Cerita Singkat

Holiday To Jogja With Jotun Part. 2

Pukul 8 pagi kita harus bersiap-siap menuju candi borobudur, perjalan kali ini tiap-tiap peserta dibagi 7 grup dan saya kebagian grup 5 dengan warna identitas Pink, ya Pink… sebuah warna yang tidak saya sukai karena terlalu unyu dipakai oleh pria beralis tebal seperti saya. di balik warna pink ini justru saya jadi mudah membuat yel-yel dan dapat honor lumayan bisa buat beli kaos dagadu dan batik keluarga bumbum.  Bis-bis sudah di siapkan berdasarkan grupnya, untuk kali ini tidak dikawal oleh Patwal, gila aja kemana-mana dikawal, kasian pengguna jalan lainnya.

sebenarnya kalau melihat peta yang ada di gugel map, jarak candi terdekat sekitar hotel adalah candi Prambanan, mungkin karena candi borobudur lebih terkenal dibandingkan prambanan maka para peserta banyak yang pengen kesana. Selain itu prambanan sendiri lebih condong ke arah perbatasan, ya sama sih seperti borobudur yang berada di wilayah Magelang dan bukan berada di wilayah Jogjakarta. Jarak yang ditempuh untuk sampai disana sekitar satu jam, waktu yang pas untuk tidur sejenak sampai di lokasi. di sini saya kaya tukang martabak, malam hari melek tapi pas pagi dan siang harinya merem serta mengantuk. sambil menunggu perjalanan tiba, panitia dari genta tour memberikan 2 buah salak dan salak yang saya dapatkan hampir busuk semua nih tapi tidak apa-apa saya tidak jadi makan salak karena nanti susah BAB nya kebanyakan makan daging dan salak.

sampai juga di borobudur

ada sesuatu yang beda dari tempat wisata borobudur, tidak seperti biasanya pengelola memberikan peraturan ketat seperti :

– harus mengenakan kain batik sebagai sarung
– tidak boleh membawa makanan kecuali minuman
– tidak boleh bersandar pada bangunan candi, baik stupa maupun dinding
– tidak boleh sama sekali memasukan tangan kedalam stupa

sedangkan peraturan yang masih dipertahankan sejak dahulu adalah :
– dilarang memanjat candi, menaiki candi harus melalui tangga
– dilarang keras mencorat-coret nama pasangan di dinding candi
– dilarang melompat dari atas candi dengan alasan capek turunnya
– dilarang menjilat atau mencoba rasa candi dengan lidah sendiri.

sekarang tiap-tiap spot candi terdapat mas-mas sekuriti  lengkap dengan rompi anti peluru berwarna hijau dan priwitan, mungkin takut ada pengunjung yang berbuat tidak-tidak sehingga mereka bisa sigap mencegahnya.

tuh kan harus pake sarung, dah kaya dunia persilatan

padahal seingat saya candi borobudur tidak terlalu ketat aturannya, boleh bawa makanan karena waktu itu saya bawa ciki dan cokelat sebagai cemilan diatas sana. masukin tangan ke stupa mungkin dihilangkan karena banyak pengunjung musrik yang percaya kalau memasuki tangan kedalam stupa dan memegang tangan sang patung budha bisa terwujud cita-citanya. kalau saya suka masukin tangan ke stupa itu bukan karena ingin cita-cita saya terwujud, melainkan saya penasaran dia itu cewek apa cowok. Para penjual minuman juga jarang ada diatas candi, mereka berada dibawah area candi, kasian juga yang tiba-tiba kehausan dan harus turun dulu baru deh naik lagi (kurang kerjaan). lebih mengecewakan lagi adalah tangga di area candi banyak yang ditutup sehingga ketika akan menuruni candi harus ngantri satu persatu apalagi matahari dikala itu sedang menyengat membakar kulitku hingga kecokelatan.

setelah para peserta di rasa puaas mengunjungi komplek candi borobudur, kita diajak ke tempat pengrajin silver atau perak di kota gede, disana memang pusatnya perak-perak di hasilkan. wah saya bisa mencari-cari asesoris untuk kekasih tercinta ya, semoga saja ada yang cocok. perjalanan dari borobudur menuju kota gede cukup jauh, kira-kira satu jam lebih dikit waktunya ditempuh apalagi jalan-jalan ditempat ini lumayan sempit dan tidak mungkin bis rombongan menyalip kendaraan lain disini.

