Di Bully atau memang mereka iri?

Posted on

Waktu jaman SD dulu, yang namanya bully sudah menjadi sarapan saya sehari-hari. ada saja tingkah dari teman-teman yang sifatnya ngebully saya tanpa merasa tindakan mereka itu salah, saya hanya bisa menikmati bully-an mereka layaknya mengunyah nasi kebuli. kalau ada yang pernah melihat film tentang anak SD cupu yang tiap harinya dikasarin sama teman-temannya hingga nangis, ya itu lah bully, dan saya merasakan apa yang ada di film tersebut. tapi selama saya dibully oleh teman-teman, belum pernah sekalipun menangis dihadapan teman-teman pembullyan saya. saya hanya bisa pasrah dan menerima semua perilaku teman-teman saya karena saya tahu mereka hanya iri kepada saya.

Waktu jaman SD dulu saya termasuk anak murid yang cerdas, pada saat duduk di bangku kelas 3 SD saja, teman-teman baru mengenal perbedaan kalimat dan penyusunan paragrap, saya sudah membuat beberapa tulisan cerpen untuk dinikmati sendiri. cuma… saya memang lemah terhadap matematika dan lebih menonjol dalam pelajaran bahasa indonesia, PPKN dan IPA. Saya termasuk anak yang langganan ranking 2, sesekali rangking 3 dan pernah sekali ranking 6 gara-gara waktu THB saya terserang penyakit cacar. Memang membuat ibu saya kecewa akibat ranking saya turun jauh tetapi ibu saya memaklumi karena kondisi saya saat itu tidak dalam kondisi FIT.

Sekitar kelas 4 SD, dimulailah masa-masa saya di bully. saat itu saya dinobatkan menjadi ketua kelas 4, entah kenapa kebanyakan para teman-teman  mencalonkan diri saya sebagai ketua kelas. sayangnya, tidak mudah mengatur mereka yang rata-rata anak kampung komplek seberang, badung, bandel, dablek dan gak mau diatur, hanya bisa diatur kalau saya mengatur mereka dengan didampingi Guru. kepala saya sering menjadi sasaran tembak kertas gulungan karena waktu itu saya suka sekali mencukur rambut bergaya botak, sebenarnya saya botak secara tidak sengaja, ini semua akibat dari tukang cukur yang memang malas memberikan gaya dari model-model Top Collection di dinding tempat cukurnya.

ada 5 orang pelaku yang sering melakukan KDLS (Kekerasan Dalam Lingkungan Sekolah) yaitu :

1. Suratman, cowok kekar cukup tinggi namun nafasnya selalu bau jengkol ini hobi banget ngebully saya dengan gaya jorok-jorokan, alias dorong-dorongan sampai saya jatuh.

2. Madih, cowok ini harusnya sudah duduk di kelas 6 namun karena telat mengikuti program pemerintah “wajib belajar 9 bulan” maka dia terlihat paling tua diantara anak kelas 4 lainnya.

3. Arman, sebenarnya dia baik, cuma kalau ngomong suka gak enak. hobi banget ngebohongin saya, ya dibilang saya dipanggil guru sampai saya disuruh menghadap ke ibu kantin.

4. Denis, sebenarnya dia juga korban bully, tapi kalau dia lagi di pihak madih, pasti ikutan ngebully saya walaupun saya sendiri pernah isengin dia sampai berdarah-darah.

5. Adit, kalau dia sih memang perilakunya kasar, sok jantan banget tapi kalau saya kerumahnya, uuuuh…. anak mama banget sampai-sampai saya di layani kaya tamu kalau main dirumahnya.

