Catatan Kecil, My Word

Mengapa Lulusan S1 Susah Dapat Pekerjaan?

Ini polemik banget gan, banyak teman-teman gw yang sudah bergelar S1 di tempat kuliah ternama harus kebingungan sampai saat ini tidak mendapatkan pekerjaan, sedangkan bagi teman-teman yang hanya bergelar Diploma 3 sudah banyak yang bekerja dan gak susah-susah amat. Nyari kerja pada kenyataannya emang susah, gak semudah naro cv ke perusahaan besok dipanggil kerja, fyuuuh… dipanggil interview aja gak jaminan cepet. Gw sendiri lulusan D3 bekasan alumni kampus ruko alias bukan kampus keren bergedung, namun Alhamdulillah sudah 3 kali pindah perusahaan demi mencari karier.

Masalah pengangguran sangat mengkhawatirkan, apalagi penganggurannya bersarjana karena para lulusan sarjana sudah mengeluarkan duit puluhan juta demi gelar S1 akan tetapi belum juga menghasilkan pendapatan sebagai timbal balik apa yang pernah mereka keluarkan. Menurut mata belo gw sih ada yang salah dengan era sekarang, jaman 90an hingga 2000an awal, lulusan sarjana banyak yang dicari dan cepat dapat kerja, tidak separah saat sekarang yang menurut gw lebih banyak S1 yang nganggur daripada lulusan SMA, dalam arti pedagang asongan yang lulusan SMA bisa disebut pekerja dan bukan pengangguran. Pengangguran disini dalam arti yang realita, gak punya penghasilan sama sekali dan lebih miris lagi kalau tiap hari kegiatannya Cuma tidur sama main gitar jrang jreng jrang jreng, weeeh mirip banget anak-anak karang taruna dikomplek gw dulu, umur 24 tahun belum pada kerja malah asik ngegitaran di pos ronda, sedangkan rata-rata bapaknya masih kerja diperusahaan otomotif jepun, nah kalau ini siapa yang salah?

Gw sendiri pernah juga gawe di bidang HRD, padahal gw ga punya skill apalagi pengalaman buat jadi seorang HRD ya entahlah, dipercaya gitu aja karena di cv gw tertulis pernah menjadi ketua klub otomotif, mungkin itu faktor yang menjadi pertimbangkan gw menjabat sebagai seorang HRD. Walau Cuma bertahan 8 bulan saja karena gak sanggup mengelola karyawan yang lebih susah daripada mengelola member-member klub yang datang karena loyalitas dan pergi akibat kredibilitas. Balik lagi ke bahasan yang hangat hangat kuku ini, faktor utama kenapa banyak lulusan S1 menganggur adalah gengsi, yes… sok gengsi. Rata-rata orang yang lulus S1 dari universitas ternama memiliki keluarga dengan tingkat ekonomi yang baik bahkan sangat baik (kaya raya). Pola pikir mereka sudah diasupi oleh money oriented, maunya diperusahaan besar dan digaji besar pula walau tidak memahami situasi pekerjaannya seperti apa. Ini sebenarnya kesalahan besar banget lho, padahal banyak judul info lowongan pekerjaan memiliki syarat rincian yang salah satunya adalah minimal pengalaman kerja, kenapa pengalaman kerja itu berharga? Itu semua sebagai tolak ukur para pencari kerja apakah dirinya bisa kerja atau tidak.

