Jika Bioskop Tanpa Film Asing

Posted on Updated on

cukup kaget juga mendengar berita kalau film asing bakal di blok sama pemerintah terkait dengan pajak bea masuk film asing ke Indonesia. gw selaku penggemar film langsung shock breaker mendengar berita tersebut, beeeetapa tidak ? kalau memang film asing dilarang beredar di Indonesia dalam bentuk bioskop, niscaya gw ke bioskop cuma melihat film-film lokal dengan genre horor mesum mulai dari pocong ngesrot, kuntilanak salto, genderuwo kayang sampai tuyul sprint. gw gak mau berbicara dalam bentuk politik karena gw sangat tidak suka dengan politik di negara ini yang hanya UUD (Ujung-Ujungnya Doku).

apabila pemerintah merealisasikan keinginannya untuk stop film asing masuk ke dalam dunia hiburan tanah air, bisa dibayangkan, bioskop hanya berisi poster-poster film Indonesia yang 70% tidak bermutu. mungkin masing-masing poster sudah wajib memasang gambar foto cewek dengan beha atau berselimutan selimut, wow.. memang menjanjikan, tapi jangan harap film tersebut bakal terdapat cerita yang bagus dan membuat mata penonton terpesona, gw pernah menonton film lokal hingga membuat gw menangis, memang film cinta sih yg gw tonton, tapi gw menangis karena gw nyesel beli tiket untuk film itu. klo film barat gw jarang menyesal beli tiketnya, tapi klo sekarang sih mendengar judul film lokal yang aneh-aneh, bahkan lucu buat di ejek-ejekin sudah tidak minat berada didepan mbak-mbak nya buat beli tiket film tersebut.

trailer-trailer di tiap-tiap studio hanya berisi film lokal yg akan tayang, bisa dibayangkan berapa scene seorang cewek mengoyang-goyangkan payudaranya buat menarik minat penonton untuk menyaksikan full film tersebut, walaupun judulnya film horor, tapi hantu lokal jaman sekarang suka banget mesum, berbeda waktu jamannya film hantu dipegang Alm. Suzanna, beuuuh, serem abis tuh, gw aja suka kencing di kemeja saking seremnya. apakah film Indonesia akan membuat versi 3D nya, mungkin produser film horor akan membuat film berformat 3D, sehingga hantu nya bisa keluar dari layar bioskop apabila dilihat dengan kacamata 3D dan berharap penontonnya bisa shock jantungan serta mulutnya berbusa. film-film animasi di isi dengan film animasi dengan format upin dan ipin, mungkin akan ada versi jali dan jalu untuk menyaingi film dari negeri jiran tersebut. ah tidak, gw harus optimis kalau film lokal akan maju dan gak selalu berisikan hantu mesum, pergaulan bebas yg bukannya menasihati menonton tapi malah mengajak penonton untuk hidup digauli. suatu saat film-film bagus berpendidikan tinggi akan mewarnai perfilman Indonesia, sungguh nista kalau film-film gak mutu masih ada bahkan tetap di jual dengan alasan penonton masih banyak yg menyukainya, eh,… haloo pak produser, siapa gerangan penonton yang engkau maksud??, jangan2 penontonnya adalah orang-orang yang anda suruh menonton film anda sendiri.

efek dari ketiadaan film asing dibioskop akan berdampak mencolok pada penjualan di retail-retail DVD bajakan yg disampul dvdnya suka ada tulisan blueray quality, pas disetel lebih pantes disebut blulukray quality karena suka ada orang lewat dan soundnya cempreng (selama gw beli bajakan dapetnya bagus semua sih hehehehe). situs situs untuk donlot film semakin meraja rela, berbagai kualitas ditawarkan padahal sih server file tersebut di dia dia juga, hahahaha. akses download di internet semakin tinggi saja, ada yg menonton secara streaming (rajin bener nunggu buffering) ada pula yang rela donlot berlama-lama demi hasil menonton film kesayangan dirumah dengan alat pemutar film yg pas-pasan tanpa kualitas bioskop XXI. untuk hobies movies yg biasa nonton rame-rame bersama temen-temen atau satu komunitas tidak perlu khawatir, karena para penggemar film bisa menonton dirumah salah satu anggota sekalian kopdar, ehm… ide bagus. bisa menonton sekaligus menjalin silahturahmi dengan baik tapi gak benar, lha wong filmnya bajakan ya ga bener toh.

penjualan speaker berkualitas tinggi ataupun home theater akan melonjak tinggi karena para penggila film menginginkan kualitas terbaik saat menonton film walaupun film tersebut hanya sebuah film bajakan. pasti banyak yg merindukan menonton film barat yg berkualitas di bioskop, tentu saja tidak perlu khawatir karena dijamin akan ada bioskop liar yg menayangkan film asing dengan kualitas super KW1 dan tanpa adanya potongan scene akibat terkena sensor. bagi beberapa kalangan bisa berlangganan tivi kabel dan berharap bisa selalu menonton film asing dengan kualitas tivi rumah, peningkatan keuntungan bagi pemiliki perusahaan tivi kabel ya. para produsen film lokal justru asik berlomba-lomba untuk  meramaikan bioskop agar para penonton kembali mau menginjakkan kaki ke theater layar perak, namun sama aja toh menelurkan sebuah film lokal tapi setahun kemudian muncul di tivi.

