Apatis Ria Para Roda Dua

Posted on

Kalau saya pikir secara mendalam, ternyata banyak pengendara roda dua yang apatis terhadap pengendara lainnya apalagi dengan pejalan kaki. Saya juga tidak mengerti kenapa pengendara roda dua lebih cepat berfikir untuk mengambil keputusan dibandingkan harus menghitung-hitung langkah dan pemikiran bijak sebelum mengambil keputusan. Saya kerap jengkel kalau sedang melakukan perjalanan menuju tempat saya bekerja melihat pengendara roda dua yang memang merasa jalanan hanya untuk dirinya sendiri. Mau saya menggunakan roda empat atau roda dua, tetap saja rata-rata pengguna roda dua menjengkelkan.

Di ibukota ataupun didaerah lainnya, Roda dua memang masih mendominasi jalanan umum. Kalau sudah di jam-jam sibuk, roda dua bagaikan laron yang saling bergerak kesana kemari mencari jalan agar mereka bisa sampai ditempat tujuan. Membludaknya pengguna motor tidak lain dan tidak bukan karena mudahnya mereka memiliki sepeda motor, tanpa harus mempunyai SIM C dan cukup DP dibawah 500ribu, mereka sudah menghadirkan motor baru di garasi. Hal ini memang menguntungkan buat perusahaan roda dua yang sudah berpuluh-puluh tahun memberikan kontribusi terhadap kendaraan pribadi, karena yang terpenting perusahaan merajai penjualan dan tidak peduli siapa yang membeli produk mereka. Seharusnya pembelian motor tidak semudah membeli ayam goreng, seharusnya memang diberikan syarat-syarat seperti bukti SIM C, lisensi dari Safety Riding Course dan ditiadakan DP murah. Sekarang banyak dealer yang menawarkan DP murah, cukup 300ribu saja sudah bisa bawa motor kerumah, namun dengan biaya bulanan yang lebih mahal dibandingkan DP mahal. Karakter kebanyakan rakyat kita, memikirkan saat ini dan memikirkan nanti-nanti saat nanti. Mereka mampu membayar DP pada saat itu, tapi ketika membayar kridit ke 5, mereka sudah kebingungan membayar dengan apa, akhirnya di datangi pihak leasing dan menyita motor mereka. Tidak bisa membayar, maka motor menjadi milik leasing dan akan dilelang, hal ini gak Cuma satu dua orang melainkan lebih dari 100 pemilik motor kridit mengalami penyitaan motor.

Hampir semua pengendara roda dua masih menggunakan asas Air mengalir mengisi ruang kosong, asas seperti ini yang sangat saya benci. Sering sekali mereka memaksa masuk ke celah-celah kosong diantara roda empat atau bis-bis besar, tak jarang kendaraan roda empat harus ‘sengaja’ tersenggol dengan body motor hingga menimbulkan tanda kenangan sebuah baretan, kalau sudah begini, sang pelaku biasanya kabur berlari atau merasa tidak bersalah. Tak jarang saya harus menepi mengendarai motor dikarenakan jalur yang saya gunakan di pakai oleh jalur lawan sehingga kendaraan besar tidak mampu melewati barisan motor yang memakan jalur lawan demi berusaha mendapatkan barisan pertama. Macet total?, pastinya, bagaimana tidak akan macet!! Dari kendaraan arah lawan sudah tertutup oleh mereka-mereka yang berasas air mengalir mengisi ruang kosong. Ada jalur lawan lenggang sedikit, langsung mereka ber-rewo-rewo menutupi jalur lawan, menyalip kemacetan dijalur mereka namun akhirnya menumpuk diujung jalan. Diberikan pembatas jalan pun rasanya percuma, karena mereka akan berani melewati pembatas jalan dan merasa ‘tanggung’ jika sudah menerobos pembatas jalan. Seharusnya pembatas atau pemisah dua jalur berlawan arah diberikan pagar tinggi tapi akal bikers itu sangat kreatif, masih bisa di akali mau lewat mana.

Pejalan kaki juga sudah merasa tidak aman, ini akibat dari para bikers yang memiliki sifat apatis, tidak peduli dengan semuanya karena yang terpenting bagi mereka adalah sampai ditempat tujuan dengan selamat. Bikers pun lebih mirip pemain sirkus, mereka pandai naik ke jembatan penyebrangan yang sebenarnya jembatan tersebut di desain untuk pejalan kaki. Saya saja sampai bingung bagaimana mereka bisa naik ke jembatan penyebrangan dan turun dengan selamat, jangan-jangan mereka bisa menyebrangi jembatan bambu bergoyang sambil berhula hoop. Trotoar yang seharusnya menjadi tempat nyaman buat pejalan kaki berjalan, kini sudah menjadi tempat yang harus di khawatirkan karena tak sedikit pejalan kaki harus minggir dengan sengit akibat motor-motor bengal melewati trotoar. Walaupun trotoar tersebut di desain tinggi, tetap saja para bikers membandel melewati trotoar dengan alasan ‘buru-buru’. Kalau pejalan kaki tidak mau minggir, bikers akan setia menekan tombol klakson sebagai nada pengusir dan kalau pejalan kaki kekeuh berada di trotoar, tak segan-segan bikers marah-marah minta lewat. Aneh memang negara ini, sepertinya pelajaran PPKN sudah dilupakan dan tidak adanya moral untuk saling menghormati pejalan kaki. Haruskah tiap trotoar di buat bergelombang dan penuh dengan lubang got agar pengendara motor tidak lagi naik ke atas trotoar. Sepertinya sulit, bikers lebih ahli dalam menikmati rintangan di jalan sehingga apapun kondisi jalan yang ia tempuh, akan di hadapi dengan penuh suka cita, yang penting nyampe tempat tujuan.