Pengalaman kerja harus dimiliki minimal 1 tahun karena berhasil atau tidaknya seseorang diruang lingkup kerja bisa dinilai setelah 1 tahun, jika para pekerja baru 3 atau 5 bulan sudah resign dari perusahaan ada kemungkinan dia gak betahan (efek malesnya masih ada), gak suka challenge (padahal pekerjaan adalah tantangan) dan biasanya tidak bisa mengendalikan keadaan (ruang lingkup kerja harus kita yang atur). HRD akan menilai para pelamar sebagai pencari kerja yang buruk jika pengalaman kerjanya tidak ada yang lebih dari setahun, apalagi banyak kerja dibeberapa perusahaan tapi Cuma seumur jagung (hhhmm… gw lupa jagung umurnya sampai berapa). Balik lagi ke kasus gengsi, biasanya yang gengsian ini males banget kerja di pabrik baru yang belum ternama apalagi gajinya UMR, pasti didalam otaknya langsung “yaelah ngapain gw ambil, toh gw ga gawe bokap juga masih ngasih duit, malah lebih gede dari ini” trust me, inilah yang terjadi pada anak jaman sekarang. Beda banget sama lulusan SMA atau D3 yang notabene nya mau cepat-cepat dapat kerja berapapun gajinya ya minimal UMR dan perusahaan lebih menyukai tipe pencari pekerja yang kaya gini guys, bisa dibayar seusai umr dan hasil kerjanya bagus. Kalau pencari kerja sudah memikirkan uang, perusahaan akan balik bertanya balik “apakah kamu pantas dibayar 5 juta dengan kehidupan yang belum memiliki pengalaman kerja?” atau coba berpikir balik andaikan kamu para S1 menjadi perusahaan, apakah mau ngegaji orang 5 juta tanpa punya pengalaman? Hei pasti bakal berpikir ulang karena perusahaan gak boleh hambur-hamburin uang buat orang yang belum pasti bisa membawa perusahaannya maju.

Selain gengsi, ada faktor yang membuat HRD merasa keberatan memanggil kamu buat interview saat melihat CV kamu yaitu faktor Hasil. Kan saya belum kerja, kok sudah dipertanyakan hasil? Ini pertanyaan yang salah banget, faktor hasil bisa kita dapat saat kita kuliah kok, misalnya gw selama kuliah membangun organisasi kampus, menjadi ketua di organisasi kelompok penanam padi, atau pernah menjadi anggota komunitas penulis dengan pengalaman sering mengikuti forum dan pelatihan, nah itu semua adalah hasil. Lebih bagus lagi, selama kamu kuliah hingga mencari pekerjaan kamu memiliki dunia bisnis sendiri, gak perlu gede-gede lah yang penting kamu punya, misalnya peternakan burung dara atau jual beli batu akik plus kamu jualannya online, berarti kamu menguasai bisnis jaman sekarang. HRD selalu tertarik dengan pengalaman organisasi, hobi hingga sebuah pertanyaan “mas ngapain aja selama menganggur?”. Ada pengalaman gw diterima bekerja diperusahaan elektronik yang mempunyai nama karena hobinya sama dengan si HRD yaitu hobi motor klasik atau ya lebih mirip dengan penyuka modifikasi roda dua. Pengalaman organisasi sebagai anggota karang taruna udah gak jaman, apalagi pengalaman pernah menjadi seketaris RW, duuh gak deh. Sekarang sudah banyak komunitas kreatif anak-anak muda yang positif, sehingga kamu bisa belajar tentang kehidupan bersosial dan bukan menjadi seorang apatis apalagi antisosial. Pekerjaan yang kamu lamar sebenarnya sejalan dengan bakat dan apa yang pernah kamu ikutin, misalnya kamu melamar pekerjaan di bidang mekanik lalu di cv kamu tertulis pernah jualan sparepart atau ikut komunitas otomotif baik motor atau mobil dan pernah ikut pelatihan ngebengkel bersama komunitas, yang kaya gini hrd bakal tertarik sob. Gw pribadi selalu menulis di cv pengalaman organisasi, hobi menulis, mempunyai toko online, rajin ngeblog dan ngaskus bahkan ada secuil pengalaman ikut training sebagai digital marketing dan klop langsung aja HRD di tempat gw bekerja tertarik dan Alhamdulillah sudah bekerja di Digital Marketing & Social Media.

Lulusan S1 bukan jaminan karir bakal lebih baik, beberapa perusahaan lebih mementingkan karyawan yang memang bisa bekerja penuh ide dan cepat bukan seorang pekerja yang selalu menolak permintaan atasan dengan dalih enggak bisa padahal pekerjaannya yang akan diberikan sejalan dengan mata kuliahnya. Tidak sedikit juga lulusan S1 hanya dari gelar, bukan prestasi nilai atau kesuksesannya mengerjakan tugas akhir dan skripsi. Jaman sekarang apa-apa bisa di copy paste termasuk skripsi, apalagi nemu dosen pembimbing atau penguji yang udah bosan dengan test test para mahasiswa sehingga hanya berpedoman dia rajin masuk maka kelulusan tercapai, bodo amat sama skripsinya, gw gak ngerti dia ngomong dan nulis apaan.

