Uncategorized

Sebuah Nama Yang Selalu Ada

Aulia, sebuah nama yang mungkin hingga akhir nafasku tidak akan terlupakan. Sebuah nama yang mewakili sosok gadis keturunan china muslim dan hampir hinggap didalam mimpiku. Dia ku kenal sejak 12 tahun yang lalu, disaat kami masih berada dibangku sekolah menengah pertama, dia berada dikelas satu dan aku berada dikelas dua. Kedua kelas kita saling berdekatan hanya dibatasi lantai atas dan bawah saja namun secara diam-diam aku bisa melihatnya dengan begitu mudahnya karena dia selalu duduk dipinggir jendela. Entah kenapa Tuhan menciptakan kamu untuk selalu ada dipikiranku hingga saat ini dan namamu masih jelas terdengar didalam hati ini.

Pada awal sejarah aku mengenal mu adalah dari sebuah tatapan tidak sengaja saat aku bersama dirinya yang masih menjadi kekasihku saat itu, dirimu begitu saja lewat dihadapan kami berdua tanpa permisi ataupun sedikit senyum basa basi adik kelas ketemu kakak kelasnya. Mungkin saat itu pertemuan awal kita bukan berada dilingkungan sekolah, melainkan sebuah kelurahan Jatiasih yang selalu menjadi tempat aku dan dia berpacaran. Saat itu seperti mataku dijambak untuk dipaksa melihat kamu bergerak, melihat mu dari belakang dengan tas ransel merah yang selalu kamu kenakan. Aku sadar jika hari itu aku masih menjadi kekasihnya dan segera melupakan dirimu hingga benar-benar lupa secara temporary. Hingga akhirnya sahabatku bernama siswo memintaku untuk mencari tahu soal cewek Chinese yang duduk dikelas bawah dan itu adalah dirimu.

Niat awal aku hanya ingin membantu sahabatku untuk mengenal jati dirimu lebih dalam agar tentang dirimu menjadi sebuah informasi menyenangkan bagi sahabatku namun memang dasar aku berhati laknat, semakin hari aku semakin menjadi seperti manusia yang haus akan perhatianmu, gelisah ingin mengenalmu lebih dalam. Selama berbulan-bulan aku hanya bisa menatapmu dari kelas atas dan berangan-angan tangan ini bisa bersalaman denganmu sambil saling mengenalkan diri masing-masing akan tetapi aku sadar hal itu adalah mustahil bagi pria yang sudah memiliki pasangan. Aku tidak memiliki keberanian bak prajurit perang yang rela mati hanya untuk melukai musuhnya, aku tidak kuat membayangkan mata kita saling beradu melihat satu sama lainnya hingga kita berucap pengenalan. Aku hanya bisa berdoa, Tuhan kuatkan nyaliku dan hindarilah takdirku hanya untuk melihatmu saja tanpa adanya percakapan antara aku dengan dirinya walaupun aku tahu jika Tuhan sangat membenci doaku yang seakan-akan meninggalkan kesetiaan.

Hingga aku menjadi super duper kepo terhadap dirimu dan sepertinya ada bisikan yang memberiku jalan bagaimana caranya agar aku bisa mengenalmu lebih dalam. Ketika awal-awal aku dikelas 3 dan dirimu dikelas 2, seorang kawan menawariku sebuah jasa dimana aku bisa mengetahui beberapa nomor telepon adik kelas yang bisa aku minta sebagai bahan semangatku disekolah, kalau istilah kerennya cemceman adek-adek’an. Seperti gayung bersambut, aku meminta dirinya untuk meminta nomor teleponmu namun tidak secara langsung melainkan dari seeorang sahabat terbaikmu yaitu elisa. Dia (elisa) memberikan nomor teleponmu kepada kawanku dengan alasan untuk menawarkan dirimu untuk ikuta ektrakulikuler theater. Dari situlah kamu mulai aku terror, handphonemu pasti tidak berhenti-henti menerima sms minta kenalan dan kamu membalasnya dengan penasaran. Aku memberikan nama palsu yaitu Van Auger yang tak lain merupakan nama karakter penjahat dikomik one piece yang mampu menembak musuh secara tepat tanpa meleset sekalipun.

Dimulailah teka teki dalam hidupmu menebak diriku, aku selalu memberikan petunjuk siapa aku sebenarnya dengan selalu memberikan sms ketika kamu lewat didepanku,  “kamu lewat kok gak nyapa?”, “lagi jalan ketoilet ya sama elisa?” dan aku yakin kamu tetap tidak bisa menebaknya karena yang kamu lewati saat berjalan atau menuju toilet ada banyak pria dan salah satu pria pria yang kamu lewati memang salah satunya adalah aku. Selama hampir dua minggu aku selalu memberikan teka teki kepadamu hingga akhirnya aku tahu kamu sudah mulai lelah dengan teka teki ini. Akupun takut niat untuk berkenalan denganmu hanya menjadi titik awal kamu tidak ingin berkenalan denganku akibat diriku terlalu membual terhadap jati diriku. Terbukalah siapa yang suka sms kamu setiap hari setiap malam dan setiap jam. Pada awal membuka jati diriku, aku selalu terbayang dirimu akan marah besar, mencaciku lewat kata kata sms namun semua bayangan negatifku pupus sudah karena dirimu dengan welcome sangan senang berkenalan denganku.

