Blok C.20

Posted on

Bagi penduduk di perumahan atau komplek, hidup bertetangga sudah menjadi bagian dari sebuah cerita kehidupan. Berbagai macam sifat para tetangga dan tingkah lakunya bisa kita pahami dengan interaksi atau komunikasi namun cerita tentang tetangga yang akan saya angkat kali ini merupakan cerita nyata dimana saya serta keluarga menjadi saksi hidup atas kehidupan rumah di Blok C.20. kenapa judulnya Blok C.20 ?, karena rumah yang akan saya ceritakan memiliki nomor rumah Blok C.20. secara wujud, rumah tersebut tidak ada bedanya dengan rumah-rumah pada umumnya, memiliki atap, pintu, jendela, garasi dan pagar akan tetapi perbedaannya terletak pada kehidupan dari rumah tersebut.

Sebenarnya rumah ini sudah ada penghuni sejak tahun 1992, waktu itu memang saya masih kecil dan keadaan rumah tempat saya hidup masih tergolong sederhana. Tidak ada kejadian aneh waktu masih dimiliki oleh pemilik pertama, saya sudah lupa nama pemilik yang pertama. Mereka terdiri dari 4 keluarga, sepasang suami istri, seorang anak pria dan seorang anak wanita. Keluarga saya tidak ada masalah dengan kehidupan keluarga tersebut, masih berinteraksi secara biasa tanpa ada hal yang mencurigakan. Barulah pada pertengahan tahun 1995 muncul keanehan serta kejanggalan-kejanggala yang terjadi pada rumah tersebut.

Saya sering sekali mencium bau menyan setiap malam jumat, ibu saya juga mulai mencurigai bau menyan tersebut berasal dari sekitar rumah. Saya sangat takut sekali terhadap wewangian menyan karena saya tahu, menyan adalah makanan kesukaan setan dan saat itu saya langsung minta ibu saya untuk menemani hingga saya terlelap. Beberapa hari kemudian barulah ibu saya mencurigai bau menyan tersebut bersumber pada rumah Blok C.20 yang letak rumahnya berada diseberang sebelah 3 rumah dari rumah saya. Ibu saya berdiri diatas teras sambil melihat kearah rumah itu, bulu kuduk saya langsung berdiri seakan-akan ibu saya melihat sesuatu yang tak lazim dari rumah tersebut. Mulutnya komat kamit membaca istigfar dan menutup zikirnya dengan membaca ayat kursi. Benar saja kecurigaan ibu saya diperkuat dengan perubahaan dari sikap tetangga tersebut, mereka sudah jarang berinteraksi dengan para tetangga dan sesekali saya melihat anaknya pulang sekolah dengan terburu-buru masuk kedalam rumah.

Hingga akhirnya pada awal tahun 1996 suami dari pemilik rumah tersebut meninggal dunia. Saya kurang ingat alasan kenapa suaminya meninggal dan memang saat itu saya paling takut dengan mayat yang tertutup kain batik sebagai pembungkus sehingga saya tidak mendekati ataupun mencari tahu dari teman-teman sebaya saya. Tidak lama sepeninggalan suaminya, pihak keluarga pindah rumah dan mengontrakkan rumah tersebut dengan harga yang cukup murah. Kata ibu saya sih rumah tersebut dikontrak murah selama setahun tapi menurut saya rumah tersebut tidak jelek-jelek banget dan masih layak jika dikontrak seharga normal. Walaupun dikontrak murah, sepertinya belum ada calon pengontrak yang mau menempati rumah tersebut, sudah berhari-hari rumah tersebut dibiarkan kosong tak berpenghuni.

Saya ingat betul ketika malam tepat di 40hari suaminya meninggal, pas sekali malam itu adalah malam jumat kliwon. Tiba-tiba saja pukul 12 malam terbangun, bukan karena kebelet pipis atau ingin minum susu melainkan anjing di seberang rumah Blok C.20 selalu menggonggok melengkik. Dalam kepercayaan mistis, ketika anjing menggonggong melengking bagaikan serigala, itu petanda anjing tersebut melihat makhluk halus yang tepat berada didepannya. Padahal saya tahu betul kalau anjing tetangga sebelah saya itu jinak, tidak pernah menggonggong keras seperti itu walaupun didepan rumahnya sering dilalui orang. Gonggongan anjing tersebut di iringi dengan bau kembang yang cukup tercium dihidung, saya sendiri hanya membuka mata sambil menatap langit-langit kamar. Saya melihat ke arah ibu yang memang tidur sekamar denganku, matanya juga terbuka dan tatapannya seperti memikirkan sesuatu hingga saya melihat bapak dan kakak-kakak saya masuk kekamar.

