Pengamen (apakah seorang musisi Jalanan?)

Posted on Updated on

Fenomena paling sering di saksikan di angkutan umum adalah melihat pengamen beraksi memainkan nada-nada atau kalimat-kalimat yg nantinya menjadi sebuah pemasukan bagi dirinya. Di Indonesia sendiri para pengamen banyak tersebar di pulau jawa dan mungkin ada di daerah lainnya yg mungkin hanya di papua atau daerah timur Indonesia saja yg tidak ada pengamennya. Bayangkan jika ada pengamen dari papua mengamen dengan menggunakan koteka, aiiiih, itu gading tumpul menusuk menggandul gandul membuat pemandangan menjadi absurb.

Saya sendiri sering melihat para pengamen beraksi di angkutan darat baik di bus kota, angkot mikrolet atau kereta listrik tapi yg pasti mereka tidak ada di pesawat atau di kapal laut. Mungkin kalau ada di pesawat bakal keren kali ya, mereka terbang menggunakan para layang atau parasut berpindah-pindah dari pesawat Garuda ke pesawat adam air dan terakhir ke pesawat telepon. Pengamen paling banyak beredar di angkutan bis kota, dalam satu bis jurusan Bekasi – kali deres saja bisa menghadirkan 3 pengamen yg berbeda jenis dan aliran. Tujuan mereka hanya satu, menyanyi dan menghasilkan uang saku. Menurut saya mereka itu sama dengan penyanyi di layar kaca karena uang receh yg kita berikan ke mereka merupakan honor. Mereka tidak akan mau membuang-buang suara tanpa dibayar, semakin performa mereka bagus maka tak segan-segan setiap penumpang akan memberikan dia recehan mulai dari 500 perak sampai 2000 rupiah tapi kalau suaranya mirip radio kurang sinyal biasanya tidak sedikit penumpang yg ogah memberikan uang.

Saya sendiri jika mau menggunakan transportasi seperti kereta listrik “KRL” atau bis kota akan menyiapkan recehan, tak jarang mereka juga akan hadir ketika kita makan di pinggiran jalan sebagai pelengkap menu jalanan. Saya pernah ada pengalaman gak asik saat saya sedang ingin menuju jogja menggunakan bis kota dari terminal purworejo. Pengamen tersebut menyanyikan 3 buah lagu saat bis bergerak menuju kota gudeg, suaranya pas-pasan dan permainan gitarnya pun sepertinya mengambil aliran “sing penting bernada”. Setelah 3 lagu ia muntahkan, dia memohon mohon kepada penumpang untuk menaruh recehan di kantong plastik bekas bungkus permen relaxa. Saya lihat ada yang ngasih tapi ada juga yang tidak memberi, giliran saya dia menagih honor atas apresiasinya menyanyi, saya tolak dengan bahasa jawa nan halus namun dia malah makin menjulurkan tangannya sambil mengocok ngocok bungkusan permen sehingga bunyi krincingan uang logam terdengar. Saya tersenyum, dia makin murka, saya cuek melihat pandangan keluar, dia mencolek saya. Wah ini gimana ya, saya bener2 tidak ada receh, masa iya saya berikan dia 20ribuan, ke enakkan dia dunk palingan juga buat minum-minum atau beli rokok (jangan suudzon ah) lah saya gak suudzon, buktinya pas dia ngomel-ngomel ga karuan langsung tercium aroma alkohol, entah dia habis minum anggur kolesom atau obat kompres berakhohol 70%. Akhirnya ibu-ibu disebelah saya memberikan dia receh, si ibu lalu menasihati saya untuk selalu menyiapkan uang receh karena pengamen disini sedikit memaksa apalagi sama orang2 yg keliatan bukan dari daerah asli sini. Maksud si ibu mungkin tampang saya seperti orang dari luar angkasa….Pengamen di tiap-tiap kendaraan ada yang memiliki ciri khas tersendiri dalam menjajakan suara mereka. Seperti pengamen yang sering saya temui di kereta listrik jurusan bekasi – kota. Pengamen ini berjumlah 5 orang, masing-masing memegang alat musik seperti bass (bass nya bass klasik sebesar anak ikan paus umur 3 tahun), gitar klasik, drum tam-tam, kecrekan, dan biola. Wow,… Hati saya mengagumi mereka yg sangat berniat mengamen, apalagi gerbong kereta yg saya naiki tidak begitu banyak penumpang sehingga diruang tengah masih lapang dan mereka memainkan musik secara nyaman. 3 buah lagu mereka mainkan secara perfect. Semua mata tertuju ke arah pengamen tersebut, di lagu penutup sang pemegang kecrekan mengambil tugas double sebagai tukang keliling honor. Karena mereka memainkan lagu sangat bagus, maka saya ngasih mereka 2000 perak dan teman saya memberikan 5000 rupiah dengan alasan tiap personil mendapatkan 1000 perak. Setelah itu mereka turun dari kereta setibanya di salah stasiun, gak kebayang beban yg dibawa seorang bassist nya, hidup sudah berat dan berbeban tapi dia dengan semangat membopong bayi ikan paus.

