Cerita Singkat, Unique

Last day to Jogja Trip

Hari terakhir berada di Jogjakarta membuat kita agak sedih, betapa tidak!! Karena kita akan kembali bergumul pada komputer kantor dan dering-dering telepon mengajak kita untuk bekerja, gw sadar kalau semua ini harus ada timpal baliknya, kalau kita kerja kita punya penghasilan dan penghasilan itu bisa buat kita jalan-jalan lagi. Hari terakhir memang kita putuskan untuk berjalan-jalan menuju Candi Prambanan dan belanja oleh-oleh buat orang-orang yang kita cintai.

Pukul 11 siang kita pamitan kepada pihak hotel Fortuna, ya kita cukup terkesan dengan pelayanannya yang ramah walaupun kita dapat fasilitas yang minim, tanpa water heater (padahal di brosur ada water heaternya), bathup bocor sehingga membuat bak air cepat kering walaupun sudah kita isi full selain itu kamarnya yang sempit sehingga kita harus menjaga gerakan kita untuk tidak saling menyikut. Lebih baik gw nginep disini sih daripada gw nginep di embong melati bandung yang temboknya berisikan bercak-bercak sperma. Setelah pamitan, rencana kita mau pamitan juga ke warung bubur cinta namun kita urungkan mengingat waktu semakin siang, bisa-bisa kita ke prambanan sore hari kalau benar-benar si mbak cantik itu ada pada hari itu.

Perjalanan panjang menuju prambanan, dengan modal 3ribu saja menaiki transportasi trans jogja, gw dan leo sudah berjalan-jalan hampir setengah wilayah jogja. Untunglah lokasi candi Prambanan dekat dengan halte trans jogja sehingga kita gak perlu lagi naik kendaraan umum yang notabene nya lebih mahal dari ongkos transportasi trans jogja. Kita gak mau lagi dibegoin mas-mas tukang becak hehehehe, walaupun siang terasa sangat terik tapi kita memilih berjalan kaki saja, toh pintu masuk candi Prambanan sudah terlihat dari kejauhan. Cukup membingungkan menuju loket pembelian tiket masuknya, karena antara loket dengan pintu masuk sangat beda jaraknya walaupun memang sebelahan.

Di loket ada beberapa pilihan tiket masuk, ada yang pake tapi ada juga yang Cuma tiket masuk ke Prambanan. Untuk pake seharga 30ribu kita bisa keliling ke prambanan, borobudur dan wisata ke wilayah ratu bokok dengan menggunakan bus wisata namun minimal yang ikut rombongan harus 30 orang. Tadinya kita mau ikut paket wisata tapi mengingat waktu yang tidak banyak maka kami urungkan niat kami untuk menikmati paket tersebut dan hanya memilih tiket biasa seharga 23ribu. Menurut gw candi Prambanan lebih baik perawatannya daripada borobudur, sistem keamanan yang mumpuni serta kebersihannya terjaga banget. Walaupun masih ada bapak-bapak penjual jasa foto langsung jadi, ini yang membuat gw jadi miris dan merasa gak enak nenteng-nenteng kamera. Kasian juga sih bapak itu, harusnya dia menjual jasa pengecasan kamera digital, hape atau jasa motoin, lebih bagus lagi jual jasa print foto dari berbagai jenis kamera.

candi prambanan menurut gw paling bagus viewnya, lebih kearah sebuah taman wisata yg menonjolkan keindahan serta keramahan kota Jogja
walaupun pundak sudah keletihan akibat membawa beban, namun rasa lelah itu langsung hilang saat melihat keindahan alami candi Prambanan.
buat yang mau mengasah skill dalam bermain kamera maupun DSLR bolehlah main kesini. karena memang cocok banget lokasinya serta viewnya
patung roro jonggrang, konon ini adalah nyi roro jonggrang yang dikutuk menjadi batu, entahlah, tapi aura mistis diruangan ini sangat berasa banget.
selain candi Prambanan, dikomplek ini banyak banget candi-candi lainnya dan kalau dihitung bisa sampai candi ke seribu. hehehehe.... entah dihitungnya bagaimana hingga bisa sampai seribu.
ini adalah candi sewu atau candi ke seribu, sayang sekali tidak boleh masuk kedalam karena sedang ada tahap prosesi pemugaran. bagus juga candinya.
ada penangkaran rusa juga lho, ya mirip-mirip sama seperti di kebun raya bogor kok... rusanya jinak... tapi gak boleh ditangkap..

Setelah puas menikmati keindahan bebatuan Candi Prambanan, gw sempet mengenang masa kecil gw waktu dulu disunat di daerah prambanan tepatnya di rumah sunat BOGEM. Pas berangkat menuju candi sih gw ngelewatin tempat tersebut, tapi gw sudah lupa letak persisnya dimana, apalagi yang pernah nyunatin gw waktu itu sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Kalau gak salah gw pernah nginep di Hotel Villa Prambanan yang letaknya kira-kira 2 kilo dari sini, sehingga pas malam hari kita bisa melihat candi prambanan tersorot lampu tembak dan keliatan bagus banget deh. Gak boleh berlama-lama gw disini karena harus kembali ke malioboro untuk membeli beberapa oleh-oleh buat orang tersayang.

monumen taman perdamaian, di terminal prambanan, entah makna dari monumen ini apaan...