Kini aku sudah tidak perlu lagi membuat tebak-tebakan kepadamu untuk mencari tahu siapa aku, kini aku hanya menyapamu lewat sms tiap malam menanyakan kamu lagi apa atau sedang apa dan ketika kita saling berjumpa disekolah, kita hanya bisa senyum sepersekian detik lalu membuang muka sambil berlalu dan disitulah awal dimana aku bisa merasakan jantung berdetak cepat serta ada hentakan nadi yang terasa keseluruh tubuh hingga membuat diriku merasa nyaman teramat sangat. Setiap malam aku tidak pernah lupa untuk menyapa dirimu lewat sms karena saat itu (zaman itu) metode komunikasi inilah yang kita punya. Kamu juga tidak pernah ketinggalan untuk membalas sms singkatku walaupun aku tahu kamupun tahu tentang statusku saat itu bukanlah seorang jomblowan sejati, ada pasanganku yang selalu siap melabrak siapapun yang hendak mendekatiku tapi kamu seakan-akan tidak peduli dengan apa yang kita lakukan. Aku ingin mencoba jujur kepadamu akan tetapi hal itu sulit aku lakukan karena aku takut dirimu menjadi korban atau tertuduh yang telah merusak hubunganku dengannya. Perasaanku semakin tidak menentu saat diri kita semakin berani saling tersenyum lebih lama beberapa detik dari sebelumnya saat kita saling bertatapan mata. Lucu, geli, senang, bahagia, takut dan ceria diaduk aduk menjadi satu menjadi sebuah kesatuan perasaan yang ada dihatiku saat itu,  sebuah efek dari melihat senyummu.

Memang benar kata pepatah, sepintar-pintarnya kita menyimpan bangkai, akhirnya akan tercium juga baunya. Aku lupa dengan sms sms mu didalam handphoneku hingga akhirnya dirinya membaca semua sms kita satu persatu dan hal itu membuat dirinya geram. Aku hanya diperingatkan untuk tidak berkomunikasi dengan dirimu lagi, lumayan membuatku gentar tapi bukan cowok namanya kalau hanya digertak wanita hanya sekali dan kejadian sebelumnya pun terulang itu karena aku lupa menghapus jejak sms terkirim di handphoneku, terjadilah sebuah kisah tak menyenangkan yaitu penghapusan nomor handphone kamu dan kamu pun harus menerima kehadirannya dihadapanmu untuk langsung diperintah menghapus nomor handphone ku di handphonemu. Mungkin saat itu adalah hari akhirku untuk berkomunikasi kepadamu lewat sms, selama semalam aku mencari tahu bagaimana cara untuk bisa mengembalikan nomor yang telah terhapus namun sepertinya sia-sia karena itu tidak bisa dilakukan sama sekali. Berhari-hari aku tidak bisa berkomunikasi kepadamu seperti biasanya, hanya bisa menatapmu dari jauh ketika berada disekolah dan tidak adanya gerak gerik secara terfokus kepadamu untuk menghindari hal serupa yang menimpa dirimu.

Entah ini yang dinamakan kenyamanan atau kenyataan, secara tidak sengaja kita saling bertemu disaat aku akan menuju kantin sedangkan dirimu telah selesai dari kantin. Disitulah kita saling bertatapan langsung dan moment itu tidak akan pernah aku lupakan hingga saat ini, sebuah reka adegan dimana kita saling berdiri diantara teman-teman sebangku kita dan dirimu langsung berkata  “kak, nomor handphone kakak masih yang dulu kan? “ saat itu aku langsung seperti orang tuli yang baru bisa mendengar, kaget bukan kepalang dan hanya bisa menjawab dengan “hah… apa..?” tapi aku langsung sadar jika pertanyaan yang ia lontarkan cukup terdengar ditelingaku dan langsung memberikan kalimat “iya masih yang sama” dan kamu dengan cepat membalasnya dengan “nanti malam aku sms kakak….” Ibarat kata aku seperti berada dipenghujung acara besar dengan letusan kembang api yang megah dan kertas warna warni terberai diangkasa seiring meledaknya balon warna warni. Teman sebangku ku bernama septian langsung memberikan celotehan khas anak abg “ciyeee… ciyeee…” dan itu membuat muka dirimu memerah tapi mungkin juga muka ku tak beda jauh seperti tomat segar. Jujur, kejadian itu sangat singkat tapi berhasil membuat jantungku terasa mau lepas, berdegub begitu cepat hingga menghasilkan keringat dingin.

Janjimu ternyata benar adanya, tepat dipukul 19:25 kamu menyampaikan sms dengan kalimat “halo kak lagi apa? – aulia” segenap jiwa raga aku bahagia seperti mendapatkan sms memenangkan undian berhadiah dan dengan sigap aku membalasnya hingga saat itu terjadilah komunikasi yang intens. Untuk menghindari kejadian serupa, aku menamai nomormu dengan nama pria yaitu Anto, hal ini demi menjaga agar nomor handphone kamu tetap berada dihandphone ku akan tetapi pacarku sudah menghapal nomormu sehingga kejadian melabrak dirimu terulang kembali dan kali ini lebih parah karena kamu diberikan somasi melalui surat untuk menjauhiku atau dirinya akan mengancam member tahukan kekeluargaku jika aku telah bermain dengan wanita lain sehingga menyakiti hatinya. Mengetahui kejadian itu, aku mundur dihadapanmu dan aku melihat raut wajahmu sudah berubah, tak ada lagi senyum saat kita bertatapan dan tak ada lagi say helo sekedar menunjukan rasa sopan menghormati kakak kelas.

Aku merasa hambar, secara jujur aku sudah tidak ingin melanjutkan hubunganku dengan dirinya, aku mau dirimu menjadi pengganti diriku namun saat itu aku tidak ingin menjadi pria yang jelas jelas salah jika aku memutuskan hubungan dengan dirinya karena jika aku memberanikan diri putus dengannya, sudah pasti dia mengetahui alasanku memutuskannya karena dirimu seorang. Aku tidak mau dirimu menjadi penyebab utama karena dimusuhi kakak kelas merupakan hal yang tidak menyenangkan hingga saat ini. Aku tahu aku yang salah, aku berusaha mendekatimu dan aku mungkin termasuk pria yang gak bersyukur, apa kurangnya pasanganku? Dia cantik, tinggi dan berhijab secara muslimah tapi entahlah, Tuhan memang menciptakan sebuah perasaan dijiwa secara unik, belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti saat aku berbicara kepadamu dan melihat secuil senyummu.

