Wisata Kuliner di Karawang….

Posted on

Kali ini gw dan team mlancong.com melakukan perjalanan kuliner di daerah kerawang, awalnya sih perjalanan ini terjadi karena gw kepengen banget makan soto tangkar dan surabi hijau di kerawang yang terkenal enak itu, sampai-sampai artis terkenal pada datang untuk mencicipi masakan itu. tgl 29 Januari 2011 menjadi saksi sejarah perjalanan team mlancong.com dan para rekan-rekan lainnya. Team mlancong kali ini benar-benar isinya tukang makan semua hahaha, bisa diliat dari badan para peserta yang subur-subur, gemuk dan sehat kecuali gw sama pacar gw yang masih terbilang kurus kering kerontang.

warung soto milik om Akhmad

Perjalanan dimulai di warung soto kudus Rahtawu milik om Ahmad AMGD (Pemilik komunitas mlancong.com), sebelumnya gw mesti melakukan perjalan setrikaan dari pekayon menuju tambun untuk menjemput permaisuri, lalu menuju pancoran untuk menjemput mbak Esthie dan Mbak Susan, lalu kembali ke Pekayon untuk berkumpul di warung soto Rahtawu. Sebelum berangkat, gw makan soto sepiring berdua dengan sate telur dan sate kerang yang benar-benar nikmat hehehehehe…

sebagian para peserta turing...

Dari bekasi menuju karawang barat dilahap dalam waktu tempuh kurang dari sejam, sebenarnya bisa dilahap sejam saja karena keadaan jalan begitu lumayan sepi tetapi Pak Lukman yg berumur kurang lebih 70 tahunan masih agak lambat melahap aspal tol, mungkin jiwa muda gw yang selalu memaju gas mobil lebih dalam lagi.  Sesampainya di karawang kita menunggu kedatangan om Ipay selaku penunjuk jalan wisata kuliner kita kali ini, oh iya, peserta kali ini ada 13 orang peserta, lumayan banyak dan 70% nya adalah wanita sedangkan para pria-pria yang tampan berasa raja minyak hehehehe… apalagi para tante-tante yang selalu tersenyum itu orang-orangnya asik semua dan tidak ada yang sombong. Walaupun gw sempet jiper karena Cuma gw yang bawa kamera digital seharga 1.5juta saja hahaha tapi gak masalah yang penting gw sudah lihai dalam foto memfoto asoooyyy…

tiba di komplek candi jiwa

Kita sampai pada tujuan pertama di candi jiwa, baru kali ini gw denger karawang punya komplek percandian dan gw melihatnya sendiri bangunan candi yang tidak terlalu besar itu dengan mata kepala gw sendiri. Dari karawang barat menuju candi tersebut memakan waktu sejam, jauh dan jalannya agak bahaya  buat pengemudi baru seperti gw, jalanannya naik turun miring banyak lubang dan beberapa pengendara motor yang suka asik sendiri berhenti ditengah jalan. Jerih payah perjalanan itu terbayarkan dengan sebuah fenomena candi yang konon katanya peninggalan dunia atlantis, kata om ipay salah satu peserta mlancong, candi ini pernah didatangkan oleh beberapa peneliti dari discovery channel selama seminggu. Mereka meneliti candi tersebut karena merasa ada kemiripan dengan jejak-jejak peninggalan dunia atlantis. Gw juga berpikir seperti itu, melihat dari struktur candir yang berbeda dengan percandian di jawa tengah, candi jiwa memiliki bentuk bangunan yang aneh walaupun sudah tidak utuh lagi, apalagi salah satu candi tersebut berada di tengah pematang sawah serta danau yang masih mengalirkan air.

papan nama lokasi candi jiwa
dibelakang gw itu candinya lho..

Untuk memasuki komplek percandian tersebut  tidak dimakan biaya mahal, sekiranya hanya memakan uang sekedarnya untuk pengelola yang tak lain adalah warga sekitar, untuk parkir mobil dikenakan tariff 5000 rupiah sekali parkir. Ternyata ada penjual jajanan masa kecil gw, yaitu kue-kue biscuit yang aneh bentuknya serta rokok-rokok’an serta telor cicak namun rokoknya benar-benar bau tembakau. Selain terdapat candi, disana juga terdapat sebuah pemandian para bidadari-bidadari, yang katanya warga sekitar, suka dijadikan tempat pemandian para putrid kerajaan pasundan, dan katanya lagi bisa membuat wajah awet muda tetapi gw bersama team mengurungkan niat menuju tempat tersebut karena memang cukup becek serta licin, maklum saat diperjalanan tadi, kita ditemani hujan yang cukup deras. Sayang, sepertinya tempat candi seperti ini digunakan para remaja untuk berpacaran karena keadaan lingkungannya yang sepi sekaligus sejuk, apalagi gw melihat ditiap-tiap pojok terdapat pasangan muda-mudi bermesraan ria, belum lagi para remaja putrinya yg langsung melepas jilbab ketika asik berduaan.

