Mari Mudik Part II

Posted on

Hari jumatnya kita ke pasar untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk tetangga, seperti lanting, kue sagu, kue satu dan beberapa panganan khas kota Purworejo. Kalau di pasar harga oleh-oleh jauh lebih murah karena di bungkus sudah borongan sehingga tidak ada harga satuan melainkan kiloan, seperti lanting yang saya beli seharga 50ribu sudah mendapatkan lanting dengan banyak setengah karung beras dan lanting warna warni seharga 55ribu sebanyak guling orang dewasa. Ayah sendiri gagal dapetin soangnya karena soang yang ia cari tidak galak dan terkesan sedang dijemput maut, kemungkinan akan melanjutkan pencarian soang didaerah kutoarjo.

ayo kita belanja oleh-oleh

Siangnya saya melaksanakan sholat jumat, ada keunikan sholat di masjid tempat ini berada karena semua jamaahnya menggunakan sarung dan tidak ada yang menggunakan celana panjang bahan ataupun jeans. Saya pun harus menggunakan sarung sekalian nutupin borok yang tak kunjung kering, lebih anehnya lagi Cuma saya saja yang membawa sajadah karena lantai masjid sudah tertutup oleh karpet, jadi merasa seperti juragan tambak lele. Setelah jumatan langsung nyekar ke makam kakak dan beberapa sesepuh eyang buyut, semakin hari semakin tidak terawat tanah pemakaman disana, banyak pohon tumbang merusak pemakaman dan belum disingkirkan, saya seperti berada dipemakaman tua yang memang sudah berumur ratusan tahun karena terdapat sebuah kuburan yang ditulis wafatnya tahun 1872.

Setelah nyekar, dilanjutkan dengan pencarian soang di daerah kutoarjo. Kali ini saya sebagai sopir mengantar ayah ke pasar di kutoarjo, naas, mobil yang saya kendarai ditabrak oleh mbahnya carry dengan merk adiputro.  Saya sedang berhenti dilampu merah selang beberapa detik berhenti tiba-tiba ada suara dentuman keras dan mobil melaju kedepan sejauh 1 meter, beruntung saat itu mobil sedang saya rem, andai tidak saya rem kemungkinan besar menabrak mobil yang ada didepan. Kondisi mobil ayah saya cukup parah, bemper besi masuk kedalam nempel dengan bagian bemper plastik belakang. Lebih parah lagi memang si carry itu, depannya hancur dan tanki bensinnya bocor. Terjadilah argumentasi yang sengit dan akhirnya kita ngikutin mobil dia kerumahnya untuk minta ganti rugi, alasan ia menabrak itu karena mobilnya tidak memiliki rem yang pakem dan anehnya sisupir berani-beraninya menjalankan kendaraan dengan melaju kencang.

sebuah insiden yang memakan waktu

Kami mengikuti orang tersebut hingga pelosok hutan, kebun dan daerah kering lainnya. kalau hanya lecet-lecet saja sih mungkin tidak terlalu ngotot ayah saya minta ganti, pasalnya bemper belakang tidak termasuk asuransi kendaraan karena termasuk asesoris diluar asli Toyota sehingga harus beli baru yang harganya sekitar satu jutaan. Ini sudah ke empat kalinya saya ditabrak dari belakang, 3 dengan mobil timor kesayangan dan 1 dengan mobil milik ayah. Kemungkinan kuat saya mempunyai kekuatan dimana saya bisa menghilangkan kendaraan yang saya bawa sehingga tak tampak dijalanan kecuali ditabrak. Setelah setengah jam mengikuti perjalanan kenegeri antah berantah akhirnya sampai juga dimarkas orang yang nabrak, mereka merupakan pengusaha sound system orkes dangdut dengan bisnis yang cukup seret di tahun ini.

ngasem... jauh bener rumah tuh orang..

Setelah urusan selesai saatnya melanjutkan perjalanan ke pasar kutoarjo namun lagi-lagi mengurungkan niat karena jalur sudah dipadati oleh mobil-mobil dengan plat B yang ingin pulang ke jakarta dan itu pun tidak bergerak sama sekali alias macet total. Akhirnya balik lagi kepasar purworejo dan mencari soang di belakang pasar tempat para penjual unggas kopdar mengevaluasi hasil dagangannya. Setengah jam kemudian dapatlah sepasang soang yang berkoar-koar berisik didalam karung beras, saya saja sampai kaget tiba-tiba ada suara dinosaurus dibelakang mobil. sampai dirumah ayah, soang-soang tersebut langsung dilepas kedalam kandang yang sudah disediakan oleh ayah. Soang tersebut bukan untuk diternakan melainkan untuk pengganti anjing karena soang akan berteriak jika ada orang lewat disekitar kandangnya, maklum kebun ayah tidak ada batas temboknya karena langsung menyatu dengan sawah dan sering dijadikan tempat istirahat para penggembala kambing.

sepasang soang baru beli...