Aku tak ingin membusukkan perasaanku kepadamu, aku kangen sama kamu dan ingin melihatmu diluar lingkungan sekolah. Aku memutuskan untuk mencari tahu dimana dirimu tinggal, kebetulan kawanku masih berkomunikasi denganmu dan dirimu dengan percayanya memberikan alamat rumahmu kepadanya padahal semua permintaan itu atas dasar kemauanku bukan kemauannya. Malam minggu itu menjadi sebuah kenangan kedua dimana aku memutuskan membawa motor papahku secara diam-diam, membohongi beliau demi melakukan perjalan dari rumahku kerumah kawanku dan dilanjutkan mencari rumahmu. Diperjalanan aku dag dig dug bukan kepalang karena aku memutuskan untuk tidak melakukan rutinitas apel malam mingguan kepada dirinya dengan alasan pergi bersama keluarga. Aku merasa menjadi cowok paling jahat sedunia tapi aku juga merasa seperti pejuang yang bertarung tanpa membawa senjata apapun, modal nekat untuk melunturkan rasa kangenku kepadamu. Aku berkeliling dikomplek perumahanmu bersama kawanku hingga akhirnya aku dan kawan memberhentikan motor didepan rumahmu yang saat itu bertembok biru muda dengan pagar hitam. Aku langsung meninggalkan kawanku dan menunggunya diseberang pos ronda hingga aku ditanyai oleh salah seorang tetanggaku karena mungkin gerak gerikku seperti penjahat yang akan mencuri didaerahmu. Aku melihat dari kejauhan kawanku berbincang kepadamu namun hanya  beberapa menit saja dan dirimu masuk kembali kedalam rumah sedangkan kawanku bergegas menghampiriku. Kawanku berucap “fik dia nanyain gw kesini sama siapa? Gw bilang aja sama sodara gw lagi main kerumah temennya didaerah sini juga” kawanku terus berbiincang soal pembicaraannya dengan dirimu dan tanpa sadar ternyata dirimu sudah dekat dengan kami berdua berada dan sontak kamu mengeluarkan kalimat sindiran pedas “oh… sama sodaranya, jadi dia sodara kamu? Bokis amat” aku melihat mukamu benar-benar tidak enak dilihat, ketus seperti korban tabrak lari yang siap menagih tanggung jawab. Aku mencoba mencairkan suasana dengan menyapa dirimu “hai aulia….” Namun kalimatku seakan selebaran promo diskon tak berharga, kamu langsung berlalu meninggalkan kami berdua. Ya aku tahu, dia akan semakin benci, benar benar benci karena telah membohongi dirinya dan mungkin melanggar kesepakatan dirinya kepada pacarku untuk tidak bertemu dengan diriku dimanapun aku berada.

Aku merasa tak enak dan tak sedikitpun merasa ini tidak terjadi apa-apa, kamu selalu menghindari diriku seakan-akan aku wabah penyakit yang siap menghampirimu. Hatiku sedikit terluka tapi aku sadar ini semua adalah konsekuensi sebuah cerita yang sebenarnya tidak boleh ditulis oleh diriku. Aku hanya remaja yang sedang tinggi-tingginya, aku memiliki sisi gila, gila yang membuatku selalu menulis namamu dimeja ruang kelasmu. Ketika aku ujian dikelasmu, aku selalu mencari namamu di papan jadwal piket, dari situ aku jadi tahu nama panjangmu adalah aulia fahriza dan aku jadi tahu kenapa nama panggilanmu itu Sasha. Aku benar-benar menjadi gila, disaat keberadaanku tidak terlihat oleh pacarku, aku dengan santai menuliskan beberapa kalimat dimeja biasa kamu duduk. Ada beberapa kalimat aku tulis diantara kalimat-kalimat menjijikan lainnya dimejamu yang intinya jikalau aku benar-benar kangen sama kamu dan ingin merubah takdir kembalinya masalampau dan aku akan bersabar menunggumu duduk dikelas 1 lagi serta menjalani misi untuk mendekatimu lagi. Apesnya, semua kalimat dimejamu terbaca olehnya, itu semua karena meja ujiannya persis dimejamu dan beberapa tamparan menghampiriku pada saat jam pulang sekolah.

Dirimu akhirnya menjalin kisah asmara dengan seorang pria yang katanya anak kuliahan dan memiliki hobi bermain gitar. Entah apa maksudmu yang sering duduk bersama cowok itu di area tongkronganku bernama esklap (kedai es kelapa muda), apakah sebuah petanda halus kamu ingin mengenalkan dia kepadaku atau sengaja ingin memperlihatkan apakah aku cemburu atau tidak, jika memang dugaan kedua, berarti kamu berhasil dan telah membuatku cemburu seperti seorang pria yang melihat bayangannya berada di bayangan orang lain tanpa izin. Mungkin kamu berprasangka jika aku acuh padamu, tidak peduli akan dua sosok kasmaran dipinggiran kedai es kelapa sedangkan hiruk pikuk tawa canda teman-temanku menghiasi keberadaan kalian. Sungguh salah dirimu, saat itu aku seperti polisi yang siap mengintai Bandar narkoba, sok sok acuh tapi selalu memperhatikan dan entah kenapa kamu selalu terlihat mencuri-curi pandang sambil tersenyum pelit dan kembali menatap kekasihmu seakan fokus mendengarkannya mendongeng.

