Catatan Kecil, Cerita Singkat, My Word

Kopi dan Kenanganku

Sebagian besar laki-laki dimuka bumi ini sangat menyukai kopi, sebuah minuman yang terbuat dari serbuk biji kopi dan rata-rata berwarna hitam, walaupun judulnya kopi putih (white coffee) tapi tetap aja warnanya gak putih, cenderung gelap. Minum kopi bisa dilakukan kapan aja kecuali saat tidur, belum pernah gw liat orang tidur sambil ngopi, kecuali ngupil. Kopi buat gw adalah sesuatu yang murah tapi elegan karena ke-eleganannya sebuah cafe kopi bisa meracik kopi harganya menjadi lebih mahal padahal bijinya sama aja dengan kopi murah yang kita minum. Gak sembarangan tata cara minum kopi, lu pasti belum pernah liat iklan kopi dengan cara minum seperti iklan minuman extra joss atau minuman stamina lainnya yang bisa tumpah-tumpah sambil gelasnya di adu. Pasti semua iklan kopi mengedepankan ke-eleganan kita meminum kopi, disruput atau diteguk secara biasa-biasa saja.

Awalnya gw gak bisa minum kopi layaknya pria normal, sedikit saja sudah merasa mules karena gw punya asam lambung yang tinggi namun sekarang sudah tidak lagi, gw berlatih untuk kuat minum kopi dengan cara mengawalinya dengan mengisi perut agar lambung tidak kosong, perlahan tapi gak pasti, perut kita akan kuat dengan kesedapan kopi. banyak teman-teman yang awalnya anti kopi sekarang jadi pedagang kopi karena mengikuti resep menikmati kopi tanpa nyeri haid. Awal pengenalan gw dengan kopi dimulai sejak kelas 3 SD, sekolah dasar, masih tergolong anak-anak tapi gw sudah coba-coba (nyuri-nyuri) seruput hingga seteguk kopi punya bokap. Bokap gw emang maniak kopi, bahkan ada istilah, belum bisa dimulai kisah hidup kalau belum ngopi. Setiap pagi nyokap gw menyajikan segelas kopi di meja makan, berharap bokap gw akan mendatangi meja makan sembari seruput kopi. Selalu rutin setiap pukul 5.30 pagi sebelum bokap gw berangkat kerja dan biasanya gw udah bersiap diri sepik-sepik duduk dimeja makan untuk mencuri tegukan kopi karena biasanya setelah minum seteguk kopi, bokap gw akan beranjak mandi dan disaat itulah gw beraksi untuk tancap gas menikmati kopi. Gw memang penasaran seperti apa rasanya minuman hitam itu, ternyata rasanya enak bro, manis dan sensasinya tiada tanding. gak ada efek apapun saat pertama kali gw minum kopi, hingga kegiatan ini menjadi rutinitas gw dan akhirnya ketauan juga sama nyokap. Gw kira nyokap bakal marahin gw semarah-marahnya namun ternyata nyokap hanya memberikan saran, kalau mau cobain minum kopi harus bilang dan saat itu gw suka bilang tapi tetep gw dibatasin minumnya dan hanya boleh minum kopi susu walaupun komposisi susunya lebih banyak daripada kopinya, gak apalah daripada gak.

img04107-20170201-1616

Hingga pada saat gw duduk dibangku SMP, gw mengalami kejadian na’as, gw berak-berak gara-gara kopi dan ternyata yang gw minum adalah kopi bermerk Neskapeh, kopi ini ternyata memiliki konstur rasa kuat sehingga ada rasa-rasa asam yang malah merangsang asam lambung gw lebih berani hingga akhirnya gw berak-berak plus gejalan tipes, untung gak sampai sekarat, gak lucu dilaporan kedokteran “ada anak remaja yang sekarat gara-gara salah minum kopi”. Sejak saat itu saya mempelajari jenis-jenis kopi yang layak gw minum dan mana yang jarang-jarang gw minum, akhirnya memiliki kesimpulan gw harus menjauhi produk neskape karena kandungan kopinya kuat, memang merk ini lebih ngetrend dan anak muda banget tapi entah kenapa gw sebagai anak muda (saat itu) gak cocok sama kopi ini. Gw kalau ngeliat cangkir gede berisikan kopi hitam selalu teringat sosok bokap, setiap pagi ataupun sore selalu disediain kopi hitam manis racikan nyokap, dan memang racikannya superb banget padahal bukan kopi mix yang tinggal tuang lalu seduh melainkan harus ditakar dan dikira-kira. Bokap cuma suka merk kopi yaitu kapal ngapi, dari dulu gak pernah mau ganti walaupun pernah gw kasih kopi mahal buatan luar negeri, tapi tetep baliknya ke ngapal ngapi. hingga bokap dan nyokap gw menghabiskan masa pensiun dikampung, tetap merk ngapal ngapi setia menemani mereka berdua dan selalu ada di meja makan, gw kadang-kadang pakai kopi tersebut buat ngilangin bau sepatu atau bau tak sedap lemari pakaian. taro aja satu sendok kopi bubuk diatas tisu, lalu untel-untel dan masukin kedalam sepatu, satu sepatu satu buntelan tisu, Insya Allah jika sepatunya gak jamuran bakal hilang bau tidak sedapnya, kalau jamuran mending dicuci. oh iya… tips ini gw dapat dari seorang supir taksi, waktu gw kelas 5 SD kakak gw pernah muntah di taksi dan si supir dengan santainya cuma minta ganti uang kopi sebungkus aja, padahal bokap gw udah mau ngasih duit buat cuci mobil yang notabene nya lebih mahal dari sebungkus kopi tapi si supir tetep kekeuh karena kata dia lebih baik muntahan dikasih serbuk kopi dahulu sampai kering, baru dicuci karena kalau langsung dicuci, baunya suka masih ada apalagi perjalanan dia masih jauh. Beda lah jaman itu dengan jaman sekarang yang mudah menemukan tukang cuci steam, jaman dulu sekitar tahun 97 susah banget tempat cuci mobil.

