Yuk Belajar Jadi Jurnalis

Posted on

Kesempatan untuk belajar secara gratis step by step menjadi seorang jurnalis memang sangat langka, apalagi jika kita belajar bersama dengan para wartawan-wartawan dan orang-orang yang terlibat dibalik sebuah media jurnalis seperti tabloid Otomotif. Kesempatan ini tidak saya sia-sia kan ketika saya mendapatkan undangan terbatas dari pihak tabloid Otomotif untuk belajar mengenal lebih dalam ruang lingkup Jurnalis dan Fotografi. Undangan tersebut memang diperuntukan untuk anggota club Mobil dan hanya terdapat 2 undangan saja dalam satu club mobil sehingga saya dan om Fuat mewakili Timor-er mengikuti pelatihan tersebut. Club-club mobil yang hadir saat itu ada dari Toyota Crowners, Proton Indonesia, Korea Otomotif Indonesia, Troopers, Vios dan Axic serta Timor-er.

Saya sangat semangat banget untuk menghadiri pelatihan ini, sampai-sampai saya belain malam sebelum berangkat kerumah om Yan untuk meminjam GPS sebagai penunjuk arah Gedung Kompas Gramedia Kebun Jeruk. Maklum jalan yang saya lalui nanti cukup ribet dan saya belum pernah kesana sama sekali, daripada nyasar gak karuan apalagi menggunakan mobil itu paling gak enak kalau nyasar. Berangkat dari rumah pukul 8 pagi dan sampai sana pukul 9.40 siang, saya terkena macet di puteran arah menuju gedung kompas gramedia, padahal hari ini adalah hari libur tapi macetnya parah banget, tidak kebayang gimana keadaan lalu lintas disini pada hari kerja.

Sesampainya disana saya di pandu oleh salah seorang security yang baik dan ramah menunjukan lokasi lantai atau tempat acara tersebut berlangsung. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di gedung Kompas Gramedia, jadi ingat waktu dulu saya pernah di undang ke gedung tersebut untuk kerja sama mengisi kolom rubrik anak sekolah di tabloid HAI namun saya tidak jadi kesana karena orang tua melarang saya jadi jurnalis. Waktu itu saya harus selalu meminta restu orang tua demi kelancaran kegiatan, gak direstui ya tidak berangkat tapi sekarang saya sudah jauh dari orang tua dan mereka telat mengijinkan saya untuk menjadi apa yang saya mau hehehehe..

suasana ruang peserta

Setelah sampai diruang kantor tabloid otomotif, saya langsung disambut oleh 2 orang yang menjaga meja absen peserta pelatihan. Dengan ramah mereka menyambut saya dan bilang kalau salah satu teman saya sudah berada diruangan, mungkin beliau tahu saya dari Timor-er berkat seragam kebesaran (benar-benar kebesaran) yang saya gunakan. Didalam ruangan ternyata orang-orang yang ikut memang yang sering hadir pada acara otomotif, ada sebagian orang yang sering saya lihat kehadirannya terutama om Diki dan orang-orang dari club vios serta troopers. Masih tetap yang termuda adalah saya, sedangkan lainnya sudah berumur sekitar 30-50 tahunan dan berpengalaman terhadap komunitasnya. Sekitar kurang lebih 12 orang mengikuti pelatihan ini, memang pelatihan ini hanya mengundang sedikit dari rekan-rekan otomotif, hal ini dimaksudkan agar pelatihan ini bisa efektif dan tidak terlalu memakan waktu banyak terhadap peserta. Itupun masih ada beberapa peserta yang tidak dapat hadir karena memiliki acara dan ada pula yang datang sendirian tanpa partnernya.

Mas Bulu selaku mentor sesi pertama

Pada sesi pertama, para peserta di ajarkan menjadi jurnalistik yang benar-benar mengerti atau tahu cara membuat sebuah berita oleh Om Bulu yang merupakan editor dari majalah Otomotif. Sama seperti halnya membuat sebuah cerita, merancang sebuah berita memang harus ditulis secara detil pokok beritanya agar para pembaca tahu apa yang akan disampaikan oleh sang penulis. Setahu saya, menulis berita memang lebih sulit dari menulis cerita karena sebuah berita tidak boleh putus tulisannya sampai benar-benar pembaca mengerti maksud tulisan tersebut, tidak boleh juga menulis berita yang faktanya tidak di kuatkan lewat sumber berita, foto atau dari saksi. Om Bulu juga mengajarkan cara-cara mengedit berita yang baik dan membuat berita tersebut bisa diterima oleh masyarakat luas serta tidak hanya dimengerti oleh ruang lingkup si penulis saja.

