Film Merah Putih, Pertama yg lumayan

Posted on

Menjelang kemerdekaan sepertinya kurang asik bila tidak ada hiburan yang bisa membangkitkan semangat kemerdekaan kita, berhubung gw suka sama dengan yang namanya film, gw bersama Ali meluncur menuju XXI Bekasi berencana mau nonton film merah putih yang konon katanya bisa membangkitkan jiwa nasionalis kita. Jam 7 kita udah berada disana untuk mengantr karcis, pikiran gw film ini bakal banyak ditonton khalayak, mesti antri nih, atau kebagian jam malam tetapi alangkah terkejutnya melihat kenyataan kalau 4 sab bangku depan masih kosong, penontonnya kurang begitu ramai atau memang situasi dan kondisi yang menjadi alasan? Gak lama studio dua telah dibuka, disana tempat gw dan ali nonton merah putih.

Merah Putih, bukan putih merah
Merah Putih, bukan putih merah

Ada kejadian unik saat gw masuk ke pintu theater, tiba-tiba ada seorang cewek dengan baju putih berdasi bendera Indonesia memberikan bendera kecil merah putih dan salah seorang cowok menyuruh gw bergaya untuk difoto dengan kamera digitalnya. Mirip premiere film aja hahahha, sempat berlagak narsis dan keren. Gak semua orang dapet bendera dan difoto, hanya beberapa orang saja, siapa tahu muke gile gw masuk majalah sobek.

Perlu diakui film merah putih memang bukan sembarangan film local, konon sih sebenarnya ini film bukan film local melainkan film barat yang memang syutingnya dinegara kita sedangkan sutradara khusus dari Negara kita supaya chemistry nya dapet. Bangsa luar lebih peduli akan film kemerdekaan kita dibandingkan bangsa kita sendiri. Film ini berkisah tentang para pejuang bangsa yang ingin merebut kemerdekaan dari tangan belanda, ada empat tokoh utama, seperti lukman sardi, Darius sinartya dan beberapa tokoh artis terkenal lainnya plus kejutan hadirnya rudy wowor sebagai letnan belanda. Para pejuang ini memiliki latar belakang berbeda seperti petani, guru, mahasiswa hingga penjelajah samudra. Suku serta agama mereka pun berbeda namun disini mereka dituntut untuk bersatu padu melawan belanda dibalik perbedaan mereka.

Darius berperan sebagai prajurit sombong dan tidak bisa menembak dengan tepat, Donny Alamsyah sebagai petani yg ingin menjadi prajurit namun emosional dan taat terhadap keyakinan agamanya, Lukman Sardi berperan sebagai guru yg menjadi prajurit naik pangkat menjadi letnan, kalem dan sangat sabar menghadapi anak buahnya yang suka rebut. Adegan perperangan dimulai ketika pesta malam perpisahaan para pejuang mereka tiba-tiba diserang belanda, ledakan mortar yang membombardir acara tersebut membuat kekacauan. Para pejuang berlarian menyelamatkan diri dan mempersiapkan persenjataan. Disini adegannya lumayan seru karena kejutan ledakan yang membuat jantung berdetak kaget, baru kali ini gw liat film Indonesia menggunakan efek ledakan real dan bukan komputerisasi. Para pejuang yang tadinya banyak, satu persatu tewas karena kalah senajat dan pasukan belanda termasuk Kapten Taufik yang merupakan pimpinan pasukan. Sayang, tewasnya kapten Taufiq serta para pimpinan tentara tidak terlihat, tiba-tiba saja dikabarkan tewas. Adegan tembak-tembakkan para pejuang dan belanda lumayan seru, sound dan efectnya bagus.

Film yang menurut saya dikerjakan dengan serius ini ternyata banyak menyimpan kesalahan, kesalahan ini cukup fatal karena bisa terlihat dengan siapapun tanpa harus melihat detail film. Pertama, ketika adegan darius dan Donny alamsyah bersitegang di tengah hutan, dilengan baju kanan darius ada ulet entah daun warna hijau, yang kadang ada dan kadang gak ada. Lalu, ketika adegan pembantaian di sebuah desa, ada seorang figuran yang seharusnya mati tetapi masih terlihat bernapas dan ada juga yang tangannya bergerak-gerak. Oh iya diadegan pertama juga begitu, seorang anak kecil yang seharusnya mati tetapi kepalanya masih bergerak-gerak. Yang masih membingungkan adalah adegan ketika Donny Alamsyah berada dimarkas tempat ia latian yang dikuasai belanda ia datangi bersama seorang rekan. Mereka mengambil persenjataan, mortar dan amunisi, namun ketika cerita berjalan menuju akhir cerita, rekan Donny yang membantu membawa persenjataan itu kemana?, tiba-tiba menghilang gak ada kabarnya?, kemanakah dia?, tertembak matikah atau kabur?. Adegan ledakan masih kurang, tidak seheboh yang sutradaranya bilang, bahkan tidak ada kesan wah dalam adegan ledakan hanya suara efeknya saja yang menganggetkan.

Property film ini terbilang modern dan bukan nyata pada masa dulu, masyarakat nya ada yang pakai baju kotak-kotak garis garis seperti jaman sekarang, Arloji yang dipakai Darius sepertinya buatan tahun sekarang dan tiang listrik di tempat mereka latihan. Menurut gw jaman penjajahan dulu tiang listrik dan kabel listrik gak seramai sekarang. Suasana jaman penjajahan dahulu nya kurang dapat. Pemain figuran belanda nya pun sperti gak niat acting, wajah tegang mereka sepertinya kurang muncul. Namun secara keseluruhan boleh lah kita patut acungin jempol untuk usaha perfilman tanah air membangkitkan film kemerdekaan.

Film ini bersambung, artinya akhir cerita masih gantung, belum ada akhir cerita yang pasti karena memang film ini dibuat khusus trilogy makanya wajar ending dibuat gantung. Mirip-mirip film the matrix lah. Sang sutrada berjanji kalau sekuel film lanjutannya bakal seru dan udah rampung 80%, artinya film keduanya segera meluncur. Walaupun film pertama ini tidak seperti saving private ryan ataupun black hawk down namun gw suka film ini karena dialog daerahnya yang cukup baik. Gw tunggu kehadiran film lanjuttannya…. MERDEKA… Nila keseluruhan film ini adalah 7.5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s