Pada malam harinya kamu menanyakan kabar lewat sms, tak munafik akupun senang dan ternyata kamu masih berusaha untuk mencari nomor teleponku walaupun ada kisah dimana pacarku merebut handphonemu dan memastikan nomorku tidak ada dihandphonemu. Beberapa kalimat lewat SMS itu menandakan jika kamu cukup bahagia dengan pria itu, menurutku tidak salah kamu memilih dia karena paras wajah cowokmu begitu tampan, putih (mungkin satu etnis) dan anak kuliahan yang setahun lagi mungkin siap untuk bekerja. Berbeda denganku, seorang pria masih duduk dibangku SMA kelas 3 dengan status gak jomblo dan hanya menjadi sebuah wadah curhatanmu serta kabahagiaanmu. Pedih tapi berusaha bahagia apabila memang jalan ini yangbisa membuat kita terus berkomunikasi. Akan tetapi perjalanan hubungan aneh seperti ini tidak lama, lambat laun kita seperti menghilang seiring persiapan kelas tiga menghadapi ujian nasional dan kita benar-benar menaruh cerita dibalik lemari kehidupan lalu menguncinya rapat-rapat tanpa adanya orang yang ingin mengetahuinya. Kamu sering cerita soal pacarmu itu walaupun sebenarnya ada rasa cemburu tapi mengingat kamu yang begitu menarik buat diri ini, rasa cemburu itu berganti rasa sayange rasa rasa sayange.

Hingga pada akhirnya aku lulus dari SMA dan mungkin awal percobaan aku untuk melupakanmu. Aku melanjutkan pendidikan dengan berkuliah, fokus terhadap hubunganku kepadanya untuk bisa menjalin hubungan yang lebih serius dan dewasa. Selama aku kuliah hampir berhasil untuk melupakanmu akan tetapi tepat disemester 3 aku tiba-tiba teringat olehmu, itupun karena aku melihat orang lain yang mirip dirimu, yaitu mbak-mbak penjaga konter handphone dan kejadian itu seperti melemparkanku kepada kejadian sebelum-sebelumnya serta membuat jantungku kembali berdegub cepat. Aku kembali gila kepadamu. Aku berusaha mencari namamu di sebuah Friendster, satu persatu orang yang memiliki nama Aulia Fahriza aku klik, aku baca dan aku cek fotonya hingga perjuanganku membuahkan hasil dan langsung mengirimkan Friend Request kepadamu.

Aku ingat, kamu kelahiran bulan oktober dan aku saat itu ingat tanggal ulang tahunmu hingga akhirnya diputuskan untuk melakukan ide gila sebagai percobaan kembalinya aku untuk menjalin pertemanan kepadamu. Aku langsung menghubungi kawanku yang selalu mau aku ajak kemanapun dan dialah yang berjuang bersama sama mencari letak rumahmu. Sosok itu bernama Andrie dan kamipun sepakat memberikanmu hadiah kado saat kamu ulang tahun, bukan kado yang spesial karena aku pun tidak berani memberikan hal yang mahal sebagai kado untukmu karena takut kado tersebut berakhir ditempat sampah. Tepat dihari ulang tahunmu, aku menjemput andri buat kerumahmu, kondisi ku sepertinya tenang dan agak-agak gengsi untuk bertemu sama kamu setelah sekian lama saling melupakan, aku merasa akulah yang diminta tolong Andri buat ketemu sama kamu dan bukan sebaliknya. Sesampainya dirumahmu, aku disambut oleh ibumu, untuk pertama kalinya aku melihat sosok ibumu yang ramah sert a murah senyum walaupun sempat membuatku ketakutan karena aku berpikir aku akan diusir dari rumahmu. Saat itu kamu masih tertidur setelah makan sahur, lalu ibumu membangunkanmu hingga dirimu keluar rumah dan melihat kami berdua berdiri di teras rumah. Kamu seakan akan kaget seperti melihat para personil westlife, lalu kamu masuk kembali kedalam rumah dan aku kira kamu tidak suka dengan kehadiran kami berdua namun ternyata salah karena tak beberapa lama kamu keluar lagi dari dalam rumah dengan wajah yang sudah fresh. Kamu masih lengkap dengan piyama atau baju tidur berwarna kuning muda dan kita masih malu untuk saling menatap. Obrolan kita dingin, aku jarang bertanya, sok-sokan angkuh dengan terus terusan memainkan handphone namun sebenarnya aku sedang merekam suaramu karena aku butuh suaramu disaat aku ingin mendengarkanmu. Sesekali aku melihat wajahmu, putih dengan rambut panjang agak kusut, saat itu perasaanku tidak karuan, ingin cepat cepat pulang karena ingin teriak kegirangan didalam kamarku. Kamu hanya bisa tersenyum malu-malu saat menatapku yang saat itu aku memasang wajah dingin, kamu beberapa kali membenarkan rambut yang kusut. Hanya setengah jam kami berada diterasmu, kuserahkan kado yang ku bungkus semalaman dan berisikan perlengkapan ujian nasional lengkap dengan penggaris untuk membulatkan kertas jawaban ujian.

