Dibenci tanpa Alasan

Posted on

Waktu jaman SMP saya pernah mengalami kejadian dibenci orang tapi saya sendiri tidak tahu alasan dia membenci saya dan anehnya lagi saya belum pernah ketemu orang itu sebelumnya, ngobrol aja juga gak pernah tapi ya aneh saja kalau tahu-tahu kalau saya lewat atau ketemu bisa dibenci bahkan menghina saya tanpa maksud yg jelas. Saya sadari kalau saya bukan artis junior yang pernah main film keluarga cemara, saya hanya pelajar biasa yang berangkat pulang jalan kaki sejauh 1 kilometer. Kejadian tersebut hanya berlangsung waktu saya duduk di bangku SMP, lagi masa-masanya hormon testoteron saya bekerja.

Apa yang terjadi jika kita tiba-tiba dibenci sama pemulung yang umurnya sepantaran sama kita?, aneh dan bingung, itulah yang saya rasakan ketika tiba-tiba saja ada seorang pemulung yg bawa gerobak membenci saya. Entah kenapa hal itu bisa terjadi, saya sendiri merasa tidak pernah membuat masalah dengan dia, memang saya sering ketemu dia pas mau berangkat sekolah tapi saya berani yakin kalau saya tidak pernah merebut pacarnya atau menginjak kakinya atau mencoba untuk mencuri gerobaknya. Kejadian pertama dia terlihat membenci saya pada saat saya jalan masuk ke gang rumah teman untuk berangkat sekolah bareng, saya dengan santai berjalan melewati dia yg juga sedang berangkat memulung sampah, hal ini saya anggap biasa karena memang hampir tiap hari saya bertemu anak ini. Tiba-tiba saja dia meludahi saya, ludahnya memang tidak ditargetkan ketubuh saya melainkan ke depan saya persis menyentuh tanah hampir mengenai sepatu saya. Bukan hanya meludah saja tapi ada kata-kata “tai lu…” yang keluar dari mulutnya yang begitu sopan. Saya tidak ambil pusing ataupun ngajak dia berantem, lebih saya melewati dia tanpa ada perasaan galau, mungkin saja dia lagi stres karena target mulungnya diluar harapan.

Lalu beberapa hari kemudian dilokasi serta waktu yang sama saya bertemu dia, memang tidak meludahi saya tapi dia berteriak “woy anjing…” ketika saya berjalan meninggalkan dia. Jadi makin bingung saya, anehnya kalau saya menengok kearah dia, dia langsung berpaling dan jalan buru-buru, sarap juga nih anak. Lebih parahnya lagi waktu saya sedang asik ngobrol sama teman ibu saya, tiba-tiba dia melemparkan petasan kearah saya, alhasil saya dan teman ibu saya kaget bukan main tapi si pemulung dengan cueknya pergi begitu saja. Lama-lama kesel juga saya digituin, namun saya orangnya paling anti melakukan kekerasan hingga akhirnya Cuma bisa curhat sama ibu saya dirumah dan dia tidak mengizinkan saya untuk melakukan kekerasan untuk melawan dia “inget, kalau kamu berantem, nanti kamu kalah, kamu dendam, begitu juga sebaliknya, kalau kamu menang lawan dia pastinya dia bakal dendam dan bakal bawa temen-temennya, hingga akhirnya gak kelar-kelar. Iklasin aja biar nanti ada balasannya sendiri”. Akhirnya saya menuruti pesan orang tua saya, tetap berdoa sebelum berangkat dan hindari jalan gang yang biasa dia lewat. Alhamdulillah tidak ada lagi kejadian seperti itu walaupun saya masih sempat melihat dia berlalu lalang dijalan. Sampai sekarang masih bingung tentang alasan dia berperilaku seperti itu, entah salah saya apa sehingga sampai dibenci olehnya, apa jangan-jangan muka saya mirip pesaingnya ya.

kejadian lain juga pernah saya alami, pelakunya kali ini adalah anak kampung belakang komplek rumah saya. Namanya kalam, wajahnya bener-bener menyeramkan dan matanya hitam. Dia merupakan salah satu remaja kampung yang suka bikin masalah sama remaja sekampungnya. Sebenarnya saya sendiri sih cukup dikenal dikampung belakang rumah, saya juga sering main sama anak-anak kampung ya baik-baik saja tidak ada masalah hingga pada suatu saat dia membenci tanpa sebab tapi saya yakin dia cemburu. Waktu jaman-jaman kelas satu SMP saya memang punya temen deket wanita bernama Linda, orangnya cantik, putih, soleha dan pintar, saya sangat deket banget sama dia sampai-sampai orang tua saya mengira saya pacaran sama dia. Kalam sendiri umurnya 4 tahun lebih tua dari saya, sudah SMA tapi kelakuannya kaya anak SD.