becek banget gan, tapi ketara banget sejarahnya
bentuk utuh candi jiwa, kecil namun misterius..
bentuk lain candi jiwa...
berada ditengah danau, katanya peninggalan atlantis

Sehabis menikmati pemandangan candi Jiwa, kita semua menuju ke kuliner pertama yaitu sorabi kuntilanak di rengasdengklok. Konon awal mula nama sorabi kuntilanak ini tercetus karena posisi warung sorabi ini berada di depan kuburan yang sering di datangkan kuntilanak, serem?, tentu saja tidak, karena semua itu hanya legenda saja. Waktu tempuh menuju warung sorabi kira-kira sejam dengan perjalanan gersang, berdebu dan banyak motor-motor yang di kendarain oleh abg-abg pulang sekolah, mesti berhati-hati jangan sampai tersenggol karena yang pasti mereka adalah warga sini.

sorabi hijau, sungguh reyot warungnya

Sesampainya disorabi kuntilanak, kita masing-masing peserta langsung menyantap sorabi hijau tersebut karena sebelumnya sudah dipesan om Ipay dari jauh-jauh jam tadi sehingga kita tidak perlu mengantri lama menunggu pesanan datang. Nama aslinya makanan ini adalah serabi hijau Bp. M. Kasim, tempatnya memang gak banget, gubuk gitu, padahal laris manis lho, masa iya kurang dana buat membangun warung kue serabi yang lebih layak lagi. Gw dan permaisuri menikmati serabi sepiring berdua, rasanya sih standar saja tapi enak karena serabinya garing diluar namun empuk kenyal didalam. Saus gula merahnya sangat pas manisnya, tapi gw gak sempet nyobain yang durian karena permaisuri tidak suka dengan aroma durian. Untuk harganya 1500/buah, tadinya gw mau pesan beberapa kue untuk dibawa kerumah namun sang juru masak agak judes melayani kami, ah… gw paling males deh nemu pelayanan kaya gini, akhirnya gw urungkan niat membeli serabi untuk orang rumah, namun rekan2 lainnya sih tetep memesan untuk dibawa pulang.

si mamang lagi ngebuat sorabi
beberapa sorabi yang sudah jadi
surabi sepiring berdua bareng ayank
mlancong.com berpose didepan warung sorabi

Setelah puas dengan memakan 2 keping serabi dan segelas es kelapa, lumayan bisa mengganjal perut yang sudah keroncongan dari tadi. Perjalanan selanjutnya menuju rumah singgah bung karno waktu menulis naskah proklamasi. Jaraknya tidak jauh dari tempat kami memakan surabi hanya 10 menit saja, Cuma ya jalanannya cukup jelek, belum lagi jalan masuk kedalam rumah tersebut hanya bisa muat satu mobil, beruntung pihak pemilik rumah berbaik hati halaman rumahnya dijadikan tempat parker mobil kita sehingga tidak mengganggu orang lain untuk lewat.

rumah sementara bung soekarno...

Dirumah ini bung karno disekap oleh para pemuda-pemuda di rengasdengklok, alasan mereka menyekap bapak soekarno adalah untuk mempercepat pembacaan teks proklamasi dan menjaga bung karno serta bung hatta dari bahaya dari pihak luar yang siap menghalau Bung Karno membacakan kemerdekaannya. Semua barang-barang yang ada didalam rumah ini 70% nya masih asli, terutama lantai nya yang masih asli belum diganti dengan yang baru. Kamar-kamar tempat bung karno beristirahat pun masih asli tanpa adanya perubahan apapun, disana juga terdapat beberapa bingkai foto yang menjadi bukti kalau rumah ini merupakan rumah bersejarah. Hanya bagian belakang rumahnya saja yang sudah dibangun sedimikian rupa untuk tempat tinggal pemilik asli rumah ini. Sayangnya, tempat ini tidak terlalu dirawat, apalagi tidak ada petunjuk apapun yang mengarahkan para wisatawan untuk menuju tempat ini.

