Generasi Manja Anak Sekarang

Posted on Updated on

Melihat berita-berita di TV ada sekelumit masalah Negara ini yang unik-unik, khususnya pada masyarakat dan terutama pada anak-anak bangsa yang diharapkan menjadi penerus orang-orang sukses terdahulu namun nyatanya? Hanya menjadi calon masyarakat yang terbuang (sampah). Gw gak habis fikir kenapa seorang murid bisa dengan teganya melaporkan seorang guru ke polisi karena hanya dicubit, gw juga gak ngerti kenapa orang tua sekarang sangat sensitive sehingga berani mengadukan guru anaknya ke pengadilan lantaran menjewer telinga anaknya. Disinilah kita hidup bersama dengan para generasi manja, generasi yang sensitive dan generasi yang mudah remuk.

Kira-kira apa yang ada dipikiran orang tua saat berafiliasi dengan anaknya untuk menjebloskan sang guru kedalam penjara. Mungkin saat itu si ortu berpikir “jangan berani-beraninya sama anak gw, lu colek, gw bui” apakah jadi teramat keren? Apa yang ada di sumsum kepala anaknya sehingga punya ide untuk mencelupkan gurunya ke penjara, mungkin “gw pengen dihormatin tanpa merendahkan harga diri” toh akhirnya si anak jadi super duper direndahin didunia maya, dunia nyata dan dunia akhirat. Jadi dibully gak karuan kan gara-gara kasus ini, ciaan….

Dari berita di tv yang ada, gw yakin ada banyak kasus-kasus lain yang belum terungkap ke media, kayaknya sudah banyak juga guru-guru yang ditegur orang tuanya karena anaknya si orang tua mengalami perlakuan yang tidak lembut. Gw jadi inget jaman-jaman gw sekolah dulu, dari SD hingga SMA tidak pernah absen merasakan hukuman dari guru, mulai dari di jewer, digampar, digebok pake bola hingga di smack down (mungkin saat itu guru gw lagi terobsesi menjadi Kane). Apakah gw marah atau merasa dendam kepada mereka? Tentu tidak, disinilah garis kenikmatan kita bersekolah, penuh tantangan yang memang harus kita lewati prosesnya sehingga kita menjadi generasi yang tangguh dan selalu inget rasanya digampar itu gak enak, jadi mawas diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Disaat-saat seperti itu, munculah istilah guru killer yang berarti bukan tukang bunuh secara sebenarnya. Bagi gw guru killer hanya membunuh rasa kenakalan kita sehingga bisa mengurangi tingkat kebodohan murid di satu sekolah walaupun sebenarnya banyak murid yang gak ngerti tujuannya guru killer itu berada.

Gw jadi ingat dengan salah satu guru killer di SMP yang bernama Alm.Bp. Nandang, beliau adalah guru matematika yang sudah senior banget di sekolah dan hobi makan bubur kacang ijo dekat rumah gw setiap pulang dari mengajar. Gw sudah sering banget di gampar sama dia karena gw gak bisa menyelesaikan soal-soal matematika, itu karena gw lemah terhadap matematika dan gw sendiri masih gak ngerti rumusan kosinus hahahaha.. walaupun sering digampar sama beliau, gw tetap fun diajarin sama dia, tetap ketawa saat dia ngelawak dan tetap senyum tertawa saat dikejar-kejar beliau ketika ketahuan kabur dari upacara bendera. Beliau tergolong salah satu guru killer ternama, gw rasa 80% murid di sekolah itu baik kelas 1 hingga kelas 3 pernah merasakan tamparannya, gak enak karena orang nya kurus sehingga saat digaplok langsung kena ketulang. As you know, beliau galak saat jam sekolah, diluar jam sekolah gw sering ngobrol sama beliau, suka curhat mengenai anaknya yang akan beranjak sekolah dan bingung memikirkan biaya kuliah yang semakin mahal (gw dari smp aja udah jadi tempat curhat orang tua) kadang-kadang kita becanda bareng dan gw masih inget becandaan beliau saat itu “dibalik BH apa hayooo….?” Kalau ada yang jawab tetek, siap-siap digaplok dan pasti beliau memberikan jawabannya “dibalik BH adalah HB…” , Bp. Nandang adalah guru hebat, dia baru pulang saat semua murid-murid di sekolah sudah tidak ada alias sudah pulang. Sambil pulang kerumah dengan sepeda merahnya, dia suka sidak ke rental PS, atau jalan-jalan yang ada disekitar sekolah apakah ada anak muridnya yang nongkrong, kalau ada pasti disuruh pulang, kalau ndabek ya digampar. Apakah murid-murid didikannya menjadi benci kepada beliau? Enggak tuh. Disaat beliau menghembuskan nafas terakhir karena musibah kecelakaan dirumahnya sendiri, banyak murid yang berdatangan dari generasi awal sekolah itu didirikan hingga ke 5 generasi adek-adek kelas gw turut hadir. Pastinya rumah beliau tidak bisa menampung para pelayat yang hadir, as you know again, jalanan arah rumah dia dipenuhi dengan mobil-mobil yang tergolong mahal dan itu hasil jerih payah anak didiknya, salah satunya kakak kelas gw dulu yang sudah sukses dikantornya, dia bilang selalu inget hukuman yang diberikan almarhum sehingga dia selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan, kesalahan membuahkan kepedihan.