Kebenciannya kepada saya tercium saat saya sedang jalan dari rumah menuju warung deket kampung belakang komplek, tiba-tiba saya melihat dia berjalan naik sepeda menghampiri saya sambil teriak “taaiiiikkk…..”. jiaaaah ini orang kenapa lagi buang-buang tai sembarangan, hadeeeeeh…. cuekin aja dah, lagian dia ini yang capek teriak-teriak tai, mudah2an dia dikasih makan tai sama orang tuanya pas makan siang hahahaha. Hampir setiap kali saya ketemu  dia, selalu diteriaki tai, anjing, monyet dan sebagainya yang menurut dia merupakan kata-kata hinaan. Padahal saya kalau menghina orang itu menggunakan binatang-binatang indah seperti Cendrawasih, panda, anggora, gelatik atau kukang.

Karena kekesalan saya makin tertumpuk dan tertanam hingga akhirnya saya meluapkannya secara tidak sengaja, ketika itu dia abis pulang hadirin acara ultah anak orang kaya dikomplek saya, dia asik bawa bingkisan kue sama ditangannya memegang gelas berisi fanta. Saya saat itu sedang bersepeda tiba-tiba saja saya menendang dia dan mengenai gelas fanta serta kuenya sesaat setelah kata ‘monyet’ terlontar dari mulutnya. Saya langsung cuek dan pergi meninggalkan dia, benar-benar kesal saya dibuatnya namun saya jadi merasa bersalah melakukan hal itu sampai-sampai saya tidak bisa tidur lebih awal karena memikirkan kejadian tersebut. Pasti dia membawa kue buat adeknya dan mungkin saja dia jarang-jarang minum fanta dengan size gelas besar. Sejak kejadian tersebut dia malah makin membenci saya, pada bulan puasa pun dia tidak libur menghina saya, wah ini sih bener-bener setan yg harus di ikat ke neraka. Puncaknya ketika itu sedang kemarau, saya sedang puasa tapi lupa sahur, kebayang rasa dahaga dan laparnya kaya apa. Saya pun menyelusuri gang rumah saya menuju warung untuk membeli tepung terigu, belum jauh saya beranjak dari rumah, dia datang menghampiri saya sambil ngata-ngatain saya.

S = Saya
K = Kalam

K : “woooiiii anak monyet”
S : “elu kali yang kaya monyet, kaga ada perilaku manusianya”
K : “Anjing lu….”
S : “Lebih anjingan juga elu, gonggongin gw terus”
K : “tai kucing lu”
S : “Sini lu turun dari sepeda kalau berani”

Wah pokoknya crowded banget saat itu, saya teriakin dia terus buat turun dari sepeda tapi makin lama dia makin ngegoes menjauh. Sampai akhirnya saya keluarin hinaan paling hina seantero dunia “SETAAAAN JAHANAM LOOO….” dia langsung turun dari sepeda dan ngambil batu disekitaran dia berdiri, saya pun juga tak mau kalah untuk melempari dia batu sampai tai kucing kering pun saya lempari ke dia padahal saya mengira itu batu lho. Saya tidak terima pas dia ngatain orang tua saya, emosi saya memuncak saya langsung lari hampiri dia berniat mau memukulinya, gak peduli dia badannya lebih kuli dan umurnya lebih tua dari saya, kalau sudah menghina orang tua saya, mati pun saya rela demi menjaga nama baik orang tua saya. Belum sampai gebuk-gebukkan, tetangga saya ibu-ibu langsung misahin saya dari dia, keluar juga si bapak djasino yang terkenal galak langsung mengusir si kalam hingga akhirnya dia pergi, tapi saya masih teriakin dia “gw sumpahin lo kehilangan” entah kehilangan apa, saya Cuma asal teriak.

Ya mungkin teriakan saya didengar malaikat, 3 bulan kemudian ibunya si kalam meninggal karena sakit keras yang sudah dirasakannya ketika bulan puasa tiba. Sejak saat itu dia sudah tidak menghina-hina saya lagi, malah lebih terlihat dia kalem dan kalau ketemu saya ya cuek aja kayak gak kenal. Saya jadi ingat dengan pesan ibu saya, jangan pernah ngomong sembarangan, katanya kalau saya ngomong sembarangan dengan perasaan sakit hati cepat atau lambat akan menjadi kenyataan. Kabar terakhir yang saya terima dia sudah menikah karena pacarnya hamil duluan, padahal dulu dia sempat pacaran sama mantan saya waktu SMA kelas satu, beruntung mantan saya pergokin dia sedang ‘gituan’ dirumah si kalam bersama wanita lain. Mungkin yang dia nikahi itu adalah wanita yang sempat digituin sama dia dan hamil, syukurlah kamu tan tan, gak jadi serius sama dia hahahahaha…