Pejalan kaki juga harus ekstra hati-hati, terkadang kalau kita akan menyebrang wajib melihat keadaan dan melihat jarak aman kendaraan di kanan kiri jalan. Anehnya saya sendiri sering melihat tingkah pengendara roda dua yang tiba-tiba tancap gas ngebut kalau ada objek bernyawa akan menyebrang. Ketika saya akan menyebrang, saya melihat ada satu bikers berjalan pelan tapi disaat kaki saya sudah berada di tengah jalan, bikers tersebut malah menaikkan tarikan gas sehingga dia lepas landas seakan tidak mau ada yang menghalangi jalurnya. Terpaksa saya mundur lagi karena pengendara lainnya akan ikutan latah menaikkan gas nya agar saya tidak bisa menyebrang. Begitu juga dengan kendaraan-kendaraan yang akan masuk ke jalur umum, misalnya kendaraan yang keluar dari komplek perumahan. Walaupun satpam komplek sudah mengatur jalan agar pengendara bisa menghentikan lajunya, namun tetap saja pengendara memberanikan diri menerobos ketiak satpam dan sepertinya mereka ‘roda dua’ tidak boleh berhenti sedetikpun kalau sudah dijalanan. Saya sendiri pernah sekali menabrak pengendara motor saat saya mau keluar komplek, satpam sudah menghentikan pengendara lainnya dan menyuruh saya masuk kejalan namun tiba-tiba ada seorang ladies biker yang nyelonong asik hingga akhirnya dirinya terjatuh dicium bemper mobil saya. Padahal si satpam sendiri sudah 2 orang menutup jalan agar saya bisa lewat, tapi ya mungkin si cewek ini buru-buru ngambil pembalut sehingga tidak mengikuti pengendara lain yang mengijinkan saya lewat.

Percuma juga kalau saya sendiri atau segelintir orang yang bisa peduli dan menghormati pengguna jalan lainnya, efeknya tidak terasa akibat lebih banyak yang acuh terhadap sekitar mereka berada. Tidak peduli orang lain di jalur lawan tidak bisa lewat yang penting bisa maju terus sampai ujung, tidak peduli naik trotoar walaupun trotoarnya tinggi toh masih bisa dinaiki dengan bantuan batu atau kayu, tidak peduli orang jalan kaget di klaksonin biar pada minggir dari trotoar dan masa bodo dengan peraturan di jalanan sing penting selamat dan cepat sampai tujuan. Lebih parah lagi jika malam hari tiba, masih ada yang cuek tidak menyalakan lampu bahkan memang tidak ada lampu utamanya sama sekali,. Jika tertabrak, kaum minoritas lah yang salah, kuat2an bacot walaupun ada pihak yang memang salah. Entah kenapa masih ada pengendara roda dua yang menghargai nyawa-nya seharga motornya, semakin murah motornya maka akan semakin murahan pula nyawanya. Lampu-lampu dicopot, knalpot racing, body-body motor dilepas, biar makin enteng dan makin jauh dari kata safety. Coba kalau mengendarai ducati atau motor mahal seharga mobil, biasanya sangat berhati-hati mengendarainya, kalaupun ngebut hanya berani di tempat-tempat sepi dan tidak akan melanggar lalu lintas karena harga tilangnya lebih mahal.

Kita semua sebagai pengguna jalan umum harus peduli terhadap orang lain, orang lain peduli dan semua menjadi diperhatikan. Pemikiran bangsa ini masih suka berfikir simpel tanpa harus di perhitungkan akibat kedepannya. Khususnya buat roda dua yang suka kebut-kebutan dijalan, mungkin kepengen cepat sampai layaknya mobil di jalan tol tapi ingatlah, roda dua sangat minim dengan keamanan berkendara, jika ditabrak minimal luka-luka. Toh kalau memang buru-buru kenapa tidak berangkat lebih awal, saya sendiri pernah melakukan percobaan antara berangkat ngebut dengan santai, hasilnya Cuma beda 10menit saja dan perilaku kebut-kebutan dijalan hanya memboroskan BBM saja. Jangan sampai nyawa kita lebih mahal dari motor yang kita pakai, kalau pengendara roda dua mati, perusahaan motor tidak akan merugi.

Aman berkendara dan peduli anti apatis….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s