Sesampainya di malioboro kita ditemani hujan deras, lagi-lagi kehujanan, dalam 3 hari di Jogja gw kehujanan terus lama-lama badan gw berkarat karena terkena hujan asam. Kita masuk ke dalam mall malioboro dulu buat ambil beberapa receh di ATM, gw kehilangan duit seratus ribu, padahal gw sendiri gak menggunakan duit tersebut buat apapun tetapi tahu-tahu duit 400ribu buat oleh-oleh berkurang 100ribu. Gw belanja di sebuah toko pakaian, sebenarnya sih dari toko satu ke toko lainnya ya sama saja, jual barang-barang yang sama dan memiliki harga yang sama juga,. sedangkan leo ngiterin malioboro dari ujung ke ujung membelikan sesuatu buat pacarnya yang dia cintai banget, sampai sepatu futsalna dikasih nama pacarnya :p .

suasana malioboro di petang hari dan setelah diguyur hujan deras selama satu jam.

Pada jam makan malam, kita berdua memutuskan makan ditempat favorit kita saat pertama berjumpa yaitu di pizza hut. Rasanya pundak sudah mau lepas karena seharian menggemblok tas ransel yang berisi beraneka ragam kostum sulap. Kita makan di pizza hut mall malioboro dengan wajah kummel mirip abang-abang metromini, untunglah mbak-mbak pelayanan pizza hut yang terkenal akan kecantikannya itu masih tetap menyambut kita dengan senyuman. Di pizza hut gw memesan fetuccini dan minumnya strawberry ice tea, wah mantap banget nih apalagi ditambah dengan seloyang personal pan pizza meat lover dengan pinggiran stuff crust keju.

Perut kenyang, saatnya kita menuju stasiun tugu yang letaknya sangat berdeketan sekali dengan malioboro. Duduk-duduk termenung menunggu kereta argo dwipangga tiba dengan gagahnya, namun sayangnya kereta yang akan kita tumpangi delay selama dua jam akibat kepala lokomotifnya mengalami gangguan didaerah klaten sehingga harus menunggu penggantian lokomotif dahulu. Selama gw menunggu, beberapa kali gw melihat orang-orang yang sama seperti dengan waktu gw lihat saat mengelilingi Jogjakarta, sepertinya gw diteror oleh kumpulan orang-orang yang taka sing sehingga menimbulkan perasaan was-was bukan main, ah lebay nya.

Pukul 10 malam kereta argo dwipangga tiba, segeralah kita berdua masuk kedalam gerbong kereta yang telah ditentukan oleh karcis, namun kursi kami berdua ditempatin oleh ibu-ibu yg tidak tahu diri dengan seenaknya duduk disitu sambil berkata terus-terusan kalau dia tidak tahu duduk dimana supaya orang yang mau duduk disitu merasa kasian, ketika gw minta tiket keretanya tahu-tahu anaknya dari beberapa bangku dibelakang berteriak ke ibunya untuk segera pindah ketempat sebenarnya. Ehm… aneh juga kalau tidak tahu dia duduk dimana, ini juga anaknya kenapa membiarkan ibunya duduk ditempat orang lain, untung gw orangnya baik dan ramah lingkungan. Ketidaknyamanan tidak berakhir begitu saja, dibangku belakang gw ada 2 anak kecil sangat berisik yang hobi banget nendang-nendang bangku gw dari belakang, bapaknya dengan muka kalemnya merasa cuek abis. Tak cocol kumisnya pake tang…

Perjalanan pulang menghabiskan waktu sekitar 7 jam lebih, andai kereta tidak telat, sudah pasti sebelum subuh gw sudah sampai di Jakarta gambir. Pramugari di kereta yang gw naikin cakep banget, mirip artis gitu deh Cuma sayangnya agak jutek sama gw, mungkin karena gw dekil banget ya ketahuan seharian tidak mandi-mandi. Mana AC nya dingin banget, selimut gratisan yang diberikan pihak kereta api serasa tak berguna banget hehehehe… coba selimutnya si pramugari tadi pasti sangat terasa hangatnya. Yap, liburan kali ini telah usai, besoknya gw harus berjibaku dengan ruang dan waktu dalam lingkungan kerja, ada rasa malas untuk kembali kesana tetapi gw harus sadar karena untuk mendapatkan ini semua kita harus melakukan sesuatu hal yang menghasilkan.

Terima kasih buat pihak bus Raya yang memberikan fasilitas paling terbaik lebih bagus dari kereta argo eksekutif sekalipun, dapat snack gratis dan selimut serta bantal yang wangi. Walaupun tempat makan pemberhentian makan malamnya sangat teramat mahal, 25ribu Cuma dapat sayur jamur sama rawon pelit plus teh manis hangat. Terima kasih buat hotel Fortuna yang menerima kehadiran kami untuk bermalam, pelayanannya sudah bagus walaupun ada mbak2 jutek yang memberikan informasi pahit saat ingin menyewa motor, kenapa terlalu mencurigai kami seakan kami bukan orang yang jujur. Agak kecewa dengan hotel fortuna, kelas deluxe yang kami pilih serasa seperti kelas kamar yang level ekonomi, tiada air panas, tambahan snack dan pelayanan kebersihan pagi hari. Thanks juga buat mas-mas penjaga tiket halte trans jogja yang ramah banget membimbing kami hingga tiba di tujuan. Tak lupa gw ucapin banyak terimakasih buat Dehan temen smp gw yang menemani gw berpetualang di Borobudur walaupun terkesan aneh karena tamu yang menjamu tuan rumahnya heheheheh….

Next trip to Semarang…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s