Tiduuuung, Aku datang………

Posted on

Pulau Tidung sudah lama nama pulau ini terdengar dan tertanam di telingaku, konon katanya pulau tersebut sangat bagus buat refreshing tepian pantai selain ancol dan letaknya masih berada di Kepulauan Seribu Jakarta. Untuk menuju pulau tersebut kita harus menggunakan perahu motor karena kalau menggunakan perahu dayung atau cano niscaya kita sampai ke pulau seribu dalam bentuk kerangka. Kapal Motor tersebut bisa kita tumpangi (jgn lupa bayar) di dermaga atau pelabuhan muara angke dan di ancol itu sendiri.

Beruntung saya mendapatkan perjalanan ke Tidung secara Cuma-Cuma alias gratis budget dari kantor, namun perjalanan ini tidak hanya having fun saja melainkan ada pelatihan survival dengan tema “membentuk lingkaran ditengah lautan ketika pesawat hancur atau mendarat darurat dilautan” ngeri juga denger judulnya, apalagi saya termasuk dari salah satu manusia yang tidak dapat berenang layaknya perenang, saya hanya bisa berenang seperti orang yang terpaksa berenang, mau gaya berenang apapun, hasilnya tetap ditempat alias gak bergerak sama sekali. Maka dari itu, sebelum saya berangkat menuju pluit, saya berpamitan dengan para tetangga sekaligus menitipkan uang arisan RT.

Tanggal 8 Juni saya berniat mau berangkat langsung dari kantor menuju pluit tepatnya di Golden Sky Condotel karena kita para teknikal wajib nginep disana supaya paginya tidak kesiangan menunju angke. Sayangnya, saya dan tian harus latihan band dahulu untuk mempersiapkan ultah si mas-mas bule yg sedang ulang tahun, sehingga jam 11 malam kita kelar latihan dan segera telp taksi untuk menjemput kami di kantor. Apes, tiap callcenter taksi sibuk semua dengan alasan dalam melayani pelanggan dan anehnya nada ini sama dengan semua perusahaan taksi mulai dari Bluebird, ekspress, gamya, sampai taxiku. Kita panik karena kawasan jarang banget dihinggapi taksi dan kalau mau cari memang harus keluar kawasan MM2100, beruntung saya mempunya sahabat yang mau disuruh-suruh yaitu riki yang rela muterin kawasan buat cari taksi yang mangkal dan Alhamdulillah kami mendapatkan taksi ekspress yang kebetulan sedang kelar nganterin pelanggan.

Golden Sky Hotel

Langsung saja kita berangkat menuju pluit dan sampai sana jam 2 pagi, sesampainya dikamar ternyata sudah dipenuhi oleh makhluk bernama pria berlemak terpaksa dengan berat hati saya tidur dilantai beralaskan handuk sambil nonton kesebelasan rusia melawan ceko dan sadar tak sadar sepertinya saya mengikuti pertandingan tersebut di lapangan hijau ukraina. Kita pun dibangunkan si bos jam stengah 5, manasin air buat nyeduh pup mie, langsung mandi dan berangkat menuju angke menggunakan taksi. Sebenarnya masih pengen tidur tapi percuma saja tidur kalau alasnya handuk dan bukan kasur. Kita semua langsung check out dari kamar, barang-barang yang tak layak dibawa ke tidung dititipkan pada mobil si bos biar aman. Setelah dirasa lengkap, kita pergi menuju muara angke, memang sudah ciri khas pasar ikan, bau ikan dimana-mana dan mungkin kucing saja sudah bosen tinggal disana.

Sampai juga di angke

Setelah sampai di angke, kita langsung di kawal sama pihak yang bertanggung jawab atas tour kita kali ini, kita panggil saja namanya gondes karena rambutnya panjang (gondrong) dan bermuka desa. Kita menyebrangi lautan ancol menggunakan perahu motor milik nelayan ikan tapi sepertinya sudah dirubah menjadi perahu penumpang. Sebenarnya kita bisa menikmati kapal motor bagus namun harus naik dari ancol dan biaya yang cukup mahal kalau tidak salah 100ribu/orang sedangkan perahu kayu nelayan ini hanya 30ribu/orang. Untuk kenyamanan ya jangan ditanya, kita beralaskan kayu tanpa kaca sehingga angin laut masuk dari kanan kiri depan belakang serta kita mendapatkan beberapa jaket pelampung dan sepertinya pelampungnya lebih sedikit dari kapasitas penumpang.