Ibu : “ada apa pah diluar ? “

Ayah : “iya anjingnya gonggong begitu”

Ibu : “mamah jadi takut”

Ayah : “jangan keluar-keluar lah, dikamar saja, takutnya ada apa2”

Kami berlima tidur dalam satu kamar, untunglah kami waktu itu masih kecil-kecil sehingga kasur satu pun masih menampung dan nyaman untuk tertidur. Saya yakin tidur kami tidak ada yang nyenyak, saya sendiri saja beberapa kali terbangun dan pukul 3 pagi pun si anjing masih gonggong keras. Semakin lama sepertinya si anjing menggonggong didepan rumah kami, saya ingin sekali mengintip keluar lewat jendela kamar tapi sudah dapat bayang-bayang horor sehingga saya urung untuk mengintipnya. Pada pagi harinya, si anjing sudah terluka parah sambil tertidur di depan rumah blok c.20, pada bagian tubuhnya tidak terluka hanya saja pada bagian kepala sepertinya tertusuk-tusuk oleh sesuatu hingga kepala anjing cokelat tersebut berwarna merah darah namun masih bisa hidup walau dalam kondisi kritis.

Banyak orang yang berkumpul didepan rumah tersebut sambil melihat kondisi tragis si anjing, saya saja yang melihat langsung ingin muntah karena jijik melihat kondisi si hensky (nama anjing tersebut) terluka parah. Ibu saya sempat diceritakan sama salah satu warga kampung yang letaknya masih satu komplek bernama mang malih, mang malih ini memang jam 4 pagi sudah pergi ke pasar buat mengambil dagangannya, sudah pasti saat dia pergi, dia akan melewati jalur depan rumah kami karena jalur rumah kami merupakan pintu keluar masuk pejalan kaki menuju jalan raya. Kata mang malih, jam 4 subuh dia melihat anjing tersebut menggonggong-gonggong rumah blok c.20 sambil muter-muter ditempat. Sampai mang malih melewati anjing tersebut, si anjing tidak tetap acuh dan terus saja menggonggong, saat mang malih menunggu angkot pun anjing tersebut mulai berjalan tidak karuan kearah pinggir jalan lalu balik lagi kerumah itu dan mengira anjing tersebut akan mengigit mang malih, hingga akhirnya mang malih pulang dari pasar pukul 5 subuh dan sudah melihat si anjing tergeletak berdarah-darah pada bagian kepalanya.

Pemilik anjing tersebut bernama bapak edi, sudah berusaha merawat si hensky namun pada sore harinya sudah tidak dapat tertolong lagi karena hensky sudah terlalu banyak kekurangan darah. Menurut dokter hewan yang mengobatinya, anjing tersebut terkena benturan keras pada bagian kepalanya sehingga mata, telinga dan hidung mengeluarkan darah tapi yang paling parah bagian tengkorak kepalanya retak. Kalaupun anjing tersebut ditabrak oleh kendaraan bermotor, masa iya hanya bagian kepalanya saja yang rusak sedangkan badan nya masih bersih tanpa lecet apapun, atau anjing tersebut di pukul oleh salah satu tetangga yang sudah kesal dengan keberisikan si anjing. Sampai sekarang juga masih misteri, tidak ada yang tahu ataupun mengaku sebagai pemukul anjing tersebut.

Pada tahun 1997 rumah tersebut di huni oleh penghuni kedua, satu  keluarga dengan 3 orang anak cewek yang umurnya sebaya dengan saya. Saya sering sekali main sama anaknya, ya walaupun mereka cewek tapi tetep seru main bersama mereka. Entah kenapa kalau saya main didalam rumahnya, sesampainya dirumah saya sakit panas hingga akhirnya demam. Sudah tiga kali seperti itu hingga akhirnya orang tua saya melarang untuk bermain dengan mereka kecuali mainnya dirumah orang tua saya sendiri agar bisa diawasi dengan baik. Saya sih tidak terlalu percayai akan hal ghaib dirumah itu, mungkin saya sakit karena saya kelelahan bermain sama mereka karena memang jika saya sudah bermain dengan mereka, rasanya sampai lupa waktu dan kadang lupa akan jam makan siang. Saya juga sering mendengar tangisan mereka, kalau tidak anak pertama yang menangis, ya anak kedua atau anak ketiga. Mereka menangis pada jam-jam malam dan saya tidak tahu kenapa mereka menangis sampai menjerit-jerit hingga terdengar sampai kerumah saya.

