Sunat

Posted on

Sunat adalah tindakan wajib bagi kaum adam beragama Islam, buat agama lain juga cukup wajib karena bisa membuat kondisi si otong menjadi lebih bersih dibandingkan tidak disunat. waktu saya menuju candi prambanan, saya melewati tempat sunat bernama “Bogem”, saya pun berbisik ke kanta “disanalah sebagian kulit titid saya hilang” sambil menunjukkan lokasi Bogem itu berada. dia hanya mengerutkan kening dan berwajah bingung mau berekspresi seperti apa mendengar bisikan setan. Harapan saya dia akan penasaran dan melihat bentuk anu yang sudah disunat seperti apa, sehingga kita bisa turun ke tempat sunat tadi sambil berwisata melihat pria-pria disunat.

Saya baru memulai disunat waktu kelas 5 SD, sekitar umur 10 tahunan dan faktanya adalah saya merupakan satu-satunya anak SD kelas 5 di SD Pekayon Jaya 6 yang belum disunat. Padahal orang tua selalu menyarankan saya untuk cepat-cepat disunat agar saya cepat dewasa dan tidak lagi ngeluarin kemaluan saat mbak Iki, mbak linda atau kak ani lewat didepan rumah. Sebenarnya ini rahasia, waktu kecil saya mempunyai sifat eksibis yaitu suka pamer benda pribadi didepan cewek-cewek cakep yg lewat. ya namanya juga anak kecil, suka pengen pamer apa yang saya punya sedangkan si cewek gak punya dan berharap si cewek berkata “ih… kok gw gak punya sih, iri deh”. sifat itu hilang dengan sendirinya ketika saya sudah disunat, mungkin karena sudah punya rasa malu dan merasa kalau saya ini sedikit tidak waras pada waktu itu.

Ibu saya selalu menyuruh untuk cepat-cepat sunat dengan berbagai imbalan jika saya mau disunat, saya sih tidak mengharapkan imbalan apapun karena kemauan sunat itu harus di imbangi keikhlasan kita akan kehilangan sebagian kulit tersayang.  disuruh nya sudah sejak dari saya kelas 3 SD, katanya kalau masih muda itu akan semakin gampang sembuhnya, kalau sunatnya baru masa-masa kelas 3 SMA, dijamin bakalan susah sembuhnya. saya sendiri belum ada niat untuk melakukan hal itu, mengeksekusi si Joni menjadi tampilan yang lebih baru. saya melihat temen-temen saya yang sudah disunat selalu berujar kalau sunat itu menyakitkan, nyawa seperti ditarik-tarik dan mau ngapa-ngapain saja tidak enak rasanya. membayangkannya saja saya sudah membuat saya menelan ludah berkali-kali.

ketika awal-awal kelas 5 SD, tiba-tiba saya ada keinginan untuk sunat, keinginan kuat layaknya keinginan seseorang untuk merantau ke dunia lain demi mencari arti kehidupan. saya langsung meminta disunat kepada ibu saya, ibu saya langsung menangis terharu dan memeluk saya sembari mengucapkan syukur berkali-kali. entah kenapa sepertinya ibu saya mengalami ekspresi berlebihan, padahal saya ini mau disunat bukan mau terbang ke bulan. Saya memutuskan untuk seminggu kemudian saya harus disunat, selama seminggu itu saya melakukan terapi yaitu merawat bagian intim saya direndam di air hangat dengan campuran rempah-rempah. saya seperti pengantin yang akan melakukan malam pertama bersama sang kekasih, bermandikan rempah dan membuat badan saya segar.

dalam seminggu itu saya dimanjakan oleh orang tua, dibelikan burger kesukaan hampir setiap hari (waktu itu burger kesukaan saya adalah burgernya KFC seri piala dunia yang terdapat kentangnya).  Tiba saatnya saya berangkat ke jogja sekalian mengunjungi rumah nenek, ibu saya menitipkan diri ini ke Bulik ndari, dia adalah kakak dari Bapak saya. dalam tradisi jawa ada istilah anak dibuang, saya ini sudah beberapa kali dibuang sama orang tua karena hari kelahiran saya sama dengan bapak sehingga saya harus di buang ke keluarga lainnya selama satu hari agar terhindar dari penyakit-penyakit yang sama dengan bapak saya. itulah alasan kenapa ibu saya tidak ikut ke Jogja, sedih juga sih ninggalin ibu untuk pertama kalinya.  selama di perjalanan pun saya kangen sama ibu, maklum saya ini tidak bisa jauh-jauh sama ibu karena selalu ingin dipeluk sang bunda agar perasaan saya tenang. sampai dirumah nenek saya tidak langsung menuju tempat penyunatan melainkan harus nginep sehari barulah besok harinya si Joni di eksekusi secara modern. Bogem merupakan rumah sunat paling modern saat itu, walaupun tidak semodern menggunakan laser sebagai alat eksekusinya namun mereka mengklaim membuat anak-anak tidak menangis saat disunat karena teknologi yang mereka pakai tidak menyakitkan.