Faktor selanjutnya adalah malas, padahal dicerita komik maupun kitab suci apapun tertulis bahwa malas merupakan titik awal kehancuran manusia. Elu nulis CV seketiknya, apalagi ada yang nulis cv pake tulisan tangan, hadeeuh gak mau usaha banget cari warnet buat ngetik lalu ngeluarin duit buat ngeprint. Tulisan tangan di CV sudah dianggap hal yang gak banget bagi HRD karena HRD bakal pusing bacanya dan lebih suka membaca lamaran dari email dengan subjek sesuai dengan pekerjaannya, jangan sampai kamu ngirim email lamaran dengan subjek Lamaran Saya Pak, CV Budi Prasetyo Berpengalaman, atau Mohon Diterima Pak Butuh Kerjaan. Bakal langsung di delete tanpa perlu dibaca, penulisan email untuk lowongan pekerjaan biasanya Cuma simple aja kok cukup tulis lowongan yang akan dilamar misal Marketing Support, IT Specialist, Account Executive, simple dan jelas karena para HRD akan langsung mengkelompokan subjek email tersebut untuk disaring ke bagian-bagian departemen yang membutuhkannya. Buatlah CV semenarik mungkin tapi gak berlebihan, buatlah yang agak modern dikit tidak standar-standar tulisan saja, selain itu lengkapi data selengkap lengkapnya namun sesuai dengan kebutuhan identitas karena tidak perlu menulis bintang lahir, shio ataupun makanan favorit, kalau hobi? Perlu ditulis karena hobi bisa dijadikan penilaian HRD atas habit kamu.

Malas mencari kerja, ya gimana mau dapet kerja kalau gak dicari padahal media untuk pencarian kerja sudah lebih praktis ketimbang jaman komputer masih DOS atau windows 90. Banyak perusahaan yang malas nerima lowongan pekerjaan dari amplop cokelat bertali karena sudah pasti rata-rata isinya tulisan tangan, pengalaman gw sebagai HRD ya gitu gan. Apalagi jika kamu berfikir dengan cara berkeliling di kawasan industri lalu mengajukan lamaran via pos satpam perusahaan, cv kamu bakal dibaca? 80% cv kamu Cuma jadi hiasan tempat sampah itu pun gak sedikit juga satpam yang iseng langsung buang cv kamu bahkan cv kamu bakal dibongkar-bongkar jika sang pelamar cewek cakep, fotonya disimpen buat bahan fantasi. CV adalah surat berharga karena berisi data diri kamu yang sifatnya personal, makanya pihak perusahaan lebih mengutamakan pelamar yang mengirim cv nya via email biar bisa langsung dibaca tanpa harus nyuruh satpam buat bawain tumpukan cv keruangan HRD. Pihak HRD akan mengecap kamu malas jika saat pertama kali interview dengan tampilan apa adanya, kemeja lecek, muka kumel, gak semangat dan saat disapa gak ada ramah-ramahnya. Sebenarnya sudah gak jamannya lagi datang interview dengan baju kemeja putih dan celana bahan serta pantofel kecuali di perusahaan tersebut sudah menulis aturan bakunya namun apabila hanya disuruh berpakaian rapih, lebih baik kamu menggunakan kemeja rapih gak usah warna putih polos, celana panjang rapih (biasanya ada yang memperbolehkan jeans tapi gak ketat) biar aman mending pakai celana bahan rapih. Semangat sudah pasti, tebar senyum walau interviewer nya cemberut ketus bahkan terlihat ingin ngeludahin kamu.