Tujuan utama pelatihan ini sebenarnya untuk mengasah kemampuan para penulis berita di club mobil masing-masing yang nantinya di kirim ke pihak media untuk dipublikasikan, seperti berita turing atau baksos club mobil yang memang sebagian besar di isi jurnalnya oleh anggota club tersebut. Masih banyaknya kesalahan menulis dari sang penulis di club otomotif, membuat pihak tabloid memberikan sedikit ilmunya sehingga sang editor kolom rubrik otomotif tidak lagi terlalu ribet dengan edit mengedit kalimat. Masih banyak penulis berita yang tidak membaca ulang berita yang dia tulis sehingga ada kalimat-kalimat yang kurang jelas dan kata-kata kurang tepat, apalagi jika berpikir mereka menulis untuk dirinya sendiri sehingga tulisannya hanya dimengerti oleh dirinya sendiri hehehehe….

main2 diruang kerja nya

Di sela-sela sesi istirahat dan makan siang bersama, saya dan beberapa rekan-rekan klub menyempatkan diri untuk melihat secara langsung suasana ruang kerja mas-mas wartawan dan editor tabloid Otomotif. Kesempatan ini lumayan langka karena Cuma sama kami saja pihak Otomotif membebaskan kita melihat-lihat ruang kerja mereka. Suasana kerja seperti ini yang memang saya inginkan sejak dulu, menjadi penulis di sebuah majalah atau website dan bekerja dengan penuh kebebasan namun bertanggung jawab. Meja berantakan dengan aneka barang2 aneh, poster-poster lucu dan suasana yang mirip seperti ruang bermain memang menjadi keinginan saya bekerja di media jurnalis namun sayang saya sudah terlanjur terjebak didunia kantoran monoton dengan pekerjaan tanpa kreatifitas bakat nulis saya. Akhirnya Cuma bisa menuang hobi dan cita-cita lewat blog serta website, biar begitu juga bisa menghasilkan penghargaan kecil-kecilan dari para pembaca.

Meja kantor redaksi

Setelah sesi makan siang, kita para peserta diajak mengikuti sesi fotografi bersama salah satu tukang foto tabloid otomotif. Kita diberikan materi pengenalan kamera dari zaman ke zaman, lalu melihat perbedaan aneka lensa serta pencahayaan pada fitur kamera. Paling penting, dia memberikan tips cara mengirimkan foto berukuran besar lewat email yang memiliki kapasitas pengiriman file terbatas. Selain  teori, kita juga di berikan praktek cara mengambil gambar dengan model sebuah mobil mercedes E-Class Tronik, lupa saya nama tipe mobilnya apa, Pastinya mobil mahal dan bisa beli Timor 10 lebih.

belajar setting kamera yuk

Hampir semua perserta membawa kamera tipe SLR, sedangkan saya dan 4 peserta lainnya hanya melihat orang-orang ber-SLR memainkan aksinya. Ya walaupun saya tidak mempunyai kamera SLR tapi saya selalu mengikuti master fotografi dari media otomotif mengajarkan peserta memainkan kameranya. Berkat sesi fotografi ini, saya jadi tahu sejarah kamera secara lengkap dan mengetahui bagaimana cara seorang fotografi jurnalis mengambil gambar dengan kameranya, kecepatan dan ketepatan pengambilan cahaya sudah menjadi bagian kewajiban bagi mereka.

asiknya foto2...
ayo ambil spot yg bagus

Tidak terasa sudah pukul 4 sore saya mengikuti pelatihan ini, acara pun segera selesai dengan penutupan yang langsung dipimpin oleh pimpinan redaksi tabloid Otomotif. Dengan ramah bapak satu ini mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kedatangan para peserta dan memberikan beberapa kerja sama yang cukup mengasyikan buat penggemar tulis menulis. Alhasil, pelatihan jurnalistik pada hari ini bukan sekedar berlatih atau mengetahui cara-caranya namun lebih kearah menyatukan kreatifitas antar klub mobil walaupun tidak semua club bisa hadir di acara ini. Mungkin acara berikutnya akan bisa menghadirkan beberapa klub yang sering aktif didunia otomotif, kami pun di berikan gelar Angkatan Pertama dan ada kemungkinan angkatan pertama bisa mengikuti pelatihan angkatan kedua dikesempatan mendatang.

coba foto ni mobil pake bb
lalu saya bawa pulang

Saya cukup puas dengan pelatihan ini, saya jadi mengetahui seluk beluk jurnalistik bahkan saya bisa melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana keadaan ruangan pekerja media informasi seperti tabloid, berantakan dan tidak rapih namun kondisi seperti itu yang membuat ruang kerja menjadi lebih bersahabat dibandingkan kerja rapih tapi stress dengan himpitan karyawan yg suka mencari muka. Terima kasih buat team Otomotif yang sudah mengundang saya, makasih buat kue yang enak2, kopi dan ayam bakar mas mono nya ihihhihihihi. Mudah2an sertifikatnya bisa segera cepat dikirim sebagai bukti bahwa blogger juga berhak mendapatkan apresiasi dalam hal tulis menulis. Terima kasih juga buat Om Zaky, Om Fuat yg udah nemenin dan om Dicky yang ngasih sedikit wejangan (tahu dah itu wejangan atau apaan).

5 thoughts on “Yuk Belajar Jadi Jurnalis

    Bali Bagus said:
    10 September 2012 pukul 1:57 am

    Waahhh ,,, seru banget bisa ikut pelatihan jadi wartawan… Aku senang menulis tapi hany untuk blog ku saja,,, belum berani untuk ke media

      Tawvic responded:
      15 September 2012 pukul 2:41 am

      itu awal yang bagus kok, berawal dari hobi menulis biasa, lama-lama jadi luar biasa..

    dewi said:
    15 September 2012 pukul 5:43 pm

    yaaa benar,,,menulis dan menjadi seorang jurnalis juga impian ku,,”dewi”

      Tawvic responded:
      18 September 2012 pukul 7:46 am

      mantab, semoga bisa menjadi kenyataan ya

    herliana said:
    21 Juli 2013 pukul 5:18 pm

    ingin sekali menjadi seorang jurnalis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s