Pas saya kelas dua juga pernah mengalami kejadian yang sama, kalau saya lewat kelurahan saat berangkat sekolah, ada yang melempari saya dengan batu kecil. Akhirnya ketauan juga yang melempari saya seseorang yg umurnya sepantaran dengan saya, dia melempari saya dari balik warung rokok, entah kenapa dia melempari saya atau memang dia lagi latihan naik haji dan coba-coba melempar jumroh. Saya paling males ngeladenin anak kampung lain, ujung-ujungnya nanti keroyokan nyari bantuan temen, udah kaya perang antar geng nantinya. Akhirnya dengan terpaksa saya melewati jalur lain walaupun agak jauh memutar tapi yang penting gak ada yang melempari saya batu. Ternyata bocah tersebut adalah anak dari temen ibu saya, baru saya ketahui ketika saya menemani ibu saya main kerumah temannya, eh lokasi rumahnya tepat di sebelah warung rokok tersebut dan si bocah tersebut kaget saat saya asik duduk diruang tamu rumah orang tuanya. Pas banget dia yang disuruh nyiapin minuman, dia langsung nunduk malu dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu, saya sih Cuma bisa senyum-senyum saja. Semenjak kejadian tersebut, si bocah ini tidak lagi lempari saya batu, mungkin takut saya lapori sama ibunya kalau berani lagi ngelempari saya batu.

Pernah juga dibenci sama teman satu sekolah, belum terlalu kenal sih sama anaknya, tapi kelakuannya aneh. Setiap bertemu dengan saya entah dikantin atau di toilet, pasti minta duel, bocahnya kecil dan mukanya kaya suneo, serius mirip banget sama suneo yang ada di film kartun doremon. Dia meminta saya untuk memukulnya duluan, Cuma buat apa lah saya sendiri tidak tahu apa salahnya sehingga saya harus memukuli dia. Temen saya pernah bilang kalau dia memang sombong, salah satu anak taekwondo dan dia tahu kalau saya mengikuti ekstrakulikuler pencak silat. Ya kalau boleh jujur sih, waktu SMP saya termasuk paling sering jadi tempat curhat anak-anak cewek, mau cewek jelek atau cakep saya terima kalau mereka curhat, seru aja kalau ada yang curhat sama saya, dari membicarakan masalah keluarga, pacarnya hingga ada satu sahabat saya waktu smp yg cerita dengan jujurnya udah ngelakuin seks sama sepupunya, untunglah dia gak hamil. Kata teman-teman yang berjenis kelamin wanita, saya ini orangnya asik diajak curhat dan nyaman serta saya suka sharing-sharing mengenai pengalaman hidup yang sebenarnya saya karang sendiri supaya para pelaku pencurhat bisa lebih tenang dan merasa “elu gak sendirian”.

Lama-lama si suneo juga bosen berkelakuan aneh seperti itu, habis suneo terbitlah azri, seorang cowok yang satu kelas dengan saya dan hobinya memalak saya. Tiap hari mengeluarkan kalimat “woy gopek donk”, kalau gak dikasih bisa tiap jam dia mintain gopek, hahahaha kasian nih orang, padahal orang kaya tapi mungkin sama orang tuanya gak dikasih uang jajan. Cuma anehnya kalau dikasih gopek, langsung perilakunya kaya anak buah saya. Bahkan saya sering nitip jajanan dikantin dan ngasih dia upah gopek. Ah kalau ceritain dia sih bisa jauh dari tema tulisan ini, soalnya dia gak benci sama saya Cuma suka minta gopek buat jajan.

Waktu saya kelas 3 SMP, sekali-kali pengen naik angkot menuju sekolahan namun lama-lama saya lebih baik jalan kaki karena yang naik angkot rata-rata pentolan sekolah dan reseh. Ada yang tahu-tahu ngeplak kepala saya, terus pura-pura gak ngaku walaupun saya tahu dia yang ngeplak dan entah kenapa saya saja yang sering diperlakukan seperti itu, belum lagi supir angkotnya yang suka mengejek saya. Haaaaaaa fyuuuuh…… entah ada apa dengan wajah saya sehingga mudah sekali jadi bahan kebencian. Padahal teman-teman saya merasa tidak ada yang aneh dengan diri saya, normal-normal saja dan mereka bilang kalau saya orangnya enak buat diajak ngobrol dan ramah suka menolong.

Saya garis besarkan kalau orang-orang yang bisa membenci saya tanpa sebab merupakan orang-orang yang syirik dan merasa tidak ingin merasa ada orang yang lebih dari dirinya. Alasan pastinya saya tidak tahu, tapi gara-gara kejadian seperti itu saya bagaikan berangkat menuju medan perang ketika akan pamit kesekolah. Sehabis sholat subuh atau sholat jumat, saya sampai berdoa membaca Al-Fatihah sebanyak-banyaknya demi keselamatan saya. Berangkat sekolah menjadi ketakutan tersendiri jika bertemu dengan orang-orang seperti itu, ya tukang palak, tukang mencari perhatian sampai orang-orang yang merasa dirinya paling kuat. Pantas saja teman saya kemana mana lebih nyaman naik sepeda karena lebih mudah bisa menghindar kalau ketemu sesuatu yang dianggapnya sebagai sebuah ancaman. Namanya juga masa-masa dimana para remaja mencari jatidiri, berada dilingkungan yang sekiranya dirinya paling kuat, langsung bertingkah layaknya jagoan tapi kalau berad dilingkungan yang palingkuat, dia akan menjadi seorang penjilat mencari orang terkuat sebagai pelindungnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s