me-summers
seru juga liatin perahunya

Perjalanan kita menempuh waktu kurang lebih 2 jam dari muara angke, untunglah kita berangkat masih pagi hari, andai kita berangkat siang hari pastinya sudah kepanasan didalam kapal kayu ini. Ini kali pertamanya saya menyebrangi lautan dengan perahu motor selama 2 jam, terombang-ambing oleh ombak ringan laut Jakarta. Syukurlah saya tidak mengalami gumoh karena saya hampir sepanjang perjalanan hanya tertidur, makan, minum, tidur lagi, ngecek BB, tidur lagi, foto-foto, tidur lagi hingga akhirnya sampai juga di pulau tidung.

Tidung 100 tahun yg akan datang
Beberapa Pulau yg tersebar.

Didalam perjalanan menuju pulau Tidung, kita akan melihat beberapa pulau yang mengapung di atas lautan kepulauan seribu, ada banyak macam-macam pulau disini namun pastinya jumlah pulau tersebut tidak sampai 1000 pulau. beberapa pulau di kepulauan seribu yang sudah saya kenal adalah pulau bidadari yang terkenal dengan populasi biawaknya, pulau hantu yang terkenal dengan kastilnya, pulau pramuka, pulau tidung dan pulau mutiara (bener gak ya).

Selamat Datang di Tidung

Sesampainya di pulau tidung, kita langsung dibawa ke tempat penginapan kita selama 2 hari 1 malam. Saya merasa berada diperkampungan atau desa yang secara tak sadar kalau saya masih berada di daerah Jakarta dan bukan di pulau lain tapi entah kenapa aura Jakartanya lenyap begitu saja walaupun poster-poster bang kumis dan partnernya dalam kampanye pilkada terpampang sana sini. Transportasi umum di pulau tidung ada 3 macam, kapal perahu motor untuk menyebrangi antar pulau atau melewati garis-garis pantai, becak motor dan sepeda. Uniknya sepeda disini adalah banyak yang modelnya sama dan masih satu merk perusahaan sepeda china, walaupun bentuknya sudah lusuh yang penting masih bisa membawa manusia keliling pulau dengan nyaman namun kita harus hati-hati karena jalanan didesa ini cukup sempit hanya bisa dilewati 2 bentor kanan kiri makanya disini tidak ada mobil sama sekali, sekalipun ada mobil tersebut pasti sudah diamuk massa karena menghabiskan ruang jalan.

Muka-muka lapar…..

Sampai ditempat penginapan kita disambut dengan makan siang, saya pikir makan siang disini rasanya biasa saja tapi anggapan saya salah ketika saya mencicipi makan siang disini dengan menu kalamari (cumi-cumi ditepungin), oseng2 tempe kacang panjang dan capcay. Rasanya lumayan enak walaupun kalamarinya lebih mirip karet gelang tebal karena membuat mulut saya berotot dan kesakitan akibat pegal mengunyahnya. Selesai dengan menu makan siang (padahal baru jam 10 siang) saatnya melanjutkan tidur dikamar penginapan yang sejuk karena sudah terpasang AC 1 PK dan kamar mandinya bersih layaknya rumah kontrakan.

Mari awali petualangan dgn meng-gowes

Pukul 1 siang kita semua sudah harus bersiap untuk aksi selanjutnya yaitu pelatihan tentang pertahanan diri dilautan ditambah menikmati lautan dengan cara snorkling. Jujur saya tidak bisa berenang dan saya paling takut dengan kecoak, apalagi lautan yang luas tanpa dangkalan serta rasa airnya yang asin sekali. Ya demi pengalaman saya pun mengikutinya, kapan lagi saya punya bahan cerita buat anak saya nanti. Kita menuju ke tengah lautan menggunakan kapal motor milik anak SMK dengan bahan dasar fiber, beberapa kali kapal ini mogok akibat kerusakan mesin tapi tidak menyurutkan sang nahkoda untuk terus berlayar menuju lautan tengah. Sang nahkoda juga memberikan penyuluhan tentang pelatihan survival yang akan kami laksanakan, ceritanya pesawat udara harus terjun ke lautan dan kita para penumpang harus melompat satu persatu agar selamat dari kecelakaan, ada tips dan trik agar selamat saat melompat dan menghantam laut.

jgn sampai ini foto terakhirmu nak.