ada beberapa pendapat terhadap berita ini, kebanyakan langsung protes tanpa babibu mendengar penjelasan pemerintah kenapa film asing di hentikan peredarannya. kalau pendapat gw pribadi sih, pemerintah ingin menambah kantong pajak dari bea masuk film asing, kalau pun memang pihak film asing mau membayar pajak, efeknya bisa dirasakan dari harga tiket yang naik menjadi 50% bahkan 100% (ah saya hanya asal tebak). kalau tidak menaikkan harga tiket, bisa-bisa bioskop bangkrut karena kekurangan biaya untuk memasukan film asing. pihak bioskop jadi selektif dalam memasuki daftar film asing yang akan ditayangkan, sehingga tidak semua film hollywood bakal tampil memeriahkan isi layar bioskop. sedangkan temen gw berpendapat kalau ini cuma akal-akalan pihak lembaga sensor film untuk menaikkan gaji mereka, kalaupun memang ingin menaikkan gaji, ada beberapa kesalahan fatal lembaga sensor film terhadap perfilman indonesia, yaitu mereka tidak mensensor trailer film lokal yg seenaknya nongol di film keluarga dan terdapat anak-anak. tidak perlu lah menayangkan adegan mesum untuk menarik perhatian penonton, cukup ditulis diposternya, “film ini mengandung adegan mesum hot, bikini pantai dan bukit yg dipamerkan secara berguncang”.

saya bakal jarang duduk ditempat ini...

jangan melulu menyalahkan pemerintah… oh tentu tidak, saya tidak menyalahkan pemerintah, saya hanya menyalahkan oknum (cara gampang untuk mencari kambing hitam untuk melempar kesalahan). kita lihat saja hasil dari keputusan tersebut, walaupun benar film asing di tiadakan tapi masih banyak jalan melihat film-film tersebut kok, tenang saja lah. oh iya… ada juga pendapat tentang berita ini, jika hal ini dibuat pemerintah untuk menutupi berita pembubaran FPI. ehm… masa sih…

mungkin….

oh Indonesia…….

9 thoughts on “Jika Bioskop Tanpa Film Asing

    qwerty said:
    19 Februari 2011 pukul 11:08 am

    Siiipp..
    Kl mnrt ane sih, g byk pengaruhnya jg sih, msi byk cara bt ndapetin tu film, spt yg dikatakan bung taufiq..
    Bokep aja yg g pke iklan bisa laku banget, bahkan anak kecil aja pada ngefans..
    Let’s say it again..
    Ooohh.. Indonesia..

      Tawvic responded:
      19 Februari 2011 pukul 2:50 pm

      yup… seberapa hal kecil menjadi besar kalau pemerintah sudah turun tangan, sebenarnya pihak luar sudah merasa rugi bertahun-tahun karena penonton di indonesia kurang menghormati keorisinal, ditambah pajak yg smakin lama smakin naik dan menggila… betapa kasihannya kita….

    […] This post was mentioned on Twitter by Tiara Harlina Putri, nadia huft. nadia huft said: Jika Bioskop Tanpa Film Asing: http://t.co/opk2rAx […]

    mirahmaniezt said:
    19 Februari 2011 pukul 2:12 pm

    bener tuh.. film asing biasanya banyak pengetahuannya kan.. apalagi yang merk-merk hollywood gitu.. kemarin blackberry, sekarang hollywood, besok apalagi? ya nggak..
    pendapat aja sih.. hhe🙂

      Tawvic responded:
      19 Februari 2011 pukul 2:52 pm

      nice opinion, kita gak tahu oknum pemerintah akan mengeruk uang rakyat dan negara lain dari mana, gimana gak merasa kurang cadangan uang negara, klo terus2an di korupsikan… ini sih permainan pihak LSI….

    thonnych said:
    20 Februari 2011 pukul 4:54 am

    Saya gemas dengan kebijakan-kebijakan yang tidak berpikir panjang. Belagu hebat, padahal gak ada apa-apanya. Kalau memang kita sudah mampu membuat film sekelas film asing, saya nggak akan protes. Tapi faktanya? Berduka dengan keputusan ini.

    srulz said:
    20 Februari 2011 pukul 8:35 am

    selain rasa lokal, rasa “inter-lokal” juga harus ada dunk.. .-“

    ace said:
    21 Februari 2011 pukul 8:01 am

    cuma negeri ini yang memberlakukan pajak untuk film……sungguh aneh bin ajaib.
    nurdin halid calon ketua PSSI lagi. udah jelas2 mantan narapidana dilarang FIFA.
    Kasus gayus ditutup2in.
    pengalihan isu yang makin hari makin cerdik.

    orang2 yang gak amanah pantesnya diapain ya ?

    anon said:
    22 Februari 2011 pukul 10:12 am

    bajakan all the way!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s