Malam harinya saya sama kakak diutus mencari akua galon, dari alfa ke alfa tiap desa tidak ditemukan akua galon sama sekali, namun saya menemukan banyak akua galon ditoko biasa. Satu pembelajaran moral pada kejadian kelangkaan akua galon adalah jangan pernah berfokus pada hal yang baru karena jawaban justru ada di hal yang sudah lama, maksudnya jangan terlalu berharap pada toko seperti alfamart yang notabenenya merupakan toko modern dan baru, padahal ditoko biasa dan toko-toko lama tradisional terdapat barang yang saya cari.

love you mom....

Sabtu subuh pukul 5 kita sudah jalan menuju jakarta, sebelumnya berpamitan kepada ayah dan ibu yang membuat saya kembali menangis meninggalkan ibu disini. 3 hari bertemu rasanya masih kurang dan ingin rasanya bersama ibu dan ayah selama seminggu untuk banyak bercerita tentang kisah hidupku di bekasi. Aku hanya ingin meminta doa keselamatan dan doa untuk kesuksesan saya untuk hari nanti, semoga ibu dan ayah selalu sehat-sehat saja di sana. Perjalanan pulang menuju jakarta buat saya sangatlah tidak lancar, macet total di banyumas, selain itu sedikitnya tempat pembuangan air kecil sehingga saya harus menahan rasa ingin pipis hingga menemukan tempat yang layak, walaupun menemukan tempat yang layak itu pun airnya sedang kering dan harus menunggu pemilik wc umumnya memenuhi ember untuk cebok.

Selama diperjalanan hanya ada pemandangan plat B bergerak lamban, beberapa motor dengan muatan fantastis melaju gesit diantara kemacetan hingga beberapa motor terjatuh akibat motornya terdapat bracket tradisional yang terbuat dari kayu. Kenapa para pengguna motor nekat membawa barang banyak dan anak kecil, pantas banyak yang mudik Cuma mengantarkan nyawanya saja, jauh dari harapan mereka yang mudik ingin berkumpul dengan keluarga mereka masing-masing. Sampai di cilamis malam hari, artinya giliran saya yang menyetir sampai bandung, sepertinya saya hanya kuat sampai bandung saja. Jalur naik turun curam maupun terjal saya lewatin dengan sahabat lampu terang dari bis bis besar lawan arah, beberapa mobil menghentikan perjalanannya akibat mengantuk dan kelelahan, Alhamdulillah saya masih diberikan kekuatan untuk terus bertahan mengemudikan mobil sampai garut.

Di garut macet total selama satu jam hanya bergerak 5 meter selama 5 menit sekali, ada satu mobil yang ketiduran di jalan saking menunggu lama antrian kemacetan. Sebenarnya ingin juga tidur dipinggir jalan namun rasa-rasanya bakal mengecewakan mertua kakak saya yang tiada henti berbicara “kok lama ya nyampenya, macet banget ya, sudah sampai mana ini?, masih jauh ya?” saya ingin banget nyetel lagu sekeras-kerasnya untuk menghilangkan omongan itu namun saya ingat kalau didalam mobil ada keponakan saya yang masih bayi dan asik tertidur pulas. Belum lagi kakak saya yang beberapa menit sekali mengigau dan slalu berucap “awas mobil”, padahal saya sedang berhenti dan didepan saya memang ada mobil macet. Ketika berjalan menyalip dijalan menanjak pun banyak yang berjikir seakan saya akan membawa mereka ke neraka, memangnya pada suka dibelakang bis dengan asap kenalpot hitam pekat nya?, gak toh…

sampai bandung saya harus berhenti untuk menikmati segelas kopi dengan harga terserah, baru kali ini nemu penjual kopi dengan harga terserah lho, sadis gak tuh. Niat awal mau gantian nyetir namun sampai ditengah-tengah cipularang abang saya sudah memiliki tanda-tanda mengantuk dengan berjalan kekanan kekiri tidak stabil dan akhirnya saya kembali menyetir sampai bekasi, tetap ditemani dengan ngigonya abang saya yang benar-benar cukup mengganggu, untuk saya bukan tipe pengemudi yang cepat banting stir kalau ada yang mengagetkan. Lumayan capek juga menyetir dari jam 8 malam sampai jam 5 subuh, seharian penuh pulang ke Bekasi dan rasanya tulang pantat sudah mulai tak terasa.

Jam 5 subuh sampai juga dirumah, langsung buru-buru turunkan barang bawaan dan solat subuh lalu berbaring di kasur untuk beristirahat dengan tenang tanpa guncangan ataupun goyangan. Saya bangung jam 12 siang, itupun harus bersih-bersih rumah serta mengisi air dan memasak air, mata semakin turun sampai jam 11 malam baru bisa tertidur secara normal. Alhamdulillah Allah masih memberikan saya dan keluarga keselamatan, ketika artis kecelakaan dijalur mudik dan ketika banyaknya para pengendara yang meninggal dijalur mudik, semua ini berkat kesempatanmu ya Allah atas ijin mu aku selamat dari segala macam bencana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s