Jika anda berpikir “gw kan S1, test-test pekerjaan mah gampang” weeeits belum tentu juragan, biarpun bisa menjawab semua pertanyaan yang ada tapi ada faktor penentunya lho. Ini pertanyaan menjebak yang banyak dijawab para pelamar non pengalaman, “kamu mau digaji berapa?” lalu dengan tampang gak berdosa bilang “berapa saja pak, sesuai kebijakan perusahaan”, jawaban seperti ini salah besar ternyata sob. Ibaratnya kita datang keperusahaan menjual barang, barang itu adalah diri kita, kalau harga barangnya gak jelas berarti barang yang kita jual gak berkualitas. Coba deh lihat pedagang barang-barang antik. Dia akan kekeuh jual barangnya karena antik, punya historis yang tinggi apalagi kalau memang barang tersebut berguna bagi sang pembeli, akan dibeli berapapun harganya. Kamu harus menjawab berapapun yang kamu inginkan dan dapatkan selama masih masuk diakal, kalau masih baru dan belum pernah kerja sih mendingan jawab aja (UMR + 300RIBU) misal umr 2.8jt ditambah 300ribu sehingga menjadi 3.1juta, biasanya HRD akan nego dan sepahitnya nego gak bakal dibawah UMR, kalau dibawah UMR berarti perusahaannya telah menyalahkan peraturan pemerintah soal tenaga kerja, cabut aja dari lokasi sob kalau kaya gitu. Tidak apa-apalah diberikan gaji UMR, itung-itung cari pengalaman kerja, nanti setelah 5 bulan kamu memiliki kehebatan dalam bidang pekerjaan yang kamu geluti, keluarkan dan apabila hal itu membuat atasan kamu senang, gak ada salahnya kamu nego gaji apalagi jika memang kamu akan dikenakan kontrak kedua.

Nah sekarang sudah paham sedikit mengenai dunia kerja kan? lowongan adalah tanda awal kamu akan memasuki dunia kerja nantinya kalau sudah kerja bakal lebih berat lagi dan harus benar-benar melepaskan sifat-sifat kamu saat di bangku kuliah. Gak akan ada orang yang akan menolongmu saat mengerjakan tugas pekerjaan hehehehe… Tips-tips dari gw sendiri adalah

  1. Cari kerja yang bener, jangan melihat gaji dulu slama masih standar, pisau akan tajam kalau diasah, manusia akan sukses jika selalu belajar, anggap semua untuk bahan pelajaran kamu
  2. Jauh-jauhi sifat gak enak sama temen, kalau udah kerja itu urusan masing-masing gak bakal ada istilah “gw masuk kerja bareng doi, dan harus selalu bersama”
  3. Banyak berdoa, sukses nya manusia Cuma harus ibadah dan beramal (zakat) namun tetap harus ikhtiar
  4. Cari-cari lowongan pekerjaan di internet atau banyakin gaul gan sama orang yang lebih tua, gak bakal ada rejeki kalau Cuma dirumah sambil ngimpi
  5. Cuci kaki ibumu dengan air hangat dan memohon untuk didoakan.

Mencari pekerjaan di perusahaan emang gak segampang mencari pekerjaan di jalan yang modal beli barang lalu jual lagi dengan mengambil untung. Tetap semangat, pastikan gengsi mu di musnahkan, inget sob, kita manusia hidup gak Cuma buat makan, minum dan tidur tapi wajib banget belajar.

Iklan

37 thoughts on “Mengapa Lulusan S1 Susah Dapat Pekerjaan?”

  1. Mantap, bagus ni artikelnya. Gaya fikirnya tajam dan kritis.. keliatan banget udah punya jam terbang tinggi.
    Ga munafik dan berbelit-belit tapi langsung to the point. Mudah-mudahan banyak yang disadarkan dari artikel ini

  2. Artikel ini menampar tapi berhasil mencharger semangatku dalam mencari kerja. Baru lulus kuliah, baru 3x interview gagal semenjak itu down lalu malasku kambuh. Disamping IPK-ku yang dibawah standar, cuma 2,72. Usia udah 24 tahun. Juga minderan dan gagap. Gak punya pengalaman kerja. Dan lain sebagainya. Tapi setelah baca artikelmu ini kayaknya memang harus berjuang lagi.

  3. Saya wanita usia 25 tahun. Pengalaman kerja hanya 8 bulan dan 3 bulan. Setelah itu resign dan jualan. Pengin kerja lagi. Tapi bagaimana ya apa masih bisa diterima dengan umur dan pengalaman yg ada saat ini 🙂 mau minta sarannya saja kalau boleh 🙂

    1. umur 25 sebenarnya masih produktif kok, perusahaan menetapkan minimal umur dibawah 28 tahun kecuali dengan posisi yang memang dibutuhkan sehingga umur diatas 28 bisa dipekerjakan. selama bisa membuat perusahaan tertarik dengan kita, gak akan masalah kok soal pengalaman. menarik perhatian itu dalam arti cara kita berminat ingin kerja disana bukan lewat fisik atau penampilan karena jika kita diterima karena fisik, niscaya gakan awet lho…