Saatnya kita memainkan permainan, satu persatu yang berada di kapal motor melompat terjun bebas kelautan, bermodal bismillah saya melompat kelautan dan perahu meninggalkan kami dari kejauhan. Kami harus membentuk lingkaran ditengah lautan, kerja sama team akan menghasilkan segalanya kemudahan karena kita harus bisa membantu teman-teman yang tidak bisa berenang sama sekali. Setelah kita membentuk lingkaran, barulah sang ketua membuka kaleng yang isinya asap orange dan asap tersebut akan membumbung tinggi kelangit memberikan tanda bahwa dilokasi tersebut terdapat sekelompok orang dalam bahaya. Saya kira asepnya beraroma jeruk mandarin, namun ketika terhirup dengan sengaja, hidung saya langsung perih sekali, sepertinya para korban kecelakaan pesawat akan mati dilautan tanpa perlu diselamatkan akibat mencium asap orange tersebut.

Kapal tim SAR nya kecil…

Barulah sang tim SAR menghampiri kami untuk menolong para manusia yang mengapung dilautan, konon katanya tim SAR lebih senang menolong orang yang berkelompok dibandingkan satu orang yang mengapung karena susah terlihat dibandingkan harus bareng-bareng ngumpul disatu titik. Setelah semua anggota tim diselamatkan, kita diajak untuk bersnorkling ria, ini juga pertama kalinya saya menikmati yang namanya snorkling, rasanya seperti apa? Pastinya seru bisa liat ikat dilautan lepas dan terumbu karang yang indah-indah.

mantab joo………

Sebenarnya kalau mau snorkling kita tidak perlu menggunakan jaket pelampung namun karena saya tidak bisa berenang sama sekali jadinya jaket ini terus melekat dibadan saya walaupun sedang snorkling, alhasil saya tidak bisa menyentuh karang yang berada di dasar lautan yang cukup dangkal. Mungkin karena bentuk wajah saya yang terlalu banyak celah, kacamata renang dan pipa buat napas dirasa percuma karena beberapa kali kemasukan air laut. Rasanya air laut disini lebih asin dari laut ancol, bener-bener asin dan bikin saya gak nyaman makan indomie kuah karena teringat terus rasa asinnya air laut. Saat snorkling saya bisa melihat ikan-ikan kecil yang berwarna-warni serta terumbu karang nan alami indah bersemi dan bungkus rokok dji sam soe ukuran jumbo, ya jangan heran kalau terlihat beberapa sampah berada didasar laut atau memang sampah tersebut merupakan sponsor resmi lautan seribu.

Dari hasil snorkling bisa saya simpulkan kalau lautan itu benar-benar luas dan para penghuni laut yang beraneka ragam sehingga saya tidak hapal dengan bentuk-bentuk ikannya karena saking banyaknya. Selain itu saya bisa merasakan bagaimana rasanya di lukai oleh terumbu karang hahahaha saat naik ke kapal, kaki saya berdarah semua terutama paha dan betis, untungnya telapak kaki menggunakan sepatu katak, kalau tidak pakai pastinya saya sudah meninggalkan jejak darah dikapal. Waktu yang diberikan oleh tour guide adalah 2 jam lebih, waktu yang cukup untuk saya menikmati lautan.