Di kampus, aku tak berhenti-hentinya cerita pada teman kuliahku bernama Ruli, aku seperti seorang anak kecil yang takjub melihat roket meluncur keangkasa dengan meninggalkan jejak putih memanjang di langit dan aku lebih bahagia dari seorang pria yang mendapatkan lotre senilai 2 miliyar, aku bahagia, aku bahagia, aku bahagia hingga dia bosan mendengarkan ceritaku yang ku ulang ulang dan meminta mengakhirnya dengan memberikan kalimat “ kalau emang cinta dan membuatmu bahagia kenapa gak jadian aja sih” Bodoh, ada benarnya juga perkataan Ruli, kenapa gak aku dan kamu jadian, aku bisa nekat mutusin pacarku karena memang kita sering konflik untuk masalah hal sepele dan menjadikan konflik tersebut alasan ketidak cocokan hubungan kami akan tetapi balik lagi, apa aku tega? Tapi disisi lain aku menyiksa batin yang menyenangkan. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk melupakan dirimu karena percuma untuk selalu mengingatmu, toh takdir tidak menjamin dirimu akan menjadi milikku seutuhnya. Aku bisa saja berbual jika aku sudah tidak bersama pacarku lagi namun hal ini menjadi riskan, belum tentu juga kamu mau menjadi pacarku dan apabila mau akan rentan konflik yang lebih besar lagi jika hubungan perselingkuhan ini diketahui olehnya. Sebenarnya hal itu selalu ingin aku lakukan untuk mengakhiri penasaran batin akan asmara ini akan tetapi tak ingin aku melukai 2 wanita sekaligus hanya untuk ke egoisanku dimatanya, rumit memang tapi tak semudah menuliskan kisah cinta ala-ala FTV untuk dijadikan kisah menarik.

Ternyata aku berhasil melupakannya dari tahun 2008 hingga awal tahun 2011, aku berhasil tidak mengingatnya hingga ditahun itu. Kenapa hanya sampai ditahun 2011? Pada tahun 2010 aku dan pacarku yang ku pacari selama 4 tahun, kandas. Kami berpisah secara tidak baik, dia memutuskan jalannya untuk bersama pria lain dan pernah bersama sama bermalam berduaan dikamar walaupun dia berkata tidak melakukan apapun akan tetapi aku tidak mempercayai sepasang manusia dikamar tidak melakukan apapun dalam semalam. Di tahun 2011 aku berusaha untuk mencari kontakmu lagi, entah kenapa tidak bisa melupakanmu secara mendalam. Hingga akhirnya berhasil menemukan akun facebook kamu dengan beragam foto-foto kamu yang masih cantik hihiihi, walau terfikir kamu tidak akan menyetujui permintaan pertemanan dariku tapi satu  bulan kemudian kamu menyetujuinya dan itu membuat perasaanku bahagia.

Selama beberapa bulan aku belum berani untuk mencoba menyapamu, mencolek akunmu saja rasanya berat sekali. Hanya bisa sesekali melihat status facebookmu yang saat itu hanya berisikan foto-foto kamu waktu SMA. Kamu juga share beberapa foto-foto kegiatan kamu dikampus, disitu aku bisa melihatkamu yang mengenakan baju kuliah dan memperhatikan segala kegiatanmu ditempat perkuliahan.  Suatu ketika dipenghujung tahun 2011, aku beranikan diri mengkomen salah satu status mu dan kamu membalasnya hingga terjadi conversation yang cukup dingin tapi tetap ada feed backnya. Tak sengaja akun twitterku juga menemukan akun twittermu hingga akhirnya kita saling follow, saling retweet dan saling ngobrol juga di twitter. Pada moment tersebut ada bahasan yang sebenarnya gak penting, bahasan kamu yang tidak menyukai telur ikan pada sajian menu sushi dan itu menjadi modalku untuk mengajakmu untuk ketemuan. Entah setan apa yang merasuki, aku beranikan diri mengajakmu untuk ketemuan dan saling tukar nomor handphone. Saat itu memang belum ada salah satu dari kita yang memiliki bbm sehingga kita hanya berkomunikasi lewat sosmed dan sms. Aku sendiri belum menentukan tanggal ketemuanya kapan tapi yang pasti aku selalu ingetin dia buat bisa ketemuan nanti dan makan sushi tanpa telur ikan.

Dibulan maret 2012, sebuah bulan dan tahun yang mencetak sejarah kita berdua, sejarah dimana kita yang sudah kenal sejak bertahun-tahun namun baru bisa berjalan berdua pada tanggal tersebut. Aku menentukan tanggal untuk ketemuan sama dia, pastinya pada hari sabtu disaat aku masuk kerja setengah hari. Waktu itu kamu kuliah di kampus Asyafiah jatiwaringin, aku sendiri gak tahu itu dimana hingga nekat jalan tanpa melihat google map terlebih dahulu dan masih berpatokan dengan “kalau memang jodoh, jalan dipermudah”. Jam 11 siang aku keluar dari kantor, aku sudah janji akan jemput kamu jam 12 di kampusmu dan memang meleset karena waktu itu kondisi jalan sedang macet-macetnya hingga pukul 13:00 masih berada dijalan. Beberapa kali kamu telp aku buat menanyakan sudah ada dimana, tak jarang juga sms menanyakan kabar tapi selalu ku jawab sudah dekat dan sebentar lagi sampai.  Selama diperjalanan, jantung tidak berhenti berdegub cepat, tangan berkeringat dingin, bingung nanti mau ngomong apa. Aku sendiri punya kebiasaan akan menjadi pendiam kepada orang yang belum sering ketemu tapi akan jadi orang yang berisik jika ketemu orang yang aku sukain ya istilahnya caper gitu deh, entah kalau berada didekatmu aku akan berada diposisi mana. Membayangkan aku bisa ngajak kamu jalan aja rasanya udah nyeessss banget, apalagi saat ini menjadi kenyataan, double nyeeess nya. Berpikir akan membahas topic bahasan apa, takutnya garing apalagi sampai gak ada bahasan yang seru. Macet yang tak kunjung selesai membuatku mencaci orang-orang, ya walaupun mencacinya didalam mobil, seakan-akan perjalananku sedikit terhalang oleh orang-orang bodoh yang muter seenaknya dan memakirkan kendaraannya sembarangan sehingga membuat jalanan macet.

