INAFFF Workshop Sinematografi

Posted on

apa yang ada dipikiran gw saat menonton film?, cuma satu yaitu gimana cara bikin film tersebut hingga menjadi seperti ini. itu lah rasa penasaran yang sering didera ketika gw menyaksikan adegan-adegan seru pada sebuah film baik di bioskop maupun di televisi kecuali film sinetron murahan di tivi-tivi saat ini, kalau itu sih gw gak bakalan penasaran. cara membuatnya sama kaya bikin film pake kamera henpon. rasa penasaran gw akhirnya terjawab sudah ketika dapat undangan dari INAFFF tentang seminar Sinematografi di Blitz Megaplex Grand Indonesia. rasanya senang dan cukup membanggakan, secara baru pertama kali gw diundang sama orang film buat menghadiri acara seminar tersebut, mantab.

pukul 8 pagi gw berangkat dari rumah hanya bermodalkan kamera digital pocket karena memang tidak memiliki kamera SLR atau sejenisnya, maklum bukan orang yang hobi foto-foto ataupun difotoin. sampai di bundaran HI gw bingung masuk ke grand Indonesia, hanya mencoba dengan feeling ditambah Bismillah gw masuk ke belokan pertama sebelum plaza Indonesia, ternyata ada 2 tempat parkir Grand Indonesia, waduh…. gw bingung mau milih yang mana karena takut kejauhan parkirnya. mencoba lagi dengan feeling masuk ke gedung east GI, parkirannya cukup menantang karena naik keatas dan cukup curam, terbukti dengan beberapa kali pantat timor buluk gw mengenai ban belakang saking tingginya. sampai lantai 5 tidak ada 1 mobilpun terparkir diparkiran ini, gw gak mau parkir ditempat sepi karena takut mobil dirubah jadi bajai. akhirnya gw ngikutin sebuah mobil soluna supaya ada temen markirnya dan ternyata Alhamdulillah blitz megaplex ternyata berada di parkiran lantai 8 dan gw memarkir mobil tepat didepan pintu masuk, jadi gak bingung nyari2 pas kelar acara.

masih sepi banget....

di Grand Indonesia sangat baik security nya, pas gw masuk disuruh periksa tubuh dengan alat metal detector mirip yang ada di bandara-bandara. dia ngucapin selamat pagi dan terimakasih dengan ramahnya, i love it, thumbs up for securty, jarang-jarang ditemuin kaya gitu. jam 9 kurang 15 gw sudah berada di Blitz Megaplex tetapi sepi banget ruangannya. belum ada siapa-siapa yang datang, akhirnya gw keliling-keliling ngiterin bioskop sepi ini siapa tahu ketemu artis wanita sedang musim kawin hahahahaa…. ternyata registrasinya ada di ujung sana, langsung gw samperin dan 2 cewek ramah menanyakan nama gw, tinggal sebut saja dan nama gw ada didalam daftar undangan lengkap dengan nomer telepon serta alama emailnya. mantab gan…

setelah registrasi gw dapet goody back lho, isinya majalah bulan kemaren dari Film magazine, buku catatan kecil, brosur, kaos dari Detik dan sebuah pulpen cantik serta tak lupa tas buat bawanya. jam 9 lewat 10 gw disuruh masuk kedalam studio 9 oleh panitia, didepan pintu studio gw dikasih sekaleng teh soda merk tebs, untung gak lagi minum obat, kalau lagi minum obat kan mulut bisa berbusa karena keracunan. gw ngambil duduk di tengah tepatnya dibangku nomer 13, serem kan nomernya.

