Cerita Singkat, Kuliner

Mari Mudik Part I

Lebaran identik dengan pulang kampung, begitupun dengan saya yang harus pulang kampung untuk bertemu dengan kedua orang tua tercinta didaerah Purworejo. Awalnya saya sudah niat mau berangkat lebih dulu pas dapat libur dari kantor 5 hari sebelum lebaran namun berhubung abang saya tidak ada supir pengganti ya akhirnya saya mengikuti jadwal dia mudik setelah solat ied. Saat pemberangkatan sih terasa happy banget, sampai pamit ke tetangga dengan penuh sukacita seperti mas-mas kumisan dapet hadiah jalan-jalan ke ethopia.

Sayangnya, pas mau berangkat dapat kabar yang tidak mengenakan karena mertua abang saya mau ikut kerumah orang tua saya, niscaya acara mudik dikampung orang tua bakal kacau balau. Pantas saja dari malam sebelum berangkat, abang saya selalu wanti-wanti tidak membawa banyak barang padahal saya sudah mencatat barang-barang mana saja yang akan saya bawa termasuk barang-barang milik orang tua. mobil terasa penuh sekali, apalagi mertua abang saya bawa barangnya kebanyakan sehingga saya pun mesti mangku tas kecil milik kakak ipar saya.ah sudahlah, tidak perlu saya menceritakan kekecawaan saya terhadap keluarga kakak ipar saya yang mendadak ikutan mudik.

Perjalanan dari bekasi jam 10pagi menuju jalur selatan melewati cipularang dirasa sangat lancar, agak tersendat ketika menuju nagrek karena padatnya arus pemudik menggunakan roda empat. Belum lagi mobil-mobil yang trouble dijalan membuat pengemudi harus awas menghindari mobil bermasalah itu, Alhamdulillah mobil yang digunakan keluarga saya tidak terjadi masalah. Kita beristirahat 3 kali diwaktu terang untuk melaksanakan solat dzuhur dan makan siang serta buang air kecil dan mengganti popok si kecil, untung si kecil gak terlalu rewel nangisnya, asal sering-sering dikasih susu biar si kecil kenyang dan mengantuk.

Jam 8 malam saya memasuki daerah simpuh, normalnya jam segini sudah sampai di gombong lho tapi berhubung ini adalah hari lebaran sudah sewajarnya akan lebih lama sampai ditujuan dibandingkan pergi dihari biasa. Seperti biasa, rasanya tak lengkap jika tidak mampir direstoran pringsewu, restoran faforit keluarga saya karena ada menu es duriannya yang lezat dan segar. Saya tidak banyak makan untuk menghindari rasa kantuk akibat kekenyangan karena saya harus menyetir mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung orang tua. jalur menuju gombong sangat sepi sekali dan begitu gelap namun harus berhati-hati karena jalurnya naik turun seperti di puncak dengan tanpa penerangan dan arah lawan didominasi oleh bis-bis besar dengan sorot lampu yang menyilaukan.

Memang berat untuk menyetir mobil dimalam hari, kalau mata benar-benar tidak kuat pastinya akan membuat mengantuk dan akhirnya kecelakaan, Alhamdulillah saya masih kuat menyetir bersama lampu-lampu mobil arah lawan yang menyilaukan seperti giginya bang bokir. Alhamdulillah jam 2 pagi kami sampai dirumah orang tua, ayah langsung membuka pintu dan ibu menyambutku dengan pelukkan erat seperti bertahun-tahun tidak bertemu. Setelah nurunin barang dari mobil, saya langsung tertidur pulas tanpa bermimpi karena saking capeknya menikmati perjalanan pulang.

 

sampai juga dikampung halaman 🙂

Pagi harinya terasa begitu berat karena masih mengantuk namun saya harus siap-siap untuk berlebaran bersama keluarga nenek, langsung saja sarapan, mandi dan beres-beres baju lalu menuju kebun halaman belakang karena semalam tak sempat aku mengintipnya. Saya pun tersenyum merona karena kebun belakang sudah rapih sekali seperti rumah ini yang sudah tidak seperti rumah belum jadi. Sudah ada kandang ayam, kelinci dan soang namun kandang soangnya masih belum berpenghuni. Rencananya sih akan beli hari jumat besok karena pasar unggas Cuma ada dihari jumat sedangkan hari biasa hanya di isi pedagang sayur dan oleh-oleh saja.

sudah mantab kebun nya..
sudah ada kandang ayam kampung nya
ada kelinci juga 🙂
ini kandang anak ayam kampung

Bersama sang mertua kakak yang kemana-mana minta ikut, kami menuju rumah nenek yang letaknya tidak jauh dari rumah ayah dan ibuku ya sekitar 2 kiloan. Sisanya Cuma berkeliling sekitar rumah nenek untuk berlebaran, kerumah mbah mantri yang umurnya sudah lebih dari 100tahun ya walaupun sudah tidak sekuat dulu dan sekarang menghabiskan waktunya hanya tidur dikasur.

Saat menuju rumah pagak indah, saya melewati warung baso bernama TKM, ya ini adalah warung bakso yang cukup legendaris di banyuurip karena tidak pernah sepi pengunjungnya apalagi di hari lebaran seperti ini para pelanggan harus rela antri untuk dapat tempat duduk atau hanya sekedar membungkusnya untuk makan dirumah. Ada rencana nanti malam mau mampir ke warung bakso ini karena penasaran dengan rasanya.

Malam harinya saya dan abang jalan-jalan berdua menuju alun-alun jogjakarta, awal niatnya mau cari apotik yang jual arak cina untuk mengobati borok kaki saya yang tak kunjung kering dan makin berdarah, beruntung di purworejo tidak ada vampire maupun drakuli. Suasana alun-alun pordjo lumayan ramai, langit malam dihiasi kembang api yang meletus berwarna warni. Sedikit ada accident ketika kami berdua sedang berada ditengah lapangan alun-alun, tiba-tiba kembang api besar tidak terbang keatas melainkan kesamping menuju kerumunan warga yang menikmati lesehan dilapangan, beruntung tidak ada korban jiwa dan saya pun sedikit terkena percikan apinya sedikit pada bagian tangan kiri.

rame banget di alun-alun
akhirnya dapet parkir juga...

Saatnya berkuliner ria, ah.. saya tidak tahu makanan kuliner khas kota pordjo itu apa, rata-rata makanan yang dijual disini ada dijakarta. Akhirnya saya memesan 10 kue serabi solo yang rasanya eeeenaaak banget, Cuma 1000 perak per kuenya dengan topping misis coklat, keju dan pisang. Saya suka topping pisangnya karena menggunakan pisang raja yang benar-benar masak dan legit sehingga terasa manis-manis nikmat. Saya juga nyobain yang namanya wedang ronde, penasaran dengan bola-bola kenyal yang katanya bikin nikmat wedang jahenya.

serabi solo yang enak banget...
tukang ronde nya lagi asik ngeracik

Sambil nunggu wedang rondenya tersaji, saya pun memesan mie ayam, hahaha jadi inget si dagu panjang yang cengin saya jauh-jauh ke jogja Cuma makan bakso. Mie ayamnya beda nih, bening kuahnya dan benar-benar gurih walaupun yang ngejual Cuma pake gerobak mie ayam biasa. Ronde nya agak mengecewakan, Cuma satu bola rondenya dan ternyata sama seperti kue mochi ya, saya kira seperti kue apa gitu. Saya aduk-aduk tuh mangkok kecil eh ternyata Cuma sebiji, biji manusia saja ada dua kenapa si ronde Cuma ada satu ya?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s