      1. Alhamdulillah sdh sedikit ada pencerahan:) saya baru mau memulai lagi Insya Allah:) saya berjualan sdh 1 tahun 9 bulan. Apa pengalaman jualan saya dituliskan saja kah mas? Apa tidak perlu kah? Sungguh saya benar2 blank lagi setelah vakum kerja beberapa lama ini

      2. oh… perlu itu, karena disisi itu HRD atau pihak interviewe akan menilai selama kamu tidak bekerja diperusaahaan kamu berusaha untuk mencari rejeki. tapi jangan nulisnya jualan ya hehehe tapi tulis aja wiraswasta, nanti akan ditanya usahanya apa, jelasin aja jangan berlebihan, karena kalau berlebihan misal nyebutin omzet puluhan juta atau apalah niscaya perusahaan akan males. intinya semangat, jangan tegang dan tetap tenang. insya Allah ada jalan…

  4. Saya mahasiswa D3 semester II jurusan ekonomi, sampai sekarang tidak pernah ikut organisasi apapun, apakah itu akan menjadi masalah saat melamar kerja ? CV nya ntar kosong dong ? Tapi kan mengingat D3 lebih banyak praktek jadi skill lebih banyak kan ? Terus di akhir semester akhir nanti akan ada magang. Apakah saat magang jg harus memakai CV ? Soalnya saya ingin dari magang tersebut akan saya gunakan sebagai pengalaman kerja.

    1. jika magang tidak perlu menggunakan cv tapi hasil magangnya perlu dicantumkan ke cv, sebenarnya untuk organisasi sendiri tidak perlu banyak tapi minimal kita pernah bersosialisasi.

  5. Puanas banget kalimatnya! Kayak lagi tidur langsung disiram air. Yang lain ternyata mirip sama kakak saya / ortu saya. Untung saja saya hampir mau resign (skarang udah 3 bulan) ok..saya harus asah lagi pisau saya 😀

  6. umur saya 32 tahun, dulu saya pernah bekerja selama 7 tahun, saat ini saya sedang nganggur sekitar 1 tahunan, selama setahun terakhir ini saya mengembangkan startup namun belum kelihatan hasilnya … apakah umur segitu masih bisa melamar pekerjaan di perusahaan?

    1. bisa saja kok, tidak ada masalah dan jangan putus asa, pengalaman mengalahkan umur kok, kalau memang dibutuhkan oleh perusahaan, gak akan memandang umur, kcuali perusahaan negeri atau bumd biasanya masih mikir2 soal usia, kalau swasta gak pandang umur, selama masih berguna dan dapat bermanfaat kenapa enggak. paling yang perlu di tekankan, selama setahun tidak bekerja diperusahaan, apa saja yg dilakukan, kalau memang sibuk dengan startup ya bagus banget.

  7. Saya usia 24 tahun. Sudah bekerja sebagai cleaning service di sebuah BUMN ternama. Status saya pekerja outsourcing. Namun meskipun saya hanya seorang cleaning service. Pendidikan masih menjadi orientasi saya untuk kedepanannya. Dan alhmdulillah tahun ini mendapat gelas S1. Selama 4 tahun saya bekerja sebagai cleaaning service dan malamnya kuliah di universitas swasta. Dan saya juga aktif dalam organisasi kampus dan sempat menjadi ketua BEM. Namun untuk mencari pekerjaan baru. Saya sempat khawatir dengan persyaratan kerja di setiap lowongan pekerjaan yg mensyaratkan pengalaman kerja. Sementara pengalaman kerja saya hanya sebagai cleaning service saja. Menurut saudara, apakah pengalaman kerja saya sebagai cleaning service tetap saya lampirkan jika saya ingin melamar pekerjaan dengan ijasah S1…?

    1. syarat pengalaman kerja sebenarna ada dua, pertama “pengalaman kerja” yang masudnya sudah pernah kerja apapun disebuah perusahaan karena attitude atau sikap orang yang pernah kerja atau belum itu sangat berbeda.

      kedua “pengalaman kerja di bidangnya” kalau sudah tercantum seperti ini, artinya hanya pelamar yang memiliki pengalaman yang sesuai yang dilamar saja. misal ngelamar jadi IT, tapi pengalaman lebih ke resepsionis selama 2 tahun, biasanya gak dilirik karena perusahaan tersebut membutuhkan karyawan yang bisa langsung terjun dibidangnya nanti.

      kalau hanya pengalaman kerja, kenapa gak dicoba. nanti pas ditanya kenapa bekerja sebagai Cleaning service, bilang saja untuk biaya kuliah S1 dan nantinya bisa sebagai modal saya mengembangkan karir di perusahaan tersebut.