Saya lebih menyukai pengamen seperti itu dibandingkan pengamen yg hanya bermodal tepukan tangan saja, prak prok prak prok dan bernyanyi gak karuan akibat pengaruh alkohol atau abis ngelem aibon. Asik bener dia ga punya kreatifitas namun maunya dapet duit banyak dari para pemilik receh. Adapula pengamen yg sedang hitz saat ini adalah pengamen ala anak punk dengan modal gitar kecil bernama ukulele. Mereka berpenampilan sangar dengan wajah penuh polesan pensil alis seperti cowok pesolek dan tak lupa anting-anting yg mungkin dari bekas ring seher. Mereka bernyanyi dengan lagu ciptaan mereka sendiri, karena di koleksi mp3 saya tidak pernah dengar lagu mereka, apalagi liriknya mengandung unsur curhatan hati yg protes terhadap pemerintah. Kalau pemerintah denger lirik yg mereka nyanyikan, pasti pemerintah juga akan protes sama mereka sambil bernyanyi “lebih baik sekolah yg benar dan bantu orang tua dirumah daripada harus teriak teriak gak jelas di angkot”.

Tampang sangar mereka malah membuat penumpang takut, kalau tidak ada yg ngasih akan diberikan kata-kata kotor dan kata2 tidak senonoh lainnya. Kejadian paling gak enak sedang sering terjadi diangkutan mikrolet, para pengamen yg bermodal tepuk tangan atau ukulele mampu membuat kalimat tolol jika ada penumpang yg tidak memberikan dia receh, dikasih 100perak pun dia akan menghina dina sang pemberi. kata2 itu tidak cocok dikeluarkan dari mulut anak tanggung yg menjadi pengamen apalagi yg mereka hina adalah orang tua, jika si orang tua bisa mengutuk, kutuklah dia menjadi kutu.

Pembaca puisi juga merupakan seorang pengamen, saya masih ingat waktu saya masih suka bolak balik dari Bekasi menuju Cileduk, secara tidak sengaja saya menemukan pengamen punjangga. Seorang bapak-bapak gemuk dengan kaos merah dan topi abu-abu, sambil memegangi secarik kertas ia pun mulai berteriak lantang membacakan puisi. Saya sendiri adalah penyuka puisi, segala puisi berbau tentang kehidupan dan perjuangan sangat saya sukai. Bapak ini pun membawakan tema perjuangan hidup, suara lantangnya seperti bung karno meneriakkan semangat kepada rakyatnya di halaman lapangan luas ibukota. Hampir setiap saya naik bis yg sama, saya menemui bapak itu. Ayah saya yang memberikan recehan kepadanya, sepertinya juga ayah sangat menyukai si bapak ini dalam arti menyukai puisinya bukan suka dari hati ke hati. Sayangnya seiring kedewasaan dan kehidupan keluarga kami yang lebih baik, maka saya sudah tidak naik bis kota lagi. Lagian semenjak saya SMA, ayah sudah tidak menemukan bapak-bapak itu lagi, entah kemana dia berada, padahal saya yakin dia selalu membuat puisi-puisi itu sendiri dengan inspirasi kehidupannya. Saya membayangkan dia membuat sebuah puisi sambil duduk diantara trotoar atau di sebuah kursi kayu yg tersedia pada warung kopi, secarik kertas dan sebuah pulpen adalah teman setianya. Saluuuutttt….