Perasaan saya campur aduk saat berada disana, apalagi mendengar beberapa tangisan anak seumuran saya menjerit jerit keras kesakitan tetapi tidak sedikit yang keluar dari ruang eksekusi dengan wajah tersenyum manis seperti habis di cium suster cantik. Giliran nama saya dipanggil, saya dibawa kedalam ruangan kamar berisi 5 tempat tidur, masing-masing tempat tidur di beri sekat kain putih agar saya tidak mengintip apa yang sedang terjadi pada korban disebelah. saya tiduran pada ranjang ala puskesmas, didepan saya ada televisi yang menyiarkan channel TVRI, anjrit… jaman segini masih nyetel TVRI ?, Mtv donk. lalu seorang dokter sunat datang, pakaiannya benar-benar gak menggambarkan dia dokter sunat, jangan bayangkan dia berpakaian putih-putih dengan sarung tangan putih dan masker putih menutupi hidungnya, dokter sunat satu ini berpakaian bebas, baju kemeja batik dan berkacamata.

dia menatap saya dengan ramah sambil bertanya nama panjang saya, lalu dia menarik sarung saya ke atas pinggang dan disanalah si joni berada terkulai lemas tanpa ekspresi. Lalu masuk seorang bapak-bapak lagi berkemeja putih mengajak saya ngobrol sambil menyuruh saya membacakan surat Al Fatihah didalam hati berkali-kali. Di bagian selangkangan terasa di semprot oleh sesuatu, dingin banget rasanya sampai-sampai saya tidak merasakan apa yang terjadi dengan si Joni. disaat ngobrol-ngobrol itulah saya merasa sakit dibagian Joni dengan perbandingan sakit seperti digigit semut bakot hitam namun sakitnya hanya sekitar 5 menit saja setelah itu si bapak-bapak berbaju batik tadi memperlihatkan sisa kulit yang saya punya. Saya hanya berani melihat sedikit karena saya tidak tega, takut trauma saat makan usus ayam. mungkin si bapak berbaju putih itu hadir memberikan hipnotis kepada saya agar pikiran saya tidak terfokus ke bagian selangkangan dan ketika saya mulai merasakan sakit, si bapak itu makin gencar ngobrolnya ke saya, apaan aja diomongin.

Setelah adegan itu, saya dibawa ke ruangan istirahat, ruangan ini seperti kamar-kamar raja dimana terdapat tempat tidur besar dengan kelambu dan hiasan ala kerajaan jawa. Bapak saya sudah menunggu ditempat tersebut, sambil berjalan mengangkang saya menuju tempat tidur yang sudah ada bapak saya disampingnya. ada segelas teh manis anget dengan 2 buah kue yang boleh disantap gratis tanpa membeli, tujuan saya tiduran disini untuk menunggu resep obat dari dokternya sembari istirahat. di sebelah saya tidur ada seorang cowok seumuran saya juga baru kelar disunat, dia langsung ngerocos ngajak ngobrol layaknya teman lama, saya malah jadi bingung dia itu siapa, kenalan kagak malah main ngomong aja. Sepertinya dia berasal dari Jakarta karena logat bahasanya tidak mencerminkan kedaerahan sama sekali, malah ngomongnya lu gue bukan aku kamu hahahhahaha…

15 Menit kemudian nama saya dipanggil, lalu saya disuruh untuk pulang kerumah karena pasien lainnya menunggu untuk tidur-tiduran disitu. makin lama makin perih juga ya, gawatnya lagi perjalanan menuju rumah nenek kondisi jalannya penuh kubangan dan lubang walaupun kursi depan tempat saya duduk sudah dikasih bantal, tetep saja sakit. sesampainya dirumah nenek saya meminum obatnya dan langsung main badminton, yeaah mungkin cuma saya yang melakukan kegiatan tolol ini. main badminton sama sepupu saya dibelakang rumah nenek, pake acara nginjek tai ayam dan terjatuh pula. balik kekamar udah lelah banget lalu tidur tanpa merasa berdosa banget ngelanggar pantangan. Sebelum saya balik kerumah nenek, bapak2 berbaju batik sempat ngasih pantangan ke saya yaitu gak boleh makan ikan, nginjek tai ayam atau sapi dan tidur di sore hari. saya sadari ketiga pantangan itu saya langgar dan hasilnya saya menderita 2 hari dirumah nenek karena bekas jahitan dan bekas-bekas lainnya gak bisa dilepas.

ah sial, sepertinya si bapak itu sudah tahu kalau saya akan melakukan tiga hal tersebut tanpa perlu di nasihati. Apalagi ketika hari terakhir dirumah nenek saya sempat mengunjungi candi borobudur, naik tangganya  yang menjulang tinggi berlari-lari kecil kejar-kejaran sama sepupu saya. walaupun saya merasa sakit, tetep ada rasa puas di hati karena sudah lega atas kewajiban kecil saya sebagai umat Islam. sesampainya dirumah, ibu saya langsung menyambut dengan haru dan semangkuk bubur kacang ijo dari tetangga (buburnya sudah 2 hari dikulkas karena disangka tetangga saya sudah pulang pada hari itu). saya memang paling suka bubur kacang hijo dingin, saya langsung makan dengan lahap sembari melihat wajah ibu saya seneng dan lega anaknya sudah disunat.

Dewasa ini, saya harus mengulang lagi moment ini dengan menikah, saya ingin melihat wajah orang tua saya lega dan bahagia melihat saya menikah. orang tua saya sampai saat ini masih was-was meninggalkan anaknya sendirian dirumah apalagi belum menikah dan ingin sekali melihat saya menikah dengan pasangan yang benar-benar saya cintai. semoga tahun depan senyum bahagia serta air mata suka cita bisa tergambarkan di pernikahan saya nantinya, semoga juga saya mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi dari yang sekarang. amien…

berharap dapat kerja sesuai minat saya dan gaji yang sesuai untuk hidup rumah tangga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s