Cerita Singkat

Tetangga Depan yang Ajaib

Saya punya tetangga yang letaknya persis didepan rumah yang memiliki karakter ajaib, mereka bukan keluarga besar pesulap atau sirkus, mereka hanya keluarga biasa yang memang hidup bersama (mertua dan menantu). Sebenarnya tidak ada masalah dengan keluarga depan rumah saya, normal-normal saja namun ketika keluarga ini memiliki seorang menantu pria bergaya eksekutif muda, kehidupan mereka pun berubah. Pastinya di setiap komplek perumahaan memiliki karakter-karakter tetangga yang berbeda-beda, kita hidup berdampingan bersama dengan mereka tetapi jika karakter yang gak enak itu sangat mencolok dihadapan kita, hmmmm… niscaya akan jengkel juga.

Menantu tetangga depan rumah biasa kami panggil ubur-ubur, kenapa demikian?, karena memang seperti ubur-ubur, gak bisa diem dan tampilan fisik kulitnya putih. Nah pada awal-awal kehadiran ubur-ubur memang tidak ada masalah, semua berjalan normal namun setelah berbulan-bulan kedepan sudah terlihat gelagat gak enakkin. Saat itu saya masih SMP kelas 1, dia sering sekali memarkir mobilnya persis di depan rumah saya, ya waktu itu keluaga kami belum memiliki kendaraan bermotor apapun hanya ada sepeda tua yang sering jadi rebutan tukang abu gosok untuk dikiloin. Tiap sebulan sekali, mobil yang diparkir berbeda-beda, pertama sedan, bulan kedua taruna, bulan ke tiga jenis sedan juga, dan begitu terus namun saya belum pernah liat dia bawa suzuki trungtung. Kalau hanya memarkir kendaraan didepan rumah setiap malam sih ya masih sabar-sabar saja, sayangnya dia suka menyalakan musik keras didalam mobil sampai terdengar kedalam rumah kami, bahkan kalau buka tutup pintu mobil sudah seperti menutup pintu angkot, dibanting sampai bunyi “brrruuuuuk”.

Lalu bapak saya mendapatkan hadiah sepeda motor bebek dari perusahaan tempat dia bekerja, waktu itu mobil bak yg bawa motornya dateng tepat ketika si ubur-ubur ada diteras rumah mertuanya. Dia ngeliat dengan tajam saat-saat motor bebek supra fit baru turun dari mobil bak dan dicoba nyalakan oleh bapak saya. Beberapa minggu kemudian mobil-mobil (sewaan) si ubur-ubur sudah tidak tampak dan dia ternyata membeli sepeda motor bebek yang sama. Kebetulan saya juga berada di garasi rumah sedang bersihkan sepeda wim cycle kesayangan, saya sih tidak peduli dia beli apa sampai terpaksa kepala saya menengok kearah rumah mertuanya saat dirinya menggeber-geber motor bebek barunya, jiaaah motor baru reyen udah digeber-geber, goblok tenan. Selain itu dia sering banget menabrakan motornya ke pagar rumah, jeegeer… sampai pagar rumahnya terbuka sendiri, magiiiicc…. saya sering kaget mendengarnya, salah satu orang yang membuka pintu pagar rumah paling eksotik nan ajaib. Entah apa yang ada di otaknya, walaupun dia berboncengan sama istrinya tetap saja pagarnya ditabrakin dan tololnya kenapa si istri tidak turun dari motor lalu membukakannya.