ibarat senjata perang, setiap pria harus memiliki kesukaan kopinya masing-masing, ini akan menunjukan jati diri lo dihadapan manusia yang lain dan kasir kedai kopi, gak mungkin kan lu beli kopi di kafe tapi lu bingung mau minum yang mana, pilih dengan yakin karena itu memang kesukaan lu. Seperti halnya gw yang gak pernah ganti jenis kopi kalau minum di kafe, selalu kapucino, mau minumnya di setarsebak, kopibin, sampai beli kopi jadi di indomarch tetap milihnya kapucino. Gw suka kapucino saat era torabiko mengeluarkan produk jenis ini, awalnya memang mencoba merk dari indokape capucino, gw masih inget tagline iklannya saat pertama kali keluar ditahun 1996, “dimana saja dan kapan saja, indokape…ka…pu…cino” terus talentnya pada joget-joget di layar backlight gitu, anak muda banget pokoknya tapi sayangnya gak cocok sama lambung gw. Akhirnya bokap gw dapat parcel ditahun 2003 dan isinya ada Torabiko kapucino, sejak saat itu gw suka kapucino sanset merk tersebut. Biasanya orang minum kopi di kafe karena ingin hangout ngobrol panjang kali lebar sama sobatnya atau meeting kantor (ini khusus kantor yang gak punya ruang meeting) atau ketemuan sama kolega (sebenarnya gak bagus ngomongin perusahaan ditempat umum). Kalau gw malah gak suka ngobrol atau ketemuan di kafe kopi karena gak privasi, gw gak bisa ngomong jorok kenceng2, gak bisa ketawa kenceng-kenceng bahkan gak bisa usilin temen pake fisik kenceng-kenceng (mukul). biasanya gw minum kopi di kafe karena emang gw lagi pengen ngopi dan ada uang hahahaha, ada uang lebih, biasanya habis minum gw rada nyesel dan berpikir “gw bisa beli 4 gelas kopi dengan harga segini dan gak kebanyakan es batu”. anak muda sekarang sih lebih ke arah gaya nongkrong di kafe, padahal obrolannya sama aja kaya diteras rumah atau ngumpul-ngumpul di kafe sambil ngopi tapi tangannya sibuk sama gadget, gak ada faedahnya sama sekali.

Tahun 2009 gw mulai menyukai ke eksisan minum kopi cara baru yaitu mencoba minum kopi dari berbagai macam daerah di Indonesia, gw gak keliling Indonesia kok karena ga ada budget, tapi setiap gw dinas keluar kota dari kantor biasanya gw selalu mencari kopi sebagai oleh-oleh buat diri gw sendiri. Kebiasaan ini dimulai saat gw pertama kali ke Bali untuk dinas kantor, gw datang ke pusat oleh-oleh dan disana terdapat beragam macam oleh-oleh termasuk kopi, mulai dari kopi khas kintamani sampai kopi khas ubud atau denpasar (setahu gw denpasar gak ada kebun kopi,cmiiw). Lalu pergi ke Jogjakarta, gak lupa gw beli kopi buat dicoba, Surabaya hingga ke Thailand pun gw beli kopi tapi lucunya pas ke Thailand gw malah beli biji kopi karena gw gak tahu kalau merk kopi tersebut masih dalam bentuk bijih, belum ditumbuk jadi serbuk, alhasil gw cuma cobain satu biji buat diemut habis itu gw kasih temen gw buat dibawa ke lombok, niatnya tukeran biar gw dikirimin kopi khas sana tapi sayangnya mungkin doi lupa sampai sekarang. Hingga saat ini ada teman yang pergi ke Aceh, gw nitip beliin kopi aceh karena gw gak bisa lari kesana. dari berbagai macam kopi khas daerah yang gw coba, gw lebih suka kopi dari jogja, gw lupa merknya apa tapi bungkusnya masih sampul coklat kertas, rasanya otentik khas kopi jawa dan gak bikin perut mules. oh iya… beberapa minggu lalu gw dikasih kopi flores dari teman kantor yang kebetulan habis traveling kesana, enak juga sih rasanya tapi terlalu aneh karena gw gak biasa minum kopi dari Indonesia timur yang memiliki rasa khas.