      Saya saja salut lho mas, biasanya orang outsourching terlalu terlena sama pekerjaannya hingga lupa mau belajar dan kuliah memperbaiki pendidikan. di kantor saya seperti itu, baik CS atau pramuniaga tetap mereka stay dengan apa yang mereka kerjakan, gak minat kuliah karena merasa udah cukup. anda bisa berontak, berjuang, saya yakin itu capek, kerja dan kuliah tapi itulah nikmat yang nanti bisa mas dapatkan.

  8. Saya baru lulus mas S1 dari Univ. Diponegoro. Saya merasa susah mendapat pekerjaan soalnya sering bgt gagal di interviewnya. Lalu ada pekerjaan yg kualifikasinya SMA bukan S1, lalu saya tertarik dan ingin mencoba. Perlukah saya malu mas atas itu? Kadang dlm diri itu gengsi msh ada merasa ‘aku kan S1 masa kerjanya kaya SMA’ padahal sebenernya saya sadar blm tentu S1 bisa lebih baik dari lulusan SMA… Jawab ya mas :)))

    1. Jika dirasa cukup untuk menunggu dirimu untuk mendapatkan pekerjaan sesuai ijazah kenapa enggak, itung-itung belajar mengenal lingkungan pekerjaan sehingga ketika kamu siap berada dipekerjaan yang kelasnya sarjana akan lebih siap. sambil bekerja kamu bisa banyakin relasi alumni undip, setahu saya undip banyak yang kerja ditempat bagus kok. coba ke tempat2 seperti BUMN atau BUMD diluar kota kamu. kadang kita harus pergi meninggalkan kota tercinta demi sebuah karir, itu sebuah totalitas kita dalam mencari karir

  9. Tulisannya tajem banget mas. Tapi saya jadi tertarik habis baca tulisan mas, dan malah baca beberapa komentar mas soal umur ga jadi soal, saya jadi lebih semangat malah. Cuma sharing aja sedikit, menanggapi soal lulusan baru yang money-oriented. Hehe. Saya lulus dari universitas swasta yang cukup punya nama. Sejak awal saya nggak money-oriented, tapi passion-oriented. :p

    Saya mau tanya.. Umur saya 23 tahun. Saya sudah lulus S1 dan hanya resmi bekerja sebagai karyawan selama 4 bulan di perusahaan swasta di Jakarta. Karena faktor permintaan orang tua, saya akan melanjutkan studi S2. Selama S1, saya punya pengalaman freelancing dan sebelumnya selama kuliah juga aktif berorganisasi sebagai pengurus dan ikut kepanitiaan. Pernah juga kerja part time di luar kampus. Jadi penasaran aja sih, apakah studi S2 ini cukup jadi nilai tambah kualitas saya untuk diterima di perusahaan (terlepas dari gaji)? Ini dengan asumsi saya lulus di umur 25 atau 26 tahun. Soalnya, sering ada masalah “diskriminasi umur” di requirement perusahaan kan.

    1. biasaya perusahaan yang diskriminasi umur hanya untuk mencari lulusan baru, berharap bisa membayar murah karyawan dengan yang lulusan baru. murah disini dibawah standar pengalaman karyawan sarjana ya. gak ada salahnya melanjutkan ke S2, bahkan ini modal kamu buat ke jenjang lebih bergengsi, seperti dosen atau guru. apalagi biasaya orang yang aktif organisasi lebih gampang jadi guru dibandingkan yangkurang bersosialisasi. setiap karir pada perusahaan memiliki standar pendidikan, manager biasanya minimal S1 sedangkan direksi minimal S2, kecuali memang punya value, ada juga D3 jadi direksi karena memang dia punya value tapi teteup harus lanjut kuliah sampai s2 karena sekarang SDM/HRD akan menilai dari awal itu gelar bukan value seseorang.