Sampai akhirnya mereka punya anak pertama, istrinya bercerita kepada ibu saya kalau anaknya harus mandi dengan air akua galon dan gak boleh mandi dengan air tanah dari pompa listrik, wow… mungkin kulitnya sensitif terhadap kandungan mineral air tanah. Saya sendiri pernah mandi dengan air galonan karena mesin pompa listrik saya rusak dan bukan karena ingin menjaga kulit agar tetap halus, tapi belum pernah saya dengar ada manusia kulitnya bisa halus karena selalu mandi dengan air akua. Sering banget ketika kurir pengantar air galonan dateng kerumahnya si ubur-ubur langsung teriak “maaah… air mandi buat si loren sudah dateng”. WTF, kenapa harus sering teriak-teriak begitu. Kebiasaan dia teriak-teriak seperti itu juga sering dilakukan ketika memesan makanan secara delivery order. Waktu itu keluarga saya memang sedang merayakan hari ultah saya dirumah, dengan uang tabungan yang gak seberapa, saya membelikan pizza satu loyang lewat delivery order karena bapak lagi malas mengantarkan saya ke Pizzahat. Ketika motor pengiriman pizza datang, si ubur-ubur juga ikut keluar rumah dan berdiri diteras sambil terbatuk-batuk gak jelas, mungkin dia dilarang batuk-batuk didalam rumah sehingga ubur-ubur harus berbatuk-batuk ria diluar rumah.

Dua hari kemudian saya terkejut ketika ada teriakan “maaah… pizza nya udah dateng…” suaranya gak asing lagi tak lain dan tak bukan adalah si ubur-ubur. Gak lama lagi dia mesen hokben lewat delivery order dan berteriak “makanan jepangnya udah dateng mah” eh buset… hokben aja dibilang makanan jepang hahahahaha. Mungkin dalam sebulan dia sudah lebih dari 5 kali memesan makanan resto ala delivery order sedangkan saya baru sekali itu pun karena ada acara ultah saja. Saya sih gak masalahin dia mau mesen makanan diantar sampai rumah, atau membeli kancut secara dikirim, bodo amat tapi saya terganggu dengan teriakan dia seakan-akan tetangga depan rumahnya harus tahu kalau dia memesan makanan, dibagi juga enggak, peduli amat.

Kalau saya suka kasihan sama pedagang makanan yang lewat depan rumah, keluarga depan rumah memiliki kebiasaan yang sampai saat ini masih dilakukan, mungkin bisa saya bilang ini merupakan tradisi mereka. Setiap ada tukang jualan makanan menggunakan gerobak, sepeda gowes atau motor, harus dipanggil setelah si pedagang lewatin rumah dia dan sudah jauh meninggalkannya. Posisi rumah kami memang diujung gang portal, sehingga pedagang setelah melewati rumah kita berdua harus memutar balik untuk melanjutkan promosi dagangannya. Saya kasih satu contoh buat pembaca, seorang pedagang somay bersepeda langganannya lewat, ketika didepan rumahnya dia berhenti sejenak berharap kemungkinan si pelanggan akan membeli somaynya, namun setelah semenit berhenti sambil merapihkan dagangannya, si pelanggan tidak kunjung keluar rumah untuk membeli somay, dia pun beranjak pergi melanjutkan bisnisnya. Si kang somay sudah menjauhi rumah pelanggannya itu kira-kira 50 meter, si ubur-ubur langsung keluar rumah dan berteriak memanggil kang somaynya. Alhasil si kang somay mau tak mau harus muter balik lagi ke arah rumahnya dan kejadian kang somay ini berlaku pada setiap tukang makanan lainnya. Tak sedikit yang sudah dipanggil ubur-ubur males balik lagi, Cuma nengok lalu acuh meninggalkan si ubur-ubur. Saya sendiri bingung, kenapa tidak dari tadi dia memanggil si pedagang, kenapa harus selalu dipanggil disaat si pedagang sudah menjauhi rumahnya, kesian mereka harus bolak balik padahal mereka yang biasa di beli dagangannya selalu berhenti sejenak didepan rumahnya.