Demikian kisah salah satu guru gw yang melakukan kekerasan dalam metode mengajarnya, apakah guru tersebut pernah dilaporkan ke polisi? Tidak pernah, apalagi ditegur oleh orang tua murid, sangat-sangat tidak pernah. Guru seperti bp. Nandang tidak Cuma beliau saja, tapi ada 4 guru yang menyabet gelar the killers namun tidak ada satupun guru yang harus duduk manis dipengadilan. Gw bisa memberikan gelar untuk generasi anak-anak sekolah sekarang sebagai generasi yang manja, bahkan orang tuanya pun menganut aliran manis manja grup, sok-sok manis dan manjain anak sehingga kedepannya gak ngerti mau jadi apa. Memang semua ini tergantung orang tuanya, kalau orang tuanya naungin anaknya dihukum karena salah, pastinya sang orang tua akan nambahin hukuman ke anaknya agar tidak melakukan kesalahan untuk ke seratus kalinya, bukan dibela seakan-akan anak itu benar, apakah nanti saat anak melakukan pemerkosaan akan dibela juga karena dianggap melakukan tindakan yang benar? Efek domino yang seperti inilah nantinya membuat murid mudah mematikan rasa hormat kepada guru dan orang-orang yang lebih tua dari si anak walaupun rata-rata itu benar adanya. Coba deh diperhatikan, anak-anak yang melaporkan guruya ke polisi merupakan anak-anak bad boys yang nakalnya dibelakang, ngerokok disekolah, seks bebas, tukang mabok, tukang bully sampai tukang sampah (sampahnya ya dia). Entah itu anak pejabat atau anak-anak dengan mental tempe yang hanya mengikuti trend anak-anak muda di sinetron televisi.

Gw aja gak ngerti, apa yang ada di otak pelapor, apakah dengan melapor kejadian yang dialaminya ke polisi bisa menambah nilai dia dalam belajar atau bisa mendapatkan gelar cum laude saat lulus kuliah nanti? Gw rasa enggak, hanya menambah rasa sombong dan tengik kepada teman-temannya yang lain. Di dunia kerja pun banyak anak-anak muda yang baru belajar bekerja menganut system manja, gak mau kerja berat, pengennya dibelakang laptop Cuma ngetik sedikit, yutuban, haha hihhi dan menikmati fasilitas kantor tapi selalu protes gak bersyukur ketika digaji Cuma 3 jutaan. Gw pernah menjabat sebagai HRD, menginterview orang-orang calon karyawan yang rata-rata mereka ini para pekerja pemula, ingin dapetin pekerjaan namun sayang, rata-rata anak muda yang curhat ke gw berharap hasilnya bisa meluluskan mereka jadi karyawan harus gw tolak mentah-mentah. Alasannya kenapa? Mereka minta fasilitas seperti uang bensin, kendaraan kantor, dan meminta gaji yang malah gajinya dua kali lipat dari gw, sedangkan mereka gak punya pengalaman apapun dalam hal bekerja. Gw juga udah pernah memecat 2 karyawan karena gw anggap tidak produktif, kerjanya sering ketauan Cuma duduk sambilwassapan sama pacarnya dan suka malas disuruh atasannya buat melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. 2 karyawan muda ini pula yang pernah datengin gw buat minta dinaikin gajinya dan pastinya gw tolak walaupun salah satu dari mereka adalah karyawati yang cukup menggoda hmmm….