Sisanya hanya ikut-ikutan saja kalau adegan bully nya sedang seru, kadang-kadang saja saya di bantu teman-teman lain waktu saya di bully. saya selalu menganggap pembulian mereka sebagai efek bercanda yang teramat kasar bahkan gak ada batasnya tapi ya mau bagaimana lagi, mereka hanyalah anak-anak yang belum pernah merasakan kebaikan sesama (eeeeaaaaa).

saya suka sekali main-main di kebun belakang, ada pohon jambu klutuk yang cukup tinggi dan saya suka bermanjat ria keatas sambil melihat ke sekeliling sekolahan. ada beberapa anak-anak yang juga suka main ke wilayah ini, apalagi tempat ini masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar semacam pohon asam atau mahoni sehingga terasa seperti di jaman jurassic park (waktu itu lagi trend-trend nya demam film dinosaurus idup lagi). Pada hari sabtu sore saya bermain-main di tempat favorit saya lengkap dengan seragam pramuka coklat-coklat, ternyata disana sudah ada beberapa teman-teman yang berada di atas dahan dan batang pohon jambu kesayangan saya. Sepertinya mereka ingin menjajah tempat kesukaan saya atau mungkin saja mereka ingin merasakan sensasi duduk-duduk di batang pohon jambu batu sambil melihat suasana kebun SD.

Saya asik bermain bola sepak bersama 3 orang teman lain kelas (adik kelas) dibawah pohon jambu tersebut, lalu tiba-tiba Suratman memanggil saya dari atas pohon jambu tersebut. ketika saya menoleh keatas, ‘tiiiiiiuuuung’ jambu klutuk seukuran bola tenis mendarat tepat di mata saya. Mata kanan saya perih minta ampun dan pandangan saya buyar, terpaksa saya mendaratkan pantat ditempat saya berdiri sambil memegangi mata yang mulai basah karena air mata. si Suratman menyalahkan saya tidak cepat menangkap buah jambu klutuk tersebut, yang lainnya juga menyalahkan saya kenapa tidak minggir dan kenapa berada di bawah pohon. Beruntung mata saya tidak buta, hanya mata menjadi merah dan berair saja. Saya pun melanjutkan bermain bola dengan adik kelas yang memang dekat dengan saya. peristiwa jatuhnya buah jambu tersebut merupakan salah satu bentuk bully terhadap saya yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini, entah kenapa mereka punya keisengan seperti itu.

paling sering kalau ada pelajaran olahraga, bola sepak sudah sering menjadi bahan yang pas mencium pantat dan betis saya. ada saja teman-teman yang iseng menggebok saya dengan bola, sakit sih tidak tapi aneh aja karena saya sendiri tidak pernah melakukan hal itu dan mungkin waktu itu saya memang sering berhasil memasukkan bola ke gawang secara tidak sengaja disaat pertandingan bola.

di Kelas 5 pun pembullyan tidak pernah ada hentinya, saya dibelikan sepeda wim cycle yang saat itu lagi trend banget dipakai kalangan anak muda di kota saya. kayaknya kalau belum punya sepeda ini, kamu gak akan sekeren seperti aroon carter atau salah satu anggota backstreet boys. padahal model iklan sepedanya sendiri adalah domba bukan salah satu anggota BSB. Saya dibelikan sepeda karena saya berhasil mendapatkan ranking 2, setelah sebelumnya mendapatkan peringkat 6 akibat kena cacar. Sepeda inilah yang menemani saya mengikuti les tambahan di sekolah, karena kalau dipakai untuk kegiatan belajar biasa pasti tidak akan dibolehkan sama orang tua, takut hilang. kalau pas jam les tambahan, sepeda boleh di letakkan dekat kelas les sehingga bisa terpantau dengan mudah.

Sepeda saya sering menjadi korban kenakalan anak-anak waktu itu, anehnya yang selalu menjadi inceran hanya sepeda saya saja, mungkin karena paling terlihat baru dibandingkan sepeda2 lainnya yang bentuknya standar sepeda pada masa itu. lagi-lagi suratman yang menjadi pelaku pembullyan sepeda saya, dia selalu meminjam sepeda saya untuk dimainkan dilapangan dan ketika dia mengira saya tidak memperhatikan, dia mulai beraksi layaknya pemain BMX professional dengan sepeda saya. dibanting, jatuh, diangkat-angkat lalu dijatuhkan lagi sampai-sampai mata kucing belakang sepeda saya lepas. perilaku tersebut sering banget dilakukan olehnya, saya sudah sering memperingatinya untuk tidak memainkan sepeda seperti itu karena akan merusak sepeda saya tetapi omongan saya hanya bagaikan lagu Padhyangan 6 (lucu dan bikin dia ketawa). akhirnya saya sendiri memutuskan untuk tidak membawa sepeda lagi.