Love Bridge

Setelah snorkling kita diajak ke jembatan cinta, konon jembatan ini bisa memberikan para manusia jomblo seorang pasangan asal berani nyemplung dengan lincah dari atas jembatan ke lautan tapi harus hati-hati karena sering kapal boat yang membawa pisang raksasa (banana boat) mondar mandir melewati bawah jembatan, kan gak lucu kalau sudah niat ketemu jodoh malah ketemu malaikat maut. Ketika saya melihat-lihat jembatan ini kok agak kecewa ya, jembatan ini mulai rapuh dan pijakan besinya sudah keropos tak terurus sama sekali. Menurut mas gondes, jembatan ini sedang diperbaharui menggunakan beton sehingga perawatannya bisa minimal tapi hasilnya maksimal namun lagi-lagi menunggu bantuan dari pemerintah secara kesinambungan. Andai Tidung dijadikan tempat wisata yang dimiliki oleh swasta, pasti hasilnya bisa lebih bagus walaupun dipastikan harga masuknya menjadi lebih mahal.

ramai banget di spot ini…

Karena perut sudah sedikit keroncongan, akhirnya kita makan mie bakso, otak-otak dan kelapa muda bulat. Tadinya saya tidak mau makan bakso karena setahu saya banyak tukang bakso asal buat baksonya, kebanyakan tepung sagunya dibandingkan dagingnya, tapi dugaan saya harus disalahkan karena walaupun tidung lebih kearah perdesaan pinggir pantai dan jauh dari kota besar, segala jajanannya dibuat dengan serius, seperti otak-otak nya yang rasanya lebih enak disini dibandingkan jakarta, lalu bakso bola tenisnya yang besar enak banget, dagingnya berasa walaupun tekstur adonan sagunya lebih banyak. Saya trauma makan bakso besar setelah menyantap mie bakso di rest area padalarang, isinya Cuma sagu dan lemak sapi (bukan daging sapi). Kelapa mudanya menjadi pelepas dahaga para anggota team yang telah lelah berenang kesana kemari, oh iya gorengan disini juga enak lho, entah kenapa disini enak-enak banget jajanannya seperti tahu bulat yang bung dedi bawakan, gurih banget tuh tahu Cuma saya sudah underestimate tentang jajanan di jakarta pada lokasi wisata biasanya gak ada yang enak.

Kembali ke penginapan, istirahat sejenak sambil mandi besar karena badan bau laut. Tak lama makan malam sudah didatangkan, entah kenapa depan rumah penginapan yang kami tinggal terdapat seorang cewek yg masih tergolong abg, memakai celana hotpants dan tanktop berbalut jaket jeans kecil melihat kearah saya yang sedang asik menonton tv. Wah ngeri juga tapi mungkin dia heran ngeliat muka saya yang jarang ditemui di dunia ini. Enaknya tidur-tiduran sebentar sambil menunggu sesi barbekiu dilepas pantai, gak sengaja ketiduran dan dibangunin si bos karena sudah waktunya bakar-bakar ikan. Saya berharap ada cumi atau udang yang dibakar karena kedua binatang itu adalah seafood kesukaan saya dibandingkan ikan. Ternyata doa saya dikabulkan, ternyata ada cumi-cumi atau sotong yang dibakar dalam bentuk satay dan ikan baronang yang segar serta gurih rasa ikannya. Berhubung kita semua sudah makan nasi maka ikan bakar ini kita santap saja secara digado dengan sambal kecap berikut potongan cabe rawitnya.

Selesai menikmati santapan bakar-bakaran, semua peserta kembali keperkemahan berhubung cuaca sedikit gerimis gak jelas. Sesampai di penginapan, rata-rata pada dipijit sama babeh kang pijit, sekali pijit 25ribu per-orang dan sebenarnya saya ingin banget dipijit tapi melihat teman-teman lainnya sudah lelah sangat, saya pun mengalah untuk tidak mengantri dan saya pun masih bingung kemana hilangnya uang 100ribu saya?, padahal pas sampai dipenginapan saya masih ada uang 400ribu tapi setelah snorkling uang saya hilang 100ribu. Akhirnya saya bisa terlelap setelah mereka anteng nonton bola diruang tengah, soalnya teriakan mereka dipijit cukup bikin saya kaget.