Ada berapa anak muda yang sering resign dari perusahaan? Baru kerja beberapa bulan bahkan sebulan sudah keluar dengan alasan tidak nyaman atau tidak naik-naik gajinya? Banyak lho, ada beberapa adek kelas gw waktu SMP sering keluar masuk perusahaan karena merasa pekerjaannya gak nyaman. Kalau setiap ganti perusahaan juga mengganti bidang pekerjaannya sih gw bilang wajar karena dalam kasus ini seorang pekerja sedang mencari passion dia dalam mencari nafkah, kalau tiap ganti perusahaan Cuma dapet kerjaan sebagai admin atau bidang yang sama dengan sebelumnya ya itu sih bodoh dan memang anaknya yang bego. Gw aja sudah beberapa kali mengganti bidang pekerjaan dibeda-beda perusahaan hingga dapat yang pas hingga sekarang gw jabatin dan kalaupun  gw keluar dari perusahaan yang sekarang, bertujuan mencari karir di bidang yang sama karena ilmu yang gw dapat dari perusahaan sebelumnya bisa gw terapkan diperusahaan baru sebagai modal gw menaikan taraf hidup serta karir dalam bekerja.

Generasi manja, generasi yang gak mau bekerja atau menikmati proses keberhasilan, hanya mau mendapatkan nikmatnya namun secara gak sadar apa yang mereka nikmatin berasal dari orang tua. Liat aja dijalanan, banyak bocah bau keringet udah naik motor kebut-kebutan gak pakai helm dan motor itu sudah pasti hasil manja sama orang tuanya yang memanjakan anak atau bisa juga ada unsur kesengajaan orang tua yang memberikan motor ke anaknya biar anaknya cepet menemui sang pencipta. Kalau orang tuanya sayang kepada anak, gak bakalan dimanja menuruti kemauan si anak, harus ada timbal baliknya dahulu sebelum diberikan sesuatu. Sebagai orang tua harus memberikan contoh “kamu kasih bapak prestasi dan bapak akan kasih kamu kompensasi” nyatanya si anak lebih pinter merayu orang tuanya “bapak harus kasih motor ke adek biar adek sekolahnya semangat” lalu orang tua akan bilang “hmmm… bener juga tapi janji ya kamu harus ranking satu terus “ orang tua kaya begini yang nantinya akan tidak dihormati oleh anaknya. Si anak akan menganggap si orang tua sebagai jin yang selalu bisa mengabulkan permintaanya bahkan permintaan buat ngelaporin guru ke polisi karena pipinya di toel-toel guru.

Dengan hasil kemanjaan orang tua, si anak menjadi nakal yang belum saatnya, duit jajan dibeliin rokok, hadeeeuh anak smp udah bisa ngabisin satu bungkus rokok, gedenya bisa satu slop sehari. Belum lagi jadi anak penjahat kelamin Karena sering gonta ganti cewek dan seenaknya nikmatin anak orang padahal masih bocah smp, itupun karena modal motor yang dibelikan orang tuanya buat ngerayu cewek. Apalagi cewek sekarang gak bisa diem kalau ngeliat cowok bawa motor keren, sekelas anak SMP sih dibelikan motor mio second pun terasa diberikan ninja 250 sama bapaknya, tinggal ganti knalpot berisik dan stiker warna warni, cewek-cewek sekelas mereka pun akan mudah nemplok dijok belakang. Mereka pun diajak nongkron hingga larut malam dan melakukan seks bebas ya mau mau aja selama bisa diajak keliling dengan motor perintilan cowok idamannya. Makanya tidak sedikit anak-anak sekarang yang berada didunia narkoba karena gampang banget dirayu nafsu dunia, disaat seperti ini yang merasakan siksa dunia adalah orang tua, si anak sih gak ngerasain karena yang penting dia bisa happy fun bersama teman-temannya.