sampailah kita ditempat dimana para pengrajin perak berkumpul meracik pesanan pelanggan, disini kita juga bisa beli asesoris perak yang baru jadi dibuat oleh pengrajinnya. kondisi tempatnya lumayan rame banget, ada beberapa turis-turis asing yang berasal dari Jepang, disini para penjaga atau guide nya bisa berbahasa jepang lho.

ramai banget....

disini para pengrajin dengan ramahnya menerangkan bagaimana perak-perak tersebut bisa menjadi sebuah asesoris yang cantik untuk digunakan para pelanggannya. barang-baran yang sudah jadi ditaruh di ruang pameran yang sudah ada harga-harganya, saya pun langsung meluncur ke lokasi tersebut dan mencari-cari barang yang sekiranya bagus namun…. saya urungkan niat saya untuk membelinya karena beberapa asesoris seperti kalung saja paling murah 400ribuan dan asesoris paling murah adalah sendok kecil seharga 45ribu. harga sendok perak segitu bisa buat beli sendok makan stainless steel satu pack. saya juga bingung kenapa perak bisa mahal, kata temen saya harga perak tidak seperti emas dan susah dijual kembali bahkan harganya turun.

saya pun masuk ke toko batik yang menjual aneka kaos serta baju batik dan masih satu kawasan dengan Anshor Silver. ternyata sama saja, harga-harganya sangat menguras kantong, ada batik yang menurut saya cakep dan harganya murah namun stoknya lagi kosong, tinggal yang buat pajangan dan tidak boleh dibeli. saya harus nahan-nahan nafsu untuk membeli karena kalau sampai khilaf, bisa-bisa malah kehabisan duit sesampainya dijakarta.

Acara jalan-jalan di kota jogja untuk hari ini selesai sudah, semua bis kembali ke Hotel untuk siap-siap makan malam bersama dan acara motivator bersama james Gwee, gak tahu dah ini orang siapa dari namanya saja saya baru denger.

Acara Motivasi James Gwee

semua grup harus menampilkan keunikan saat acara berlangsung karena hadiah 3 juta menanti untuk grup terbaik dan 3 buah blackberry bagi mereka yang beruntung. saya sempet ketiduran saat acara James Gwee karena saya tidak mengenal dia itu siapa, apalagi ngomongnya pake 3 bahasa, Indonesia, Inggris dan cina sehingga otak saya harus berpikir keras untuk mendengarkan ceramahnya. setelah acara selesai pun saya gak ngerti apa yang sudah disampaikan orang tersebut, mungkin intinya kita harus menggapai impian kita dan membeli kaset atau buku om James Gwee.

setelah acara selesai, kita semua boleh balik ke kamar masing-masing, sedangkan saya ada janji mau ngajakin jalan2 mutia, kanta dan suci ke malioboro, katanya pengen tahu yang namanya angkringan itu kaya apa hahahaha, ya ampun norak deh kalian. akhirnya saya bertiga ngajak mereka jalan-jalan menuju sana dengan sedikit saya tipu, saya bilang jaraknya deket dan ternyata sebenarnya jauhnya minta ampun hahahahaha… pada kesel tapi akhirnya naik taksi menuju sana sehingga mereka tidak bete lagi deh. duduk-duduk makan malam di angkringan yang sebenarnya rasa dari makanannya gak beda jauh sama yang ada diwarteg, cuma bedanya kita makan di malam2 hari pukul 1 dinihari dengan suasana yang tenang nan ramah.

keangkringan cuma minum teh anget
cherry beller

sebenarnya mau saya ajak mereka ke tempat kopi joss deket stasiun tugu namun tampaknya mereka sudah lelah akhirnya saya nganterin mereka balik lagi ke hotel. sayang banget tawaran entu ditolak, padahal sebelum berangkat ke jogja mereka penasaran dengan yang namanya kopi joss, kopi joss itu sendiri merupakan secangkir kopi yang ditambahkan langsung arang panas sehingga menimbulkan sensasi joss.

Lanjut ke Part 3 ya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s