Tepat pukul 13:20 aku berada dekat dengan gerbang masuk kampus berwarna merah muda maroon, sedikit lagi masuk namun masih terjebak macet. Sayup-sayup aku sudah bisa melihat sosokmu berdiri sambil melihat handphone di dekat pintu masuk kampus, kamu yang memakai baju garis-garis seperti seprei puskesmas dengan celana jeans hitam dan tas selempang, masih dengan rambut andalan kamu sejak SMA yaitu poni miring. Makin deg-degan seiring mobilku masuk keparkiran kampus untuk menjemputmu. Kumasuki mobil kehalaman kampusmu dengan kaca sebelah kiri dibuka dan aku teriak “hei Aulia, ayooo… masuk…” adegan ini pas banget saat kamu mencoba menghubungi aku dan ternyata aku sudah berada didepan kamu. Kamu langsung saja masuk kedalam mobil sambil tersenyum manis, pecaaaah dunia sepertinya dan itu memang rasanya seperti mendapatkan angin syurga.  “maaf aku kelamaan, soalnya macet banget dijalan”, kamu pun membalasnya sambil tersenyum “iya gak apa-apa kak, kirain tadi gak jadi soalnya udah batalin jalan sama teman-teman”, wah aku makin meleleh karena dia bela-belain jalan sama aku daripada jalan sama temen-temennya.

Awalnya kita tidak ada tujuan mau kemana dan kamu sendiri tidak memberikan opsi kemana kita akan pergi, hingga akhirnya kita pergi ke Grand Indonesia Jakarta Shopping Town karena disana menu makanan apa aja sudah pasti ada. Selama diperjalanan kita ngobrol-ngobrol, diawali dengan pertanyaan dia “kak… kakak… putus sama kak ika kenapa?” sebuah pertanyaan yang memang sudah aku tebak bakalan bertanya seperti itu. Dari obrolan tentang mantanku, hingga akhirnya dia berbicara soal cowoknya. Ya disaat seperti ini memang tidak pernah selalu tepat, dia membicarakan tentang cowoknya yang baru, satu tempat kuliah dan sedikit brengsek karena suka mabok-mabokan sama temen-temennya, entah kenapa kamu lebih suka cowok nakal seperti itu ya. Karena aku memiliki golongan darah O sudah pasti yang namanya pembicaraan humor selalu tersisipkan, tak terkecuali obrolan kita sepanjang jalan selalu membuatmu tertawa. Ini pertama kalinya aku melihat kamu tertawa bahagia, ketawa lepas dan fakta dalam hidupku, ini adalah pertama kalinya aku merasakan perasaan lepas sehingga bisa membawa suasana yang begitu enak berlama-lama dimobil.

Kondisi jalanan selalu ku doakan macet parah, aku tidak ingin memarkirkan kendaraan terlalu cepat disana, aku hanya ingin berlama-lama di mobil untuk saat ini namun sepertinya aku gak tega melihat dia beberapa kali mengipas-ngipaskan kipas bekas dari kondangan yang ia ambil diatas dashboard dan itu menandakan AC mobilku tidak begitu dingin buat dia tapi memang sih keadaan diluar sana begitu panas, terlalu panas buat aku yang sedang disejukan oleh nuansa cinta. Sesampainya di Grand Indonesia, kita langsung menuju tempat sushi yang sebenarnya memang letaknya ku ketahui karena sebelumnya juga pernah makan disitu. Kita berdua makan di sushi groove sebuah tempat sushi simple yang tidak terlalu berwarna warni namun jadi favorit karena ada ocha refill nya hehehe…  dia bingung melihat buku menu, mungkin tidak tahu harus memilih yang mana, sesekali aku mencuri pandang, memandangnya dan bertanya-tanya dalam hati “apa aku sedang bahagia? Atau perasaan kamuflase karena tidak pernah berjalan berdua dengannya?” lalu aku mencoba menawarkan sebuah menu yang mungkin ia sangat menyukainya. Dia menurut saja tentang pilihanku, walaupun sebenarnya pilihan menu itu salah karena ternyata dia geli sama telur ikan yang kecil-kecil berwarna merah bening hingga akhirnya telur ikan itu aku sisihkan sampai bersih, untungnya dia gak pernah dan dia Cuma tertawa geli ngeliat aku bela-belain bersihin telur ikannya “duuuh… kakak… rajin… lagian gak usah kak, nanti biar aku paksa makan aja” lalu aku menjawab “ya jangan sha, kan gak suka, aku gak tahu kamu gak suka telur ikan hehehe”, senyumnya menutup sebuah obrolan tentang telur ikan… Memang agak risih sih karena disaat kita asik makan, tangannya tidak bisa diam memegang handphone, mungkin cowoknya sms dia (jaman itu belum hits blackberry) ada perasaan ingin bertanya tapi takut jawabannya sesuai dengan pikiranku dan itu bisa membuat moodku rusak. Obrolan-obrolan kita seperti snack, gak penting tapi gurih dan bikin nagih.

Makan selesai, kita beranjak berkeliling Grand Indonesia untuk melihat-lihat sambil ya ngobrol-ngobrol soal kuliahnya dia, kerjaanku sampai ngapain aja kita saat tidak bisa sedekat ini. Banyak juga orang-orang yang melihatku aneh, mungkin keliatannya sedang ada pergejolakan dua etnis berbeda yang sedang berjalan bersama, aku si cowok local dengan mata belo dan dia seorang Chinese putih cantik rambut panjang dengan mata sipit. Rata-rata yang ada di mall ini memiliki satu etnis, local ya sama local, interlokal sama interlokal dan kebanyakan memang interlokal (Chinese). Buatku itu semua tidak masalah, rasa nyaman tidak harus selalu satu tujuan, beda arah pun kalau niatnya sama akan menjadi nyaman. Disaat berjalan berdua, dekat, dempet, tangan kita saling beradu, disitu aku pengen gandeng dia, baru membayangkan bisa menggapai tangannya saja hati udah tidak karuan rasanya, sar ser sar ser soooor…. Akhirnya niat itu tidak terlaksanakan dengan baik, paling disaat kita ngobrol sambil memandangi lantai demi lantai GI bahu dan lengan kita saling dempet karena kalau saling berjauhan, obrolan kita akan dinaikan volumenya. Tiba-tiba aku pengen makan eskrim dan kita makan eskrim, menu eskrim sebagai menu penutup kita hari ini di GI dan kita beranjak pulang kerumah masing-masing, aku kepikiran dia nanti diapelin tapi sicowok kaget melihat aulia tidak ada dirumah.

