Menyelusuri Kota Jogja bag.2

Posted on

Dari tamansari kita lantas pulang menuju Hotel yang memakan jarak sekitar 2kilometer, rasanya kaki ini sudah mau lepas tetapi kita harus kuat demi menikmati petualangan yg seru ini. Diperjalanan menuju Hotel, gw menemukan tukang sate ibu-ibu paruh baya, dari aromanya enak banget nih sate, gw langsung nyamperin si ibu-ibu tersebut dan wah, mantap, digembolannya terdapat 4 jenis sate yaitu sate kambing muda, ayam kampung, ayam buras dan sate lemak. Naluri kuliner jalanan gw menyala, gw memesan 2 tusuk sate ayam kampung seharga 1000rupiah untuk satu tusuk dan tiga tusuk sate kambing seharga 1200 rupiah pertusuk, awalnya gw pengen nyobain sate lemak namun gak berani, takut pingsan dijalan hehehe. Sate ini dibakar dengan bara yg kecil, bumbunya gw rasa Cuma garam saja, ketika matang barulah saus kacang dan sambal dibalur diatas kertas nasi. Rasanya lumayan enak, tapi paling enak daging ayam kampungnya, empuk banget.

ini gw lagi membeli sate yg baunya enak itu

Sesampainya di Hotel, kamar kita lagi dibersihkan jadi harus menunggu sekitar 30menit untuk masuk kedalam kamar. 2 gelas es teh manis disajikan oleh pelayan hotel, ya not bad lah Cuma kita ini udah ngantuk banget sehingga diajak ngomong gak nyambung. 30menit kemudian kita pun masuk kedalam hotel, mandi siang, lalu tertidur pulas layaknya zombie yang merindukan tidur panjang. Bangun-bangun sudah jam 6 sore, itu pun gw terbangun karena SMS dari cewek gw. Gw agak kesulitan buat bangunin si Leo karena tidurnya kaya orang mati dan barulah Jam setengah 7 gw mandi lalu bersiap untuk kuliner malam di alun-alun Tugu.

menunggu kawan di Tugu Jogja... malam yg unik

Sesampainya di tugu, gw harus menunggu temen gw yang bernama Dehan, dia ini orang bekasi juga gak jauh dari rumah gw, scara kita berdua adalah kawan satu sekolah SMP. Kebetulan dia kuliah di Jogja dan belum pulang ke bekasi, katanya sih lagi ada kerjaan sebagai relawan merapi. Setelah kita bertemu, langsung saja kaki kita bertiga melangkah ke lesehan yang ada di alun-alun Tugu, seberang hotel Inna Garuda dan berada persis dipinggir rel kereta stasiun Tugu. Suasananya ramai banget, banyak anak-anak sekolah yang lagi menikmati liburan sekolah, mungkin lagi ada acara study tour. Gerimis pun tak mau mengalah, lama-lama jadi hujan deras dan membuat warung lesehan yang kita singgahi penuh dengan pengunjung yang sekedar neduh tapi lama-lama jadi ikutan makan. Malam itu gw memesan bebek panggang dan burung dara goreng, sedangkan kedua temen gw memesan pecel ayam. Sayangnya harga di lesehan seperti ini buat gw terbilang mahal, burung dara goreng 1 ekor dikenai harga 25ribu padahal di rumah gw Cuma kena 15ribuan, sedangkan bebek panggang dikenai 18ribu tanpa nasi, kalau di daerah bekasi 13ribu sudah sama nasi dan lalapan + sambal.

Total makan bertiga dikenai harga 97ribu, cukup mahal juga ya, tapi ya sudahlah namanya juga lagi musim liburan pasti para pedagang langsung menaikkan harga makanannya hingga 2kali lipat. Setelah cukup kenyang dengan menu alakadarnya, gw pun kembali ke penginepan dengan cara berjalan kaki ditemani hujan gerimis, tadinya gw mau mampir sebentar ke kedai Pak Lik yang terkenal akan Kopi Jossnya namun hujan semakin lama semakin awet dan kemungkinan deras sehingga kami memutuskan untuk kembali ke Hotel. Ternyata pihak hotel sudah tertidur pada jam 11 malam, pintu pagar dikunci dan hanya dijaga oleh penjaga, jadi tak enak, lain kali gw nginep dihotel yang besar dengan penjaga melek 24 jam. Padahal gw masih pengen nikmatin yang namanya oseng-oseng mercon tapi kalau hotelnya jam segini udah tutup ya gak enak juga.

Dehan dan Leo lagi lahap makan di lesehan dekat stasiun Tugu

Candi Borobudur

naik bis menuju candi

Jam 10 kita berangkat lagi menuju terminal Jombor untuk melanjutkan perjalanan menuju candi borobudur, awalnya kita mau nyewa motor di Hotel namun langsung urung karena perizinannya sangat ribet. SIM A harus ditahan dan memberikan uang jaminan sebanyak 2 juta rupiah, sedangkan temen gw sudah menawarkan jasa sewa motor cukup bayar 40ribu+KTP tetapi gw terlalu banyak mikir sehingga temen gw juga malas nganterin gw ke tempat persewaan motor. Ya sudahlah, lebih berasa kalau kita naik umum. Dari TransJogja MT.Haryono kita melanjutkan perjalanan menuju Halte Terminal jombor, dari sana kita lanjut naik bis menuju Borobudur dengan tarif 10ribu saja sampai di terminal Borobudur. Di perjalanan menuju candi, kita disuguhi sisa-sisa kerusakan saat merapi menerjang kota Jogja, banyak para penduduk terjun ke kali untuk mengeruk pasir atau hanya sekedar menonton atraksi para pendulang pasir.