ditempat pengajian yang anak-anaknya berbeda dengan yang ada di sekolah dasarpun kerap menjadi inceran pengrusakan barang-barang milik saya. waktu itu sepeda saya pasang klakson yang bentuknya lucu dan berbunyi “neeet…. neeet..”, anak-anak pengajian yang kebetulan memarkir sepedanya dekat sepeda saya hobi sekali memencet-mencet tombol nya, sehingga baterai klaksonnya cepat habis. sudah saya peringati namun lagi-lagi tidak didengarkan, apalagi mereka kerap berpura-pura keluar kelas dengan alasan kencing dengan tujuan mengikat tombol klakson dengan solasi agar klakson saya berbunyi terus. Akhirnya baterai klaksonnya saya cabut tapi apa daya, cara ini malah membuat klakson saya pecah karena ada yang memaksa membuka tutup baterainya dengan batu, akhirnya saya beralasan kepada orang tua kalau sepeda saya terjatuh dan klaksonya rusak. saya tidak ingin berbicara jujur jika teman-teman saya yang iseng merusak klaksonnya, saya tidak ingin teman-teman saya mendapat ancaman dari orang tua saya apalagi kalau sampai ibu saya mengunjungi orang tua mereka untuk memperingatinya. kasian mereka dan saya mungkin akan di cap sebagai anak aduan (cupang aduan).

Bully tidak hanya dalam bentuk kekerasan saja, dalam bentuk lain yang bisa bikin percaya diri kita jatuh juga ada. seperti saat ketika saya harus maju kedepan untuk bernyanyi atau membacakan puisi, pasti si Adit melakukan tindakan yang bisa mengalihkan pandangan teman-teman. dia paling suka berbuat gaduh kalau saya tampil didepan, apalagi kalau dia sedang duduk dibelakang sering sekali bergaya-gaya kaya bencong atau bermuka aneh demi membuat diri saya tidak percaya diri. disaat teman-teman bertepuk tanganpun, di hanya berdiam diri saja sambil berekspresi seperti orang mau muntah, saya sih berharap dia muntah beneran dan muntahannya berisi kelabang dan paku payung.

waktu kelas 5 saya terpilih sebagai ketua pramuka memimpin regu Kelelawar, awalnya dipilih Tupai sebagai lambang binatang kami tapi karena di pasar susah sekali cari bendera pramuka berlambang tupai, akhirnya memutuskan lambang regu kami adalah Kelelawar. Seperti biasa, saya dipilih menjadi ketua karena memang anak-anak yang berteriak-teriak untuk menjadikan saya ketua saat pemilihan ketua regu pramuka. saya tidak suka menjadi ketua pramuka, anak-anaknya sendiri susah diatur dan ketika regu saya mendapatkan kesalahan gara-gara perbuatan mereka, mau tak mau saya yang harus menerima tanggung jawab. paling hobi banget berteriak ‘tolol’ ke arah saya ya cuma si adit itu, ada kesalahan sedikit dan di hardik oleh guru pembina, dia langsung teriak ‘tolol emang ketuanya’, nah… kalau saya tolol kenapa dipilih. Saya mengerti kenapa saya dipilih menjadi ketua, karena cuma saya yang paling asik diteriakin tolol, goblok dan dongo, sedangkan lainnya akan ngajakin berantem kalau sampai diteriakin seperti itu.

orang yang paling suka merusak karya cipta saya saat pelajaran KTK adalah Madih, pria yang harusnya menjadi kakak kelas saya ini selalu merusak hasil karya saya. sebenarnya dia masih ada hati, karena dia merusak karya cipta saya setelah karya cipta saya dinilai oleh guru KTK. Saya menciptakan perahu kertas, lantas menjadi sampah karena sudah hancur lebur oleh madih. lalu membuat lukisan abstrak, lagi-lagi lukisan saya dibubuhi tipex bertuliskan nama-nama personil slank, kenapa tidak menuliskan 10 nama-nama malaikat atau 25 nama Nabi, Insya Allah saya tidak akan marah.