Kejadian yang tak terlupakan dalam hidupku termulailah dari sebuah parkiran, kita lupa memarkirkan mobil dimana dan dilantai berapa? Beruntunglah mobilku saat itu timor yang notabene nya masih beda bentuknya dengan mobil lain, coba avanza atau xenia? Otomatis makin pusing nyarinya. Kita berjalan menyelusuri parkiran dari lantai 3 hingga lantai 7 namun belum berhasil menemukannya, aku sempet frustasi ingin ke bagian penerangan dan minta bantuan mencari keberadaan mobilku tapi itu sepertinya memalukan. “sha… kamu capek? Minta bantuan security aja kali ya?” lalu dia menjawab sambil tersenyum “gak usahlah kak, kita cari lagi keatas, siapa tahu ketemu, ayo semangat, aku gak capek kok” lalu kita berdua melanjutkan pencarian dan tangan dia memegang pundakku sambil memberikan semangat. Disaat itu pula dunia seperti melambat, aku terdiam tidak mau berkata apa-apa dan fokus merasakan tangannya dipundakku. Aku lalu memandang wajahnya yang sudah berkeringat dan dia juga memandang wajahku, lalu melepaskan tangannya dari pundakku sambil tersenyum manis dan hatiku berdeklarasi “aku jatuh cinta…” akhirnya sebuah mobil timoryang tak lain adalah punyaku berhasil ditemukan, dia langsung bilang Alhamdulillah dan menghela nafas. Kata siapa Chinese itu pelit, buktinya dia bayarin parkir yang lumayan ditotal sampai 18ribu, entah sudah berapa jam kita di GI.

Hari sudah berganti malam, diperjalanan pulang kita ngobrolin film, dia suka sama Jason Statham, actor botak dengan wajah tampan. Pas banget lagu Goo Goo Dolls yang Before too late dia langsung menebak kalau itu lagu soundtracknya Transformers pertama, dia sangat suka lagu itu, entah itu sebuah kode atau apa, karena lagu dan keadaan gw saat ini hampir sama, sebelum terlalu terlambat. Lagu itu sempat 2x diputar ulang dan memang tidak membosankan menemani kita dalam perjalanan pulang, saking tidak ingin sempat sampai, aku tidak keluar tol yang dekat dengan rumahnya, melainkan muter-muter dulu biar lewat jalan biasa yang dikenal macet dan sambil member tahu letak rumahku dimana, siapa tahu dia mau mampir,.  Sesampainya dirumah dia, aku menyempatkan diri ngobrol sebentar diteras, diteras yang dulu pernah jadi saksi saat aku pagi-pagi kerumahnya memberikan kado ulang tahun, memandangi teras yang sudah berubah posisi kursinya sambil menunggu Aulia keluar dari rumah dan membawakan sebuah gelas berisikan air putih sesuai pesananku. Ngobrol-ngobrol sebentar karena tidak enak kalau kelamaan karena posisi mobilku menutupi sebagian jalan rumahnya dan rumahnya berada ditengah-tengah gang sehingga mobil akan susah lewat, sebenarnya bisa saja tapi berhubung saat itu pinggir rumahnya sedang ada pembangunan pondasi sehingga mobil agak ketengah, kalau mepet kepinggir tidak bisa buat buka pintu. Sebelum pulang aku minta untuk diantarkan sampai keluar kompleknya karena sudah lupa arah keluarnya dan aku tidak menghapalnya akibat terlalu fokus berbicara dengannya. Dia coba kasih gambar tapi tetap tidak mengerti, dia tidak berbakat gambar hehehe, akhirnya dia memberikan solusi ikut sampai keluar komplek dan nanti balik lagi kerumah menggunakan becak, maaf ya Aulia aku jadi merepotkan sekali. Sesampainya diluar komplek, dia turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih “makasih ya kak, hati-hati dijalan, kapan-kapan jalan lagi ya…. J “ senyumnya masih ku ingat sampai saat ini.

Setelah bersamanya malam itu, komunikasi kita menjadi sering, sayang saat itu belum hadir bbm sehingga masih mengandalkan sms atau telpon sebagai media komunikasi kita. Aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sering tidak ada waktu lagi buat bertemu dengannya, apalagi saat itu sangat membutuhkanku disampingnya walaupun kondisi kita masih memiliki pasangan masing-masing. Ada satu pertanyaan kenapa aku tidak bisa menyempatkan diri untuk menemuinya lagi, sekali lagi, untuk selamanya. Padahal jujur pada diri sendiri aku suka sama dia, merasa nyaman dan sangat menyenangkan apalagi aku sering sekali memimpikan dirinya tapi entah kenapa aku agak ragu buat berjumpa kembali dan kita hanya berkomunikasi lewat dunia digital hingga sampai akhirnya muncul blackberry.