Sayang, sang punjangga jalanan seperti bapak itu sudah punah. Kebanyakan para remaja mengikuti cara si bapak itu namun cara penyampaiannya saja yang berbeda. Mereka berpuisi seolah-olah memaki kepada sang pencipta, meneriaki ketidak adilan. Padahal kalau mereka mau sadar, mereka bisa hidup lebih baik dibandingkan hanya berteriak tak karuan, mereka masih muda dan mempunyai tatanan kehidupan yg lebih baik. Kalau si bapak-bapak yang saya temu dahulu kala sudah pasti dia sulit mencari pekerjaan karena faktor umur dan kesehatan, (mungkin saja). Ada pula yang mengamen dengan cara yang aneh, yaitu dengan berpidato yang isinya merupakan kata-kata mengancam, pasti dari kita para pembaca pernah mengalami kejadian seperti ini. Ada 2 pria bertampang sangar, rambut gondrong tak terawat (kalau terawat nanti disangka sales sampoo), sedikit memamerkan tato murahan di lengan tangannya sembari berbicara ” maaf kami telah mengganggu perjalan bapak2 ibu2 sekalian, kami baru keluar dari penjara (keluar penjara aja bisa barengan gitu, kalian saling menyodomi ya?), daripada kami melakukan tindak kejahatan lagi dan daripada kami frustasi karena susahnya mencari kerja, maka lebih baik kami meminta secara baik2″ mereka melanjutkan pembicaraan secara panjang lebar dan tak lupa memberitahukan bagaimana cara mereka bisa sampai dipenjara. Ini dinamakan memalak secara halus, dibilang pengamen tapi gak ada apresiasi apapun terhadap seni kecuali dia bercerita tentang kehidupan dipenjaranya sambil naik sepeda roda satu atau melompat ke lingkaran api… Aaaarrrrgh….

Kalau dikereta kita bisa menemukan pengamen yg bermodalkan teknologi, sebuah tape compo dengan sebuah aki kecil menempel di tape dan sebuah mic sebagai media penghasil suara. Mereka adalah pengamen karoke, dimana mereka mengamen sambil di iringi dengan musik dari pemutar audio yg kebanyakan rata2 sudah menggunakan mp3 player, mungkin suatu masa mereka sudah memakai mac sebagai alat karoke nya. Ada dua tipe pengamen yg seperti ini, pengamen buta (bisa pura2 atau malah buta beneran) dan pengamen melihat, keduanya memiliki perbedaan hanya dibagian mata. Pengamen karoke buta biasanya beroperasi dari ujung gerbong kereta sampai sudut penghabisan gerbong, saya ga bisa bayangin kalau ada 2 pengamen karoke buta saling bertemu dalam satu gerbong, apakah mereka akan berduet? Atau malah saling adu suara?. Lagu-lagu yang mereka bawakan biasanya dangdut yang menyayat hati, bertema kesedihan dan benar2 sebuah lagu yang menyatakan kalau hidup itu adalah derita.

Dilampu merah pun kita bisa melihat pengamen dengan berbagai macam aliran, saya lebih ngeri kalau ketemu salah satu pengamen dari dua alam. Pengamen berjenis kelamin lelaki berwujud wanita, aaaah… Saya paling takut ketemu bencong lampu merah, walaupun dia berdandan ala wanita tapi tetep aja raut wajahnya seperti mas-mas penjual dvd bajakan. Walaupun populasi mereka untuk saat ini sudah menurun tapi tetap saja kita bisa menemui nya disudut kota dan biasanya mereka hinggap di lampu merah. Mereka menyukai alat musik tamburin atau kecrekan, sambil mengecrek, doi juga menyuarakan suara vokal khas dari suku 2 alam. Kalau sudah ketemu mereka akan ada rasa serba salah, jika saya tidak memberikan recehan pasti saya akan di berikan tatapan membunuh seakan saya akan di sodomi secara brutal, dan apabila saya memberikannya recehan yg menurut dia terlalu banyak, maka saya akan mendapat tatapan sayang darinya seolah-olah saya akan di timang timangnya tinggi-tinggi sambil dicubit genit. Saran saya buat anda kaum adam, cobalah memberikan sebagaian harta kita sedikit saja kepadanya “ingat sedikit saja” toh kalau pun mau memberi lebih silahkan saja, tiada larangan memberikan harta lebih kepada mereka kecuali anda tidak siap menerima hamparan kasih sayang dari jiwanya.

