KamiKaze (My Band)

Posted on

Foto Jaman SMA

Sebuah band dengan visi dan misi yang sama, yaitu bermain musik dengan hati serta bebas lepas. Saya sendiri banyak kenangannya dalam band ini, walaupun status nya hingga sekarang merupakan tanda tanya besar, dibilang aktif ya jarang main tapi dibilang gak aktif tapi masih suka bikin lagu. Saya menyukai kamikaze dibandingkan band-band saya yang lainnya karena semua lagu yang kita ciptakan berdasarkan pengalaman hidup seseorang, baik diri kita ataupun orang lain yang kita cintai.

Berawal dari sebuah persahabatan saya dan Siswo Rinoto (biasa saya panggil dia Coby) pada waktu SMA, Coby tidak bisa memainkan alat musik apapun namun ada keinginan kuat bermain musik untuk mencurahkan inspirasinya. Coby suka banget ikut saya ngeband dengan teman-teman lainnya walaupun hanya sebagai penonton, hingga akhirnya belajar main gitar bersama-sama (saya sendiri coba-coba main gitar lagi) waktu itu mentornya bernama Moris yang permainannya sama dengan Yngwie Malmsteen namun orangnya terlalu komersil, gak akan main bagus kalau gak dibayarin nyewa studionya.

Semakin lama coby semakin jago main gitarnya, sedikit demi sedikit sudah ada peningkatan apalagi influence nya dalam bermain gitar adalah seorang Paul Gilbert, gitaris dari Mr.Big yg terkenal dengan tampilan sederhananya dan foto-foto lucunya. Coby mulai berani membentuk band dengan personil saya, Febri dan dirinya sendiri. Nama Band kita pada awalnya bernama Bugs Bunny, alasan kenapa menggunakan nama tokoh kartun kelinci dari Looney Tunes karena kami menyukai karakter tokoh kartun tersebut yang selalu ceria dan tertawa.

Lee, sang Bassist dan Vokalis 2

Lagu-lagu semacam Sheila On 7 menjadi lagu wajib kami dalam mengulik lagu-lagu untuk dimainkan didalam studio, sesekali kita coba untuk membawakan lagu sendiri dari ciptaan coby. Kita merasa kalau Cuma bertiga ada kekurangan dalam sound, apalagi kita tidak mau dicap band Blink 182 seperti band-band SMA lainnya. Masuklah Apriyadi yang tak lain adalah sepupu Coby berposisi sebagai ryhtem, kita pun mencoba-coba bermain lagu-lagu dari band greenday karena terbawa  arus si Apri yg menyukai lagu-lagu semacam greenday.

Lalu tak lama Apri pun keluar dari band karena ada masalah keluarga serta pacarnya sehingga tidak ada waktu untuk bermain musik bersama kami, kembali lagi kami hanya bertiga bermain musik. Demi meningkatkan rasa keberanian serta percaya diri, saya mengajukan band Bugs Bunny untuk bermain dipentas acara Tujuh belas Agustusan didaerah Jati Asih pada Tahun 2005 namun dugaan saya akan bermain bagus ternyata salah, aksi panggung kami berantakan bangeet. Dapat jatah main setelah solat magrib, dapat gitar rusak dan beberapa sound yang baru saja di stel ulang karena sehabis dimatikan selama 2 jam. Saat membawakan lagu pertama (Pejantan Tangguh – SO7) raut wajah Coby sangat gugup seperti menahan berak, wajar saja karena ini adalah panggung pertama dia dalam hal bermusik, sedangkan saya sendiri sudah 4 kali bermain diatas panggung dan Febri sebanyak 2 kali.

Coby, Sang Gitaris dan Vokalis.

Lucu namun memalukan, beberapa kali Coby salah memasukan kunci-kunci gitarnya, belum lagi accident dimana dia salah menginjak efek gitar sehingga suara distorsi yg dihasilkan seperti kaset kusut. Kita disuruh membawakan dua lagu namun akibat rasa gugup dari Coby yg berlebih sehingga kita hanya bisa memainkan satu lagu saja, itu pun dipotong sama Coby karena seharusnya ada sesi dia bermain melody ala paul Gilbert tetapi dihilangkan sehingga saya kaget menyelaraskan ketukan drum ke bass., bassis saya pun hanya terdiam tanpa ekspresi yg mungkin bermaksud menahan malu.

Coby sampai absen ngeband selama 2 minggu karena masih merasa malu sama saya dan Febri, buat saya tidak masalah karena hal itu wajar bagi seorang musisi yang baru melihat keramaian penonton dari atas panggung. Saya pernah grogi, gugup sampai lepas stik saat pertama kali manggung di sekolah menengah pertama hingga ditertawakan teman-teman dan tukang sapu lapangan sekolah. Setelah Coby kembali dari perenungan malunya, kita kembali bermain musik seperti biasa, saya mengenalkan Coby dengan Lee (Nama aslinya Yuli Warsito) seorang cowok tinggi putih rambut keriting dan sangat menyukai wafer gery salut. Lee ini mantan vokalis band saya waktu SMP, sama seperti Coby, dirinya tidak bisa bermain musik sama sekali. Lee saya nobatkan sebagai Vokalis band Bugs Bunny sambil sesekali coba-coba bermain bass, ia ingin sekali menjadi pemain bass karena menurutnya sangat mengasyikan mentowel towel senar tebal.