Lebih ajaib lagi dia sering memanggil tukang jualan yang telah selesai bertransaksi sama saya, bukan beli bareng-bareng biar abangnya gak balik lagi. Pernah sekali saya mendengar tukang batagor ngomel-ngomel sama dia “kenapa gak sekalian sih mas, dari tadi diluar Cuma ngeliatin doank, kalau sekalian kan saya gak bolak-balik”. Walaupun pas belinya bareng-bareng, misal beli gorengan, si ubur-ubur gak mau tuh gorengannya di ambilin sama si pedagang, biasanya dia ngambil sendiri gorengannya. Misalnya dia beli 10 gorengan, ya 10 gorengan tersebut si ubur-ubur yang ngambil dan dia pilih-pilih dahulu mana yang paling besar plus cabe rawit yang banyak, mungkin cabe nya bisa buat dia bikin sambel atau dijual lagi dipasar. Sama juga saat dia beli somay atau batagor, pasti di pilih-pilih sendiri dan tidak mau si pedagang yang ngambil jumlah porsinya. Pernah seorang tukang batagor curhat ke saya “tetangga depan lu kalau beli batagor milih yg gede-gede udah gitu perhitungan banget, gak mau dikasih timun tapi dituker sama batagor satu, belum lagi dia selalu mau batagor yang baru digoreng dan gak mau yang udah dingin”.

Alhamdulillah ayah saya bisa beli sebuah mobil buat keluarga, berkat hasil jerih payahnya kerja keras masuk pagi pulang larut malam. Tetangga depan seperti kebakaran jenggot, tiap pagi dan malam suka nelpon teriak-teriak diteras rumahnya “ya ya ya pak, omzet kita 5 milyar, keuntungan berlipat pak” atau “gimana bisnis kita pak, sudah masuk transferan bapak 400juta” dan lain sebagainya, intinya dia harus teriak dan berharap tetangga rumahnya tahu kalau dia bisnis dengan omzet ratusan juta. Kalau di tanya dia kerja apa, mau tetangga kanan kiri samping belakang pun tidak ada yang tahu dia bekerja dimana. Cuma dapet selentingan kalau dia (ubur-ubur) bekerja sebagai sales beras namun pernah ada yang menyakinkan kalau dia kerja sebagai sales jual beli mobil bekas.

Mungkin panas kalau keluarga saya punya kendaraan pribadi baru, dia pun membeli sebuah mobil APV bekas, ya silahkan atuh tidak ada yang ngelarang Cuma sayangnya rumah dia kan gak punya garasi sama sekali, otomatis dia markir didepan rumahnya. Kalau sudah parkir didepan rumahnya, jangan harap mobil bapak saya bisa keluar dengan tanpa teriak-teriak ke ubur-ubur buat mindahin mobilnya. Sebenarnya kalau dia mau markir agak mentok ke portal gang, tidak akan mengganggu mobil bapak saya keluar masuk dan juga tidak akan mengganggu dia untuk bolak balik mindahin mobil. Kebiasaannya kalau dia sudah sampai rumah, klakson kencang-kencang lalu buka tutup pintu dengan cara dibanting hingga mengkagetkan kami sekeluarga. Fyuuuuh….. sarap tuh orang.

Pernah kejadian waktu itu sodara saya baru punya mobil inopah, nah pakde saya ini garasinya belum jadi sehingga ingin menitipkan mobilnya digarasi rumah bapak saya, sedangkan nanti mobil bapak saya ditaroh dikantor saja untuk sementara sampai garasi rumah pakde saya selesai dikerjakan. Untuk sementara bapak saya berangkat kerja bareng temennya yang kebetulan satu kantor dan satu wilayah kelurahan apalagi temennya ini merupakan anak buah dari pakde saya yang menitipkan mobilnya dirumah, mau gak mau ya nurut aja perintah atasannya. Mungkin disangka bapak saya beli mobil lagi, si ubur-ubur menukar APV nya dengan sebuah mobil inopah juga warna silver. Mungkin karena mobil barunya lecet, dia langsung manggil tukang buat bikin garasi rumah yang sempit serta maksa. Setelah garasi pakde saya selesai, garasi rumah saya balik lagi terisi apansah dan entah kenapa si ubur-ubur balik lagi pake APV Cuma beda warnanya saja.