      Sukses tidaknya seseorang bukan dari dimana mereka bekerja kok, perusahaan kecil pun jika memang passionnya dan rejekinya disitu akan menjadi orang sukses. dari semua kesuksesan yang ada, sebenarnya bukan gelar atau berapa lama kamu bekerja tapi sebuah kepercayaan, pernah kan denger lulusan sma bisa jadi manager? pasti denger dan itu nyata kok. karena memang seorang atasan lebih menghargai kejujuran dan kepercayaan, ada istilahnya ketika gelar gak bisa dicari, cobalah untuk jujur dan memberikan kepercayaan.

  10. saya mau tanya dong mas, saya lulusan baru dan sudah lulus 4 bulan lalu tetapi saya baru bulan juni di wisuda dan sampai sekarang saya belum menemukan pekerjaan, bahkan saya hanya punya pengalaman di interview 1 kali itupun tidak sesuai dengan posisi yang saya lamar, dan kebetulan perusahaan tersebut memerlukan karyawan yang langsung siap pakai, alhasil saya tidak diterima karna saya benar2 fresh graduate. Bulan2 awal saya masih semangat mencari kerja karna siapa sih yg tdk butuh penghasilan tp semakin lama saya merasa lelah dan saya berpikir pekerjaan apa yg cocok dgn saya, selama kuliah saya tidak mengikuti organisasi apapun karna suatu hal,saya hanya pernah menjadi mentor saat penerimaan mhs baru, dan sebenarnya kalau ditanya jurusan kuliah tidak sesuai dgn passion saya karna saya selalu merasa beban dan setelah lulus saya tidak bisa membanggakan ilmu yg saya dapat karna saya belum paham ilmu saat kuliah. Saya bingung hrs bagaimana bahkan saya sudah mencoba melamar pun tidak sampai lulus adm padahal kalau dilihat cv saya tidak jelek2 amat, tp mungkin hrd tdk tertarik sama sekali apalagi tdk mempunyai pengalaman apapun. Saya trs berpikir apakah saya cocok untuk bekerja di sebuah perusahaan, karna saya bingung keahlian apa yg dpt saya jual. Mohon dijawab mas, butuh tm share 🙂

    1. nah ini dia kebanyakan kegagalan dikarenakan bingung, melamar pekerjaan tapi tidak paham apa yang dilamar sehingga seperti beli motor tapi gak bisa naik motor. gampangnya gini, setiap akan melamar pekerjaan, misalnya bagian purchasing, Mila search soal purchasing, atau tanya2 temen soal pekerjaan tersebut. sehingga saat interview tidak seperti orang yang tersesat, bingung, inginnya mau dapet duit tapi bingung kerjanya. kenali potensi kamu, gampang kok, dari hobi dulu, jika hobinya menulis ya jadilah penulis atau editor. gak ada hal yang susah kok sebenarnya cuma kita nya yang kadang malas buat belajar. cari lowongan yang sederhana dahulu seperti admin atau telemarketing, disitu lowongan tersebut biasanya butuh yang fresh dan mau belajar.

  11. salam kenal bang
    tulisannya bagus dan inspiratif banget

    mau tanya…saya umur 24thun kuliah D3 bru smster 3, tp punya pengalaman kerja 2thun …dan jika lulus Kuliah umur 26 thun apakah umur sgtu tdk terlalu tua ya bang ???
    krn malu jg sama temen2 kuliah yg umurnya byk di bawah saya

    1. ah enggak kok, karena untuk D3 max umurnya 30tahun diterima perusahaan, apalagi kamu udah punya pengalaman kerja selama 2 tahun, lebih punya price dibandingkan lulusan muda yang belum punya pengalaman kerja

      1. sebelumnya terimakasih tulisannya menarik dan ngena banget.
        saya juga mau share sedikit mas, saya lulusan S1 bener2 fresh graduate baru pertengahan agustus lulus. nah kebetulan orang tua menginginkan saya mencari kerja di kota sendiri dan kebanyakan yang saya temui persyaratannya “minimal D3”. saya memang menyukai pekerjaan yang sifatnya pelayanan misal di bank kaya teller atau CS. melanjutkan pertanyaan mba Anisa, selain gaji yang disetarakan dengan D3 ada tidak resiko lain jika lulusan s1 melamar pekerjaan D3?
        di kampus saya hanya mengikuti 1 organisasi dan hanya 1 periode saja karena saya juga harus kerja part time buat bantu orang tua.