ada juga yang namanya irfan, orangnya medit pantat kuning, cuma pelitnya itu hanya kepada saya saja. Misal dia ada makanan bocah macam anak mas atau coklat payung yang ia bawa banyak dari rumah, dia membagi-bagi teman-teman sekelilingnya tapi kalau ada saya disekitar situ dia sering berkata “wah gw bawa nya cuma sedikit” padahal saya lihat di tas nya masih banyak,mungkin ada sekitar 3 anak mas lagi. Saya saja sampai bingung kenapa dia pelit banget sama saya, padahal saya sering bagi-bagi hansaplast sama kartu basket dan kartu dragon ball kalau memang dia membutuhkannya.

Sebenarnya masih banyak perilaku-perilaku teman-teman saya yang membuat perasaan ini tertindas namun dengan kejadian masa lalu itu saya menjadi sadar kalau sehebat apapun kita dan sebaik apapun kita pasti ada satu dua orang yang tidak menyukai kita. Saya sendiri terkadang membalas dendam atas apa yang mereka perbuat, misalnya membuang buku tulis yang isinya pelajaran-pelajaran atau PR yang akan dikumpulkan hingga mengisi tas-tas mereka yang iseng kepada saya dengan sampah buah-buahan busuk hasil fermentasi 2 hari, baunya minta ampun tuh. saya memang suka sekali iseng dengan cara tak biasa, perhitungan dan menulis ide-ide iseng saya disecarik kertas.

Walaupun kalian suka membuat saya jengkel, kalian tetaplah teman-teman yang membuat warna dan cerita masa kecil saya dengan unik. tanpa kalian, saya tidak akan mempunyai cerita seperti ini dan berkat kalian lah saya mempunyai kekuatan untuk bersabar serta melatih emosi diri. Buat temen-temen yang akan membully, lebih baik saling membantu daripada membully tanpa manfaat.

 

9 thoughts on “Di Bully atau memang mereka iri?

    adisandria said:
    28 Maret 2012 pukul 8:34 am

    bagus ya ceritanya..

      Tawvic responded:
      28 Maret 2012 pukul 8:39 am

      makasih adsandria, yuk menulis…

        adisandria said:
        29 Maret 2012 pukul 5:11 am

        trim’s kembai, yuk…..

    nelsonganteng said:
    28 April 2012 pukul 11:45 am

    pik gue suka blogmu yg lugas,jujur dan apa adanya walaupun ada resiko dibaca oleh kompetitormu😆

    Attia said:
    19 November 2012 pukul 3:18 pm

    Sy lagi cari artikel mengenai bully.. kemudian menemukan artikel ini. Sy cuma ingin bertanya.. kenapa wkt itu membiarkan diri anda menjadi korban bully? Tidak melawan?
    Anak saya juga anak cerdas, rangking 1 atau 2 terus.. dan sepertinya dia baru mulai di bully. Untungnya dia cerita ke saya. Saya masih bingung bagaimana harus menghadapi ini. Makanya sy ingin di share, knapa anda tidak melawan, dll.
    Trimakasih

      Tawvic responded:
      20 November 2012 pukul 4:10 am

      perlawanan adalah hal yg mereka inginkan jika mereka membully seseorang, semakin dilawan maka mereka akan smakin penasaran. dalam pengalaman ini bukan berarti saya tidak melawan, saya tetap melawan namun dengan taktik bukan adu bully. misalnya buku-buku mereka saya umpetin sampai mereka kebingungan, atau tas mereka saya buang, dengan begitu mereka akan berfikir jika mereka mendapatkan sebuah karma. cara ini lebih berhasil dibandingkan harus melawan dengan cara yang sama. korban bully hanya orang yg tidak disukai akan kelebihannya, dari pengalaman ini si anak bisa paham jika didunia ini tidak semuanya menyukai apa yg kita miliki dan tetap berhati-hati dalam pergaulan. tetap menjadi sahabat yang baik untuk mereka para pelaku.