Bapak saya ada rejeki tambahan dan membelikan saya motor megapro, gak lama tetangga depan juga beli motor thunder, mungkin disangka motor yang bapak saya beli merknya suzuki thunder, sekilas sih mirip hehehehehe… tapi gak lama motor thundernya ngilang berubah menjadi motor supra fit 2 biji, mungkin bininya gak bisa make motor kopling kali ya. Awal tahun si ubur-ubur mobilnya back to inopah, Cuma warnanya biru telor asin muda. Kali ini dia beli mobilnya baru karena keliatan ini inopah seri terbarunya dan platnya pun masih panjang tahun pajak nya. Cuma ya itu, walaupun mobilnya baru tetep aja pintu mobilnya ditutup dengan cara dibanting dengan keras sampai terdengan ‘buuuuuuk’ dan kebiasaannya klakson klakson didepan rumah ketika dia sampai rumah walaupun ujung-ujungnya ya dia sendiri yang buka pagar bukan orang lain ataupun istrinya. Sampai sekarang kebiasaan itu masih dilakukannya, klakson kencang sekali lalu turun dari mobil dan membuka pagar padahal didalam mobilnya ada anak istrinya. Lebih lucu lagi, rumahnya kosong karena semua anggota keluarganya diajak pergi sama dia, eh pas dia sudah sampai rumah dia klakson-klakson, lah dungu banget tuh orang, orang-orang rumahnya kan pada dimobil dia semua terus ngapain klakson-klakson berharap ada yang bukain.

Ada kejadian menyedihkan yang ibu saya dan tetangga sebelah lihat, seorang nenek-nenek tua datang kerumah si ubur-ubur dengan menaiki becak. Baru saja datang dan memanggil-manggil anaknya dengan penuh kasih sayang, si anak (ubur-ubur) langsung menyuruh si nenek ini pulang. Saya dikasih tahu oleh mandor bangunan yang biasa memperbaiki rumah-rumah dikomplek ini, jika nenek2 itu adalah ibu si ubur-ubur karena rumah dari nenek tersebut tidak jauh dari rumah adik si mandor, malah pernah perbaiki rumahnya si nenek yang hampir rubuh karena tidak pernah diperbaiki selama bertahun-tahun, sedangkan si anak numpang dirumah mertuanya punya mobil dan motor. Kejadian ini sudah 3x dilihat oleh ibu saya, ketika ibu nya ubur-ubur datang, dia langsung mengusirnya dan memberikan uang ke tukang becaknya untuk mengembalikan ibunya. Sepertinya dia malu punya ibu yang sudah tua renta, padahal si ibu ini pernah juga ngobrol sebentar sama ibu saya, dia kalau nyamperin anaknya juga karena kangen dan sudah lama tidak dijenguk sama anaknya. Walaupun selama sudah menikah gak pernah ngasih duit buat perbaiki rumah tapi dia masih sayang terhadap anaknya.

Alhamdulillah saya punya rejeki bisa beli sedan timor, berhubung saya Cuma punya garasi, saya pun markir si timor di ujung portal gang karena memang disini adalah area bebas parkir, lagian ibu saya yang paling sering nyapu lahan ini sampai bersih tiap hari dari sampah dan menanamnya dengan pepohonan rimbun agar sedap dipandang. 4 bulan kemudian ada sedan city warna hitam parkir di lahan yang biasa timor saya parkir, saya tanya ke orang tua ternyata si ubur-ubur beli sedan hitam. Makin lama makin reseh dia, sampai beberapa kali harus berantem adu mulut sama ni orang. Kalau saya lebih dulu markir dilahan tersebut, dengan sengaja sedan item nya markir dibelakang mobil dan dirinya suka susah keluar rumah kalau dimintain mindahin mobilnya. Lebih parah lagi kedua mobil itu jarang dipakai, malah lebih sering diparkir begitu saja karena ubur-ubur lebih sering menggunakan motor buat kerja. Ketika ditanya buat apa ada mobil dua jika tidak pernah dipakai, dengan enteng dia menjawab untuk istrinya biar bisa belajar nyetir mobil.