      2. tidak ada resiko sebenarnya, justru malah bagus, S1 berada diposisi awal setara D3, nantinya jika karir kamu sukses, S1 itu sebagai penilaian terbaik, misalnya dari level staff biasa diangkat jadi kepala bagian yang minimal S1,nah kamu udah gak perlu lanjut kuliah karena modal S1 sudah ada. gak masalah gaji diawal sama dengan D3,dari situ kamu terpacu bikin pekerjaan kamu lebih baik dari yang D3. Ijazah hanya formalitas yang dilihat adalah kualitas kerjaan kamu dan disiplinnya. Apalagi jika kamu memilih awal karir sebagai CS sebenarnya itu bagus banget, karena kamu bisa memahami konsumen dan product knowledge lebih baik dari yang belum pernah jadi CS sehingga langkah kamu buat menjadi sukses dikarir lebih besar.

  12. bang minta nasihatnya nih, gw sendiri mahasiswa d3 di salah satu poltek surabaya, yahmungkin sekarang lagi siap siap aja sih buat proposal buat kerja praktek. meliat dari tulisannya abang, apa emang bener ya, kalo d3 itu insha allah lebih cepat dapat kerjanya?. boleh minta triknya gak bang,

    1. Memang lebih banyak dicari dibandingkan S1, karena perusahaan lebih suka staff bawah dengan basic D3 yang memang gak banyak neko-neko dibandingkan S1 yg rata-rata udah didoktrin harus gaji mahal dengan kerjaan enak. kecuali level manager yang memang harus minimal S1 dan juga punya pengalaman kerja minimal 3 tahun dibidang yang sama.

      kalau baru pertama kali kerja, ikutin aja alurnya, gak usah banyak berontak minta ini itu, selama digaji gak masalah, jangan ngeluh kerjaan banyak karena mindset kerjaan banyak mungkin karena sebelumnya belum pernah kerja seperti itu. intinya jangan pernah ngeluh, apalagi kerja praktek jgn dianggap remeh, kerja semaunya karena berpikir cuma praktek, tapi buatlah gaya pekerjaan kamu lebih atau minimal sama dengan pegawai lainnya. Semangatnya, disiplinnya dan banyak pengen cari tahunya, harus itu… jangan cuma diem aja karena siapa tahu perusahaan tertarik sama kamu dan dikasih ruang pegawai disana. suksesssss ya…

      1. untuk masalah ipk biasanya rata rata perusahaan minta min berapa bang, katanya juga kalo aktif dikampus (cv full oleh organisasi sama kepanitiaan) itu juga ngaruh bang, apa bener?

      2. biasanya formalitas di 2.80 keatas sampai 3.00 tapi itu formalitas, gak masalah dibawah 3.00 tapi jangan dibawah 2.50 juga lah hahahha… semakin bonafid perusahaannya maka minimal spesifikasinya semakin tinggi tapi biasanya mereka juga tertarik dengan ipk dibawah minimal itu. full organisasi boleh aja tapi asal nyambung, jangan masukin organisasi yang ga ada hubungannya buat kerja, misal kolektor daun pisang atau kelompok pemungut sampah kertas. biasanya perusahaan melihat organisasi yang bisa ngebentuk kepribadian, untuk otomotif masih boleh, alumni kampus, olahraga ataupun organisasi sosial lainnya, untuk karang taruna gak usah ya…. misal kamu punya 10 organisasi, ambil 3 yang paling bagus saja, syukur2 pernah jadi ketua, kalau kebanyakan juga gak bagus, kepenuhan cv nya. maksimal menulis CV itu 2 lembar, selembar kalau isinya bagus gak masalah, jangan terlalu detail, karena kita harus buat perusahaan penasaran.

  13. Keren mas! Saya sangat sepaham dengan statement2 yang mas keluarkan. Pengalaman dari kedua orang tua saya yg hanya d3, tetapi memiliki karir yang gemilang sekarang, juga dari teman dan keluarga besar saya, bahwa s1 tidak menjamin, tetapi bagaimana kita untuk serius untuk mencari kerja sebagai mata pencaharian dan juga bahan pembelajaran. Saya berencana untuk mengambil kuliah d3 saat saya lulus SMA tahun depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s