masih terdapat aura jaman dulu nya
buku tamunya aja unik...
ruang istirahat bung Karno
team mlancong.com berpose diruang utama

Walaupun terbilang sepi, gw cukup salut dengan kehadiran para remaja sekolah yang bersinggah ditempat ini hanya untuk bermain serta mengenal sejarah lebih dalam lagi. Entah memang niat pemilik rumahnya mempertahankan aura asli rumah ini atau memang pemerintah menutup mata atas benda-benda bersejarah tersebut. Bagi para pengunjung diharapkan memberikan sumbangan seiklasnya untuk sang pemilik rumah, mungkin hanya pendapatan dari sumbangan pengunjung saja si pemilik rumah masih bisa mempertahankan rumah berserajah ini, katanya sih mau dibeli oleh pihak asing seharga 2 milyar namun sang pemilik masih ragu untuk melepaskan rumah bersejarah ini.

Setelah puas melihat-lihat rumah bung Karno kita melanjutkan perjalan ke mesjid besar di tengah kota rengasdengklok, berhubung para peserta belum menunaikan ibadah sholat dzuhur. Ketika perjalanan menuju masjid inilah kita kehilangan kontak dan mobilnya Pak Lukman karena beliau sudah dahulu berjalan meninggalkan kita tetapi kita tidak tahu kemana mereka melangkah pergi dan setelah berusaha mencari ternyata mereka melanjutkan perjalanan langsung ke klenteng dan mereka menunggu kita menuju kesana.

bagian depan klenteng... banyak pengemisnya..
cuma mobil gw doank yg kecil banget...
begaya dulu gan...

ni sudut sebenarnya gak boleh di foto

Menuju klenteng tersebut memang tidak mudah, nyasar menjadi menu favorit kali ini, beberapa kali mobil om Am bolak balik muterin daerah karawang karena tidak mengetahui arah menuju klenteng tersebut. Setelah 20 menitan nyasar, akhirnya kita menemukan klenteng tersebut. Gw cukup ketakutan saat melewati jembatan besi di daerah sana, banyak karat serta besi-besinya yang mengelupas, ngeri juga kalau tiba-tiba si timmy terperosok ke bawah jembatan secara sedan timor termasuk sedan berat. Sesampainya ditempat seperti ini kita langsung disambut para pengemis dan gelandangan yang meminta sedekah dari pengunjung. Baru pertama kali gw ke klenteng, dan rasanya ada aura tersendiri. Unik dan semuanya serba bewarna merah. Ada beberapa ruangan yang tidak boleh difoto apalagi dimasukin orang, yup.. tetep saja gw langgar karena rasa penasaran hehehe tidak apa-apa asal orangnya tidak melihat.

mari dipilih topping soto tangkarnya
mari disantap....nyummy....

Puas menikmati klenteng, kita pun berangkat menuju soto tangkar sumsum kaki sapi yang terkenal itu, perut sudah lapar karena dari pagi belum terisi nasi. Sesampainya di tempat soto tangkar di pojokan jalan dewi sartika-kota karawang, gw langsung turun dari mobil dan masuk kedalam warung tenda sederhana khas kaki lima. penjualnya ibu-ibu tapi sudah pergi haji lho, jadi kita manggilnya bu haji. Sebaskom penuh kikil sapi lengkap dengan sumsumnya serta pelengkap seperti daging dan otak sapi membuat perut gw minta di isi, apalagi kuah santan yang gurih siap menari-nari dilidah. Tak beberapa lama satu porsi (nasi setengah) soto tangkar sudah siap dihidangkan, sayangnya permaisuri gw lagi gak boleh makan daging sehingga dia tidak ikut makan deh, kasian, maaf ya sayang…

 

Rasanya enak tapi gak terlalu benar-benar enak, kurang garam, sehingga gw mesti menambah beberapa taburan garam biar rasanya pas dengan yang gw inginkan. Daging dan kikilnya empuk, apalagi sumsumnya, beuuh… mantap. Bagi yang punya kolestrol tinggi, diharamkan makan makanan kaya gini, bisa-bisa pulang dari kuliner langsung stroke, gw aja setelah makan ni makanan agak pusing hehehe, bandel nya gw. Untuk harga kira-kira 15ribuan deh, sudah sepaket sama teh tawar yang boleh minta lagi sepuasnya. Badan gw jadi berkeringat gan, seperti habis sauna.