Kopi dan Peni, dua kata ini agak terkait karena gw punya teman sekantor beda departemen yang suka minum kopi semaniak gw, cewek bertubuh mungil, hijab dan cantik ini sangat menyukai kopi, dimanapun dia berada selalu ada cangkir kopi, ibaratnya mirip banget perokok yang gak mau ketinggalan ngerokok (rokoknya). ya agak jatuh hati sih sama sosok ini karena kalau ngomongin kopi itu sangat expert, kalah deh barista toko kopi sebelah karena doi juga sudah hobi minum kopi sejak SD, cuma bedanya gw baru pelajarin kopi 10 tahun kemudian sejak awal minum kopi sedangkan dia dari SD sudah turun sendiri ke perkebunan kopi, maklum di tempat dia brojol “Ngawi” ada kebun kopi, kalau gw sering ke Pondok Kopi waktu kecil, kerumah bulek. Sayangnya dia memutuskan untuk resign disaat kita mulai akrab berbincang langsung mengenai kota kelahiran masing-masing dan masih suka komunikasi via maya membahas kopi, haaaaaah… kenangan indah dengan kopi.

Tahun 2008 gw pernah dipanggil buat interview kerja, di formulir penerimaan karyawan baru ada kolom “Kebutuhan apa yang diperlukan ketika bekerja?” dan gw jawab “secangkir kopi tiap pagi”, gw pun gak diterima kerja disana. Jawaban gw sempat jadi perbincangan hangat saat komunikasi oleh HRD, kenapa kopi menjadi alasan dan gw menjawab itu semua bukan alasan ataupun syarat, cuma sekedar kebiasaan untuk memulai kegiatan sehari-hari. Perbincangan dari awal membahas alasan kopi berlanjut ke bahas musik, film hingga hobi masing-masing dan dari sini kita bisa melihat bahwa tidak perlu secangkir kopi didepan kita untuk mencari bahasan dalam obrolan, memunculkan tema biji kopi pun kita bisa membahas segala bahasan yang kita suka tapi tetep lah gw gak diterima diperusahaan tersebut, lagian gw juga gak berharap bisa masuk ke perusahaan tersebut, masa iya HRD pakai bajunya berantakan dengan kancing kebuka 3 buah, cowok pula, kalau mbak-mbak sih gak apa-apa.

Rata-rata pada heran kalau gw pesan kopi hitam, baik disaat bertamu ditanya mau minum apa ataupun saat beli di pinggiran jalan, kenapa dengan kopi item orang jadi heran? karena tampang gw bukan seperti orang maniak kopi item padahal kopi item menjadi sebuah awal pengenalan gw didunia hitam pekatnya perkopian. Setelah gw mengeluarkan kalimat “kopi item aja…” lalu akan ada kalimat penyanggah dari mereka “kopi item? oh kopi susu aja ya atau kopimix” kalau gw tekankan kalimat gw seperti “eh… kopi item aja gulanya dikit” akan semakin muncul kalimat konjunggasi yang hasilnya “adanya cuma kopimix guddey aja” ya udah akhirnya gw terpaksa minum kopi whait alias kopi putih yang gak ada rasa kopi-kopinya dan bikin kencing gw bau kopi, aneh lho, diminum gak berasa kopi tapi pas kencing bau kopi, kalau gw jahat sih bisa gw minum lagi, iiish… ternyata kopi item itu identik dengan perokok, mereka melihat gw tidak merokok jadinya agak heran pas gw pesan kopi item padahal fakta dilapangan yang ada di diri gw, kopi item membantu gw mengurangi rokok hingga akhirnya gw gak ngerokok lagi. sebagai ganti rokok, gw biasanya minum kopi item sedikit gula dan alhasil rasa asem dilidah akibat candu rokok bisa hilang selamanya. lagian kalau gw ngerokok sehari sebungkus, itu sama aja gw bisa beli kopi sebungkus buat seminggu dan gw gak dapat kenikmatan apapun dari sebatang rokok setelah gw sadari, kecuali pas gw lagi stress berat dan gw pribadi jarang stress berat. rokok gw waktu itu selalu Jarum blek kapucino hehehe gak jauh-jauh dari kopi lagi kan.

Ternyata dari sebuah biji kopi, kita bisa mengalami berbagai kejadian menarik dan kenangan hidup, tanpa kita sadari itu semua berawal dari kopi. Teman saat kita ngobrol, teman saat kita sendirian menikmati musik, bekerja ataupun bengong jorok dan kopi menjadi sebuah pusat alasan dari segala hal yang menurut otak kita belum siap buat bekerja “gw belum bisa mikir kalau belum ngopi”. omongan bokap gw ternyata benar, secangkir kopi bisa menjadi sahabat terbaik kita memulai hari ini dan ampas kopi bisa menjadi sebuah batasan kita untuk berhenti menikmati secangkir kopi, sama seperti kehidupan ini, jangan sampai terlena dengan kenikmatan dunia karena ada saatnya kita berhenti dan tidak melanjutkannya karena semua sudah terasa seperti ampas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s