Di era blackberry pun kita tidak putus komunikasi walaupun tidak sempat lagi berjumpa karena aku berfikir dia sibuk dengan kekasihnya tapi beberapa kali dia curhat sambil mengirimkan foto-foto beberapa bagian tubuhnya yang memar seperti lengan dan punggung, dia bercerita sering disakiti cowoknya karena setiap berkunjung kerumahnya selalu dalam keadaan mabuk. Sudah pasti ada perasaan kesal dan emosi tapi aku selalu sadari untuk tidak mencampuri masalah hubungan orang lain, cukup member nasihat walaupun ada kepikiran takut dia diperkosa atau dipaksa melakukan hal yang tidak tidak.

Saat bulan ramadhan 2011, aku benar-benar jomblo dalam arti tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Saat itu kita tidak terlalu ada komunikasi yang sering, aku hanya sesekali melihat profile picture bbm nya saja dan dia masih bertahan dengan pacarnya yang itu. Suatu malam, selepas sholat tarawih, aku sedang rebahan dikamar, aku iseng chat bbm ke Aulia, mungkin ada panggilan hati untuk melakukan chat duluan ke dia. Selama setengah jam kita chat hanya menanyakan kabar masing-masing lalu dia menanyakan sesuatu hal

Aulia : “kakak sekarang lagi dekat sama siapa?”

Aku : “gak ada aul, kenapa, tumben”

Aulia : ‘hehe, gapapa kak, Cuma nanya aja”

Aku : “bingung, pengennya gak lama pacaran, soalnya aku sudah sndirian di rumah, malas aja dirumah sepi”

Aulia : “ya udah kak cari pasangan, terus nikah deh”

Aku : “gak pengen buru-buru juga, belum tahu jodohnya siapa”

Aulia : “ya kan dicari dulu”

Aku : “hehehe iya, siapa tahu jodohnya kamu ya?”

Duh… kenapa sih aku ngetiknya begitu, perasaan jadi dag dig dug lhooo…. Pasti dia marah nih…

Aulia : “hmmm…..” (kayaknya marah si Aulia)

Aku : “….??”

Aulia : “whos know kak? J”

Lumayan lama dia balasnya hehehe, jawabnya Cuma ‘siapa tahu?’, lalu aku iseng nanya ke dia dengan lebih serius.

Aku : “aulia, kalau ada cowok yang ngajak kamu nikah gimana?”

Aulia : “ya… aku seneng kak, kenapa enggak, asal dia baik tapi aku gak bisa buru-buru, minimal umur aku 27 tahun baru aku nikah kak”

Aku : “oh gitu, gak pengen buru-buru ya”

Aulia : “iya kak”

Dalam hati ada keinginan buat ngajak dia nikah, bodo amat soal cowoknya tapi ada beberapa hal yang aku harus berfikir lagi untuk mengajak dia menikah. Seperti suatu kejadian saat aku pulang kampong dan bertemu ibuku.

Setiap ada kebahagiaan atau kesusahan, aku selalu bercerita dengan ibuku karena ibuku adalah seorang wanita yang paling asik buat diajak cerita dan selalu memberikan nasihat untuk masa depan walaupun tak sedikit nasihatnya gak aku dengerin hehehe karena kondisinya tidak cocok dengan kondisi zaman saat ini. ibuku selalu mengejarku buat menikah, jangan melihat usia tapi siap gak siap harus menikah, alasannya simple banget, orang tuaku mau pergi haji dan mereka berdua gak mau berangkat haji jika aku tidak menikah. Lalu aku bercerita soal Aulia namun hasilnya cukup tidak menyenangkan, ibuku tidak setuju dengan Aulia, padahal aku sudah meyakinkan dia adalah yang aku suka sejak lama namun tetap dia tidak memberikan sinyal positif dengan alasan, dia itu china dan ibuku ada gak suka dengan etnis ini karena dianggap reseh tapi ibuku suka lupa kalau papahku masih ada keturunan china jawanya sehingga memiliki mata sipit dan kulit putih.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin mengecewakan ibuku lagi, karena sudah banyak kekecewaan yang ia rasakan atas perbuatanku. Di satu sisi aku masih ingin menunggu dia sampai berumur 27 tahun tapi kalau aku menunggu dia sampai umur segitu ada beberapa hal yang harus aku pikirkan, pertama sudah pasti orang tuaku batalin pergi hajinya dan aku turut andil dalam dosa menghalangi ibadah orang tua, yang kedua, belum tentu dia mau sama aku dan sampai umur 27 tahun dia menikah sama cowok yang saat ini dia jalanin hubungannya. Disinilah batin bertempur antara harus berbakti kepada orang tua atau harus bodo amat sama orang tua, bodo amat orang tua gak jadi berangkat haji dan bodo amat orang tua tidak setuju aku menikah dengan dia namun aku tersadar, aku terlalu percaya diri atau gede rasa, ah…. Aku kan belum ngajak dia menikah kenapa aku berfikir dia mau menikah sama aku. Kenapa aku selalu berharap mengajak dia menikah bukan pacaran? Menurutku pacaran saja tidaklah cukup untuk merasakan kebahagiaan. Tapi… ya sudahlah, mungkin kalau jodoh entah kemana dan enggak kemana…

Seperti kalimat yang sudah sering kudengar, jodoh gak akan kemana dan kita memang tidak berjodoh karena pada akhirnya walaupun bukan akhir cerita, aku sudah memiliki pasangan dan kamu masih berkutat pada kesendirian. Entah lah, kita sudah punya kehidupan masing-masing tetapi kamu masih sering hadir dimimpiku, dimimpi yang sama ketika aku berusaha mencari rumahmu dan bisa berjumpa denganmu dalam keadaan yang memang aku atau mungkin kamu inginkan. Doaku… tetap sama, semoga kita bisa berjumpa, entah dalam kesengajaan atau tidak dan pastinya kamu tidak ingin berjumpa dalam perencanaan karena kita sudah memiliki kehidupan masing-masing… Aulia.. sebuah nama yang sampai kumatipun tidak akan pernah aku lupa karena cinta itu seperti karat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s