Saya sering ngalah markir mobil di pos satpam, ya lagian mobil timor buluk ini siapa yang mau colak colek, mau kehujanan atau kepanasan yang penting saya gampang mau kemana-mana. Lama-lama si ubur-ubur juga ga betah naro mobil sedannya di parkiran luar, lagian mau taro dimana lagi karena rumah dia tidak punya garasi lagi. Hebatnya si tetangga depan paling baik sejagat, dia menggunakan garasi tetangga nya buat naro mobil sedannya. Entah di doktrin apa sampai-sampai si tetangga sebelah mau merelakan garasinya yg biasa buat jemur baju dijadikan parkiran mobil yg bukan miliknya. Sebenarnya kasian juga sama tetangga sebelah rumahnya, gara-gara ada mobil yg bukan miliknya, motor anaknya jadi susah dibawa masuk kedalam rumah, sesekali parkir dirumah saya dan lebih sering diparkir diluar rumah, untunglah gak kemalingan.

Hingga akhirnya bapak saya pensiun dan orang tua saya balik ke kampung halamannya di purworejo. Mobil bapak di taro dirumah abang daerah setu dan tinggal timor bulux di garasi rumah, sudah tidak ada lagi rebutan lahan parkir. 3 bulan kemudian si sedan item gak ada, entah dijual atau ikut-ikutan punya 1 mobil tapi kalau pas ada abang saya nginep di pekayon, si sedan item nongol lagi nutupin parkiran. Sekarang sih sudah bener-bener gak ada tuh sedan karena memang abang saya juga sudah kerja di medan dan tidak lagi sempat nginep di pekayon. Sekarang si tetangga depan saingan sama tetangga sebelah saya, kemaren baru beli motor beat merah dan si ubur-ubur juga beli motor beat item hahahaha… gak abis-abis idupnya Cuma buat kepanasan. Entah apa lagi yang ingin dia pamerin atau saingi, terakhir sih dia pasang audio di mobilnya karena ngeliat saya nyetting audio. Tanpa perlu lama dia langsung pamer audio mobilnya dengan menyalakan lagu-lagu ajeb-ajeb di garasi rumahnya, pas ketika saya lagi oprek-oprek si timmy sendirian. Saya sih bodo amat, gak mikirin dia mau masang spitenk dimobilnya atau mau buka warung gorengan di bagasi inopahnya.

Kalau saya jadi dia, daripada ngabis-ngabisin duit buat beli yang dijadikan pesaing harta, mendingan beli rumah sendiri. Buktinya dia bisa beli mobil dua, motor dua, pastinya beli rumah pribadi kan enak, daripada harus tinggal sama mertua dan kalau si mertua meninggal bakal rebutan sama anak-anaknya yang memang punya hak memiliki rumah tersebut, sedangkan dia nanti kebingungan mau tinggal dimana. Setahu saya si ubur-ubur ini dulunya sering dipukulin sama anak kandung mertuanya karena Cuma mau numpang tapi gak mau bantu memperbaiki rumah.

Memang lucu tingkah pola tetangga depan saya, sering jadi bahan obrolan ringan kalau ketemu dengan orang tua saya dikampung. Orang tua saya bersyukur sudah gak tinggal di bekasi karena di kampung tempat bapak saya lahir rasanya lebih tenang dan jauh dari orang-orang gak jelas. Hidup di jakarta atau kota-kota metropolitan jika tidak kuat-kuat mental akan terbawa arus, kita syukuri saja apa yang kita miliki tidak perlu maksa harus bersaing dengan orang lain dalam segi harta. Tuhan lebih tahu apa yang hambanya butuhkan dibandingkan manusia yang selalu merasa kurang jika sudah dikasih kelebihan. Sekaya-kaya nya manusia jika tidak pernah ingat akan Tuhan serta orang tuanya, gak bakalan berkah dan hanya menjadi rejeki yang terus terbakar oleh panasnya dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s