ambil hehehehe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s