Tidak sampai setahun, tepatnya sekitar 8 bulan mereka pindah rumah, padahal kata ibu saya mereka sudah membayar kontrak selama satu tahun untuk menghuni rumah tersebut. Saya bersama temen-temen satu RT membantu mereka pindahan, membawa barang-barang mereka dan kami juga ikut bantuin menaruh barang-barangnya dirumah baru mereka. Sebagai upahnya, saya dibelikan satu buah eskrim dan makan siang gratis, tentunya transport sudah ditanggung sama mereka. Memang terasa berbeda saat saya berada dirumah baru mereka, udara nya nyaman bahkan saya sempat tertidur di salah satu sudut ruangan, berbeda jauh dengan rumah yang mereka tinggali sebelumnya, hawanya terasa tidak nyaman. Kasihan juga kalau setiap malam anaknya selalu menangis secara bergantian, saya sendiri menjadi takut kalau mendengar mereka menjerit-jerit ketakutan dan rasanya lingkungan tempat saya tinggal sudah tidak merasa nyaman lagi karena terror yang dirasakan keluarga tersebut.

Rumah Blok C.20 kembali tanpa penghuni lagi, belum ada calon pengontrak yang berani tinggal dirumah tersebut. Semakin lama rumah tersebut semakin lusuh, sampai tahun 2000 awal pun belum ada yang mau menghuni di rumah itu. Teras sudah dipenuhi dedaunan kering serta debu, langit-langit garasinya pun sudah banyak yang mengelupas. Pokoknya sudah tidak terawat dengan baik, hanya menjadi tempat tinggal seadanya buat para kucing-kucing kampung yang beranak pinak disana. Kejadian mistis selama bertahun-tahun masih bisa dirasakan, beberapa kali rumah saya dikejutkan dengan berbagai kejadian mistis dan tidak masuk akal namun saya akan mengemas ceritanya tidak menjadi satu dengan cerita rumah ini. Saya akan menceritakan tentang kejadian-kejadian ganjil dirumah saya yang semua penghuni merasakannya termasuk para teman-teman saya.

Sekitar pertengahan tahun 2000 ada penghuni baru rumah misterius tersebut, mereka tidak langsung menempati rumah secara langsung melainkan merenovasi bagian-bagian rumah yang rusak. Ternyata rumah tersebut di beli oleh sepasang pengantin baru, saya mengetahuinya dari ibu saya yang tadi siang ada seorang bapak-bapak datang kerumah menanyakan asal usul rumah tersebut. Katanya rumah itu sengaja dibeli karena anaknya ingin mencari lokasi perumahan yang tidak jauh dari jalan besar. Kata ibu sih, perawakan bapak-bapak itu aneh, kepalanya menggunakan blankon jawa dengan rokok lisong cokelat besar. Si bapak ini ngobrol dengan ibu saya di luar rumah karena saat itu dirumah hanya ada kakak saya yang sedang tidak sekolah, keanehan dari si bapak tersebut adalah setiap dia berbicara, matanya tidak fokus kelawan bicara melainkan celingak celinguk ke penjuru rumah saya. Ibu saya tidak lama meladeni bapak-bapak itu bicara karena tangan kirinya tidak henti-hentinya meremas-remas sesuatu lalu melempar-lempar layaknya membuang kertas.

Kurang lebih sebulan waktunya rumah itu direnovasi, selama itu pula teras rumah saya sering terdapat benda-benda asing. Saya kira tanah merah berbentuk bola bola ping pong adalah tanah merah biasa tapi kata ayah saya ini bukan tanah merah biasa, soalnya ayah saya pernah belajar tentang sesuatu yang ghoib sama gurunya. Tanah tersebut sudah pasti tanah kuburan, buat apa ada orang yang iseng membulat-bulatkan tanah merah lalu dilempar kerumah saya tanpa ada tujuan. Selain tanah merah, si bapak-bapak yang menurut saya mirip dukun itu sering terlihat mondar-mandir didepan rumah saya. Saya kira hanya saya saja yang melihatnya, ternyata ibu juga sering melihat dia mondar-mandir didepan rumah sambil sesekali berhenti didepan pagar sambil menyemburkan asap rokok lisong nya. Kami berdua hanya berani mengintip dan selalu mengunci pagar rumah dengan gembok supaya tidak terjadi kejadian yang berlebihan.

