Mudiknya Para Bikers

Posted on

Miris juga membaca sebuah berita disalah satu media elektronik internet, dalam 2 hari masa mudik, sudah 88 orang tewas yang rata-rata adalah pengguna roda dua. Ketika masa-masa waktu mudik seperti ini, akan banyak pengguna motor yang menuju jawa tengah dengan perlengkapan safety minus. Barang bawaannya pun sangat-sangat diluar batas maksimal roda dua bahkan ditambah kayu sebagai penompang barang bawaan. Kebanyakan mereka beralasan jika menggunakan motor lebih cepat sampai, tidak terlalu kena dampak kemacetan dan ekonomis namun sayangnya mereka tidak memperhitungkan keselamatan penumpang dan dirinya sendiri. Saya lebih kasian lagi kalau melihat satu keluarga berisi suami istri dan 2 orang anaknya naik satu motor bebek, 2 orang anak balitanya dipaksa berjubel-jubel menikmati rangkaian bahaya dijalanan, belum lagi terpa’an panas dan debu menjadi hal yang harus dibiasakan menikmati perjalanan mudik.

Masih ingat kasus seorang balita meninggal dunia karena sesak akibat ibunya membedong sang balita dengan begitu tebal dan sesak sehingga si bayi benar-benar tidak rewel (meninggal). Padahal pemerintah sendiri sudah menyidiakan puluhan bis dan truck pengangkut motor pemudik secara gratis akan tetapi para bikers ini pun merasa tidak ada sensasinya jika mudik tidak menggunakan kendaraan sendiri walaupun harus siap menyerahkan nyawanya dijalan. Sayangnya juga, pemerintah kurang memberikan informasi fasilitas gratis tersebut dan para pemilik perusahaan pun hanya menyebarkan pamflet secara terbatas dalam hal ajakan mudik gratis, namun saya acungkan jempol buat para perusahaan yang sudah niat membantu para pemudik motor untuk meninggalkan motornya dan menikmati bis sampai di tempat kampung halamannya.

Banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan bikers pemudik, mulai dari kurang pengetahuannya soal safety riding, penggunaan perlengkapan bermotor yang tidak berkualitas dan paling fatal adalah memaksakan beban kendaraan melebihi batasnya. Coba deh kita lihat dijalanan, ada berapa banyak pemudik yang menggunakan helm tapi tidak dikunci pengaitnya “klik”, sehingga akan tidak mustahil helm tersebut akan mental terlepas dari kepala ketika terjadi accident. Penggunaan helm dengan tingkat keamanan tinggi saja masih bisa terlepas dari kepala, sebagai contoh kecelakaan di motoGp yang merenggut nyawa seorang Simoncelli. Selain itu, perasaan terburu-buru juga menjadi faktor utama pemudik roda dua kecelakaan, menerobos lampu merah atau palang rel kereta api sehingga nyawa pun dengan cepat lewat tanpa bisa bertemu dengan sanak sodara di kampung. Rata-rata para pemudik roda dua tewas akibat terlindas oleh kendaraan yang lebih besar, faktor paling sering terjadi akibat kelelahan, lebih baik beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina. Jika kita mengendarai kendaraan bermotor dalam keadaan mengantuk, daya konsentrasi kita menjadi terbagi-bagi, ada yang fokus meratapi jalanan, ada yang protes minta istirahat dan satu lagi membayangkan suasana kampung. Ketika ada rintangan yang harus menggunakan kecermatan berkendara, pengendara akan kaget dan akhirnya mengalami kecelakaan.

Pemudik roda dua sering emosian, hanya tersenggol kaca spionnya saja sudah langsung ngajakin ribut atau ketika ada kendaraan lain yang menghalangi langkahnya untuk lewat. Seharusnya para pemudik yang menggunakan roda dua sudah mengerti konsenkuensi menggunakan motor ketika musim mudik seperti ini. Terkena panasnya terik matahari, kemacetan yang tiada kunjung usai, tersenggol sana sini, dan bertemu dengan biker yang tidak sopan. Semuanya harus kita terima jika ingin menikmati perjalanan mudik dengan bermotor, berbeda dengan menggunakan mobil atau kendaraan besar lainnya, tidak ada istilah mobil tersenggol orangnya bisa jatoh, walaupun terjadi tabrakan asal tidak dalam kecepatan tinggi, Insya Allah penghuni nya masih selamat, berbeda dengan kendaraan roda dua yang bisa dengan mudah terjatuh walaupun tidak tersenggol. Apalagi ketika dijalanan, akan ada rasa kecemburuan sosial ketika kemacetan lebih dominan diakibatkan oleh mobil “woy lu pake mobil bikin macet aja, minggir kita mau lewat, udah kepanasan nih, elu enak adem pake ac”. Memang benar pakai mobil itu adem, lebih nyaman dan aman tapi para pemudik roda empat harus merogoh kocek lebih dalam untuk urusan bensin, tol dan juga konsumsi. Ketika macet total pun, pengguna mobil hanya bisa pasrah tanpa harus berpikir untuk selap selip. Kedua nya memiliki sisi enak dan tidak enaknya, kalau ada pikiran cemburu tersebut, cobalah untuk bersabar karena dengan sabar anda Insya Allah akan selamat dari musibah kecelakaan.

Saya lebih menyarankan para pemudik bermotor melakukan perjalanan bersama dengan kecepatan stabil, rombongan-rombongan bermotor ini lebih dirasa aman karena masing-masing harus fokus terhadap kecepatan dan tidak ingin temannya tertinggal jauh. Tapi saya tidak menyukai rombongan motor pemudik yang membawa nama club karena jauh lebih berbahaya, kenapa?, tidak sedikit mereka anarkis karena merasa memiliki kepentingan egois dan mereka berani karena jumlah. Memakan jalur yang seharusnya untuk kendaraan lain demi cepat sampai bersama rombongan, ada yang menghalangi langsung ditegur, tetap membandel maka siap-siap spion kendaraan kita menjadi korbannya. Ya walaupun tidak semua klub motor seperti itu tapi pasti ada aja yang seperti itu ketika kita mudik dijalan

Sebenarnya mudik dengan roda dua itu sangat menyenangkan, kita bisa berhenti dimanapun ketika ada spot asik dengan mudah, bahan bakar lebih hemat dan sosialitasnya lebih tinggi karena kita dapat membantu bikers lain yang sedang dalam kesusahan, itung-itung menambah pahala dijalan. Kita nikmati perjalanan tanpa rasa terburu-buru dan keselamatan berkendara yang diutamakan. Cukup membawa perlengkapan seperlunya tanpa harus memaksa membawa oleh-oleh untuk dikampung halaman. Bawalah bekal secukupnya karena di perjalanan akan ditemukan tempat pedagang berjualan kebutuhan kita walaupun harganya akan berbeda dari harga normal tapi ya masa udah dapet THR masih saja perhitungan, ini perjalanan setahun sekali kok dan kita pun bisa menikmati wisata kuliner ditiap-tiap daerah.

Prinsip keselamatan bermudik dengan roda dua adalah Sabar, Santay, Tidak memaksa fisik, Safety dan ketahui kondisi motor yg digunakan. Paling penting tetap berdoa dan beribadah ketika kita dalam perjalanan ke kampung halaman. Tidak ada yang tahu takdir kita akan selesai di jalan mana, namun insya Allah kalau kita selalu ingat dengan sang pencipta kita akan diberikan keselamatan dan perlindungan. Tetap jaga kondisi badan agar fit selalu dan keep safety…

Selamat bermudik ria buat teman-teman bloggers dan saya ucapkan Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf lahir dan batin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s