Geng Motor, dibasmi atau membasmi.

Posted on

Peredaran geng motor ditanah air memang semakin meresahkan masyarakat, bukan hanya rakyat biasa saja yang menjadi resah, para anggota club motor dan komunitas roda dua merasa tercoreng nama baiknya. Apalagi masyarakat awam masih memandang gerombolan motor dijalanan adalah geng motor, tidak peduli apa namanya dan kegiatannya apa. Melihat teror geng motor yang terjadi pada waktu lalu didaerah jakarta utara dan selatan, saya menjadi prihatin sekali atas kejadian tersebut. Tadi pagi saya melihat rekaman CCTV nya dan Cuma bisa berdiam sambil berkata dalam hati “manusia macam apa mereka?, orang tuanya kemana?”.

Mereka sebenarnya mencari jatidiri, jatidiri apa?, mereka hanya mencari kerusakan dan keterbelakangan mental. Menurut saya mereka adalah gerombolan orang hampir gila yang rindu akan keributan bangsa, sepertinya kalau negaranya tenteram mereka akan merasa ada yang kurang. Memang yang namanya geng motor sulit diberantas jika hanya mengandalkan 3P (Pencarian, Penangkapan, Penahanan) setelah mereka dilepas maka mereka akan balik lagi kejalan yang sama. Aparat kepolisian pun sepertinya tenang-tenang saja tanpa ada nya penyelidikan secara brutal dan hanya bergerak jika ada korban jiwa. Berbeda dengan rakyat biasa yang menghajar para geng motor, seperti kasus kemarin saat sebuah mobil yaris putih yang hendak akan di ganggu oleh geng motor, melepaskan tembakan kearah geng motor tersebut dan 2 orang anggota geng terluka. Kepolisian langsung mengusut penembakan tersebut, kenapa harus di usut?, apakah karena anggota tersebut ditembak dengan senjata api?. Saya sendiri kalau jadi pengemudi mobil yaris tersebut akan melakukan hal yang sama, menembak mereka daripada mereka yang membunuh saya. Toh kalau saya menembak mati merekapun, saya telah berjasa mengurangi satu atau dua anggota geng beringas yang kemungkinan akan mencari mangsa lainnya. Soal dosa itu memang sudah menjadi tanggungan masing-masing umat manusia, jika pun pasrah dibunuh mereka, pastinya mereka akan ngebunuh orang-orang lainnya.

Soal kepemilikan senjata api, memang ada hukum serta perizinan yang terlampir dan tidak sembarangan rakyat sipil memilikinya. Namun jika kondisi seperti ini semakin parah dan meresahkan, jangan salahkan jika para warga sipil yang memiliki senjata api akan bergerak membasmi geng motor sendirian atau mungkin para club serta komunitas roda dua bersatu memberantas geng tersebut tanpa ampun. Wajar saja jika para orang-orang kaya membeli apartemen mewah dengan keamanan satpam berkualitas tinggi, mereka menginginkan keamanan lebih agar mereka hidup nyaman. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang hidup biasa?, apakah mereka atau saya tidak boleh terjaga keamanannya?, apa perlu kami saling patungan uang receh untuk membayar bapak-bapak yang berwajib untuk mengamankan kehidupan kami. Kita diam, mereka akan semakin bahagia merusak apa yang ada, kita melawan, kita pun akan menjadi warga yang salah dengan kasus ‘main hakim sendiri’.

Dari kasus geng motor ini, kita bisa lihat peran orang tua tidak lagi dominan pada kehidupan para anak-anak, khususnya para remaja yang sedang gila-gilanya mencari jati diri. Mereka akan semakin asyik melakukan apa yang mereka inginkan karena orang tua mereka pun tidak peduli dengan apa yang telah mereka perbuat. Saya sendiri pernah berfikir apakah sang orang tua tidak merasa curiga jika anaknya selalu pulang larut malam bahkan sampai pagi hari, apakah mereka tidak bertanya apa yang mereka lakukan sampai selarut itu? Dan apa mereka tidak penasaran kepada teman-teman sepermainnya seperti apa?. Mungkin juga para orang tua sudah telat memberikan nasihat kepada anaknya, sehingga otak di anaknya sudah keras dan tidak mampu lagi mencerna nasihat orang tua mereka, hanya ada kata ‘senang’, ‘jagoan’ dan ‘uang’. Jika orang tua mampu memberikan perhatian yang cukup terhadap anak kandungnya, Insya Allah seorang anak akan menjadi penurut dan mengerti mana yang baik dan mana yang tidak baik, bukan orang tua yang cuek membebaskan seorang anak berkreasi tanpa ada batasannya sehingga menimbulkan sebuah gejala pemberontakan dan sikap anarkis.

Fenomena geng motor ini kalau tidak cepat diberantas pastinya akan menjadi lebih luas lagi. Anak-anak remaja yang awalnya Cuma nongkrong2 bareng motornya tiba-tiba akan membuat geng motor serupa dan memiliki daerah kekuasaan. Begitu terus hingga akhirnya geng motor menjadi sebuah trend, faktanya sendiri bisa dilihat di daerah rumah saya yang saat ini banyak anak2 remaja tanggung nongkrong dengan motor bodongnya secara beramai-ramai. Lalu berkonvoy sambil kebut-kebutan, satu anggota dari mereka pernah jatoh tepat setelah mereka menyenggol spion mobil saya. Kalau mereka mau marah, ayuk… sini tak ladenin, karena memang pemerintah sendiri pengennya rakyat sipil banyak yang terluka akibat perbuatan mereka dibandingkan melihat para anggota geng motor yang mati ditangan warga sipil. saya sampai mempunyai ide untuk mengumpulkan para teman-teman yang memang ingin berantas anak-anak geng motor, mirip-mirip tim swat gitu dan kita rutin melakukan razia ke daerah-daerah yang memang menjadi jalur utama para geng motor tersebut. Ketemu gerombolan, kita tangkap, jika mereka melawan kita tembak dengan senapan angin atau senapan bius. Anggota-anggota pemberantas ini rata-rata para anggota bela diri untuk membekali pengamanan diri sendiri dan sudah dilatih untuk tembak menembak, mungkin akan seperti film The Raid yang memberantas gembong narkoba. Justru geng motor lebih menakutkan dari narkoba, biarkan yang menggunakan narkoba mati dengan sendirinya, nah kalau geng motor sendiri hanya bisa ngebunuh atau dibunuh.

Ide seperti ini mungkin hanya ada untuk penulisan sebuah cerita fiksi, karena sekali lagi kita di ingatkan kalau kita hidup dibawah negara hukum. Sayang, hukum negara kita ini lembek bagai tape, siapa yang memiliki kekuatan (uang  atau komunitas) niscaya akan kebal hukum, pait-pait kena hukum sedikit tidak begitu terasa. Berbeda dengan rakyat biasa dan tidak memiliki ‘kekuatan’ apa-apa, berbuat jahat sama saja dengan membuat diri disiksa oleh hukum negara. Kita sebagai warga yang menginginkan keamanan hidup, hanya bisa berdoa saja ‘dulu’, jangan melakukan apa-apa selain menghindari tempat-tempat yang dinyatakan tidak aman. Kalaupun ada yang mati karena ulah mereka, kita hanya bisa bilang ‘innalillahi wainna lillahi rojiun’ semoga para korban bisa diberikan tempat yang layak dan para korban yg terluka diberikan rejeki serta kesehatan yang banyak pula.

 

Miris….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s