Setelah rumah selesai direnovasi, sepasang pengantin baru yang menjadi penghunni rumah tersebut datang kerumah kami untuk memperkenalkan diri. Si istri mengucapkan terima kasih telah membantu bapak nya dalam proses pencarian rumah, jadi jelas ternyata bapak-bapak tua berblankon itu adalah orang tua dari si istri. Teror pelemparan tanah kuburan sudah tidak ada lagi, akan tetapi si bapak tua itu masih suka berdiri didepan rumah kami setiap hari minggu siang. Entah apa yang dia lakukan didepan rumah kami, hanya berdiri tepat didepan pagar dengan mata yang melihat-lihat ke sekeliling rumah. Pernah sekali ibu saya mendekati bapak tersebut, ibu bertanya-tanya kenapa si bapak berdiri didepan situ namun dia hanya menjawab “rumah ibu kekuatannya besar juga” setelah berbicara seperti itu dia langsung pergi menuju rumah anaknya. Ibu menganggap orang tua tersebut termasuk salah satu pensiunan yang stress, walaupun ayah saya percaya jika orang tua tersebut ada maksud yang tidak baik, tapi kita tidak boleh suudzon, ya ada sedikit perasaan dihati jika si bapak tua itu yang selama ini melemparkan tanah kuburan kerumah kami.

Tidak lama dari kejadian terakhir si bapak berada didepan rumah kami, si anak mengabarkan jika si bapak sudah meninggal dunia. Kami sekeluarga turut berduka cita, masih tertanam tanda tanya atas meninggalnya si bapak tua itu karena anaknya sendiri tidak mau cerita sama keluarga kami sama sekali, hanya memberikan jawaban jika bapaknya meninggal mendadak. Mungkin si bapak memang sudah takdirnya meninggal dunia, kalau tidak jantung ya stroke. Setelah si bapak meninggal, rumah yang tadinya selalu ditinggalin oleh anaknya kini terlihat sepi. Hanya sesekali terlihat penghuni rumah tersebut ada disekitaran teras sedang membersihkan halaman atau menyapu lantai namun tidak lama mereka berdua pergi meninggalkan rumah. Tapi saya mengalami kejadian yang aneh, anak dari bapak tua itu tiba-tiba tidak pernah lagi memasang wajah ramah malah terkesan melihat saya dengan wajah marah. Biasanya si wanita ini selalu menyapa saya jika bertemu dijalan, tapi sekarang boro-boro menyapa, tersenyum saja tidak malah terkesan membuang muka. Bukan ke hanya saya saja dia berperilaku seperti itu, ke ibu saya, kakak saya dan ayah saya juga berperilaku seperti itu. Entah sampai kapan dia berperilaku seperti itu, hingga akhirnya mereka pindah rumah dan rumah tersebut dikontrakkan.

Rumah kembali kosong tak berpenghuni, belum ada lagi penghuni baru yang mau tinggal ditempat itu. Sampai pada 3 hari sebelum abang saya menikah, rumah kami kedatangan penghuni rumah baru itu. 1 keluarga berisi sepasang suami istri dan 2 orang anak yang bandelnya minta ampun, umur anaknya sekitar 4 sampai 7 tahun tapi mereka berdua tidak memiliki rasa kalem sama sekali, lari-larian kesana kemari dan mencoba merusak benda yang mereka temui. Penghuni baru tersebut tidak terlihat memiliki keanehan, semua normal-normal saja hingga setahun mereka tinggal disana tidak ada kejadian ganjil sama sekali. Penghuni baru ini saja yang betah tinggal dirumah itu, kira-kira sekitar 4 tahunan mereka sudah tinggal dirumah yang penuh misteri.

Pada tahun kelima barulah ada keanehan pada keluarga tersebut, saya sering melihat beberapa pasang cowok dan cewek masuk kedalam rumah tersebut. Hampir tiap hari berganti-ganti orang yang bertamu dan anehnya setiap tamunya pasti berpasang-pasangan tidak pernah terlihat ada tamu yang satu jenis kelamin. Istrinya yang semula menggunakan jilbab rapat kini mulai terbuka, kadang dia berada diteras hanya mengenakan tanktop dengan rambut terurai berwarna merah. Apalagi jika malam-malam tertentu, sering terparkir banyak motor didepan rumahnya sehingga ayah saya suka harus turun dari mobil dan menyuruh tetangga tersebut memarkirkan motor-motor tamunya dengan baik. Hampir setiap ayah pulang kerja seperti itu, lama-lama capek juga melihat kelakuan mereka, kadang-kadang tidak satupun orang yang keluar dari rumah tersebut dan terpaksa saya dan ayah yang meminggirkan motornya.

