Menghargai musisi diatas panggung

Posted on

Foto dari kompasiana

Sudah hampir 2 minggu ini saya sering menonton aksi band jepang seperti Asian Kung Fu Generation, Larc~En~Ciel, Yellow Monkey, Judy n Marry dan Japan-X (bukan jenis judul film JAV) manggung atau konser di negaranya sendiri. Satu kata, Awesome, dan kata tersebut bukan karena band-band tersebut main dengan baik ataupun keren melainkan para penontonnya yang benar-benar solid. Masyarakat Jepang yang terkenal dengan kedisiplinan serta sangat menghargai waktu sedetikpun, masih terlihat tertib di lautan manusia pada acara konser walaupun konser tersebut bertajuk rock.

Saya yang selama ini melihat panggung-panggung di Indonesia sangat berbeda dengan keadaan panggung di Jepang, kalau soal desain panggung memang masih bagusan panggung di Indonesia tetapi dari segi penonton jangan ditanya bagusan siapa?. Tema tulisan kali ini bukan mengenai band nya melainkan keadaan penonton di area panggung, kalau keadaan bandnya sih standar saja malah jarang keliatan mereka itu band besar dengan pakaian biasa saja kcuali bintang rock yang mengenakan kostum unik-unik. selama saya menonton video konser band jepang, belum pernah  melihat para penonton bawa bendera bernamakan sebuah band dengan ukuran besar atau membawa bendera sebuah band namun bukan menonton konser band tersebut. kalau kata temen saya, orang Indonesia jarang melihat artist yang akan manggung karena bendera yang mereka bawa adalah band itu-itu saja.

Sepertinya masyarakat atau penonton konser di Indonesia kurang menghargai musisi diatas panggung, apalagi panggung gratisan yang dibiayai sponsor rokok atau stasiun telepisi (belum pernah liat konser yg disponsori produk kebutuhan bayi), jangan harap akan tertib karena memang dasarnya para penonton (rata-rata berusia 10-25 tahun) sudah dablek dan pengennya hura-hura tapi gak tahu etika. Belum lagi bocah-bocah baru gede yang datang ke konser dengan mulut bau alkhohol, syukur-syukur bau minyak wangi karena minyak wangi terdapat beberapa persen alkohol dan memang lebih baik anak-anak seperti itu mulutnya bau karbol, biar abis nonton konser mulutnya berbusa.

Kasian para musisi tanah air, datang jauh-jauh dengan niat menghibur para penonton dilapangan malah dilemparin botol, batu, sempak, kulkas, gergaji mesin bahkan upil. Musisi tersebut tidak tahu kalau dirinya dibenci, karena apa?, saya juga tidak tahu bung. Konon mereka dibenci karena terlalu norak tampilannya, Maho, gak ngejual, terlalu dicintai wanita tapi kenapa musisi yang mellow sellow melayow jarang bahkan tidak pernah diberi hadiah botol atau batu?. Sebenarnya sih apapun musiknya, kita harus menghargai mereka sang musisi, ehm… bahasan saya jadi ke musisi nih, tak apalah.. sama saja.

Penonton dengan latar belakang pendidikan rata-rata dibawah SMA, menjadi faktor mudah jadi objekan penyelenggara konser untuk hadir ke panggung meramaikan suasana tapi satu catatan yang saya temukan adalah mereka tidak pernah diajarkan bagaimana menghargai seseorang. mungkin saya akan menceritakan tentang seseorang bernama mamat, dia merupakan remaja (umur 16 tahun) yang selalu ada di depan panggung baik panggung musik daerah Bekasi, Jakarta, bogor maupun Tangerang, dia pasti berusaha datang untuk menonton. Alasan pemuda beler ini adalah untuk memamerkan ke-eksisannya dalam hal nonton konser dan saya jamin, ratusan kali ia menonton konser dengan band yang sama, tidak sekalipun personil band tersebut mengingat mukanya. Dari rumah ia sudah mengenakan pakaian ala rocker pas-pasan, sepatu kets hitam ngejreng, celana ¾ dan kaos hitam ngerock dengan tulisan ‘wali’ atau ‘kangen’, ah… benar-benar rocker sejati. Mamat yang hanya pelajar dari salah satu SMA negeri di Bekasi tidak pernah lupa menggosok gigi untuk menjaga kelangsungan hidup para teman-temannya ketika berteriak-teriak menonton konser.

Mamat tidak sendirian, ada banyak teman-temannya yang sejenis mengikuti jejak mamat, Transportasi menuju tempat konsernya adalah truk-truk atau mobil bak yang kebetulan lewat dihadapan teman-temannya. Saya sendiri belum pernah melihat parkiran konser gratisan di isi mobil macam alphard, camry atau accord, rata-rata parkiran penonton terisi dengan sepeda motor atau bis metro mini charteran. Karena konser gratisan, tidak perlulah mamat merogoh kantong buat membayar tiket masuk kedalam konser tersebut ya minimal beli rokok sponsor sebanyak sebungkus tapi hal tersebut bisa saja hanya formalitas karena toh pintu belakang masih tetap terbuka buat para penonton gratisan, kalau gak dikasih masuk, siap-siap saja penyelenggara disuguhi ide-ide kreatif para penonton gratisan, yaitu merobohkan pagar pembatas atau panjat pagar.