Apa gw gak pernah nakal? Ya pernah lah, waktu smp gw pernah ngerokok kok tapi hanya pernah sekedar pengen tahu rasanya setelah itu gak lagi-lagi karena gak ada duit, gw juga pernah minum-minum alcohol tapi jamannya kuliah tapi itu pake duit sendiri dari penghasilan membuka jasa ketik dirumah. Gw gak pernah merongrong minta duit sama orang tua karena orang tua gw selalu bisa ngasih beribu alasan kenapa gw harus meminta itu dan selalu mengingatkan apakah gw bisa bertanggung jawab? Sama ketika gw ketauan ciuman sama teman sekolah waktu SMA (kebetulan ada yang ngeliat dan ada yang lapor) gw ngakuin dan orang tua gw selalu ingetin buat  bisa bertanggung jawab atas apa yang gw lakuin. Gw pribadi bukan cowok dengan tingkat nilai belajar rata-rata cerdas, diraport selalu bertuliskan lumayan atau sedang tapi hingga sekarang gw gak pernah meminta-minta bantuan pekerjaan ke orang tua walaupun bokap gw sendiri merupakan salah satu karyawan perusahaan besar yang sering masukin orang ke kantor dia atau temannya.

Miris dengan episode anak bangsa saat ini, tidak ada lagi rasa hormat kepada yang lebih tua dan manjanya minta ampun, sedangkan prestasinya tidak ada. Walaupun bangsa ini masih tertolong sedikit dengan anak-anak bangsa yang berprestasi “tapi” di Negara lain sehingga mereka-mereka ini yang akan siap murtad ke Negara lain demi menggapai impiannya. Indonesia? Masih memanjakan orang-orang berduit bukan yang berprestasi, semakin kaya akan semakin mudah mengurusi keduniawian di Indonesia bahkan hukuman penjara bagi si manja dan si kaya lebih “sangat” ringan daripada pelaku kejahatan yang Cuma maling sandal di masjid.

Bangsa ini butuh anak-anak generasi baru yang kokoh mentalnya, bekerja keras dan mau memberikan prestasi ke negaranya sendiri walau itu hanya berbentuk pajak ya syukur syukur bisa menjadi penemu atau pemimpin muda dengan tingkat prestasi tinggi. Gw sendiri salut sama anak-anak muda yang telah mendirikan perusahaan digital, usaha kuliner hingga usaha design karena disinilah pacuan semangat anak-anak lain untuk bisa menjadi “minimal” followers anak muda lain yang telah sukses namun sayanngya, banyak anak-anak muda yang sudah terlena dengan keduniawian akibat hasil dimanjanya mereka oleh orang tuanya. Kalau memang dimudahkan dibelikan mobi sama orang tua, jadikan mobil itu prestasi, bisa dengan juara kontes di dunia otomotif atau buka usaha otomotif kecil-kecilan dengan modal awal dagang asesoris mobil yang ia gunakan. Dikasih motor pun bisa untuk sebagai ajang riset, dia pelajari motornya dan kedepannya bisa menjadi mekanik handal bukan dikasih motor atau mobil sama orang tua dijadikan alat untuk menjadi penjahat kelamin atau alat judi taruhan balap. Nakal boleh tapi harus diimbangi dengan prestasi, jangan Cuma nakal malah kedepannya jadi sampahnya masyarakat. Kasian tuh anak yang ngadu ke polisi karena dicubit gurunya, sampai sekarang gak ada sekolah yang mau menerima dia sebagai muridnya karena takut guru-guru disekolah tersebut pada dipenjara.

Gw saja masih berusaha memberikan motivasi ke anak-anak muda lewat tulisan, bakat gw ditulisan ya harus dikembangkan, pecutin anak muda biar bisa lebih sukses dari yang sudah ada. Bangsa ini butuh anak-anak muda yang berprestasi, gimana mau maju kalau ternyata diberita lebih banyak anak muda menjadi bangsat dibandingkan menjadi pahlawan bangsa.Manja itu merupakan sifat awal menjadi lemah, mudah menyerah dan merasakan hidup itu hanya untuk bernafas, kentut, berak dan kencing,. Hidup itu ada buat kita melakukan perubahan, setiap generasi butuh perubahaan dari generasi terdahulunya demi kemajuan bangsa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s