Rumah baru ayah…

Posted on Updated on

rasanya air mata ini ingin mengalir dari pelupuk mata namun aku bertahan untuk tidak menangis dikala kereta sawunggalih utama akan segera meninggalkan kutoarjo, kesedihan sangat terasa ketika mengingat selama 23 Tahun bersama Ibu dan Ayah di Bekasi. tawa canda, amarah, nasihat serta bimbingan selalu terasa melekat di dalam rumah, apalagi ibu selalu membuat masakan yang selalu membuat harum seisi ruangan rumah. aku sadar jika aku sudah bertambah dewasa, aku harus bisa merubah semua kekanak-kanakkanku menjadi masa kedewasaan. walaupun aku belum bisa memberikan impian yang nyata kepada orang tua ku yaitu menikah tahun ini namun aku yakin kalau aku bisa memberikan keinginan itu tahun depan, sabar ya bu….

27 Juli 2011 menjadikan hari bersejarah dalam hidupku, karena hari ini aku mengantarkan ibu pulang ke kutoarjo, aku bisa merasakan kebimbangan ibu ku antara menemaniku dibekasi atau menemani ayah di kutoarjo tapi aku dengan tegas menginginkan ibu menemani ayah disana karena aku takut kalau ada apa-apa, tidak ada yang bisa membantunya. aku pun merasakan berat melepas ibu pergi meninggalkanku, aku tidak akan menemukan teman curhat terbaik saat aku pulang kerja, tidak ada suara ibu ku yang bercerita tentang kegiatan pagi harinya dan tidak ada lagi suara-suara bawel seorang ibu yang menginginkan anaknya disiplin.

aku dan ibu pergi meninggalkan bekasi menggunakan transportasi kereta sawunggalih utama jam 8 pagi, selama perjalanan ibu masih saja cerita tentang teman-temannya dan ibu menginginkan sekali ‘M’ menjadi istriku karena dimata ibuku, dia merupakan wanita yang sangat pas untuk menemani hidupku nanti, tapi aku selalu bilang untuk bersabar dalam mewujudkan keinginannya karena menikah itu tidaklah semudah yang ibuku bayangkan apalagi aku masih ragu jika istriku nanti akan merasa kecukupan kecuali istriku adalah tipe orang yang selalu bersyukur. aku juga diberikan nasihat nasihat untuk kehidupanku yang menyendiri nanti, apalagi aku orangnya suka mengerjakan sesuatu hal dalam sekaligus langsung tanpa satu persatu sehingga hasilnya ya tidak memuaskan. dikereta aku tidak dibiarkan tertidur oleh ibuku, baru merem sedikit langsung dibangunin lagi terus dia cerita lagi, tidak apalah karena hari ini adalah hari perpisahan aku dan ibuku, aku justru seneng banget bisa menemani ibu pulang dan tidak jadi membiarkan ibu pulang sendiri.

my mom and me

sesampainya di kutoarjo, aku disambut oleh ayah yang sudah sejam menunggu di stasiun. dengan jaket kesayangannya yang memiliki lambang tempat dulunya bekerja, ia menyambutnya dengan senyum hangat. tanpa basa basi lagi, kita langsung menuju pintu keluar stasiun  dan disana sudah menunggu omprengan yang nantinya akan membawa kami bertiga menuju perumahan pagak indah. sebelum sampai dilokasi kita mampir dulu di toko buah-buahan dan roti untuk cemilan nanti dirumah ayah, sempet keinget waktu aku sama leo ke jogja, jalannya hampir mirip nih. lalu kita melanjutkan perjalanan menuju terminal kutoarjo karena ayah menaruh motornya disana dan kita berdua bersama sang supir melanjutkan perjalanan ke pagak indah banyurip, nanti ayah akan nyusul kesana bersama motor legend nya Supra Fit yang aku kirim dari bekasi kesana untuk transportasi ayah disana.

ternyata supir omprengan nya kurang begitu apal perumahan pagak indah hanya tahu lokasinya saja, agak ngeri juga melihat gaya nyetir si supir karena matanya jarang melihat kearah jalan melainkan mlihat kearah meteran bensin, padahal bensinnya masih lumayan full tank, ehm… apa agak jereng ya si supirnya. setelah bertanya ke para warga pagak indah, akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang 70% baru jadi, menyedihkan juga tukang tukang bangunan disini, kerja selama 6 bulan tapi belum juga kelar, kata ayah saja untuk memasang pintu bisa memakan waktu 2 hari sedangkan tukang kuli bangunan di bekasi masang pintu tidak sampai sehari sudah beres plus dicat pula.  aku paham kenapa disini para pekerja agak malas, akibat apa-apa sudah bisa didapatkan terutama pangannya, hampir 80% warga disini petani yang memiliki kebun sendiri sehingga pekerjaan kuli hanyalah sambilan untuk membeli rokok dan kopi.

rumah ayah belum jadi bener...

