House Of Raminten

Posted on

dari nama kafe nya terbilang aneh ya, siapakah raminten dan sepertinya akhir-akhir ini bukan menjadi nama asing disekitaran malioboro dan pusat kota Jogjakarta. betul saja, ternyata raminten sendiri adalah nama dari seorang ibu-ibu yang fotonya ada di setiap sudut penjualan makanan dari rumah makan Raminten itu sendiri. pose-posenya sungguh tidak biasa dan cukup menggelitik, sepertinya maskot dari raminten ini adalah seorang wanita jawa dengan daya humor tinggi.

ketika saya sedang di malioboro untuk berbelanja oleh-oleh, saya di BBM oleh atasan saya untuk segera menuju ke House of Raminten, nama ini sebenarnya tidak asing buat saya karena saya langsung teringat rekomendasi beberapa teman untuk mengunjungi tempat tersebut ketika saya ada Di Jogja dan menurut dia belum lengkap jika belum kesana. bergegas lah saya bersama 3 orang teman saya menuju Raminten dengan menggunakan Taksi, beruntung sang supir taksi mengetahui lokasinya secara tepat sehingga jarak yang ditempuh tidak lah jauh danTarif argonya pun hanya 13ribu rupiah namun harus bayar 15ribu karena minimum tarif argo.

sesampainya disana, kita disambut dengan pelayanan nan ramah dengan meminta kita untuk mengisi daftar tamu karena meja-meja di cafe telah penuh dan kita harus waiting list yang entah sampai kapan akan mendapat giliran, jelas saja saya tidak mau jika harus waiting list karena dari tempat menunggunya saja sampai penuh seperti itu. Untunglah atasan saya sudah booking meja dan beliau juga sudah ada disana bersama sebagaian teman-teman kantor. konsep rumah makan ini seperti kafe, dimana kita boleh berlama-lama ditempat ini sambil menikmati sajian dan kata teman saya tempat ini buka 24 jam tapi ya kalau sudah tidak ada pengunjung yg dateng mereka akan tutup.

suasananya agak mistis karena ada kereta kencana tua dengan sesajen yang tidak boleh dimakan oleh pengunjung, jadi teringat teman saya yang hobi banget makanin sesajen dijalan, katanya bisa menguatkan daya insting nya terhadap alam gaib. tempatnya sendiri minim cahaya walaupun ada lampu-lampu kristal tapi tetep tidak niat banget cahaya. seru juga sih buat ngobrol-ngobrol panjang tetapi kurang asik buat yang berbody jangkung seperti saya karena lampu-lampu nya menggantung pendek sehingga satu lampu berhasil pecah oleh punggung saya. yeay….

pelayan disini cukup unik lho, saya kira akan lama menyajikan makanan karena di depan tertulis “maaf jika pelayanan kami lama karena kami berasal dari lulusan SLB” ternyata gak juga kok, masih lebih lama dilayani solaria. Pelayan disini ada dua, yang pertama sang pria dengan setelan kemeja putih dasi kupu2 danrompi hitam, dia bertuga sebagai pembawa makanan dan kita gak bakal bisa memesan makanan sama dia. sedangkan yang wanita mengenakan pakaian adat jawa dengan kemben yang menutupi dadanya, tugasnya mencatat pesanan dan memperlihatkan menu-menunya. jangan harap menu-menu yang kita pesan akan diantar oleh si pelayan wanita.

menu-menu yang ada di buku menu tidak begitu jelas dengan nama-nama aneh tapi berisikan kosakata jawa. saya memesan Bakso sapi uleg, saya memesan ini karena ada kata uleg nya, apakah baksonya diulek? aneh donk, buat cuci mulut saya pesen Goedir coklat, sejenis puding dan minumnya Pancaniti yg entah terbuat dari apa ini minumannya. awalnya mau mesen cemilan macam jangkrik goreng keju tapi sayangnya sudah abis, ternyata makanan buat burung itu laris banget, kalau dijakarta mana ada yang jual jakrik untuk pakan manusia. sedangkan yang lainnya berhubung sudah banyak yang makan malam di malioboro sehingga pesanannya cuma kupat tahu, es dawet dan es kelapa muda.

menu malam kita

ketika menu-menu datang, yang ada kita cuma nganga dengan mulut terbuka dan tertawa terbahak-bahak. pelayannya pun sepertinya sudah terbiasa melihat pelanggannya tertawa sehingga dia hanya berekspresi dingin atau memang dia tidak boleh ikutan ketawa biar tidak terlalu ramai. kenapa kami ketawa?, karena es dawet dan es kelapanya berukuran gelas satu liter atau 10x lipat dari gelas wine biasa, gede banget dan memang puas (tidak habis). kupat tahunya bisa buat makan satu keluarga berisi 4 orang dan harganya memang ya ampun murah sekalee, es dawet satu literan cuma kena 11ribu sedangkan kupat tahu tidak sampai 10ribuan. wah ini sih yang jadi alasan kenapa tempat ini ramai banget sampai benar-benar waiting list.

sedangkan menu yang saya pesan seperti bakso sapi uleg tidak terlalu istimewa, bedanya isi baksonya terdapat tahu yg dipotong-potong dadu dan lontong yang bikin makan baksonya kenyang. mirip seperti menu bakso yang ada di kantin kantor, yang memang kebiasaan saya mencampur lontong ke bakso, padahal lontongnya buat menu opor sedangkan bakso sudah dijatahkan menggunakan mie. ya makan sampai 12 orang tidak sampai ngabisin 150ribu, bener-bener harga mahasiswa dan pelayanannya cukup memuaskan. saya pun harus buru-buru balik karena takut disuruh ganti lampu kristalnya dan mungkin saja harga lampunya lebih mahal dari menu makanannya.

House Of Raminten
Jl. FM Noto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s