Masuklah Septian sebagai personil coba-coba untuk memegang rhytem, personil kita menjadi 5 orang namun pemain tetap untuk memegang alat hanya saya dan coby, kadang-kadang bass di isi Lee, Gitar di Isi Febri dan Septian sebagai Vokal namun kita bermain bersama Septian tidaklah lama karena perbedaan ideologi serta masih idealisnya septian dalam bermain musik sehingga kita harus mengikuti peraturan serta arasemennya walaupun kita memainkan lagu saya atau coby. Keluarnya septian sebenarnya ingin serius berada di band Erni yang lebih menjual karena vokalisnya cewek cantik mirip marshanda dan sudah sering manggung di panggung indie besar. Mundurnya Septian dari band Bugs Bunny ternyata menular pada personil lainnya, Febri mengundurkan diri karena ingin serius mengurus band barunya bersama Inung dengan nama Friendship Band. Febri ini orangnya emang latahan, saat itu memang lagi trend-trendnya band bervokalis cewek, ya walaupun serius dengan band barunya, Febri masih tetap sesekali bermain di band kita.

saya sendiri sebagai Drummer saja

Bugs Bunny kini hanya tersisa 3 orang, Saya tetap memegang Drum, Coby tetap sebagai vokalis serta bermain gitar, sedangkan Lee sudah mengalami kemajuan dalam hal bermain bass (niat sampai beli buku-buku bass). Setiap hari sabtu atau minggu, kita bertiga suka kumpul dirumah saya sambil mengarang lagu, beberapa lagu sudah kami rampung dengan arasemen sederhana namun nantinya akan di buat semenarik dan sebagus mungkin di studio. Sejak saat itu kita sudah jarang bermain lagu-lagu band lain melainkan bermain lagu-lagu sendiri untuk serius membuat album. Setelah memiliki beberapa lagu, akhirnya kita membuat rekaman akustik yg cukup bagus. Rekaman dilakukan dikamar saya karena suaranya lebih hening dan saya juga memiliki alat-alat unik yg bisa menipu orang kalau saya mempunyai drum serta gitar yamaha. Sebuah Album Akustik paling berharga bagi kita, semua lagu 75% diciptakan dari inspirasi seorang coby, 10% dari saya dan 5% dari Lee.

Sayangnya, ada konflik internal antara coby dengan Lee sehingga lee tidak ada kabarnya selama 3 bulanan. Sebenarnya konflik tersebut tidaklah besar, hanya kesalahpahaman saja antara kondisi kesehatan masing-masing, apalagi waktu itu Lee sedang pakai kostum jaket berbulu, jadilah mereka berdua main ceng-cengan. Posisi pemain bass yang kosong tidak menyurutkan kita untuk terus bermain band, tanpa pemain bass kita pun masih rutin latihan hingga membuat penjaga studio langganan kami merasa heran dan kagum. Atas kejadian tersebut, coby mencetuskan nama KamiKaze sebagai nama band baru kita. Nama itu tercetus saat kita nekat selalu latihan berdua serta membuat lagu-lagu baru hanya berdua saja, memang ada perasaan kosong di musik jika tidak ada pemain bass.

Febri terkadang mengisi kekosongan Bassist, diam-diam diketahui Lee membuat band baru bersama teman-teman SMP nya. Saya berusaha masuk kedalam band tersebut tapi malah membentuk band baru beraliran imo yang secara tidak sengaja berisikan orang-orang yang pernah ada di Kamikaze tetapi umur band tersebut tidak bertahan lama, hanya beberapa minggu saja kami memutuskan untuk bubar. Lee kembali ikut ke KamiKaze, Coby memang sangat senang dengan Lee karena permainan serta jalan kehidupan musisinya yang sama persis, mereka berdua sama-sama belajar bermain musik dari Nol lalu perlahan menjadi meningkat skillnya berkat kerja sama. Tidak lama setelah Lee bergabung, kita membuat rekaman akustik kedua namun rekamannya lebih sederhana dibandingkan album pertama. Di Album kedua ini, Lee menyumbang sebuah lagu dengan suaranya yg khas banget.

Pada tahun 2009 kita mendapatkan kabar buruk, Coby dan keluarganya akan pindah ke kalideres untuk selamanya. Awalnya kita masih yakin untuk bisa meneruskan cita-cita kita selama ini, tetapi secara perlahan kesibukan masing-masing membuat kita jarang ketemua. Saya sudah mulai bekerja diperkantoran, Lee juga bekerja di sebuah pabrik sepeda motor sehingga waktu liburnya tidak tentu dan Coby mulai bekerja secara gila-gilaan di gedung Gajah Mada. Susah memang untuk menyamakan waktu untuk latihan, ya walaupun sulit, kami selalu ingin terus latian dan melakukan rekaman non akustik. Kami yakin lagu-lagu yg kami ciptakan bisa diterima walau saya sadari kalau lagu kami bukan berada di waktu atau zaman yg tepat. Lagu-lagu kami seperti Sheila on 7 dicampur Tic Band yang saat ini tidak diterima oleh masyarakat muda, lebih laku lagu-lagu macam melayu dengan lirik kaku itu-itu saja.

Saat ini kita hanya bisa menunggu waktu sambil mencoba untuk terus berkarya ditempat masing-masing, kita masih sempat bertemu untuk latihan meskipun jarang-jarang, apalagi Coby sudah memiliki Istri dan baru saja memiliki seorang putra yg lucu. Kita gak munafik kalau band kita ingin terkenal, memiliki karya yg bagus dan kesuksesan material menompang hidup kita nanti tapi satu hal yang pasti, kita tidak ingin berkarya hanya untuk hari ini, melainkan terus menerus melawan arus dan dunia musik akan menyeleksi siapa yg bisa bertahan dan siapa yg akan dihilangkan karena musik. Semoga Tahun 2012 kita sudah memiliki sebuah album rekaman secara nyata dan bisa manggung bersama musisi nyata yg memiliki jiwa seni, bukan musisi yg hanya bermusik demi uang sesaat.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s