 

Lanjut lagi perjalanan menuju Sate Marangi dipinggir jalan, lokasinya dekat dengan alun-alun Karawang, terletak dipinggir kali yang mirip sama jalur kalimalang cikarang. Cuma bedanya disini tuh enak, adem dan cocok banget buat yang ingin melepas penat disore hari. berjejer tukang sate marangi, ada yg penjualnya ibu-ibu, ada juga yang mas-mas masih muda. gw memesan sate sapi 10 tusuk di sebuah tenda lesehan yang dijajakan oleh ibu-ibu yang sexy bernama Teh Wawah. kurang tahu juga harganya berapa karena untuk kali ini gw dibayarin oleh mbak esthie, thanks mbak Esthie, semoga makin jaya usahanya. Amien. Ehm.. rasa satenya biasa saja, seperti sate yg biasa gw bakar kalau lagi ada acara idul adha, tidak ada yg spesial kecuali memang tempatnya yang seru.

menikmati sore dengan bersate ria...

 

Sepertinya gw dan para peserta mlancong.com belum puas menikmati sate marangi, belum lengkap kalau ke karawang kalau belum nyobain sate marangi. Melajulah tiga mobil menuju alun-alun karawang, hanya sekitar 20 menit saja kita pun sampai di tempat sate maranggi Mang Ali yang ada si sisi timur alun-alun, atau tepatnya di depan Masjid Raya Karawang. Walaupun hanya berdirikan gerobak, rasa sate disini lebih enak daripada di pinggir kali tadi, apalagi pilihannya lebih banyak. Gw memesan 5 tusuk sate sapi marangi bumbu kacang, dengan minuman es jeruk untuk penambah tenaga dan ditemani satu butir combro setan yang ketika gw makan bisa membuat mulut langsung berteriak “setan… pedes banget”, combro setan yang hanya sebesar bola beikel itu dihargain 700perak tapi rasanya kaya makan cabe setengah kilo.

beberapa tusuk satai sapi

Puas makan sate, saatnya solat magrib dimasjid raya karawang, ada kejadian gak enak disini. Sudah lantainya basah, licin, gw hampir beberapa kali terpleset dan yang paling gak asik adalah waktu gw pipis dimesjid tersebut, karena gw gak punya uang receh maka gw langsung aja nyelonong keluar sambil senyum kepada petugas penjaga toilet berbaju koko, namun gw langsung ditahan sambil tangannya menggebrak kotak amal kebersihan. Ehm… kasar banget sih, gw langsung keluarin duit 20ribuan dan menanyakan kembalian tetapi dia Cuma tersenyum sinis lalu menyuruh gw keluar sambil ngedumel menggunakan bahasa sunda, eh… dikira gw gak tahu bahasa sunda kali ya, gw tahu dia pake bahasa sunda kasar buat ngejek2 gw. Ya salam, gak malu tuh sama baju koko nya, lagak sok alim tapi mulut kurang terdidik, toh klo gw gak bayar uang kebersihan apakah merasa rugi?, lagi-lagi ada manusia yg berlagak muslim tapi gak mau iklas… biarlah…

Sempet bête juga tapi langsung terhibur dengan senyuman manis si ayank, gak cerita sih sama si permaisuri takutnya dia malah jadi kesel juga, dosa ah ngajak2 orang kesel hehehehe… setelah meninggalkan masjid, kita semua menuju alfamart karawang barat, disana kita berkumpul kembali dan menyerahkan mbak susan serta mbak esthie ke mobil pak Lukman karena tujuan Pak Lukman adalah Jakarta sedangkan gw bekasi. Oh iya, gw dikasih souvenir sama mbak Susan sebuah gantungan kunci, untungnya gw udah nyiapin kado untuk tukeran. Semoga suka ya mbak susan sama kadonya. Perjalanan kuliner serta wisata kali ini cukup menyenangkan walaupun gersang, tetapi gw cukup puas. Sampai dirumah badan pada pegal…..

 

Terima kasih buat mbak Susan, mbak Esthie atas traktiran semua makanan, mbak Adel, om Amgd dan Dara. Untuk om Ipay terima kasih atas petunjuk sejarahnya, serta pak Lukman yg sharing tentang bagaimana caranya tetap merasa muda di umur 70tahunan. Tak lupa mbak Deedee n Friends Red Clothed hhehehehee…….

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s