Pernah beberapa kali saya melihat si cowok yang mengontrak rumah tersebut membawa seorang wanita muda, pastinya bukan istrinya ataupun orang yang berasal dari komplek ini. Mereka masuk kedalam rumah lalu menutup pintunya, ketika si cowok keluar lagi sambil membonceng si cewek, tidak lama si istri dari sicowok dateng bersama anak-anaknya. Hmmmm…. saya lalu memberitahukan kepada ibu saya dan ibu saya juga melihat kejadian rutin pada hari-hari tertentu. Dibantu pak RT, ibu saya menanyakan soal wanita yang sering dibawa kerumahnya. Si cowok dengan santai menjawab jika wanita yang suka dibawa kerumahnya adalah sepupunya, hal itu diperkuat dengan keyakinan istrinya yang mempercayai omongan suaminya. Aneh, kenapa juga kalau sepupunya sering dibawa kerumah dan pergi lagi meninggalkan rumah sebelum istrinya pulang. Lalu ibu saya menanyakan hal tentang para pemuda pemudi yang suka datang berpasang-pasangan, dia pun menjawab jika mereka adalah karyawan perusahaan yang memang suka bekerja dirumahnya. Makin aneh saja jawabannya, pastinya kami tidak begitu langsung percaya begitu saja akan tetapi kami juga bingung harus bagimana karena satu RT memiliki tanda tanya tentang mereka.

Kali ini yang kami hadapai bukan masalah mistis, melainkan attitude mereka yang bikin makan ati. Memarkir mobil sembarangan hingga saya capek setiap malam harus terbangun membantu ayah meminggirkan kendaraan mereka, belum lagi jika ada mobil terparkir didepan rumahnya, sangat mepet dan saya harus getok-getok pager rumah mereka sampai mereka terbangun serta memindahkan mobilnya kedalam garasi. Aneh memang, punya garasi tapi selalu memakirkan kendaraannya diluar rumah. Capek juga meladeni tetangga yang tidak mengerti apa itu sopan santun dan berperilaku baik terhadap tetangganya.  Makin lama rumah tersebut terlihat lusuh, jemuran dimana mana, pohonannya banyak yang mati padahal setiap hari orang-orang dirumah tersebut ramai dan sepertinya memang sudah tidak ada perhatian terhadap rumahnya sendiri.

Sekitar tahun 2010 akhir, mereka pamit pindah rumah karena masa kontrak mereka sudah habis. Mereka pindah rumah tidak jauh dari rumah yang sebelumnya dan masih satu komplek tapi saya bersyukur karena tetangga yang reseh sudah pindah. Untuk kesekian kalinya rumah tersebut kembali tak berpenghuni, tetapi tidak perlu waktu setahun rumah tersebut sudah ada penghuninya lagi. Sepasang pengantin baru, mereka bekerja di satu kantor produsen motor dan suami istri ini merupakan temannya teman saya waktu SD. Mereka orang baik-baik tidak ada masalah dengan kami, apalagi umur mereka masih tergolong muda ya hanya beda tiga tahun dari saya. Tapi akhir-akhir ini saya jarang melihat mereka ada dirumah, kata temen saya sih mereka masih bekerja dan tidak ada masalah namun memang mereka sering pulang malam dan jarang ada dirumah.

4 bulan mereka tinggal dirumah tersebut, suaminya mengalami sakit usus buntu, sejak suaminya sembuh dari sakit usus buntu, mereka jadi jarang terlihat berada dirumah. Ah saya sih tidak mau mengait-ngaitkan dengan hal ghaib, bisa saja emang takdirnya si suami operasi usus buntu, walaupun dari pengakuan sang istri, si suami tidak ada riwayat mengenai penyakit tersebut. Sampai sekarang mereka masih tinggal dirumah itu, ya memang sudah tidak terlalu terlihat sering mereka berada disana tapi ya semoga mereka betah dan tidak membuat masalah dengan tetangga lainnya.

 

-end-

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s