Satu lagi pengamen lampu merah adalah sekelompok anak muda dengan ciri khas sebuah gendang yg dibuat dari pipa pralon pvc. Biasanya pipa tersebut berwarna putih dengan kulit menutupi lubangnya berwarna hitam terbuat dari karet atau plastik. Biasanya berisikan 4 personil yang terdiri dari seorang ukulelers (pemain ukulele), vokalis, kecrekan dan pemain drum gendang pipa pvc. Tak sedikit sang pemain drum gendang yg mengamen secara solo, sambil mukul2 alat tersebut dirinya pun bernyanyi (cukup multitasking). Posisi operasi mereka tidak berpindah-pindah, hanya berada di lampu merah saja mendekati mobil-mobil atau angkutan umum yang sedang berhenti. Saya pernah melihat pengamen model seperti ini di lampu merah gor bekasi arah stasiun, berisi 3 orang personil dan yang membuat saya tertarik adalah vokalisnya seorang remaja wanita cantik nan jelita serta aduhai, suara vokal nya juga ciamik bagaikan neng audy. Mereka membawakan lagu bunga citra lestari yang berjudul ‘pernah muda’, dibawakan secara rapih dan tanpa cacat sama sekali. Mungkin kalau ada mas anang atau mas ahmad dhani, mereka mungkin akan dikontrak oleh 2 pencari bakat. Saya hanya melihat mereka sekali, setelah itu entah mereka berada, apa mungkin mereka sudah sukses diam-diam menjadi band indie. Semoga saja…..

Sekarang juga ada pengamen yang cukup berani melakukan aksinya dengan cara masuk kedalam bus karyawan, mereka rata-rata mengincar bis bis karyawan yang lewat sebelum masuk gerbang tol dan sebelum bis tersebut keluar dari gerbang tol. Mata mereka harus cekatan memilih bis yang akan dijajahi, jangan sampai bis angkutan TNI yang merka masuki ataupun bis kosong berisikan supir dan kernet saja, bisa mati gaya. Mereka juga harus hati-hati masuk kedalam bis karena tidak sedikit kelompok pengamen yg melakoni pekerjaan dengan cara seperti itu, bisa-bisa terjadi bentrok antar kelompok pengamen. Hasilnya? Ya jadi ajang indonesian idol, jangan sampai dua kelompok bertemu dalam ruangan sempit demi menghindari kejadian brutal. Mereka ini akan mengalami kekecewaan jika bis yang mereka incar ternyata dikunci pintunya atau didalamnya hanya berisikan karyawan yg tertidur pulas abis shift malam. Didalam pekerjaan mengamen ada aturan secara sepihak antara pengamen dan pendengar yaitu dilarang membangunkan pendengar yg sedang tertidur, peraturan ini juga sudah menjadi aturan international untuk para pengamen di penjuru dunia.

Dari semua pengamen yang saya temui, baru 2 jenis yang saya akui jika mereka sebagai musisi atau seniman. Pertama adalah pengamen yang menggunakan alat-alat musik beneran, seperti gitar, tam-tam, bass segede ikan paus, dan vokalis yg bernyanyi secara niat. Pengamen seperti ini baru ditemui sekali dalam seumur hidup saya di sebuah rangkaian kereta jurusan kota. Sedangkan pengamen yg sangat seniman sekali adalah bapak-bapak pembaca puisi, tidak semua orang bisa membuat puisi sebagus itu dan menurut saya dia membuatnya dengan inspirasinya sendiri karena dari kata-katanya merupakan kejadian yg sedang hangat dibincangkan saat itu, ya kalaupun bukan buatan sendiri, cara pembawaannya lah yang sangat diancungi jempols. Biarpun pengamen jalanan termasuk dalam pekerjaan pengemis tetapi mereka inilah yg jika beruntung bisa menjadi musisi, tak sedikit band band terkenal sampai saat ini merupakan kelompok bekas pengamen. Ya bagaimanapun juga, mengamen harus menjadi peekerjaan yg baik dan bukan termasuk kegiatan kriminal walaupun banyak oknum yg membuat gambaran pengamen sebagai pekerjaan hina. Semoga kedepannya para pengamen dapat diwadahi dengan binaan lebih baik serta membuat sebuah komunitas yg menjadikan lapangan pekerjaan para musisi jalanan menjadi lebih terarah dan positif….

Dulu saya pernah menjadi seorang pengamen gagal, baru memetik gitar dua nada saja, sudah diusir pemilik rumah dan langsung tobat (mental tempe banget ya) hahahahahahahaa…

2 thoughts on “Pengamen (apakah seorang musisi Jalanan?)

    M Dzulfikri Firdaus said:
    18 Oktober 2012 pukul 2:58 pm

    bisnis pengamen kayaknya menjanjikan nih,klo kita bisa jadi koordinator pengamen di lampu merah apalagi “anak buah” nya kayak bapak pembaca puisi ato pengamen yg pke bass segede ikan paus bayangkan klo setiap mobil di lampu merah itu ngasih gopek ato seceng kalikan dengan 100 mobil yang berhenti tiap 3 menit-an di lampu merah 500 x 100= 50.000 tiap sekali nyala merah, kerja dri jam 6.00-18.00 bisa menghasilkan omzet jutaan rupiah perhari…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s