sesi pertama di isi oleh seorang fotografer dari Upperture Fotography university (mohon maaf bila salah nama) bernama Alex Hermawan. dia merupakan ahli fotografi yang hobi banget foto-foto dengan tema horor dan thriller, pokoknya foto-foto yang serem-serem dia suka. mas Alex yang suka menonton film twilight ini menjelaskan secara rinci bagaimana cara pengambilan gambar dengan menggunakan kamera SLR dan beberapa trik yang dilakukan kameramen agar hasil jadinya bagus. sebenarnya sih gw udah paham trik2 kamera yang dipakai cuma secara teorinya belum pernah tahu. dari sesi ini gw jadi tahu bahwa sebenarnya kamera itu gak cuma dipakai satu dalam pembuatan film bagus, bisa sampai ratusan untuk adegan slowmotion secara teknik terbaik, lupa istilahnya apa. orangnya lumayan lucu dan kalau dilihat-lihat dia ini mirip sama penyiar radio yang botak serta pembawa acara jali-jali di jak TV bernama kemal. selain menjelaskan teori, dia juga memberikan tips keren biar gambar bagus bisa diambil hanya dengan sebuah kamera SLR biasa tapi hasilnya maksimal, istilah gw sih “memaksimalkan yang minimalis”. dia membawa beberapa alat pelengkap kamera mulai dari lensa hingga stick atau tripod untuk penyangga kamera dengan menyebutkan secara rinci fungsi-fungsinya. pada akhir penutupan sesi pertama, dia berpesan kepada setiap makhluk dibumi Indonesia yang mempunyai kamera SLR, jangan pernah cuma menang ikut trend saja tetapi tidak memiliki hasil karya dan dia pengen kalau Indonesia memiliki hasil-hasil karya yang tidak biasa saja. cukup dalam juga nasihatnya karena banyak remaja sekarang nenteng2 SLR hanya untuk trend sesaat saja, kalau ditanya cara memotretnya sih bisa dibilang gak ngerti sama sekali, mendingan gw deh masih pake kamera pocket tetapi digunakan maksimal untuk meliput kegiatan diluar dan didalam keseharian. satu hal yang gw tahu dari dia adalah ternyata film twilight biarpun film drama tetapi menggunakan trik kamera paling baik saat ini dan dia yakin Indonesia belum bisa membuat film drama sebagus twilight.

Sesi kedua di isi oleh Diana Putri Tarigan, sebenarnya nama tarigan itu tidak asing ditelinga gw, kalau gak salah ada seorang penyiar radio terkenal dan seorang pemain film yang nama belakangnya juga ada marga tarigan, jangan-jangan penyandang nama Tarigan adalah seorang pecinta seni sejati ya. Diana bekerja sebagai still photo film-film layar lebar, memotret adegan-adegan film di setiap scene-scene nya. hasil dari jepretan dia akan di beli oleh sang produser atau sutradara untuk dijadikan sebuah poster atau scene cut. salah satu film yang pernah ia buat poster dengan hasil karyanya adalah film Rumah Dara yang di sutradarai oleh MO Brothers. dilayar lebar Blitz Megaplex ditempat gw duduk saat itu memperlihatkan beberapa potongan adegan RUmah Dara yang tak lain hasil halus karya seni mbak Diana Putri Tarigan. dia orangnya sangat cute buat gw, mungil, suara imut dan kalau ngomong deru nafasnya juga berbicara tapi gw berprasangka ia begitu capek sehingga gaya bicaranya lemas-lemas begitu. dia memberikan tips-tips dan triks untuk membuat gambar dengan tema horror tanpa harus menjadi penyuka film horor, dia juga lebih menekankan untuk memilih spot cahaya yang terbaik agar foto yang dihasilkannya menjadi lebih bagus dan disukai banyak orang. beberapa tips ia gunakan saat harus mengabadikan adegan horror, mulai menggunakan kaca yang jamuran, triplek bolong, sterofoam, hingga handuk. kalau dilihat dari fisiknya sih tidak seperti fotografi handal lainnya, tetapi kalau melihat skill dan pengalamannya jangan ditanya bung, taruhannya bisa harga diri kalau nantangin dia foto-fotoan. dia tidak belajar kamera di sebuah sekolah fotografi mahal atau ternama, dia hanya sering ikut crew-crew film dari rumah produksi dan belajar sendiri tanpa pernah berhenti sehingga dia mampu membuat hasil karya cipta paling terbaik. satu rahasia dari dirinya adalah dia tidak suka film horror….

pukul 12 kurang 15 menit acara seminar fotography selesai sudah, gw gak dapet doorprize atau hadiah yang dilemparkan oleh panitia. padahal gw berharap mendapatkan satu hadiah saja dari panitia, lumayan kan udah diundang gratis dapet hadiah pula hahahahha…. rencananya mau lanjut nonton salah satu film dari Inafff tetapi terbentur janji buat bakar-bakar nanti malam sehingga mengurungkan niat baik itu. gw puas dengan apa yang sudah gw rasakan hari ini, walaupun acara agak sedikit ngaret karena banyak peserta undangan yang telat datang. buat yang punya SLR jangan cuma jadi pajangan tubuh aja atau buat gaya-gayaan, gunakan secara maksimal donk… kasian bapak ente beliin kamera itu mahal-mahal cuma buat mainan.

seorang blogger serius banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s