Sebelum bergeliyat, berteriak, bergemuruh dengan penonton lainnya, mamat meneguk miras untuk membangkitkan semangatnya. Berbeda dengan tagline salah satu minuman energi yang dapat membangkitkan semangat, justru miras lah (apapun jenisnya) yang bisa membuat mamat semangat dan berenergi. Saat konser dimulai, saat itulah darah naik ke atas otak hingga mata merah dan gairah bangkit, segala gaya joget yang urakan mewarnai konser tersebut walau lagunya tidaklah ngerock. Bentangan bendera, spanduk, poster, umbul-umbul hingga kaos yang di lempar-lempar menjadi hal biasa pada konser di negara Indonesia, wah semangat sekali tapi perkelahian antar penonton kerap terjadi dan jarang banget antar penonton melakukan aksi yang lebih bermanfaat selain berantem seperti tukar kaos, membersihkan lapangan atau saling berteriak merdeka (ah… kalau ini sih ormas).

Musisi yang tadinya berasik ria memainkan alat musik, harus berhenti karena kerusuhan dalam lingkungan konser. Rugi kah musisi kita?, tentu tidak karena mereka tetap dibayar walaupun konsernya diwarnai kericuhan, kecuali si musisinya tersebut yang berantem diatas panggung, wah kalau ini belum pernah terjadi nih, pasti seru. Tak jarang juga penonton mati ditanah lapangan karena terinjak penonton, digebuk, bahkan sesak nafas akibat menghirup bau badan berlebih. Rasa-rasanya musisi diatas panggung tidak dihargai, mau main musik apa, tetap saja jogetnya sama, urakan dan tidak tertib, apakah yang di inginkan musisi seperti itu?, saya rasa tidak karena mereka punya hati dan hati mereka berbicara untuk saling mengerti antar penonton dan musisi. Nah… itu kalau musisi-musisi atau band yang sering nongol di panggung gratisan dan dibayarin oleh pabrik rokok, dibalik fenomena penonton yg tidak tertib, ada juga lho penonton yang tertib dan menghargai band yang mereka tonton.

Lagi-lagi uang yang memfilterkan para penonton, mana penonton penikmat musik sejati dan mana penonton yang hanya datang untuk eksis sambil adu kekuatan. Konser berbayar dengan harga tiket paling murah 50ribu, berada didalam gedung (indoor) dengan musisi-musisi apik masa kini, baik dalam negeri maupun luar negeri. Mereka para penonton sangat tertib menikmati alunan musik yang disuguhin para band tersebut, satu kalimat yang terisat dalam hati saya ini adalah ‘uang bisa memfilterkan penonton konser’. Saya sendiri belum pernah nonton konser artis macan negara, lebih sering nonton acara musik gratisan tapi tanpa membawa bendera atau spanduk ibu-ibu PKK.

Antara konser gratisan dengan konser berbayar memang sungguh berbeda, musisi di konser berbayar lebih dihargain karena penonton tertib, menikmati musik dan saling memberikan apresiasi terhadap konser tersebut. belum pernah saya dengar konser berbayar terjadi kerusuhan, kalau kecopetan atau henpon ilang sih sering banget, jingkrak-jingkrak henpon atau dompet jatuh sering terjadi. Kalau konser gratisan, lebih sering kena baku hantam tanpa ada yang tahu siapa yang mukul, temen saya sering di geplak palanya padahal dia Cuma nonton dan gak tahu apa-apa, bahkan sampai henponnya hilang dirampas paksa dan pelakunya langsung kabur.

Sampai kapan ya konser di Indonesia bakal tertib, tanpa ada kerusuhan ditengah penonton atau manjat-manjat pagar dan melempari musisi/artis dengan botol. Mereka sama-sama cari duit buat makan enak dengan cara yang tidak nikmat, kata sapa jadi pekerja band itu enak, pasti lelah dan jarang ketemu istri tercinta dirumah. Mengorbankan waktu dan tenaga untuk menghibur penonton namun terkadang Cuma jadi bulan-bulanan penonton. Ayo Indonesia, tunjukkan kalau kita adalah bangsa yang ramah, penuh kasih sayang dan tidak kenal kekerasan.

One thought on “Menghargai musisi diatas panggung

    nobody said:
    28 April 2011 pukul 4:51 am

    [HANYA KOMENTAR CURHAT DARI SEORANG PENGEMBARA]
    Alhamdulillah…
    Pasukan iblis sukses menyesatkan masyarakat, Gembong FreeMason Yahudi dan anteknya berhasil menjajah lahir bathin negeri ini, krisis Inflasi harga kebutuhan pokok meningkat, Penyakit hubungan kelamin merajalela, Korupsi jamaah pejabat menanjak, Jual beli jabatan pemilu berlanjut, Pengurasan sumber daya alam berjalan, Kebodohan berbasis kemiskinan bertambah, dan masih banyak lagi yang semua itu berujung pada pemurtadan rakyat banyak.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat melihat dengan jelas kebobrokan sistem sekular jahiliyah yang selama ini telah kita terapkan dan kita tuhankan, karena kita telah membuang jauh-jauh sistem Islam kaffah ciptaan “Sang Maha Pencipta Sistem” dari kehidupan kita.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat membuktikan kebenaran sabda Nabi Muhammad berikut ini:
    Dari Abdullah bin Umar dia berkata,
    “Rasulullah SAW menghadapkan wajah ke kami dan bersabda:
    “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya;
    1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
    2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
    3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan.
    4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
    5. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.””
    (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).
    Sekarang manakah diantaranya yang belum terjadi? Masih belum cukup?
    Alhamdulillah…
    Selama generasi kita tidak memurikan tauhid dan tidak menerapkan sistem Islam kaffah (dalam khilafah), maka insyaAllah generasi penerus kita juga dapat langsung membuktikannya juga.
    Alhamdulillah…
    ________________
    “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 4:147)
    “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S. 40:61)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s