rupanya dirumah ayah sudah ada mbah yang stand by dari siang menyambut cucu serta menantunya hehehehe, cukup kaget juga ada mbah karena tiba-tiba nongol dari dalam kamar. aku langsung berdiri di tengah ruangan sambil memandangi rumah yang sebagian masih beratapan langit alam, terpikir bagaimana jika hujan turun, pasti becek sekali. aku masuk kedalam kamar yang masih beralaskan karpet serta spanduk terpal jotun, tidak sia-sia waktu itu ayah aku berikan spanduk jotun. memang masih sangat kotor tapi buatku nyaman kok karena udaranya sejuk banget walaupun tidak diberikan kipas angin dirumah ini. tak terasa waktu sore sudah berganti menjadi malam gelap, aku, ayah, ibu dan nenek makan malam dibawah atap langit berbintang kerlap kerlip. suasana seperti ini mirip banget saat aku masih ikut kemping anak-anak pencak silat dahulu kala, makan seadanya dengan nasi yang dimasak gosong.

malam harinya aku dan ibu bercerita tentang keinginanku dimasa mendatang, ayah sedang perjalanan mengantarkan nenek pulang kerumahnya. ibu masih saja menyimpan rasa takut meninggalkanku sendirian, padahal aku sering ditinggal sendirian oleh ibu dan ayah kalau mereka berdua sedang ada acara keluarga ya walaupun hanya untuk beberapa hari saja sih. semoga saja aku bisa mengatur keuangan dimasa nanti, selama ini aku terbantu dengan orang tua untuk masalah makan serta keperluan lainnya seperti jajan dan uang tol, sekarang sih sudah harus pakai uang sendiri namun ayah masih suka nawarin dana tambahan tapi aku tolak dan aku ingin mencoba untuk hidup sendiri dengan merasakan uang sekarat untuk hidup.

esok paginya aku langsung turun kebawah, rumah ayah tergolong unik banget, dari luar terlihat kecil tapi kalau kita masuk kedalam dan menuju ruang belakang maka akan terlihat nampak kebun luas bersama pemandangan sawah luas berhektar-hektar. ayah langsung menuntunku kebawah menuju kebun, disana aku ditunjukkan kolam ternak lele, kandang kelinci, beberapa tanaman obat serta sayur dan buah. ada saung yang berdiri gagah menghiasi kebun untuk tempat istirahat ayah setelah bertani, sambil berbincang-bincang bersama pak sabar yaitu seorang bapak-bapak tetangga ayah yang pensiunan pegawai negeri dan memiliki cita-cita menjadi seorang petani.

tangga menuju kebun belakang
walaupun belom jadi tapi bagus lah
aku bergaya ditengah tengah kebun dekat kandang kelinci
saung nya kurang bagus karena masih tahap pembangunan
kasih makan lele dulu

setelah puas bermain main dikebun, aku dan ibu membersihkan sisa-sisa bongkaran bangunan yang terdiri dari semen kering, batu serta tanah. harus cepat cepat dibersihkan karena takut hujan turun dan akan membuat rumah semakin berantakan serta becek. enak juga punya rumah kaya gini, bisa melepas penat sumpeknya ibukota, melihat dedaunan yang hijau membuat mata dimanjakan dengan kesejukannya. pengen banget punya rumah kaya rumah ayah…. mudah-mudahan aku bisa punya rumah seperti ayah ini hanya dengan modal bersyukur dimanapun kita bekerja.

makam kakak yg paling rapih..

siang harinya aku bersama ayah kerumah nenek sekalian mau nyekar ke makam kakak, jarak antara rumah ayah dengan rumah nenek hanya 2 kilo saja dan bisa ditempuh dalam waktu 10 menit saja.  numpung mau puasa, jadi sekalian mau nyekar ke makam kakak serta makam eyang buyut dan para sesepuh kerajaan kutoarjo. setelah itu pamit sama nenek dan om balik kerumah ayah sekaligus bantu-bantu ibu lagi bikin betonan dan membersihkan rumah ayah yang berantakan berisikan puing-puing.

ayo ibu kita kerja keras...

saat aku pulang ke bekasi adalah saat-saat yang terberat untuk melangkah kedalam gerbong kereta, bukan karena banyak bawaan makanan untuk tetangga melainkan berat meninggalkan ibu dan ayah di tanah kelahirannya. selama ini aku sering bersama ibu, curhat, berkeluh kesah dan bermanja ria, tapi kini sudah takkan kurasakan lagi kecuali aku pulang kesana untuk kangen-kangenan sama ibu. ibu bahagia disana, senang menemani ayah yang kesepian dirumahnya, aku pun harus pula berbahagia menghapus kesedihanku walaupun secara tidak sadar air mata turun dari sudut mataku. pesan ibu lagi-lagi hal itu “kamu memang harus hidup sendiri biar cepet dapet istri dan pokoknya tahun depan harus nikah”. berat memang, tapi aku sadari pasti selama aku masih hidup sendiri tanpa pasangan, selama itu pula ibu akan mencemaskanku…

selamat tinggal ibu dan ayah, semoga kalian berdua sehat sehat saja disana, doa ku dalam solat takkan pernah lupa kuberikan kepada ayah dan ibu. aku janji tahun depan aku akan pulang kesana membawa kabar kalau aku akan menikah dengan wanita yang mencintaiku apa adanya dan menyayangi kehidupanku dan dia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s