    Riana said:
    10 Januari 2013 pukul 12:10 pm

    Saya dulu juga pernah merasakan itu, tapi jauh lebih parah dari itu
    pembullyan saya itu dilakukan dari kelas 1 sd sampai kelas 6 sd bahkan pembullyan itu dilakukan oleh 13 anak dari 15 anak laki-laki di kelas saya, entah apa salah saya, saya adalah satu-satunya yang dijadikan korban disana. Bahkan semua teman-teman perempuan saya tak mau mendekati maupun berteman pada saya karena siapapun yang menjadi teman saya akan dijadikan korban pembullyan yang kedua. Pembullyan itu dilakukan dengan meminta uang, menyakiti, memukuli, menendang, menampar, membentak, menyuruh-nyuruh dsb ada teman saya yang sangat menyukai serangga seperti ulat bulu, kalajengking, dan kelabang. Hewan-hewan beracun itu selalu dilempar-lempar pada saya tapi anehnya saya tak pernah kena gigitannya.
    Ada lagi teman yang suka meminta uang saya. Bahkan 50 % dari uang jajan saya selalu diminta
    ada lagi teman yang suka mencegat saya ketika pulang sekolah. Dia selalu mempersiapkan batu, kayu, karet yang banyak untuk memukuli saya setiap hari setiap pulang sekolah
    ada teman saya yang selalu mencuri barang-barang saya bahkan saya sudah melapor pada guru tapi teman saya tidak pernah mengaku sehingga pencurian itu dianggap tidak pernah ada.
    sewaktu kelas 1 sampai kelas 3
    saya juga pernah dilempar kaca sampai berdarah tepat pada bahu kiri saya sampai berdarah sehingga menimbulkan bekas 5 garis yang cukup memanjang di bahu saya.
    lalu pada saat kelas 4 ada 1 teman perempuan saya yang pernah melempari saya dengan pot berisi tanah, dan menyiram saya dengan air sampai basah. Bahkan sewaktu kelas 6 sd saya kalau duduk kursinya selalu ditarik sampai jatuh tapi anehnya saya tak pernah buta padahal saya yakin tulang bagian belakang itu kena bahkan rasanya sangat nyeri dan sakit. Dan sewaktu dulu setiap saya disakiti saya selalu menangis. Tapi guru saya tak pernah merasa peduli, bahkan tidak bertanya saya kenapa, bahkan dulu malah mengurung saya di kelas sendirian. Sampai sekarang saya masih ingat siksaan-siksaan itu saya sangat membenci teman-teman saya beserta guru-guru saya yang seakan tidak peduli pada keadaan saya, dan sampai sekarang saya sangat dendam pada semua orang di sekolah itu karena tiada yang peduli meskipun saya disiksa di depan mata mereka.

      Tawvic responded:
      11 Januari 2013 pukul 4:35 am

      cukup miris juga dengan ceritanya. turut prihatin pada masa kecil anda, ya nasib kita sama namun saya memang tergolong masih bisa berontak jika sudah kelewat batas. kenapa waktu itu tidak pindah sekolah?, apakah orang tua anda tidak mengetahuinya?, mudah2an saat ini anda adalah orang dari golongan orang sukses karena kesabaran waktu kecil…:)

    Zaki Erlangga said:
    12 Oktober 2014 pukul 11:52 am

    @Admin Terimakasih Ya Tips Nya. +mau sedikit curhat dulu saya sering di bully dari kelas 5 sd ampe kelas 1 smp gara2 badan saya gendut apalagi pas pelajaran olahraga sering banget di ledekin Anak Mama + Lemah. ( Saya Mah Diem aja Sabar aja ) Masih Inget Banget Tuh ama Tukang Bully Fajar.M Sering Banget Nyuruh2 Saya + Malak. Yo Wes Saya Aduin Eh Malah Gak Di Belaain. ( Padahal Sekolah Elit Loh ). Pada Gak Peduli Ama Perasaan Orang Lain Dasar Tukang Bully

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s