Mari kita menyelamatkan bumi

Pada pagi harinya, kami menanam bakau dipinggir pantai, tanaman bakau sangat ampuh dalam mengurangi abrasi yang diakibatkan oleh arus pasang lautan. Kalau setiap tamu yang hadir mengikuti paket tour pulau tidung menanam bakau, niscaya pulau ini bisa dipenuhi pepohonan bakau tapi kok rasanya pohon bakaunya sedikit ya, apa pohon ini dicabut setelah kami tanam dan ditanam lagi kalau nanti ada wisatawan datang kembali. Peisisr pantai tidak begitu bersih, kita masih bisa melihat sampah-sampah dari bekas nelayan atau pengunjung pantai, belum lagi pasir pantainya yang terlihat hitam legam efek dari polusi lautan. Sekali lagi, andai pemerintah tidak buta dan melihat banyaknya tempat-tempat yang bisa dijadikan daerah wisata unggulan namun sepertinya pemerintah daerah lebih senang mengembangkan hotel, mall dan apartemen serta perumahan dibandingkan tempat wisata alami seperti ini.

ngeliatin orang menanam sawah

Setelah menanam bakau selesai, saatnya kita kembali kepenginapan dan bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta kota. Waktu terasa cepat berlalu, baru kemarin kaki ini menginjak pulau tidung, eh sudah harus hengkang karena besok kita semua harus beraktifitas seperti biasa. Perjalanan gratis ini cukup memuaskan saya, walaupun kalau boleh saya jujur suasana pulau tidung ternyata tidak terlalu istimewa seperti suasana pantai dreamland di bali yang air lautnya biru dan bagus. Mungkin karena saya terlalu percaya pada tampilan promo di televisi atau iklan-iklan di internet, jadi inget pesan orang tua “kamera itu menipu” tapi walaupun tidak sebagus pemikiran saya, ternyata pulau tidung membuat saya ingin kembali lagi karena disini tempatnya santai walau ramai dan lebih enaknya lagi jajanan disini gak mahal serta rasanya enak-enak.

saya bingung sebelah saya ada wanita
Terpanggang hidup-hidup & sauna ria.

Kekecewaan saya terasa saat pulang dan kita ketinggalan kapal yang akan membawa kita pulang ke jakarta (muara angke), akhirnya pakai kapal motor lainnya yang sudah penuh sesak, parahnya lagi asap solarnya masuk kedalam kabin kapal sehingga banyak diantara kita menutup hidung serta adapula yang harus mengeluarkan kepala dari jendela kapal supaya mendapatkan udara segar, belum lagi waktu keberangkatan kita ditengah teriknya siang hari dan bodohnya saya dapet duduk diatas mesin kapal sehingga semakin lama pantat saya seakan terpanggang, mungkin biji saya sudah mateng dan siap disantap. Asiknya, mau cewek cantik, atau cowok ganteng serta kaya semuanya merasakan keringat heuheuheuheu, emang enak cantik2 dipanggang didalam kapal. Saya harus menahan lapar, panas selama 2 jam lebih dan tiba di pluit jam 3 sore, rasanya ingin sekali lompat dari laut tapi sayangnya dermaga angke sangat-sangat kotor airnya.

The Engineer Team like a Family

Melihat banyaknya wisatawan yang menyebrangi pulau, alangkah baiknya jika muara angke dibagusin, sampah sampah yang mengapung dilautan bisa di serok sampai bersih serta perahu-perahu motor untuk mengantar para penumpang di rawat dan dipercantik. Harus ada parkiran mobil pribadi buat pemilik mobil yang ingin menginapkan mobilnya di muara angke dan keamanannya mesti terjaga, sehari 50ribu juga lumayan kan dibandingkan harus parkir diantara gerobak pembawa ikan dan pemiliknya cemas-cemas tidak bisa menikmati liburannya. Kapan lagi bisa menikmati pantai yang jauh dari polusi dengan gratis tanpa ada biaya masuk layaknya ancol, Cuma dijakarta pantai berbayar, dan apapun dijadikan tarif, berbeda dengan seluruh pantai ancol yang gratis, losari dengan keindahan sunsetnya tak memungut biaya masuk area pantai. Kita butuh tempat liburan dan wisata tapi semua itu disediakan dijakarta hanya syarat harus punya duit banyak.

2 thoughts on “Tiduuuung, Aku datang………

    Sri Astuti Rudat (@SriRudat) said:
    1 Oktober 2012 pukul 3:29 am

    tulisan km enak dibaca…

      Tawvic responded:
      2 Oktober 2012 pukul 12:00 pm

      terima kasih tante…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s