naik delman istimewa

Sampai di Borobudur kita bertiga (gw, Dehan dan Leo) ditawari ojek delman dan becak menuju candi borobudur yang katanya masih 1 kilo lagi, gw pun melego harga tarif delman dan akhirnya dapat 10ribu perdelman dari harga awal 15ribu. Ternyata jarak terminal ke candi gak jauh2 banget lho, Cuma kurang dari 500meter, wah kalau tahu gitu mendingan kita jalan aja, hemat 10ribu gw hehehe. Harga tiket masuk ke komplek candi sebesar 23ribu, perkiraan gw jauh sekali ya, perasaan 10tahun yang lalu harga tiket masih 7500 rupiah namun sekarang sudah naik tajam.

kita berdua berada di tempat dimana ditemukan sebuah prasasti yang menandakan bahwa candi borobudur ini adalah milik Indonesia hahahahah ngarangnya gw. gw lupa bacaannya apa, yang pasti ini tulisannya sanksekerta.

pemandangan cakep berada disekeliling candi Borobudur, buat penggemar narsisan seperti gw, cocok banget deh tempatnya. sayangnya tempat ini masih banyak terdapat abu bekas muntahan gunung merapi sehingga agak terkesan kotor.
sayangnya, para pengunjung hanya boleh berada ditingkat tengah borobudur, sedangkan tingkat atas sedang ditutup untuk kegiatan pemugaran namun ada saja para pengunjung yg nakal memaksa manjat pagar penghalang yg menutupi tangga menuju atas, pasti turis jakarta.
langit yang terik berubah jadi mendung dan sudah saatnya gw untuk turun karena takut kehujanan diatas candi apalagi debu vulkanik masih ada di atas bebatuan candi.
ini candi mendut, letaknya agak jauh dari borobudur, berada di pinggir jalan menuju komplek candi borobudur, sekitar 2 kiloan lah.

Setelah puas dengan fenomena candi borobudur yang menjadi pusat daya tarik kota Jogja, kita bertiga langsung dituntun menuju museum oleh seorang wanita berpakaian seragam bertuliskan muri di bagian dada sebelah kanannya. Museum MURI (museum rekor Indonesia) merupakan museum yang berisikan aneka macam benda hidup atau mati yang berhasil memenangkan rekor Indonesia ataupun dunia, disana ada macam-macam benda antik yang gak pernah kita temuin, selain itu juga ada stand jamu jago yang tak lain dan tak bukan merupakan sponsor utama Muri. Harga tiket masuk hanya 3500 rupiah saja, kalau yang kaya gini sih gw setuju banget sama harga tiket masuknya, sudah murah kita juga dapet pengetahuan tentang rekor dunia bahkan bisa melihat langsung secara dekat benda-benda yang memang tidak ada duanya. Letak museum MURI tersebut berada di bagian selatan candi borobudur, ketika melangkah ke arah keluar kita langsung menuju ke arah kiri jalan, terus sampai berada didekat kandang gajah (gw baru tahu ada gajah disini), gedungnya terbuat dari kayu, mirip-mirip rumah betawi jaman dahulu.

Pintu masuk museum, bangunannya klasik banget, kalau ada gempa dipastikan akan rubuh nih.
selain ada museum, disini juga ada toko jamu jago, buat yang pengen sehat sambil mengunjungi museum bisa minum jamu disini.
salah satu benda terunik dimuseum yaitu patung emas budha yang ukurannya hanya beberapa inci saja sehingga kita harus melihatnya lewat kaca pembesar.
ada juga sepeda ontel kesukaan gw, pengen rasanya punya sepeda ini lho, ternyata ini milik bung karno waktu berada di daerah jawa tengah.
ini orang terpendek di kota jogja, gara-gara ni orang jadinya banyak turis yang tertarik mengunjungi museum tersebut, cuma gw gak tega kalau kekurangan fisik seseorang dimanfaatkan sebagai objek wisata.
keris terkecil didunia, entah bisa dipakai untuk menusuk atau tidak gw kurang tahu ya, karena di taruh di etalase kaca.

Setelah puas menikmati semua yang ada di komplek Candi Borobudur, tak terasa ada rasa lapar menyertai, kita makan dulu disebuah warung kecil deket borobudur, ya rasanya standar lah. Oh iya, gw ketemu sama turis jepang berjenis kelamin wanita, ya menurut gw sih cakep tapi serem karena jalannya kaya laki plus pake sepatu boot kulit gitu. Ya pokoknya dapat pengalaman lebih dari sekedar sejarah, terutama para pengunjung yang beraneka ragam manusia.

Pulang menuju hotel kita mampir sebentar di warung bubur cinta, gw berharap bakal menemukan mbak-mbak cantik penjual bubur dengan pakaian minim, apalagi gw sampai ditempat warung tersebut malam hari pasti pakaian sangat minim banget. Namun dewi Fortuna tidak memihakku, mbak2 penjaga warung bubur tidak ada, yang ada hanya mas-mas sok manis yang baik hati sebagai gantinya, ya sudahlah kita mesen 2 bungkus nasi goreng, murah lho Cuma 5000rupiah. Setelah beli makanan dan minuman, kita kembali ke kamar hotel menonton pertandingan bola Indonesia melawan malaysial dan kalah telak untuk Indonesia. Saatnya untuk tertidur setelah lelah berjalan menyelusuri indahnya pariwisata Indonesia.

Lanjut ke Tulisan bagian ke tiga ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s